
Dafa mendatangi rumah Sandra. Dia ingin menekankan pada wanita itu agar tidak melaporkannya ke polisi. Kalau sampai itu terjadi, dia juga akan melaporkan Sandra atas tindakannya yang melepas selang oksigen Asya.
Kini mereka berdua tengah bersitegang. Sandra ingin sekali memberi Dafa pelajaran, tapi dia merasa takut juga jika Dafa benar melaporkannya ke polisi.
"Jangan berani mengacaukan rencanaku, atau rasakan akibatnya nanti." Tegas Dafa, setelah itu dia pergi meninggalkan rumah Sandra.
"Lebih baik memang bu Sandra nggak perlu lagi ikut campur urusan mereka. Saya takut bu Sandra nantinya dicelakai." Ucap Lita
"Iya sebaiknya begitu. Yasudah saya mau istirahat. Jangan ganggu saya. Oh ya jangan bicara tentang masalah ini kepada papa." Ucap Sandra
"Baik bu,"
🍁
🍁
Dafa pulang kerumah, dia membuat keributan lagi. Dia merasa tidak terima semua miliknya diambil begitu saja.
"Pah aku masih anakmu kan? Teganya papa menarik semua fasilitasku." Ucap Dafa dengan suara lantang.
"Iya tentu kamu ini anak papa." Ucap Mahesa dengan tetap fokus pada koran yang dia baca. Dia seakan tidak perduli dengan keberadaan Dafa.
"Kalau memang aku ini masih anak papa, kembalikan fasilitasku terutama atm milikku pah."
"Oh kau masih membutuhkan uang juga dari papa. Itu di laci ada lima ratus ribu. Ambil saja semuanya." Ucap Mahesa,
"Hah, papa bercanda. Lima ratus ribu?" Dafa merasa tidak terima. Mahesa langsung melipat koran yang dia baca. Dia menatap serius putranya.
"Kamu harusnya bersyukur masih papa berikan uang. Kamu pasti butuh banyak uang untuk membayar preman dan anak buahmu itu kan? Belum cukup kamu membuat kekacauan?"
"Semua ini juga gara-gara papa. Keputusanku salah, harusnya kubiarkan saja papa sekarat waktu itu. Hidupku sengsara itu semua karena papa." Bentak Dafa yang tersulut emosi. Mahesa benar-benar tidak percaya anaknya sendiri malah tidak senang dirinya telah sembuh.
"Jaga bicaramu Dafa!" Teriak Nathan yang baru saja datang.
__ADS_1
"Oh anak kesayangan papa datang. Wah udah kembali jadi CEO ya, tapi sayangnya image jelek masih menempel tuh." Ucap Dafa dengan senyum seringainya. Memang benar apa yang dikatakannya, Dimata para klien Nathan masih seorang koruptor dan pembohong besar. Hingga kini ulah Dafa itu belum bisa terbongkar. Hanya tentang pencurian proposal stars city buatan Nathan saja yang sudah terbongkar.
"Oh ya dan satu lagi, jabatanmu memang kembali. Tapi istrimu akan menjadi milikku sebentar lagi. Aku berdoa semoga sidang perceraianmu berjalan dengan lancar." Ucap Dafa sembari menepuk bahu Nathan.
"Aku dan Jeslyn tidak akan pernah bercerai. Kita sudah memutuskan untuk rujuk saat persidangan kedua nanti." Ucap Nathan dengan serius.
"Ahaha. Kau bercanda," Dafa malah tertawa tidak percaya. Sementara Mahesa senang mendengar kabar itu.
"Aku serius, dia sudah menjadi istriku. Aku tidak pernah merebutnya darimu. Kau sendiri yang meninggalkannya. Dan dari awal aku tidak pernah tahu kalau dia itu pernah ada hubungan denganmu." Ucap Nathan
"Nggak, kau tetap harus ceraikan dia." Ucap Dafa dengan mencengkram rahang kakaknya. Tapi segera di tepis oleh Nathan. Mahesa pun langsung berdiri, dia juga menyuruh Herman mendekat berjaga-jaga kalau mereka berkelahi.
"Apa alasannya kalian tidak bisa bercerai?" Tanya Dafa dengan menatap tajam pada Nathan.
Nathan ingin sekali mengatakan yang sejujurnya kalau istrinya sedang hamil. Tapi dia mengurungkannya, karena takut Dafa akan berbuat hal yang kejam pada calon anaknya.
