Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 41


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, Nathan merubah keputusannya untuk menerima tawaran kerja dari Sandra. Dia tak mau membuat istrinya cemburu lagi.


Pagi-pagi Sandra sudah menelfon Nathan. Dia kembali memastikan kalau Nathan akan datang ke hotelnya hari ini. Tapi Jawaban Nathan membuat Sandra merasa kecewa.


"Arrghh sial. Kenapa cepat sekali Nathan berubah pikiran. Apa perempuan sialan itu yang mempengaruhinya untuk tidak menerima tawaranku, Dafa bisa marah kalau dia tahu tentang ini." Gerutu Sandra merasa kesal.


Sementara di rumahnya, Dafa tengah bertengkar dengan papanya. Mahesa akan mengambil alih kembali perusahaan dengan dalih Dafa tidak serius mengurus perusahaan. Mahesa menunjukkan berkas berisi sebuah pernyataan. Disana tertulis perusahaan akan berpindah tangan kepada Dafa Putra Sanjaya jika dia bisa menjalankannya dengan serius. Jika tidak sewaktu-waktu kepemilikan akan dialihkan kembali pada Mahesa Sanjaya selaku pendiri perusahaan.


Dafa merasa dibodohi oleh papanya, dia tidak terima dengan semua ini. Rencana saja belum berhasil tapi sudah akan dihancurkan oleh papanya.


"Enggak! Perusahaan ini sudah menjadi milikku. Papa nggak bisa mengambilnya kembali." Dafa melemparkan berkas itu ke lantai.


"Kenapa tidak? Perusahaan itu papa yang mendirikannya. Baru sebentar saja kamu sudah membuat perusahaan itu diambang kehancuran." Ucap Mahesa


Mahesa mendapatkan laporan dari manager keuangan kalau saat ini pengeluaran perusahaan benar-benar kacau. Dengan seenak hati Dafa menggunakan dana perusahaan untuk sesuatu yang tidak penting. Mischa sebagai sekertaris Dafa juga melaporkan bahwa klien yang bekerjasama dengan perusahaan banyak yang mengeluh. Terutama dari proyek Stars city.


"Kamu gunakan uang perusahaan seenaknya. Bahkan gaji karyawan bulan ini semuanya kamu potong. Padahal kesalahannya ada di kamu sendiri." Ucap Mahesa dengan lantang.


"Buat apa juga kamu membeli saham bintang agency? Itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan perusahaan kita." Mahesa benar-benar geram dengan anak bungsunya.


"Itu nggak ada hubungannya dengan perusahaan tapi ada hubungannya denganku, dengan hatiku." Dafa mulai emosi,


"Dari situ aku bisa menjerat istri anak kesayangan papa yang harusnya menjadi istriku! Aku akan dengan senang hati mengembalikan perusahaan tapi papa harus kembalikan Jeslyn padaku. Suruh bang Nathan bercerai!"


Disana tidak hanya ada mereka berdua. Tapi ada satu orang pria yang umurnya tak jauh dari Mahesa. Dia adalah Herman tangan kanan Mahesa, orang yang membantunya dalam segala hal termasuk membuat peryataan tertulis itu.

__ADS_1


"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi. Mereka berdua itu memang ditakdirkan bersama. Kamu saja menyelingkuhinya dengan banyak wanita. Kamu pikir papa tidak tahu. Jeslyn itu perempuan baik, dia tidak pantas disandingkan denganmu."


"Tuan Mahesa Sanjaya, aku masih bisa menghormatimu sekarang ini. Kalau sekali lagi kau berani berkata seperti itu, Aku tidak segan-segan mengusirmu dari sini. Aku juga akan membuat anak kesayanganmu itu masuk kedalam penjara. Camkan itu!"


"Mas Dafa kenapa bersikap seperti itu dengan bapak," tukas Herman yang sedari tadi diam saja.


"Diam aku tidak butuh pendapatmu. Kau nggak usah ikut campur!"


"Dan untuk kau Tuan Mahesa, Aku tegaska kalau aku menyesal telah lahir menjadi anakmu. Kau bisanya hanya membuat hidupku penuh kesengsaraan. Kamu atur-atur hidupku, membanding-bandingkanku, terakhir kau rebut cintaku dan kau berikan pada anak kesayanganmu. Kau tidak pantas ku sebut papa!" Hardik Dafa seraya menunjukkan tangan kearah papanya.


