
Hari ini Dafa memutuskan untuk membawa Gladys kembali ke Belanda. Mereka akan memulai hidup baru di sana. Karena Dokter mengatakan Gladys kemungkinan mengidap Borderline personality disorder. Suatu penyakit mental yang membuat dirinya terus ingin mencelakai orang yang dianggapnya sebagai musuh. Emosi dan cara berpikirnya yang memicu hal itu. Itulah penyebab minggu lalu Gladys hampir saja membuat Jeslyn celaka.
Jeslyn sudah memaafkan Gladys atas kejadian itu. Dia juga memberi dukungan pada istri adik iparnya agar bisa kembali normal. Sementara Nathan memberikan pesan kepada sang adik. Nathan berpesan pada Dafa untuk selalu mencintai Gladys apa pun keadaannya. Karena wanita itu begitu mencintainya. Dafa pun berjanji untuk selalu menyayangi Gladys sepenuh hatinya. Dia tidak lagi berharap pada Jeslyn. Takdirnya memang bersama Gladys bukan Jeslyn.
Sebelum berangkat, Gladys memeluk Jeslyn. Dia meminta maaf lagi atas kesalahannya.
“Maafkan aku, tidak seharusnya aku membencimu seperti itu. Aku sungguh minta maaf.”
“Aku sudah memaafkanmu. Jangan lagi berpikir kalau Dafa mencintai wanita lain selain dirimu. Dia benar-benar sudah mencintaimu, percayalah padaku.”
“Iya aku percaya padamu.”
Mereka pun mengurai pelukan, karena pesawat yang menuju Belanda sudah akan berangkat sepuluh menit lagi. Sekali lagi Dafa dan Gladys berpamitan. Kemudian mereka pergi dengan bergandengan tangan.
Jeslyn pun terus melambaikan tangan kepada Gladys. Hingga akhirnya wanita itu sudah tidak terlihat lagi.
Jeslyn menghembuskan nafas panjang. Saat ini dia begitu lega. Hidupnya serasa sudah tak ada beban lagi.
“Sampai kapan kita berdiri di sini cebor? Pesawat mereka saja sudah take off dua menit lalu. Itu artinya hampir lima belas menit kamu menatap ke sana sambil tersenyum seperti itu.”
“Oh ya, ya sudah ayo kita pulang.” Ucap Jeslyn langsung menggandeng tangan suaminya. Mereka pun meninggalkan bandara.
🌺🌺🌺
Nathan dan Jeslyn mampir ke kediaman Papa Mahesa. Karena Jeslyn ingin bermain dengan dua keponakannya yang menggemaskan. Ya, Cecilia dan juga suami memutuskan menetap di Jakarta lagi. Satu alasan yang membuat mereka mantap menetap adalah kondisi kesehatan papa Mahesa. Kalau saja Dafa dan Gladys tidak kembali ke Belanda, papa Mahesa masih ada yang menemani. Cecilia sebagai anak tertua merasa tidak tega membiarkan papanya sendiri di rumah. Akhirnya keputusan itu diambilnya.
Setelah mengantarkan Jeslyn ke sana, Nathan langsung pergi lagi. Dia berkata ada urusan penting di kantor.
Jeslyn menemani Sheren dan Briyan bermain. Terlihat dua anak dari kakak iparnya itu begitu nyaman ditemaninya.
“Wah sepertinya kamu memang sudah cocok untuk menjadi ibu Jes,” Ucap Cecilia
__ADS_1
“Hehe,, sepertinya memang begitu kak. Aku memang sangat menyukai anak-anak.” Ucap Jeslyn dengan ramah.
“Lalu apa kamu sudah berencana untuk hamil lagi?” Tanya Cecilia
“Hemm, sebenarnya aku sudah..” Ucap Jeslyn sembari mengusap perutnya yang ramping.
Mengerti dengan apa yang dimaksud oleh adik iparnya, Cecilia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia terkejut sekaligus senang.
“Jadi sekarang kamu sedang hamil,” Ucap Cecilia memastikan.
"Iya kak, tapi mas Nathan belum tahu tentang ini. Aku sengaja mau bikin kejutan di hari anniversary pernikahan kita." Ucap Jeslyn dengan semangat. "Hari ini aku akan memberitahunya, mungkin nanti malam. Sepertinya mas Nathan lupa tentang hari ini kak,"
"Biar aku marahi dia, lupa sama hari spesial ini.Yang di pikirin itu pekerjaan terus saja. Aku akan menelfonnya." Ucap Cecilia merasa geram.
"Eh tidak, jangan kak, Biarkan saja. Nanti malam kita kan pasti akan bertemu juga." Ucap Jeslyn melarang Cecilia.
