
Sudah satu minggu Dafa tidak pulang ke apartemen Gladys. Di tempat kerja dia juga menghindari Gladys. Dia akan terus mengabaikannya sebelum istrinya itu meminta maaf kepada Jeslyn. Namun Gladys tetap bersikeras tidak akan meminta maaf kepada kakak iparnya.
Kehidupan setelah menikah berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh Gladys. Diawal pernikahan dirinya malah bersitegang dengan sang suami. Dalam pernikahannya juga tetap saja ada bayang-bayang Jeslyn. Gladys merasa, kakak ipar sekaligus mantan kekasih suaminya itu akan terus membayangi rumah tangganya.
"Gladys kok ngelamun aja sih," Sapa Herlin seraya menepuk bahu sepupunya itu. Gladys hanya tersenyum tipis karena sedang dilanda kegelisahan hati.
Herlin pun duduk berhadapan dengan Gladys. Kini mereka sedang berada di sebuah coffe shop. Memang Gladys menyuruh Herlin datang untuk menemaninya disana. Saat ini dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia ingin mencari solusi dengan bercerita kepada sepupu dekatnya itu.
"Ada apa sih sebenarnya? Kau bertengkar lagi dengan Dafa?" Tanya Herlin, dia memang belum tahu tentang masalah ini. Karena dirinya menyibukkan diri untuk meredakan rasa sakit dihatinya. Melihat sepupunya menikah dengan orang yang dicintainya.
"Malam itu Dafa pamit jenguk Jeslyn. Padahal itu kan malam pertama setelah kita menikah. Siapa juga yang nggak kesel. Apalagi dia ngak pulang." Ucap Gladys sembari mengaduk-aduk minumannya.
"Trus paginya aku susul kesana. Jelas aku lihat mereka berpelukan. Tapi bilangnya itu nggak sengaja karena jatuh. Itu tuh bukan terjadi sekali doang loh Her, Ya aku emosi trus mau tusuk Jeslyn dengan pisau buah." Ucap Gladys tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Astaga kau mau bunuh dia?" Herlin cukup kaget dengan penuturan Gladys. Dia tidak menyangka sepupunya bisa melakukan itu saat cemburu melanda.
"Iya, tapi aku nggak salah. Dia yang mancing emosiku. Coba bayangin aja kau berada diposisiku. Apalagi sekarang Dafa tuh terus nyuruh aku minta maaf sama dia. Ya ogahlah, aku nggak salah." Ucap Gladys tetap dengan pendiriannya.
"Hemm.. Tapi kau yakin kalau semua ini bukan kesalah pahaman? Sebaiknya turunkan egomu, jangan sampai rumah tanggamu hancur karena ego yang terlalu tinggi." Ucap Herlin sedikit memberi arahan, namun sepertinya tidak diterima dengan baik oleh Gladys.
"Maksudmu gimana sih, jadi kau berpihak pada wanita penggoda itu?"
"Bukan begitu Gladys, Coba berfikir logis deh. Mana mungkin Jeslyn itu menggoda Dafa, sejak awal saja dia tidak mau lagi kembali dengan Dafa. Sebaliknya Dafa saat ini juga sedang berusaha untuk mencintaimu. Bahkan dia menikahimu Gladys. Jadi stoplah berfikir negatif terus."
Gladys menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kaku. Dia merasa percuma bercerita dengan Herlin yang juga menyalahkan dirinya. Tanpa membalas perkataan sepupunya itu, dia pergi begitu saja dengan raut wajah penuh kekesalan.
__ADS_1
"Loh loh anak itu kenapa sih. Kok jadi sensian gitu," Gumam Herlin yang tak kalah kesal juga. Dia sudah meluangkan waktu demi datang menemui Gladys, namun berakhir ditinggalkan begitu saja.
🌺🌺
Hari ini adalah hari ulang tahun Mahesa Sanjaya. Cecilia membuat ide untuk mengadakan pesta dirumah. Dirinya mengajak kedua adiknya bertemu juga adik iparnya. Namun istri dari adik keduanya itu tidak ikut datang ke cafe yang sudh disepakati. Ya, Dafa datang sendiri tanpa Gladys. Karena sampai saat ini mereka masih berselisih paham.
Padahal Cecilia sudah menyiapkan kado pernikahan untuk adik iparnya itu. Dia baru sempat memberikannya hari ini karena minggu lalu tidak bisa hadir. Namun ternyata keadaan rumah tangga adiknya sudah merenggang saja.
