Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 78


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian pintu kamar kembali terbuka. Nathan masuk ke dalam. Jeslyn yang sudah kembali ke posisi awal terus berdecak kesal dalam hatinya. Tapi dia berpura-pura tidur. Jeslyn mengira Nathan pasti sudah makan sendirian tanpa memikirkan dirinya. Tapi itu semua salah.


"Hei cebor bangun, aku bawa pizza mozarella kesukaan kamu. Ada chiken saos keju, es krim cocho waflle, boba thai tea dan chesee cake dari kafe favorit kamu. Pastinya kamu mencium bau harum dari semua makanan favoritmu ini kan," Ucap Nathan sembari menggoyangkan badan Jeslyn dengan pelan. Ya, Nathan membeli semua makanan itu lewat layanan online. Tiga puluh menit tadi dia habiskan untuk menunggu kurir, dia tidak bisa makan sendirian. Apalagi setelah tahu dari Inem bahwa Jeslyn belum makan malam karena menunggunya pulang.


"Aaa.. Ternyata coku membeli semua makanan kesukaanku." Batin Jelsyn yang sangat senang. Namun sesaat kemudian dia kembali teringat jika saat ini sedang marah. Dia berusaha untuk tidak merespon apapun.


"Pizza ini sangat enak sekali, hmm.. Kejunya benar-benar meleleh di dalam mulutku." Ucap Nathan mencoba menggugah selera Jeslyn agar tertarik pada makanan yang ia bawa.


"Stop coku! Aku tidak mau makan apapun itu. Aku tidak lapar." Ucap Jeslyn yang mereka sudah tidak tahan sebenarnya. Tapi perutnya melawan ucapannya. Perutnya mengeluarkan bunyi tanda lapar sangat keras. "Oh astaga perutku berbunyi. Astaga aku lupa ada anakku juga di dalam sini. Kamu lapar ya sayang, maafkan mommy." Ucap Jelsyn dalam hati.


"Ya sudah kalau tidak mau aku habiskan ini semua sendiri atau aku kasihkan Inem dan Asih aja." Ucap Nathan dengan keras. Awalnya Jeslyn masih diam saja tapi beberapa detik kemudian, wanita hamil itu langsung bangkit dari tempat tidurnya dan segera merebut pizza di tangan suaminya.


Jeslyn langsung melahap sepotong pizza itu. Nathan yang melihatnya hanya tersenyum saja.


"Bagaimana, enak kan rasanya?" Tanya Nathan


"Iya enak, tapi ini bukan aku yang mau. Aku makan untuk anak kita." Jawab Jeslyn masih dengan nada ketus.


Nathan pun tidak menyahuti perkataan istrinya. Dia membiarkan istrinya puas makan dahulu sampai moodnya kembali membaik.


Heggg...


Jeslyn bersendawa, dia merasa perutnya sudah full. "Aduh coku, perutku sangat kenyang sekali. Semua makanan ini benar-benar terbaik." Ucap Jeslyn sembari mengacungkan jempolnya. "Aku tidak kuat kalau harus menghabiskan semua ini. Kamu dari tadi juga cuma diam saja tidak ikut makan." Imbuh Jeslyn seraya bersandar ke kursi yang dia duduki.


"Aku membeli ini semua khusus untukmu, jadi kamu harus puas makan semuanya dulu. Aku kan bisa makan sisanya." Ucap Nathan sembari tersenyum.


Kata-kata Nathan itu membuat Jeslyn luluh. Dia pun segera menghampiri suaminya dan memeluknya dengan hangat.

__ADS_1


"Apakah ini artinya kamu sudah tidak marah padaku?" Tanya Nathan seraya membalas pelukan Jeslyn.


"Iya, tapi kamu harus ingat jangan lagi memberi kesempatan Liona mendekatimu. Pastinya kalian akan sering bertemu karena proyek itu. Jadi aku mohon jangan terlalu mudah percaya padanya." Ucap Jelsyn dengan menatap Nathan sangat dalam.


