
Hari ini Dafa dan Gladys sudah resmi menikah. Acara juga sudah berjalan dengan lancar. Kini mereka sudah beristirahat di kamar hotel. Selayaknya pengantin baru, Gladys ingin malam ini menjadi malam indahnya bersama Dafa. Meskipun ini sudah bukan menjadi yang pertama.
Gladys masih berada di dalam kamar mandi. Ia akan segera keluar mengenakan lingerie seksi untuk menggoda sang suami. Ia berfikir pasti Dafa sudah menunggunya sejak tadi.
Gladys berjalan perlahan ingin mengejutkan suaminya. Tapi malah dia yang terkejut. Karena mendapati suaminya malah berpakaian rapi memakai jaket. Bukan memakai piyama tidurnya.
"Loh sayang kamu kok pakai jaket trus pakai sepatu juga, rapi banget mau kemana?" Tanya Gladys
"Ee aku mau ke rumah sakit lihat keadaan Jeslyn." Jawab Dafa
"Kan ini sudah malam sayang, besok kan masih ada waktu. Aku udah pakai baju spesial loh lihat dong, malam ini kan malam pertama kita." Ucap Gladys merayu-rayu Dafa. Ia sangat tidak rela suaminya meninggalkan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri hanya untuk menjenguk Jeslyn.
"Sayang kakak ipar itu sakit karena kejadian di pesta pernikahan kita. Aku nggak enak sama bang Nathan. Lagipula kita kan sudah sering melakukannya. Tidak ada lagi namanya malam pertama. Aku pergi dulu." Ucap Dafa, sebelum pergi dia mengecup kening sang istri.
Galdya berdecak kesal melihat suaminya pergi begitu saja. Malam yang menurutnya spesial ini dianggap biasa saja oleh suaminya. Dia mulai kembali menyalahkan Jeslyn.
"Sialan! Kenapa sih lagi-lagi Dafa mentingin Jeslyn."
"Masalah di acara pernikahan sudah kubereskan. Kubuat Jeslyn tidak stay di acara. Tapi sekarang Dafa malah nyusulin tuh perempuan gatal." Gladys berbicara sendiri sembari mengobrak-abrik kasurnya meluapkan amarahnya.
Jeslyn memang sakit karena meminum es sirup yang sudah dicampur obat pencahar dosis tinggi. Dan itu semua Gladys yang melakukannya. Dia sengaja melakukan itu agar Jeslyn tidak mengikuti acara hingga selesai. Dia tidak mau Dafa terfokus pada mantan kekasihnya itu.
****
Rumah Sakit
Keadaan Jeslyn sudah membaik, dia hanya kehabisan cairan tubuh akibat obat pencahar pemberian Gladys. Isi perutnya pun terkuras habis hingga membuat dirinya lemas. Tapi kini dia sudah terlihat lebih segar. Sejak sadar dari pingsannya, Nathan terus menerus menyuapi istrinya berbagai makanan.
"Sudah coku, aku sudah kenyang." Ucap Jeslyn
"Kan tadi isi perutmu terkuras habis, jadi harus diisi lagi cebor. Supaya tidak lemas." Ucap Nathan sembari memaksa menyuap sepotong apel ke mulut Jeslyn.
"Stop Coku udah kenyang aaah.." Rengek Jeslyn
Krucuukk... Suara perut Nathan terdengar keras. Bagaimana tidak cacing diperutnya protes, sejak tadi Nathan sama sekali tidak mengisi perutnya. Dia terus memaksa istrinya makan. Tapi dirinya sendiri malah lupa makan.
Jeslyn langsung merebut piring yang ada ditangan suaminya. "Kamu sendiri belum makan, nyuruh aku makan mulu. Nih aaa.." Jeslyn bergantian menyuapi Nathan.
__ADS_1
"Wah aku ganggu nih," Ucap Dafa yang baru sampai di sana.
"Hemm enggak kok, kita cuma lagi makan aja. Duduk Daf," Ucap Nathan
Hubungan mereka bertiga sudah baik-baik saja saat ini. Jadi Nathan sama sekali tidak masalah dengan kedatangan Dafa yang tentunya hanya ingin menjenguk Jeslyn.
"Hemm bagaimana keadaanmu, Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu siapa yang memasukkan obat pencahar ke dalam minumanmu." Ucap Dafa
"Aku sudah tidak apa-apa kok. Dan masalah ini tidak perlu diperpanjang." Ucap Jeslyn
Kemudian Nathan menerima telfon dari pembantu rumah papanya. Yang mengabarkan bahwa tuan Mahesa mendadak sakit.
"Ada apa bang?" Tanya Dafa yang melihat raut wajah kekhawatiran Nathan.
"Papa sakit Daf, Kita harus pulang lihat kondisi papa."