"Karena aku dan Jeslyn saling mencintai." Jawab Nathan dengan wajah datar. Jawabannya itu membuat Dafa muak, hingga menghantamkan satu pukulan ke pipi Nathan hingga membekas memar.
"Mas stop mas, jangan emosi." Ucap Herman yang memegangi Dafa yang masih meronta-ronta ingin memukul Nathan.
"Lepaskan aku!" Teriak Dafa. Atas persetujuan Mahesa, Herman pun melepaskan pegangannya.
"Daf papa akan memberikan setengah saham perusahaan untukmu. Papa juga akan mengembalikan semua fasilitasmu. Tapi stop ganggu rumah tangga Nathan dan Jeslyn." Ucap Mahesa mencoba mendinginkan Dafa.
"Aku tidak butuh!" Ucap Dafa yang kemudian meninggalkan rumah lagi.
Nathan memegangi pipinya yang memar akibat pukulan Dafa. Mahesa pun segera memanggil pembantunya untuk menyiapkan kompresan.
"Tuan tuan.." Teriak Usman, sopir pribadi Mahesa.
"Ada apa?" Tanya Mahesa
"Mas Dafa minta paksa kunci mobil. Barusan dia keluar naik mobil tuan. Saya sudah mencoba melarang, tapi saya mau dipukul. Saya takut, jadi saya berikan. Maaf tuan." Jawab Usman
__ADS_1
"Yasudah biarkan saja." Mahesa sudah geram dengan sifat tempramen putranya itu. Entah mengapa semakin bertambah usia putranya itu semakin susah diatur.
🍁🍁🍁
Dirumah kontrakan yang semula di tinggali oleh keluarga Jeslyn kini sepi. Dafa berdiri di terasnya. Dia sudah berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Dia belum tahu kalau Jeslyn sekeluarga sudah kembali kerumah mereka.
"Pasti mereka sudah kembali kerumah. Aku yakin itu. Papa pasti membayarkan hutang perusahaan papa Jeslyn. Aku akan pergi kerumahnya. Jeslyn harus ikut denganku pergi sejauh-jauhnya." Ucap Dafa
Fikiran Dafa sudah buntu. Dia berencana menculik Jeslyn dan membawanya pergi jauh. Hanya itu satu-satunya cara untuk memisahkan Jeslyn dan Nathan.
"Aku akan menculikmu dan membawamu pergi jauh. Kita akan hidup berdua dan kupastikan kau akan menjadi milikku selamanya."
Namun setelah sampai disana, Dafa tidak bisa masuk. Karena diluar ada penjagaan ketat. Nathan sengaja memberikan penjagaan ketat karena dia yakin Dafa tidak akan berhenti untuk mengganggu rumah tangganya.
Dafa berusaha memaksa masuk, tapi yang dia dapatkan malah babak belur di seluruh wajahnya. Hingga dia menyerah dan pergi darisana.
"Bangs*t kau bang Nathan!" Umpat Dafa dengan memukul-mukul setir mobilnya.
Saat itu hampir saja Dafa menabrak seorang wanita yang sedang berjalan di jalanan itu. Dafa menghentikan mobilnya dan keluar untuk memaki orang yang sembarangan berjalan ke tengah jalan.
"Hei kau itu mau mati," Maki Dafa pada perempuan yang menunduk ketakutan. Perlahan wanita itu menunjukkan wajahnya.
"Kau? Ngapain kau di tengah jalan? Mau mati? Minggir." Bentak Dafa pada wanita dihadapannya. Dia adalah Gladys. Terlihat dari raut wajahnya, Gladys habis menangis.
"Ya aku mau mati, bunuh aku sekarang bunuh Daf. Biar aku mati bersama anakmu ini." Ucap Gladys dengan histeris.
"Kau gila, Kalau mau mati jangan libatkan aku. Dan perlu di garis bawahi itu bukan anakku. Jangan sembarangan kau mengakui itu anakku."
"Tapi ini beneran anak kamu Daf, Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab bunuh saja aku sekarang." Ucap Gladys yang memang sudah putus asa. Bukannya iba, Dafa malah mendorong wanita yang perutnya sudah sedikit membesar itu hingga jatuh. Kemudian Dafa meninggalkannya begitu saja.
Gladys menangis terisak, dia merasa sangat menyesal telah terjebak dengan pria jahat seperti Dafa. Kini dia mengandung anak dari pria jahat itu, tapi dia tidak bisa menyalahkan anak dalam kandungannya itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk membantu Gladys berdiri. Gladys mendongak, matanya melihat sosok pria tampan yang sedikit mirip dengan Dafa.
__ADS_1