
"Eh mas kamu udah pulang," Sapa Jeslyn, dia memanggil Nathan dengan sebutan mas karena sedang ada orang tuanya disana. Nathan mencium kedua tangan mertuanya. Setelah itu dia bergabung duduk di kursi ruang tamu rumahnya.
Nathan terlihat sangat pusing, uangnya telah habis untuk mengganti rugi proyek yang baru saja mulai dia kerjakan. Belum lagi dia juga harus menanggung biaya rumah sakit seorang kuli yang tertimpa reruntuhan. Dia sangat yakin ada orang yang sengaja menyabotase pekerjaannya. Dia sangat ingat kalau bahan yang di pesan itu adalah bahan bangunan yang terbaik sesuai dengan budget yang diberikan.
"Kamu kenapa mas?" Tanya Jeslyn seraya menatap intens suaminya.
"Ada yang menyabotase proyek yang sedang aku kerjakan hingga aku harus mengganti rugi seluruh biaya yang sudah dikeluarkan. Semua uangku sudah habis terkuras, itu saja masih kurang. Aku juga harus menanggung biaya rumah sakit pekerja yang tertimpa reruntuhan tadi." Ucap Nathan seraya memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
"Jangan-jangan ini ulah adikmu lagi?" tukas Hilman,
Nathan baru sadar sejak tadi dia tidak terfikirkan hal itu. Ya, mungkin memang Dafa yang berbuat semua ini untuk menenggelamkan karirnya semakin dalam.
"Mungkin saja pa, tapi aku tidak punya bukti." ucap Nathan.
"Hmm kalau begitu jual saja mobilku." Ucap Jeslyn, tak ada pilihan lain selain itu. Jeslyn tak mau kalau sampai suaminya itu dipenjara nantinya.
"Kamu yakin?" Tanya Nathan,
"Iya aku yakin. Kamu pasti berfikir seorang model terkenal sepertiku tidak punya mobil mewah lagi akan merasa malu? Tidak, aku lebih malu kalau diriku sendiri membiarkan suamiku masuk penjara karena aku tidak mau membantunya." Ucap Jeslyn
"Terimakasih," Ucap Nathan seraya menggenggam tangan Jeslyn.
Kedua orang tua Jeslyn tersenyum melihat sikap anaknya. Mereka senang melihat keharmonisan rumah tangga anaknya meskipun dalam keadaan yang sulit seperti sekarang ini.
***
Karena hanya ada dua kamar di rumah itu. Sejak papa Jeslyn pulang dari rumah sakit, mau tidak mau ia dan Nathan tidur sekamar. Tapi mereka masih pisah ranjang. Nathan tidur dibawah beralaskan karpet.
Malam ini Jeslyn merasa kasihan melihat suaminya yang setiap pagi merasakan kesakitan karena tidak tidur di kasur yang empuk. Dia pun berinisiatif untuk mengizinkan Nathan tidur sekasur dengannya.
__ADS_1
"Coku, jangan tidur disitu. Sini tidur di sebelahku." Mendengar ucapan Jeslyn ini Nathan menatapnya dengan heran.
"Eh tapi jangan mikir yang macam-macam dulu. Aku masih belum siap untuk itu. Aku hanya tidak tega kamu setiap bangun tidur selalu merasa sakit di badan." Ucap Jeslyn lagi, tapi Nathan masih saja terdiam menatap Jeslyn. Sebenarnya Nathan itu takut kalau tidur sekasur dengan istrinya pasti naluri laki-lakinya akan langsung keluar. Dia takut malah tak bisa tidur karena menahan gairah yang sudah lama tertahan.
Setelah berfikir panjang, Nathan akhirnya naik kekasur. Dia merebahkan tubuhnya di sebelah Jeslyn. Tapi mereka berjarak karena Jelsyn menaruh dua guling di tengah-tengah mereka.
"Tak apa, setidaknya pendekatan kita ada kemajuan." Batin Nathan yang melihat pembatas diantaranya dan sang istri.
Glldaaarr.... Suara gemuruh di langit bersamaan dengan hujan yang turun dengan derasnya. Jeslyn meringkuk menyembunyikan wajahnya di bantal yang menutupi kupingnya. Tak berselang lama listrik padam dan membuat semua menjadi gelap. Detik itu juga Jeslyn meloncat melewati pembatas dan menimpa Nathan tepat diatasnya.
"Uhk.." Nathan sedikit terbatuk karena tertimpan badan Jeslyn. Tak berselang lama lampu kembali menyala. Jeslyn baru sadar kalau dia berada tepat di atas suaminya. Pandangan mereka saling beradu. Tapi di detik selanjutnya Nathan membalikkan tubuh Jeslyn sampai akhirnya kini tubuh mungil Jeslyn terkunci oleh Nathan. Ingin sekali rasanya Nathan mengecup bibir seksi yang sangat menggoda itu. Tapi Nathan mengurungkan niatnya, dia tak mau Jeslyn mengusirnya dari tempat tidur karena dianggap mesum. Ya walaupun mereka sudah suami istri. Nathan kembali merebahkan diri dan tidur membelakangi Jeslyn.
