
Jeslyn pulang malam karena dia membantu temannya yang sedang mengadakan bazar. Dia membantu mempromosikan barang dagangan milik temannya dalam siaran live sosial medianya. Followersnya yang tidak sedikit membuatnya dengan mudah melariskan dagangan temannya. Dia mendapatkan komisi dari apa yang dilakukannya itu.
Nathan sudah lebih dulu sampai dirumah sejak sore. Sementara Jeslyn pulang diatas jam 9 malam. Nathan menunggunya di teras. Sedangkan orang tua Jeslyn sudah beristirahat di kamar.
Jeslyn langsung teringat saat tadi Nathan dipeluk oleh Sandra dengan erat. Wajah Jeslyn berubah menjadi datar, moodnya jelek. Dia mengacuhkan Nathan langsung masuk saja kedalam kamar mengambil baju ganti dan segera mandi.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Nathan duduk di tepian kasur sementara Jeslyn masih duduk di depan kaca menyisir rambutnya.
"Si cebor kenapa sih, kok tumben dia diem aja. Raut wajahnya kaya orang lagi kesal." Batin Nathan
Kemudian Nathan teringat ingin menanyakan tentang foto yang diterimanya tadi. Yang memperlihatkan kalau Jeslyn sedang berduaan dengan Dafa di sebuah restoran. Tapi belum sempat mengeluarkan kata-kata, Jeslyn sudah lebih dulu berbicara.
"Nggak ada sesuatu yang mau dijelasin sama aku gitu," Ucap Jeslyn tanpa menatap wajah Nathan
"Tentang apa?" Tanya Nathan bingung,
"Nggak usah dibahas deh, aku badmood." Ucap Jeslyn, dia naik ke kasur dan langsung tidur membelakangi Nathan.
"Ada apa sih, ya aku mana tahu kalau kamu enggak ngomong. Kamu marah sama aku, aku salah apa?" pungkas Nathan yang masih merasa bingung.
"Aku tahu profesi kamu sekarang tukang ojek, tapi harus ya penumpang meluk-meluk kamu gitu. Tadi aku lihat kamu boncengin Sandra, aku tau banget dia itu suka sama kamu." Ucap Jeslyn masih dengan posisi membelakangi Nathan.
"Kamu juga sama sekali nggak ada penolakan, ngerasa nyaman?" Ketus Jeslyn,
"Oh kamu marah karena itu, Lantas ini bagaimana?" Ucap Nathan seraya menunjukkan gambar di ponselnya tepat di depan mata Jeslyn.
Wanita yang sudah menjadi istrinya itu pun syok. Dia langsung terduduk.
__ADS_1
"Kamu sendiri berduaan dengan Dafa, dari foto itu juga kelihatannya kamu seneng aja. Apa kamu masih nyimpen perasaan buat dia?"
"Hey coku ngomong apaan sih, Kamu kan nggak tahu gimana situasi disana. Dapet foto itu darimana?"
"Ada yang ngirim tapi aku nggak kenal nomor siapa,"
"Dengerin ya coku, aku itu sama sekali nggak ada perasaan lagi sama Dafa. Itu cuma karena pekerjaan. Dafa membeli saham bintang agency. Sekarang dia manajer baru aku. Aku udah terikat kontrak dan dia sengaja manfaatin itu. Kalau aku nggak nurut atau aku keluar dari sana aku harus bayar denda 5 milliyar." Ucap Jeslyn dengan jelas. Sudah mendengar penjelasan itu Nathan hanya diam.
"Ayolah coku masa kamu cemburu sih, aku tuh cuma terpaksa. Oh iya jangan lupa kamu juga peluk-pelukan sama Sandra. Aku nggak suka kamu deket-deket sama perempuan itu."
"Jadi kamu cemburu?" Nathan mendekatkan wajahnya pada Jeslyn. Jantung Jeslyn langsung berdegup kencang menatap mata suaminya. Dengan cepat Jelsyn turun dari kasurnya menghindari Nathan. Jeslyn masih sangat gengsi berkata cemburu. Tak ingin menjawabnya, Jeslyn berniat keluar dari kamar. Tapi Nathan langsung menariknya dan mengunci tubuh mungilnya di tembok.
"Coku apaan sih," Jeslyn sedikit meronta ingin lepas, tapi dia tidak berani menatap mata Nathan.