"Eh biar aku sendiri saja. Kasian kakak ipar sendirian disini. Nanti aku langsung kabari tentang kondisi papa."
"Yasudah hati-hati Daf, kabarin ya. Oh ya jangan lupa panggil dokter keluarga."
Dafa pun pulang kerumah papanya untuk melihat bagaimana kondisinya. Dia lupa tidak menghubungi Gladys tentang ini.
Di hotel Gladys sudah tertidur pulas di kursi sofa. Dia menunggu suaminya yang tak kunjung kembali hingga ketiduran disana.
"Ehmm.. Aku ketiduran disini. sudah jam tujuh pagi." Ucapnya
"Dafa tidak pulang. Apa dia menginap di rumah sakit? Segitunya dia lebih mentingin Jeslyn dibanding aku istrinya." Ucap Gladys, dia merasakan sesak di dadanya.
Gladys coba menghubungi Dafa, namun ponsel suaminya tidak aktif. Wanita itu pun sudah hilang kesabaran. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk menyusul Dafa.
*
*
Di rumah sakit dokter sudah memeriksa keadaan Jeslyn. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang.
"Coku kamu urus administrasinya dulu saja. Aku bisa ganti baju sendiri. Bisa beresin barang sendiri." Ucap Jeslyn
__ADS_1
"Yasudah tapi hati-hati ya,"
Jeslyn pun langsung masuk kedalam toilet yang ada di kamar rawatnya itu. Dia mengganti pakaian pasien dengan pakaiannya yang dibawakan oleh Nathan dari rumah kemarin.
Bertepatan setelah dia selesai dari toilet, Dafa masuk kedalam kamarnya.
"Hai kakak ipar udah sehat ya syukurlah." Sapa Dafa
"Iya nih mau pulang. Oh ya kamu habis nebus obat papa Mahesa ya, gimana keadaannya sekarang?"
"Papa cuma kecapek an aja. Sekarang sudah nggak papa. Ini cuma vitamin khusus dari rumah sakit ini."
Jeslyn duduk diatas brankar sembari memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas. Setelah rapi, dia berniat menyusul Nathan keluar. Karena dia tidak suka berlama-lama didalam kamar rumah sakit.
"Coku lama banget ya ngurus administrasinya. Kayanya nunggu diluar kamar lebih enak. Aku nggak suka lama-lama disini." Ucap Jeslyn
"Mau nyusul bang Nathan, tadi aku ketemu dia masih ngantri di pengurusan administrasi. Sini biar aku bawain tasnya." Ucap Dafa sembari mengambil tas yang berada tepat disebelah Jeslyn duduk.
"Oke terimakasih adik iparku." Ucap Jeslyn disambut tawa renyah Dafa karena dipanggil adik ipar oleh mantan kekasihnya, yang kini sudah berganti status sebagai kakak iparnya.
Saat turun dari brankar yang agak tinggi Jeslyn sedikit meloncat. Lantai yang sedikit licin membuatnya hampir saja terjatuh. Beruntung Dafa merangkulnya hingga dia tidak jadi terjatuh. Bertepatan dengan itu, Gladys masuk dan langsung salah paham.
Istri Dafa itu dibakar api cemburu yang sudah memanas sejak semalam. Ditambah dia melihat pemandangan dimana suaminya tengah merangkul mantan kekasihnya dulu.
"Oh jadi begini kelakuan kalian di belakang." Ucap Gladys seraya tersenyum kaku. Otomatis Dafa dan Jeslyn saling berjauhan.
"Gladys ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak sengaja mau jatuh dan Dafa menolongku." Ucap Jeslyn mencoba menjelaskan.
"Ck,, Alasan klasik. Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi hah..? Kamu pikir aku percaya? Dasar wanita penggoda yang tidak cukup dengan satu pria!" Ucap Gladys mencibir Jeslyn
Gladys ingin menjambak rambut Jeslyn tapi langsung dihalangi oleh Dafa.
"Gladys apaan sih kamu. Pliss jangan bikin keributan lagi, aku nggak ada apa-apa dengan Jeslyn. Aku hanya nolongin dia. Kalau perlu kita cek cctv rumah sakit ini." Tegas Dafa, tapi Gladys yang sudah terbakar api cemburu tidak lagi mau mendengar apapun yang dikatakan suaminya itu.
Entah darimana tenaga ini dia dapatkan, Gladys berhasil mendorong Dafa yang jelas bertubuh lebih besar darinya. Dafa jatuh tersungkur hingga tubuhnya membentur tembok.
"Apa yang kamu lakukan dys, kenapa kamu mendorong suamimu?" Jeslyn merasa takut sebenarnya melihat tatapan Gladys yang sangat tajam padanya. Wanita dihadapannya ini bisa mendorong suaminya sendiri. Rasanya Gladys juga akan melakukan hal yang sama padanya atau bahkan lebih.
__ADS_1