"Tidurlah sudah malam."
"Hah padahal jantungku rasanya sudah mau copot. Kukira coku akan menciumku. Sebenarnya aku sudah penasaran dengan malam pertama. Tapi aku masih takut. Sejak tahu kebenaran tentang Dafa yang suka bermain wanita diluaran sana. Aku jadi yakin kalau coku memang jodoh terbaik pilihan tuhan untukku." Ucap Jeslyn seraya menatap punggung suaminya. Setelah itu dia memejamkam matanya.
Mobil Jeslyn akhirnya terjual. Setelah itu uangnya langsung dibayarkan untuk ganti rugi dalam proyek.
"Makasih ya cebor, kamu udah nylametin aku dari masalah. Aku janji akan mengembalikan mobilmu nanti saat keadaan sudah membaik." Ucap Nathan seraya tersenyum kearah Jeslyn.
"Udahlah nggak usah dipikirn coku. Setelah ini kamu harus berhati-hati dalam melakukan pekerjaan. Aku berangkat ke studio ya,"
"Aku antar kamu ya, tapi ya naik motor itu." Ucap Nathan sembari menunjuk kearah motor yang baru saja mereka beli dengan sisa uang yang ada. Jeslyn yang mengusulkan untuk membeli motor itu agar Nathan mempunyai kendaraan.
Tak menolak, Jeslyn langsung mengambil helm dan mengisyaratkan kepada Nathan untuk berangkat sekarang.
***
Herlin datang dengan mobil mewahnya. Dia turun dan segera masuk kedalam studio. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah motor yang ditumpangi oleh sosok yang dikenalnya berhenti tepat di depan studio.
__ADS_1
"Serius tuh cewek singa naik motor," Ucap Herlin seraya menyudutkan bibirnya. Dia langsung melangkah cepat mendekati Jeslyn saat Nathan sudah pergi.
"Wah wah bisa jadi trending topik nih, seorang model terkenal jatuh miskin karena suaminya tukang korupsi. Upss keceplosan." Ejek Herlin, kemudian dia mendekat padanya memegang helai rambutnya.
"Ih lepek banget, pasti gara-gara lo naik motor butut suami lo itu. Ahaha kasian banget." Ejek Herlin lagi diikuti dengan tawanya.
"Haah.." Jeslyn menghela nafasnya dengan kasar. Dia menyilangkan kedua tangannya dan bersiap melawan rivalnya.
"Rambut lepek bisa di styling. Tapi hati yang lepek karena kelamaan sendiri mana bisa di styling. Mending naik motor dianterin pasangan ada yang dipeluk. Daripada naik mobil mewah tapi nyetir sendiri." Balas Jeslyn yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Herlin yang terlihat kesal dengan kata-katanya.
Sampainya di dalam studio, Jeslyn masuk ke dalam ruangan Radit untuk bertanya apakah ada job baru lagi untuknya. Jeslyn ingin mencari job sebanyak-banyaknya karena saat ini kondisi keuangannya sangat berantakan.
"Bang Radit gue mau--" Ucapan Jeslyn terhenti saat melihat sosok yang duduk di kursi kerja Radit.
"Kau, kenapa kau ada disini?" tukas Jeslyn yang melihat Dafa tengah duduk bersandar di kursi kerja milik Radit.
"Kenapa aku tidak boleh berada disini. Sekarang agency ini milikku." Ucap Dafa dengan senyum tipis di bibirnya.
"What? Bagaimana bisa?!" Pekik Jeslyn yang sangat terkejut dengan penuturan Dafa. Tak mau berlama-lama berhadapan dengan Dafa dia berniat keluar dari ruangan itu.
"Hei mau kemana? Kamu tadi mau apa? Katakan padaku. Sekarang aku ini manajermu." Ucap Dafa
"Nggak jadi. Aku keluar dari agency ini." Ucap Jelsyn dengan tegas.
"Hahaha. Tidak semudah itu. Kamu lupa agency ini punya aturan. Kamu masih terikat kontrak disini. Karena sekarang agency ini milikku kalau mau keluar kamu harus bayar denda 5 milliyar." Ucap Dafa yang saat ini sudah menegakkan posisi duduknya. Dia tersenyum menyeringai kearah Jeslyn yang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Tak perlu menatapku seperti itu, lagipula bukannya kamu sedang butuh uang. Aku tahu suamimu itu tidak becus dalam bekerja. Pasti sekarang kamu sedang menyesal karena sudah menolak kembali padaku. Tapi tenang, kesempatan itu masih ada untukmu." Imbuh Dafa seraya merendahkan Nathan.
"Ck.. Ingat ya aku sama sekali tidak menyesal telah berpisah darimu. Satu hal perlu kau ingat lagi, Sampai kapanpun aku tak sudi kembali denganmu. Pria brengsek pemain wanita! Hardik Jeslyn sebelum dia keluar meninggalkan Dafa.
__ADS_1