**
"Coku kok belum pulang juga sih, kenapa sih di hari anniversary dia harus sibuk banget. Aku kan udah nyiapin makan malam spesial. Aku udah bela-belain masak sendiri." Ucap Jeslyn dengan raut wajah kesal.
Sore tadi dia pulang kerumah diantar oleh Cecilia. Mereka berdua berbelanja di supermarket untuk keperluan acara dinner romantis Jeslyn dan Nathan. Cecila juga membantu Jeslyn mempersiapkan semuanya.
Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif
"Sekarang malah nggak aktif, bikin khawatir aja deh coku." Jeslyn berjalan kesana-kemari seraya terus mencoba menelfon suaminya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah sangat lewat dari jam makan malam. Jeslyn yang tadinya kesal kini berubah menjadi khawatir.
Jeslyn duduk di sofa tanpa sengaja dia menduduki remot tv. Tv pun menyala, menampilkan berita kebakaran di sebuah gedung. Awalnya Jeslyn masih tetap sibuk mencoba menelfon suaminya, hingga tidak memperhatikan layar televisi. Namun seketika ponselnya terjatuh saat mendengar nama gedung yang terbakar. Gedung yang terjadi kebakaran itu adalah tempat Nathan berada. Tadi Nathan mengatakan sebelum pulang kerumah, dia akan bertemu klien sebentar di gedung itu.
Tanpa berfikir panjang lagi, Jeslyn mengambil tas juga kunci mobilnya. Dia bergegas menuju ke lokasi kebakaran.
Jeslyn menyetir dengan hati yang gelisah. Dia sangat takut Nathan terluka dan menjadi korban dalam kebakaran itu.
__ADS_1
Lima belas menit menyetir dengan kecepatan tinggi, Jeslyn pun sampai di tempat kejadian. Api masih menyambar gedung berlantai tiga itu. Jeslyn ingin menerobos masuk saja mencari suaminya. Namun dia ditahan oleh petugas polisi yang mengamankan area berbahaya itu.
Jeslyn meneriaki nama sang suami, berharap Nathan ada diantar kerumunan orang yang berhasil menyelamatkan diri.
"Kamu dimana coku? Kenapa handphonemu tidak aktif sih," Jeslyn berdecak kesal campur khawatir.
Kemudian Jeslyn melihat petugas membawa tandu dengan seorang pria berbaring diatasnya. Pria itu memakai jam tangan persis milik Nathan. Hati Jeslyn langsung seketika rapuh. Karena jika itu benar, berarti suaminya sudah meninggal. Dengan langkah ragu, Jeslyn menghampiri jasad itu.
"Tidak, ya Tuhan kumohon semoga itu bukanlah suamiku. Kita baru saja merasakan rumah tangga seutuhnya." Batin Jeslyn seraya melangkah ke sana.
"Mohon maaf pak, boleh saya melihat orang ini? Karena saya sedang mencari suami saya." Ucap Jeslyn dengan gemetar.
"Boleh saja mbak, silahkan."
Mendapat persetujuan, Jeslyn pun lebih mendekat pada jasad di hadapannya. Sebelum membuka kain yang menutupi wajah jasad itu, Jeslyn melihat detail jam tangan yang dikenakan.
"Astaga, ini jam tangan kesayangan coku.."
Jeslyn langsung meneteskan air matanya. Dia benar-benar tidak siap jika harus ditinggalkan oleh Nathan begitu saja. Tangannya terasa berat. Dia tidak siap menerima kenayataan pahit jika benar itu adalah suaminya.
Saat dia sudah akan membuka kain itu, sebuah tangan menepuk di pundakknya.
"Coku," Jeslyn langsung menghamburkan pelukannya pada sang suami. "Coku ini beneran kamu kan," Ucap Jeslyn
"Iya ini aku, kamu ngapain disini sayang?" Tanya Nathan
"Aku nyari kamu, kan tadi kamu bilang mau ketemu klien disini. Begitu lihat berita, aku langsung kesini. Dan aku melihat jasad ini. Dia pakai jam tangan persis punyamu. Jadi aku pikir ini kamu." Jawab Jeslyn
Nathan pun melihat siapa jasad itu, ternyata dugaannya benar. Orang itu adalah OB di gedung itu. Bagaimana bisa jam tangannya dipakai orang itu? Karena Nathan lah yang memberikannya. Sebagai tips karena telah memberikan saran untuk memberi kado kepada sang istri. Ob itu tidak mau diberi uang, akhirnya Nathan memberikan jam tangannya yang super mahal itu sebagai tanda terimakasih.
__ADS_1