"Baiklah ceborku sayang aku janji." Balas Nathan dengan ciuman yang langsung mendarat di bibir Jeslyn.


Namun baru beberapa detik Jelsyn melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh suaminya. "Aku sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti malam ini kamu bisa mendapat jatahmu dengan mudah." Ucap Jeslyn sembari tersenyum menyeringai.


Nathan hanya terdiam melihat sang istri yang mulai berjalan menjauh. Padahal harapan Jeslyn, suaminya itu akan mengejarnya.


"Coku, kamu kok malah diam saja sih." Ucap Jeslyn dengan cemberut.


"Aku harus mengejarmu begitu? Tidak akan kulakukan. Kamu sedang hamil cebor. Lari-larian membahayakanmu. Kalau kamu memang tidak mau aku tidak apa-apa. Keselamatan kamu dan bayi kita nomor satu." Ucap Nathan, Kemudian dia menuntun Jeslyn ke kasur untuk tidur saja.


"Lebih baik kamu istirahat, tidur sekarang. Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak ingin." Ucap Nathan dengan lembut. Padahal sebenarnya adik kecilnya sudah on tapi dia menahannya.


Setelah pertengkaran kecil yang terjadi, mereka berbaikan dan berakhir di ranjang juga.


.


.


Pagi tiba dengan pancaran sinar matahari yang begitu terang. Jeslyn baru saja terbangun, dia merasa cukup lelah akibat dari permainannya semalam bersama Nathan.


Nathan memberikan kecupan mesra pada Jeslyn yang masih berbaring di kasur. Sementara dirinya sudah rapi memakai kemeja.


"Coku kamu sudah rapi saja," Ucap Jeslyn dengan suara seraknya seraya mengusap-usap mata.

__ADS_1


"Ya ini kan sudah jam delapan sayang, aku mau ke kantor." Ucap Nathan sembari mengaitkan jam di tangannya.


"Oh ini udah jam delapan, aku kira masih pagi buta." Ucap Jeslyn sembari tertawa kecil. Kemudian dia menyingkap selimut dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Baru satu menit di dalam, Jeslyn keluar lagi dengan wajah panik.


"Ada apa?" Tanya Nathan yang melihat kepanikan Jeslyn.


"Ada darah yang keluar coku, apakah aku akan keguguran lagi?" Tanya Jeslyn dengan tatapan sendu. Dia takut kehilangan calon anaknya lagi.


"Ayo kita ke dokter sekarang, cepat ganti bajumu. Tidak perlu mandi." Ucap Nathan yang ikut cemas. Tapi dia mencoba tenang dan berfikir positif.


Sampainya di rumah sakit Jeslyn langsung di periksa. Dia juga melakukan usg. Setelah hasilnya jadi, mereka pun duduk berkonsultasi dengan dokter.


"Bagaimana dok? Apakah itu tanda-tanda saya akan keguguran?" Tanya Jeslyn


"Tidak Bu, tenang saja kandungan anda baik." Jawab Dokter


"Lalu kenapa istri saya mengeluarkan darah dok?" Tanya Nathan


"Ini semacam kontraksi. Apakah belum lama ini ada aktivitas intim?" Dokter balik bertanya.


"Iya dok kami masih sering melakukannya." Jawab Jeslyn dengan malu-malu karena Nathan bungkam tidak bisa berkata-kata. Tentunya karena malu juga.


"Memang kalau bisa dalam trimester pertama hindari berhubungan badan dahulu. Saya sudah mengingatkan sejak awal periksa. Jadi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, puasa dulu ya." Ucap Dokter sembari tersenyum kearah Nathan.


Jeslyn cekikikan mendengar perkataan dokter. Karena suaminya itu tidak akan mungkin bisa berpuasa dengan benar. Meski Nathan terkenal kaku, tapi nafsu pria itu tinggi. Jeslyn sebagai istrinya saja harus siap jika sewaktu-waktu sang suami ingin.


Tapi demi calon anak mereka Nathan mau tidak mau harus berpuasa sampai calon anaknya itu kuat dengan goncangan.

__ADS_1


__ADS_2