Mereka pun merundingkan kado apa yang cocok untuk papa mereka. Mereka semua berfikir. Dafa mengusulkan jam tangan atau kemeja. Tapi papanya tidak terlalu membutuhkan itu. Koleksinya sudah cukup banyak. Ditambah sekarang Mahesa sudah tidak aktif diluaran. Jadi dirasa tidak membutuhkan jam tangan lagi.
"Bagaimana kalau mencarikan istri baru untuk papa," Celetuk Dafa tanpa berfikir panjang dahulu. Cecilia mencubitnya dengan keras.
"Aw kak cili, sakit loh." pekik Dafa sembari mengusap lengannya yang terasa panas akibat cubitan kakak perempuannya. Nathan dan Jeslyn hanya tertawa saja melihatnya.
"Hemm aku punya ide hadiah yang berkesan untuk papa Mahesa. Tapi diterima enggaknya masukanku ini, terserah kalian para anaknya." Ucap Jelsyn
"Aku lihat foto keluarga dirumah, tapi itu foto lama kan. Dan kan kalian juga jarang barengan. Apalagi dulu Dafa dan kamu sayang nggak akur."
"Jadi gimana kalau hadiahnya itu foto bersama. Dengan keluarga yang lengkap. Termasuk suami dan anak kak Cecilia. Kalau semua berkumpul dan akur pastinya papa senang dong," Usul Jeslyn
"Ide yang bagus. Memang benar, yang dibutuhkan papa itu hanya kehadiran kita semua yang saling akur dan rukun." Ucap Cecilia langsung menyetujuinya. Dafa dan Nathan sama-sama mengangguk menandakan persetujuan.
"Hemm kalau begitu kita berkumpul dirumah malam ini, kita bikin studio foto dadakan dirumah. Oh iya segeralah berbaikan dengan Gladys Daf, ajak dia kerumah nanti malam. Bagaimanapun dia bagian keluarga kita sekarang." Ucap Cecilia
"Baiklah, aku akan ke apartemennya sekarang."
__ADS_1
Setelah perbincangan mereka selesai, Dafa pergi ke apartemen istrinya. Sementara Cecilia, Jeslyn dan Nathan mengurus untuk acara nanti malam.
🌺🌺
Dafa langsung masuk kedalam, karena dia juga memiliki aksesnya. Ruangannya begitu gelap. Dafa menyalakan seluruh lampunya. Kemudian dia mendapati Gladys sedang menangis meringkuk di kasurnya.
Dafa jadi merasa apakah tindakannya terlalu keras. Diapun menurunkan egonya dan meminta maaf terlebih dahulu kepada istrinya itu.
Seraya membelai lembut rambut Gladys, Dafa mengutarakan permintaan maafnya. "Sayang maaf, mungkin aku sudah terlalu keras denganmu. Tapi aku hanya tidak ingin kamu menyakiti orang lain. Orang yang tidak salah. Aku benar-benar minta maaf sudah mendiamkanmu cukup lama."
Mendengar itu sontak Gladys terbangun dan langsung memeluk sang suami. "Aku juga minta maaf. Aku sangat merindukanmu sayang. Jangan seperti ini lagi. Aku tidak sanggup kamu jauhi." Ucap Gladys dengan air mata bercucuran.
"Asal kamu janji tidak akan lagi cemburu berlebihan seperti waktu itu. Aku dan Jeslyn tidak ada apa-apa. Sekarang aku ini suami kamu. Dan Jeslyn hanyalah kakak iparku saja. Juga kakak iparmu." Ucap Dafa seraya mengusap air mata istrinya.
"Lagi-lagi Dafa membela Jeslyn. Tapi yasudahlah. Yang penting aku sudah baikan dengannya. Tapi untuk minta maaf pada wanita penggoda itu. Tidak akan pernah kulakukan." Ucap Gladys dalam batinnya.
"Sudah jangan menangis lagi sayang, nanti cantiknya hilang." Goda Dafa untuk mengembalikan suasana hati istrinya.
"Iya udah nggak nangis kok," Balas Gladys sembari memeluk erat sang suami.
"Oh ya, nanti sore kita kerumah papa. Hari ini ada acara ulang tahun papa. Tadinya kamu diajak meeting keluarga, tapi aku telfon kamu nggak angkat."
"Oh handphoneku mungkin ada di ruang tamu. Aku harus bawa kado apa dong buat papa?"
"Nggak perlu, kadonya itu kita foto keluarga. Semuanya udah disiapin sama kak Cecilia, bang Nathan dan Jeslyn."
__ADS_1
"Hemm oke,"