"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu jawab pertanyaanku,"
"Harus tahu dong, tinggal menjawab iya atau tidak cebor." Ucap Nathan seraya membuat wajah Jeslyn lurus mengahadap padanya. Tapi tetap, Jeslyn mengalikan pandangannya. Dia tidak kuat menatap mata pria tampan di depannya itu.
Beberapa menit Nathan menunggu jawaban dari istrinya dengan posisi tetap sama sedari tadi. "Cebor jawab, kenapa diam? Kamu cukup ja--"
"Iya aku cemburu, aku enggak suka lihat kamu bermesraan dengan perempuan lain. Karena entah sedari kapan rasa ini ada. Aku sudah mencintaimu." Ucap Jeslyn dengan menggebu, detak jantungnya terasa lebih cepat. Nathan tersenyum mendengar perkataan istrinya. Tanpa memberi aba-aba dia mencium bibir istrinya yang tak lama berubah menjadi lum*tan. Jeslyn memejamkan matanya. Ini adalah ciuman pertama mereka setelah hampir 3 bulan menikah.
Nathan melepaskan ciumannya. Nafas mereka sama-sama terengah-engah karena durasinya yang cukup lama. Wajah Jeslyn benar-benar memerah saat ini. Apalagi saat ini Nathan menatapnya dengan dalam.
"Terimakasih sudah mau membuka hati untukku. Aku juga sangat mencintaimu. Mengenai Sandra kamu jangan salah paham. Aku berkali-kali menyingkirkan tangannya tadi. Tapi kamu tahu kan sifat dia seperti apa, maaf sudah membuatmu cemburu." Ucap Nathan seraya memeluk Jeslyn. Dia juga mendaratkan ciuman dikening Jeslyn.
Jeslyn membalas pelukan Nathan. Dia percaya dengan penjelasan suaminya itu. Akhirnya dua insan manusia itu menumbuhkan cinta dalam rumah tangga mereka. Pernikahan yang berawal dari perjodohan dan keterpaksaan kini sudah tumbuh cinta di dalamnya.
__ADS_1
Kini dalam otak Jeslyn berfikir apakah malam ini saatnya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri,
"Coku, kalau kamu mau meminta hakmu sekarang aku sudah siap." Lirih Jeslyn yang masih berada dalam pelukan Nathan. Meskipun berucap pelan Nathan dengan jelas mendengarnya.
"Jujur sih aku udah lama menunggu kamu mengatakan itu," Ucap Nathan dengan senyum tipis di bibirnya. Tanpa basa-basi lagi Nathan menggendong istrinya dan menjatuhkannya ke kasur. Nathan langsung mencium istrinya sama seperti yang dilakukannya tadi. Saat tangannya mulai ingin membuka kancing baju milik istrinya, tangannya di cegah.
"Aku malu," Lirih Jeslyn
"Aku sudah pernah lihat dan menyentuhnya jadi jangan malu." Bisik Nathan dengan nakal.
"Ihh apaan sih," Jeslyn mencubit suaminya itu dengan cukup keras. Nathan memang sudah tahu bentuk tubuh Jeslyn saat di Bandung waktu itu. Karena kecerobohan Jeslyn tidak mengunci pintu kamar mandi.
Saat ingin melanjutkan aktivitas mereka perut Jeslyn terasa sakit. Dia baru ingat kalau hari ini baru mendapatkan tamu bulanannya.
"Kamu kenapa? Kok kaya nahan sakit?"
"Emm coku maaf aku lupa, aku lagi datang bulan baru mulai tadi siang."
"Iya nggak apa-apa, kalau begitu kita tidur saja." Ucap Nathan, sebenarnya dia sedikit kecewa karena sudah terlanjur mode on. Tapi mau bagaimana lagi, dipaksa pun tidak bisa.
Setelah membantu istrinya berbaring, Nathan pergi ke dapur mengambilkan air hangat untuk di kompreskan ke perut istrinya.
"Coku maaf ya,"
"Iya nggak papa cebor, gimana udah mendingan nyerinya? Atau mau dibeliin obat?"
"Udah mendingan banget kok, nggak perlu beli obat. Udah sini kamu istirahat."
__ADS_1
Nathan pun naik ke kasur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Malam ini mereka tidur tanpa berjarak lagi.