Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 55


__ADS_3

Hari H pernikahan


Di sebuah hotel bintang lima para crew wedding organizer sudah sibuk melakukan tugas mereka. Dua pengantin cantik juga sudah selesai dirias. Jeslyn dan Gladys sama-sama terlihat cantik. Jeslyn terlihat bahagia tapi tidak dengan Gladys.


"Hei kamu kok masih sedih aja, kan Dafa udah nunjukin sikap baik sama kamu. Dia benar-benar sudah berubah." Ucap Jeslyn


Memang Dafa menunjukkan sifat perhatiannya untuk membuat semua orang percaya. Dafa juga sudah minta maaf untuk masalah ketika fiting baju waktu itu.


"Aku sedih karena aku akan menikah tanpa restu ayah. Aku hanya punya ayah tapi sekarang dia membenciku. Rasanya pernikahan ini tak akan sempurna tanpa kedatangannya." Ucap Gladys dengan air mata yang sudah menetes.


"Mana mungkin ayah tega tidak datang di pernikahanmu sayang." Ucap Marko, dia datang bersama Herlin.


"Ayah," Gladys langsung mengahamburkan pelukannya pada sang Ayah.


Marko baru sampai di jakarta hari ini dan langsung datang ke hotel tempat pernikahan anaknya. Dia memang sengaja menyuruh Herlin untuk menutupi kedatangannya. Dia ingin memberikan surprise kepada putrinya.


"Maafkan ayah sayang, tidak seharusnya ayah mengusirmu." Ucap Marko seraya mencium kepala putrinya.


"Tidak perlu minta maaf, Ayah tidak salah. Aku yang sudah membuat ayah kecewa."


"Sudah sudah jangan menangis lagi. Mulai hari ini kau harus bahagia sayang." Miko mengusap lembut wajah putrinya untuk menghapus airmatanya.


"Ayo pertemukan ayah dengan calon mertuamu."


Herlin, Miko dan Gladys pun meninggalkan ruangan make up untuk pergi ke kamar tempat Mahesa berada. Kini tinggal Jeslyn sendirian disana. Orang yang tadinya merias dirinya pergi keluar ruangan sejak tadi.


"Sangat mengharukan, kalau aku diposisi Gladys aku pasti sudah sangat hancur. Tapi beruntung lah keadaannya sekarang membaik." Ucap Jeslyn


"Aku sangat merindukan suamiku. Junior kau juga merindukan papamu kan," Jeslyn berbicara sendiri sembari mengelus perutnya yang masih ramping.


Semenjak hamil rasanya Jeslyn tidak mau jauh-jauh dengan Nathan. Tadi saja sebelum make up mereka ada bersama, tapi baru berselang dua jam dia sudah merasa rindu berat lagi.

__ADS_1


"Kemana perginya suamiku itu? Kita kan tidak dipingit, bukan seperti Dafa dan Gladys. Apa dia tidak merindukanku?" Jeslyn bertanya-tanya sendiri. Dia pun meraih hpnya untuk menelfon suaminya. Tapi tidak dijawab juga.


"Ishh.. Coku kemana sih," Dia merasa kesal sendiri. Jeslyn terus mengirimkan pesan kepada suaminya. Dia ingin keluar mencari keberadaan suaminya tapi gaun yang dipakainya membuat dirinya malas berjalan.


Kriieett .... Suara pintu terbuka. Jeslyn langsung tersenyum dan menoleh. Dia mengira itu pasti suaminya.


"Coku, akhirnya kamu datang. Aku ka.. Loh Dafa, aku kira Nathan." Jeslyn merasa kecewa yang datang bukanlah Nathan.


"Kenapa sih wajahnya langsung cemberut begitu. Bukankah dulu kau menunggu kedatanganku?"


"Apa maksudmu? Kenapa membahas dulu lagi? Hei ingat ya hari ini pernikahanmu dengan Gladys. Jadi jangan cari masalah lagi." Ucap Jeslyn dengan tegas. Dia mengangkat roknya dan berniat pergi dari sana. Dia berfirasat tidak enak.


"Mau kemana sih baby, Kau sungguh sudah tidak mencintaiku?" Kini tubuh Jeslyn di himpit ke tembok oleh Dafa. Bersusah payah Jeslyn ingin lepas darinya tapi usahanya percuma. Dafa lebih kuat darinya.


"Bukannya kau sudah berubah, kenapa kau mengatakan itu?" Tanya Jelsyn dengan gemetar.


"Aku tidak berubah dan cintaku tetap untukmu." Jawab Dafa seraya tersenyum menyeringai.


"Tidak lepaskan aku! Kau harus menikah dengan Gladys. Dia mengandung anakmu."


Jeslyn merasa sangat takut. Sialnya tidak ada satupun orang yang masuk kedalam ruangan. Jeslyn sangat berharap ada seseorang yang akan menolongnya.


