
Kedatangan Gladys dan juga Herlin kesana membuat suasana menjadi memanas.
"Sial, bagaimana bisa dia sampai disini? Nggak, dia nggak boleh ngrusak semuanya." Batin Dafa
"Daf daripada kamu sibuk ngurusin istri orang, mending kamu tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan." Tegas Herlin
"Ini maksudnya apa sih?" Tanya Jeslyn yang bingung. Sementara Dafa masih diam tapi menatap tajam pada Gladys dan Herlin bergantian.
"Kau beruntung sudah lepas dari pria bejat ini. Dia ini menghamili sepupuku." Ucap Herlin menjawab pertanyaan Jeslyn.
"Jangan asal ngomong ya, Aku nggak kenal siapa dia." Ucap Dafa seraya menatap tajam kepada Gladys
"Dafa kamu enggak sedang amnesia kan? Aku wanita yang selalu menemani suka dukamu di Belanda. Aku yang menghiburmu ketika kamu bersedih. Ya aku sadar kita tidak punya ikatan. Tapi kamu bilang itu tidak penting, yang penting kita saling sayang. Dan aku sadar aku bodoh sudah menyerahkan semuanya pada pria brengsek sepertimu!" Ucap Gladys menggebu-gebu seraya menangis.
"Jadi selama di Belanda kamu berhubungan dengan wanita lain. Ternyata selama itu aku juga bodoh sudah berharap kamu kembali." Ucap Jeslyn dengan tawa sinis meratapi kebodohannya dulu. Dafa hendak meraih tangan Jeslyn menjelaskan semuanya. Tapi Jeslyn mencegahnya untuk mendekat.
"Urusan kita udah selesai. Kamu selesaikan masalahmu dengan dia. Kamu bukan pengecut kan, jadi tanggung jawablah dengan apa yang kamu perbuat." Ucap Jeslyn, kemudian dia berjalan masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya.
Dafa menatap tajam kepada Herlin dan Gladys. Dia berjalan mendekat kearah Gladys.
"Kau ingin aku tanggung jawab? Jangan harap! Itu bukan anakku. Bisa saja kau tidur dengan pria lain saat aku tidak bersamamu."
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Dafa. Dafa membalasnya dengan mencengkram rahang Gladys. Herlin pun segera mendorong Dafa untuk menjauh.
"Hei dasar kau pria brengsek. Dia sedang mengandung anakmu. Dia kemari untuk meminta pertanggung jawaban. Bukan untuk kau sakiti lagi. Cukup kau sakiti hatinya jangan fisiknya." Ucap Herlin dengan emosi.
"Diam kau! Kalian berdua itu sama. Fans berat yang tak bisa bersamaku. Makanya sampai mengaku-ngaku begini. Sudahlah, aku nggak punya waktu buat ladeni wanita gajelas begini." Ucap Dafa yang kemudian pergi darisana.
"Hei kau mau kemana? Dafa kau harus tanggung jawab." Teriak Herlin tapi sama sekali tidak dihiraukan. Sementara Gladys menangis tersedu-sedu mendapat penolakan mentah-mentah dari Dafa. Herlin merangkulnya dan mengajaknya pulang.
🍁🍁🍁
Dirumahnya Nathan sedang duduk melamun di halaman belakang. Ya, kini Nathan kembali tinggal dirumah sang papa. Mahesa sudah sehat dan kini perusahaan sudah ia ambil alih kembali. Bahkan Mahesa memberi pelajaran Dafa dengan menarik semua fasilitasnya. Tak terkecuali semua kartu debit dan kreditnya. Tapi itu diluar sepengetahuan Dafa. Karena Dafa terlalu sibuk urusan diluar hingga tidak tahu semuanya sudah diambil kembali oleh papanya.
Semua aset dan saham milik Nathan pun kembali. Tapi sesuatu yang paling berharga baginya belum kembali, Yaitu Jeslyn.
"Nathan, kapan kamu menemui istrimu? Sidang kedua kalian sepuluh hari lagi kan, Papa mohon jangan lanjutkan itu." Ucap Mahesa
__ADS_1
"Nanti aku kesana pah, aku akan jelasin semuanya."
*
*
Jeslyn sedang menyirami bunga di halaman rumah kontrakannya. Dia mencari-cari kesibukan untuk tidak terus memikirkan Nathan.
"Emmh." Nathan yang sudah berdiri di belakang Jeslyn berdehem untuk menyapanya. Mendengar itu Jeslyn pun menegakkan tubuhnya yang tadinya menunduk menyirami bunga. Dia kin menghadap suaminya yang mengenakan kemeja rapi ala CEO.
"Co.. Nathan, Ngapain kamu kesini?" Tanya Jeslyn dengan ketus.
"Aku ingin bertemu dengan papa Hilman." Jawab Nathan
"Papa nggak ada. Lagi keluar sama mama." Ucap Jeslyn masih dengan nada ketus.