Mendengar perkataan itu Mahesa langsung terkena serangan jantung. Dia kejang dan akhirnya tak sadarkan diri. Melihat itu Dafa bukannya merasa bersalah ataupun panik, malahan dia biasa saja. Herman yang panik, dia segera menghubungi rumah sakit.


"Urus dia, kau jangan pernah bicara apapun dengan siapapun tentang percakapanku dengan tuanmu ini. Juga mengenai perusahaan, awas kalau kau berani buka mulut dengan orang lain terutama dengan bang Nathan. Ku buat keluargamu menderita." Ucap Dafa sebelum akhirnya pergi meninggalkan papanya yang sedang terkulai begitu saja. Dia yakin papanya akan kritis. Dia malah berharap papanya meninggal saja agar tidak lagi mengganggu dirinya. Memang dasar Dafa anak yang tidak tahu diri.


Rumah Sakit


"Pak gimana keadaan papa?" Tanya Nathan dengan panik.


"Belum tahu mas, dari tadi dokter belum keluar dan saya tidak diperbolehkan masuk." Jawab Herman


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai papa harus dilarikan kerumah sakit? Apa Dafa membuat ulah?" Tanya Nathan dengan perasaan curiga. Namun belum sempat dijawab oleh Herman, Dokter sudah keluar.


"Dengan keluarga bapak Mahesa,"


"Iya saya anaknya dok. Bagaimana keadaan papa saya?"

__ADS_1


"Pak Mahesa terkena serangan jantung. Kondisinya cukup serius. Masih diperlukan penanganan lebih lanjut." Ucap Dokter,


"Lakukan yang terbaik dok,"


Mahesa dipindahkan ke kamar perawatan. Nathan senantiasa menggenggam tangan sang papa yang sampai malam belum juga sadarkan diri. Mahesa dirawat dikamar biasa karena atm miliknya tak bisa digunakan. Memang Dafa sudah membekukannya. Herman yang membayar biaya untuk hari ini. Nathan sangat berterimakasih pada orang kepercayaan papanya yang sudah bekerja sejak Nathan masih sekolah menengah pertama.


"Oh ya pak Herman tadi belum jawab pertanyaan saya," Nathan masih menanyakan penyebab papanya seperti itu.


"Emm saya juga tidak tahu mas, ketika saya datang kerumah tuan sudah tergeletak. Mas Dafa tidak ada dirumah." Ucap Herman berbohong, sebenarnya tadi ingin jujur tapi ada preman suruhan Dafa yang menghampirinya ke rumah Sakit mengingatkan ancaman Dafa tadi. "Maaf saya mas. Saya terpaksa berbohong." Batin Herman


"Kok sepertinya pak Herman ini berbohong dari gerakan wajahnya. Apa benar sebenarnya papa seperti ini karena ulah Dafa." Nathan berbicara dalam benaknya.


"Yasudah pak Herman pulang saja, biar saya yang menunggu papa."


Herman pergi meninggalkan rumah sakit. Tapi ketika sampai rumah dia terkejut dengan adanya Dafa disana. Dia bertanya-tanya dalam hati. Ada apa lagi Dafa datang ke rumahnya.


"Tak perlu takut, aku kesini cuma mau tanya. Gimana keadaan tuanmu itu?" Dafa duduk seraya menyilangkan kakinya.


"Tuan saat ini sedang kritis. Beliau belum sadarkan diri." Jawab Herman


"Bagus, semoga saja tuanmu itu cepat dead." Ucapan Dafa ini membuat Herman mengelus dada. Tega sekali Dafa berucap seperti itu.


"Oh iya jangan lagi kau berani bantu biaya rumah sakit tuanmu. Itu urusanku. Mulai besok nggak usah datang lagi menemui tuanmu itu. Kalau kau masih berani memunculkan diri, Aku habisi kau!" Ucap Dafa membuat Herman merinding.


"Iya mas baik. Saya akan turuti perintah mas. Tapi jangan usik saya dan keluarga lagi." Ucap Herman merasa takut. Apalagi disana banyak preman mengelilingi teras rumahnya.

__ADS_1


"Saatnya aku beraksi dengan bebas, akan kujalankan rencana briliantku ini. Abang brengsek itu pasti nggak akan punya pilihan lain. Hahaa.." Batin Dafa bersorak,


__ADS_2