
Jeslyn terduduk sendirian di dalam acara pesta ulang tahun yang diadakan oleh Ilyas. Nathan sedang sibuk bercengkrama dengan para rekan kerjanya yang turut hadir di acara ini. Jeslyn yang tidak mengerti pembicaraan mereka, memilih duduk sendiri sambil menikmati beberapa hidangan.
Kemudian datang Gladys dan Dafa menghampirinya. Mereka langsung saja duduk bergabung di sana. Sebenarnya Jelsyn tidak nyaman berada di dekat Dafa, tapi dia tak enak untuk melarang mereka duduk dengannya. Jeslyn mencoba tetap rilex dan tidak membalas tatapan Dafa yang sejak tadi memperhatikannya.
"Oh ya mas Nathan kemana Jess?" Tanya Gladys sebagai pembuka obrolan.
"Ada kok, dia lagi ngobrol dengan rekan kerjanya." Jawab Jeslyn
Dafa berbisik pada Gladys, dia pamit untuk mengambilkan minum untuknya. Gladys mengangguk.
"Jess lihat ini." Ucap Gladys sembari memperlihatkan tangan kanannya. Di jari manis sudah terisi cincin emas putih bermata bulat nan berkilau.
"Kamu dilamar sama Dafa, wah selamat ya." Ucap Jeslyn merasa ikut bahagia, karena itu artinya Dafa memang benar-benar sudah bisa mencintai Gladys.
"Iya, aku seneng banget. Bulan depan kita akan menikah. Sebenarnya ini cincin pernikahan, tapi aku udah nggak sabar pengen pakai. Jadi kupakai sekarang." Ucap Gladys dengan ekspresi bahagianya. Jeslyn pun juga tersenyum lebar menandakan turut merasa bahagia.
Tiba-tiba saja Dafa berlari dan menarik Jeslyn merangkulkan dengan menundukkan badan.
Prankk..
Seorang pelayan yang tengah membawa soup terpeleset hingga menumpahkan seluruh isinya. Dafa berhasil menyelamatkan Jeslyn dengan mengorbankan dirinya. Bajunya menjadi basah tersiram soup. Namun Gladys lebih parah, wanita itu terkena siraman diwajahnya.
"Aw, " Pekik Gladys yang terkena siraman kuah tepat di wajahnya.
Semua orang yang berada disana langsung fokus melihat kearah Gladys. Nathan pun juga langsung melihat istrinya yang barusan dirangkul oleh Dafa tapi kini sudah dilepaskan. Nathan segera menghampiri sang istri.
"Kamu tidak apa-apa kan Jess?" Tanya Dafa memastikan Jeslyn tidak tersiram.
"Iya aku tidak apa-apa. Terimakasih, tapi bajumu jadi basah dan kotor." Ucap Jeslyn
__ADS_1
"Aku yang tersiram kenapa kamu malah nanyain Jeslyn!" Jerit Gladys dia merasa kesal dan langsung pergi meninggalkan tempat. Dafa pun segera menyusulnya.
Jeslyn langsung menghampiri sang suami yang berjalan mendekatinya. "Coku aku bener-bener nggak tahu apa-apa. Kayanya Gladys bakalan marah sama aku." Ucap Jeslyn
"Kamu nggak salah kok tenang aja. Tapi kamu nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Nathan, Jeslyn hanya mengangguk.
Gladys yang sudah selesai dari toilet berniat langsung meninggalkan hotel untuk pulang. Tapi saat keluar toilet, tangannya langsung ditarik oleh Dafa.
"Semuanya udah jelas Daf, kamu tuh bohong!" Seru Gladys
"Bohong apalagi sih sayang?" Tanya Dafa dengan tetap menggenggam erat tangan Gladys.
"Kamu masih mencintai Jeslyn kan? Buktinya kamu lebih milih ngelindungin dia daripada aku. Kamu biarin aku malu didepan banyak orang." Gladys meluapkan amarahnya kepada Dafa.
"Tidak, bukan begitu. Kamu jangan selalu mikir yang negatif deh. Aku tuh cintanya sama kamu. Tadi itu refleks aja. Maafin aku," Ucap Dafa mencoba meluluhkan Gladys. Dengan mudah wanita itu luluh kembali dan memaafkan Dafa. Kini dia berada dalam pelukan Dafa.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Saat ini Dafa tengah mandi. Ponselnya ia letakkan diatas nakas. Gladys yang masih berbaring di kasur, merasa penasaran dengan isi ponsel kekasihnya itu.