"Kalau begitu titip ini buat papa." Ucap Nathan seraya memberikan sebuah map kepada Jeslyn.
Jeslyn menerima map itu dan langsung saja membukanya. Dia membaca seluruh isinya. Disana tertulis hutang perusahaan papanya lunas. Bank mengembalikan seluruh aset yang semula disita. Jeslyn sangat senang membaca itu. Tapi sedetik kemudian dia menatap datar kearah Nathan.
"Bukan aku yang melakukan, papaku yang.."
"Ehmm." Nathan berdehem.
"Apalagi? Mau mengingatkan persidangan kedua? Aku ingat sepuluh hari lagi." Ucap Jeslyn tanpa melihat kearah Nathan, dia masih sibuk menyirami bunga.
"Duh pergi coku, aku nggak bisa mengontrol perasaanku yang merindukanmu kalau kamu tetap disini. Rasanya aku ingin sekali memelukmu memanggilmu coku,coku,coku. Aku juga ingin perceraian kita batal. Tapi mengingat saat itu kamu dengan tega menuduhku berselingkuh di persidangan, itu membuatku sakit." Ucap Jeslyn dalam batinnya.
"Emmh." Nathan berdehem lagi dan kini Jelsyn menatapnya.
"Apalagi? Apa barangmu masih ada yang ketinggalan disini?" Tanya Jeslyn dengan ketus.
"Iya ada."
"Yaudah ambil sana."
Nathan langsung menarik Jeslyn kedalam pelukannya. Namun tidak lama Jelsyn melepas paksa pelukan Nathan.
"Kamu ini kenapa sih, hei ingat ya kita dalam proses perceraian. Jangan sentuh aku!" Tegas Jeslyn, padahal dalam hatinya senang mendapatkan pelukan dari sang suami. Nathan menarik kembali dirinya kepelukan.
__ADS_1
"Aku tidak mau bercerai denganmu. Selamanya kamu akan tetap menjadi istriku." Ucap Nathan seraya menatap mata Jeslyn yang berada didalam pelukannya. Jeslyn ingin menjawabnya tapi terlambat. Karena saat ini bibir Nathan sudah mengunci bibirnya.
Jeslyn menikmati ciuman yang dilakukan suaminya. Tapi beberapa detik kemudian dia sadar dan langsung memberontak.
"Coku apa yang kamu lakukan, ini di teras. Kalau ada orang lihat bagaimana?"
"Jadi kalau di dalam rumah boleh?" Goda Nathan
"Enggak juga!"
"Eh kamu manggil aku coku lagi, itu artinya kamu masih.."
"Enggak! Itu cuma lupa aja. Udah aku mau masuk, kamu pulang sana." Tapi belum sempat menutup pintu, Nathan sudah ikut masuk kedalam.
"Mau kamu apasih?" Tanya Jeslyn dengan jengah.
"Aku mau kita batalkan perceraian kita."
"Hah, yang mengajukan kamu. Trus sekarang yang pengen batalin kamu. Kamu pikir hubungan pernikahan kita ini permainan?"
"Aku punya alasan kenapa waktu itu menggugat cerai kamu. Aku terpaksa melakukan itu. Karena.."
"Karena untuk mendapatkan kembali kekayaanmu kan? Oh ya selamat sudah kembali menjadi CEO. Kamu tega mengorbankan pernikahan kita cuma demi harta. Udahlah aku nggak mau berurusan sama kamu ataupun adik kamu." Tegas Jeslyn.
Nathan mendorong Jeslyn hingga ke tembok kemudian menghimpitnya. Karena Jeslyn tak mau sedikitpun mendengarkan penjelasannya dahulu.
"Hei menyingkir. Lepaskan aku!"
"Enggak, kamu harus dengarkan aku dulu. Aku melakukan itu karena Dafa mengancam akan memutus biaya rumah sakit papa. Sedangkan saat itu papa masih dalam keadaan kritis tak sadarkan diri. Dafa juga berkata akan mencelakai kamu dan orang tuamu jika aku tidak mau berpisah denganmu. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang ku sayang dari kegilaan Dafa."
"Masalah jabatanku dan semua asetku sudah kembali, itu bukan karena Dafa mengembalikannya. Tapi ini dari papa yang kembali mengambil alih semua dari Dafa."
"Asal kamu tahu, lebih baik aku kembali miskin tapi terus bersamamu daripada kembali kaya tapi harus kehilanganmu. Aku tidak apa-apa kembali jadi tukang ojek asal tetap menjadi suamimu."
Nathan berbicara panjang lebar dihadapan istrinya. Jeslyn pun luluh dan langsung memeluk erat suaminya seraya menangis.
"Aku juga tidak mau bercerai darimu. Coku, jujur aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah cerita sejujurnya. Hatiku tersiksa rasanya."
"Maafkan aku, aku juga sangat merindukanmu ceborku." Ucap Nathan membalas pelukan Jeslyn.
__ADS_1