Sementara di kamar vvip 509 terjadi pertemuan antar besan yang sama-sama duda itu. Mahesa meminta maaf sebesar-besarnya atas kelakuan putranya. Dengan lapang dada Marko memaafkannya. Setelah itu Marko ingin bertemu dengan Dafa, dia ingin memberikan wejangan pada calon menantunya itu.


Mahesa dan Marko menuju ke kamar yang ditempati Dafa. Sementara Herlin mengantar Gladys kembali ke ruang make up untuk touch up. Karena riasannya sedikit berantakan setelah menangis.


"Gladys aku ke toilet dulu ya, kayanya aku salah makan sesuatu nih. Daritadi agak mules gitu." Ucap Herlin


"Iya, mau aku suruh orang buat beliin obat aja?" Gladys merasa khawatir dengan keadaan sepupnya.


"Enggak usah, udah masuk sana benerin make upnya. Palingan abis ini sembuh. Aku duluan," Herlin lari meninggalkan Gladys yang masih berdiri di depan ruangan make up.

__ADS_1


Gladys melangkah masuk kedalam, dia langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dafa sedang membekap mulut Jeslyn dengan sapu tangan, hingga wanita itu akhirnya pingsan.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Gladys, awalnya Dafa terkejut dengan kedatangan calon pengantinnya itu. Tapi dia sudah sangat dibutakan oleh perasaanya sendiri hingga tidak segan menyakiti orang lain. Dafa menodongkan pisau kearah Gladys.


"Jangan mendekat, diam kau! Kalau kau berteriak, aku tidak segan membunuhmu sekarang juga!" Ucap Dafa membentak Gladys.


"Daf apa maksudnya? Satu jam lagi kita menikah, kamu berubah lagi?"


"Aku tidak berubah. Kau jangan berharap apa-apa dariku. Aku tetap tidak sudi menikahimu. Minggir!"


Dafa menggendong Jeslyn untuk pergi dari sana. Melihat situasi diluar sangat aman untuknya. Tapi Gladys menghalangi pintu.


"Tidak, kamu tidak boleh bawa Jeslyn pergi. Terserah kalau kamu tidak mau menikahiku. Dari awal aku memang tidak berharap lebih darimu. Turunkan dia atau aku teriak." Ucap Gladys. Namun sayangnya ancamannya ini sama sekali tidak membuat Dafa takut. Dia menurunkan Jeslyn kemudian mendorong kasar wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


"Aw," Pekik Gladys yang merasa kesakitan. Tapi dirinya tidak menyerah. Segera dia kembali berdiri dan menghalangi Dafa untuk kembali menggendong Jeslyn. Dia memukul-mukul tubuh Dafa, hingga menyulut amarahnya.


"Aa.." pekik Gladys ketika sebilah pisau tajam menembus perutnya. Darah segar langsung menembus keluar menodai gaun putih yang dikenakannya.


"Itu akibat kau menghalangiku!" Hardik Dafa kepada Gladys yang sudah terkulai lemas. Tanpa memperdulikannya, Dafa kembali menggendong Jeslyn yang sudah pingsan itu. Dia membawa Jeslyn pergi tanpa ada orang yang tahu.


Herlin sudah selesai dengan masalah perutnya. Dia pun menuju ruangan dimana sepupunya berada. Dia berpapasan dengan Nathan. Ternyata sejak tadi Nathan berada di kantornya. Karena ada sedikit permasalahan yang harus diselesaikan hari ini juga. Sedangkan ponselnya tertinggal di kamar hotel.


Mereka pun bersamaan masuk kedalam ruangan make up pengantin. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Gladys yang bersimbah darah, tergeletak di lantai. Dengan pisau yang masih menancap.


"Astaga, apa yang sudah terjadi?" Herlin memangku kepala sepupunya, dia masih sadar. Nathan pun syok melihat itu. Tapi lebih syok lagi karena dia tidak melihat keberadaan istrinya. Di dalam ruangan itu juga sudah sangat berantakan. Mahesa dan Miko juga datang kesana, mereka ikut kaget. Miko berlari mendekati anaknya yang terlihat lemas.


"Cepat telfon rumah sakit!" Ucap Miko dengan panik. Kini Gladys berpindah kepangkuan sang ayah. Herlin menghubungi rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulan.


"Siapa yang tega melakukan ini padamu sayang?" Tanya Marko dengan menangis, dia ingin mencabut pisau di perut Gladys itu. Karena tidak tega melihat anaknya sangat kesakitan.


"Tidak om jangan pegang itu. Saya sudah menghubungi kepolisian." Ucap Nathan

__ADS_1


"Mas Na...than Da-da- Dafa membawa pergi Jes--" Belum menyelesaikan ucapannya, Gladys sudah tidak sadarkan diri.


"Dafa!" Nathan geram, dia langsung berlari keluar untuk mengejar Dafa yang membawa lari istrinya.


__ADS_2