"Aku harus melihatnya. Jika masih ada foto Jelsyn disana, itu artinya Dafa masih belum move on darinya." Ucap Gladys sembari meraih ponsel itu. Dengan berani dia membuka ponsel milik Dafa. Dia membuka galeri, yang ada malah fotonya.
"Hemm.. Ternyata Dafa benar-benar sudah mencintaiku. Tidak ada foto Jeslyn. Yang ada hanya fotoku." Ucap Gladys seraya tersenyum bahagia. Dia berniat mengembalikan ponsel itu ke tempat semula. Tapi kemudian dia fokus dengan aplikasi catatan yang ada di ponsel itu. Tanpa ragu, Gladys membukanya. Dia membaca seluruh ketikan Dafa yang disimpan disana.
Dari tanggalnya, catatan itu sudah dibuat sejak Dafa berada di Belanda. Catatan itu hampir seluruhnya berisi kerinduan kepada Jeslyn. Tapi Gladys penasaran pada catatan yang dibuat Dafa belum lama ini. Namun belum sempat membukanya, suara pintu kamar mandi membuat Gladys harus kembali meletakkan ponsel itu ke tempat semula.
Dafa menghampirinya dan mencium keningnya dengan mesra. Membuatnya yang tadi merasa curiga pada isi catatan menjadi kembali mencoba berfikir positif.
"Dia saja se sweet ini denganku. Ah rasanya tidak mungkin jika Dafa ingin kembali lagi bersama Jeslyn. Dia sudah berusaha keras untuk mencintaiku. Aku tidak boleh mencurigainya lagi." Batin Gladys
__ADS_1
*
*
Saat ini Gladys sedang berada di toko gaun pernikahan. Dia sedang bingung menentukan pilihan. Sebenarnya rencana pernikahan mereka masih belum resmi. Karena Dafa belum menyampaikan ini pada papanya. Begitu juga dengan Gladys yang belum menghubungi sang Ayah yang berada di Belanda. Tanggal belum ditentukan, tapi Galdys sudah berantusias mempersiapkannya. Mulai dari cincin kemudian gaun.
"Sayang bagaimana dengan gaun yang ku kenakan ini? Aku suka tapi bagaimana pendapatmu?" Tanya Gladys pada Dafa.
"Hemm bagus, tapi coba ganti yang lain." Ucap Dafa.
"Oke, tunggu sebentar."
Disela waktu menunggu Galdys kembali memilih gaun, Dafa malah melamun. Dia kembali teringat, dulu Jeslyn sangat ingin diajak ke butik gaun pernikahan. Mereka pernah membuat list persiapan acara pernikahan. Tapi sayangnya takdir berkata lain. Mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi. Kini Jeslyn sudah bahagia dengan pasangannya.
Gladys masih bingung menentukan pilihan. Akhirnya dia mencoba tiga gaun lagi. Tapi Dafa belum mengatakan suka dengan gaun yang dikenakannya.
"Daf ini yang terakhir, huftt.. Capek." Ucap Gladys,
Dafa langsung terperanjat, melihat wanita yang mengenakan gaun pengantin dihadapannya. Dia berkali-kali mengusap matanya. Merasa tidak percaya yang dilihatnya bukanlah Gladys.
"Jeslyn," Gumam Dafa
"Apa Daf? Kamu bilang apa?" Tanya Gladys dengan suara cukup keras. Hingga membuat Dafa tersadar jika itu tadi hanyalah ilusi sosok Jelsyn.
"Hemm it's beatifull. Kamu cantik sekali dengan gaun ini. Pilih ini saja aku suka." Jawab Dafa dengan menghampiri Gladys. Dia mencoba bersikap biasa saja agar Gladys tidak curiga. "Semoga Gladys benar-benar tidak mendengar aku menyebut nama Jeslyn. Pliss lah daf, kamu harus fokus dengan Gladys. Hilangkan semua pikiran tentang Jeslyn." Batin Dafa
"Mbak kita ambil yang ini, sekalian dengan jas yang sudah saya pilih tadi." Ucap Dafa pada pelayan butik.
"Sayang kamu ganti baju lagi gih, aku bayar ke kasir dulu." Ucap Dafa kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Dafa aku jelas mendengar kamu menyebut nama Jeslyn. Sesusah itukah melupakan dia," Batin Gladys merasa sedikit kecewa. Karena Dafa masih saja memikirkan tentang Jeslyn.