
Hari ini Jeslyn mulai ada pemotretan lagi. Setelah sarapan dia bersiap untuk berangkat ke studio.
"Aku udah selesai sarapan aku berangkat dulu coku." Ucap Jeslyn, dia menenteng tasnya melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
"Ehmm..emmh.."
"Kenapa coku lo tersedak? Eh maksudnya kamu," Ucap Jeslyn
Nathan tidak menjawab apa-apa tapi dia menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya. Jeslyn baru ingat, dia langsung mendekat dan meraih tangan coku.
"Iya iya coku sorry aku lupa. Sebagai istri yang baik kalau mau pergi harus mencium tangan suaminya dulu."
"Udah kan, gue pergi ya. Eh aku, sorry belum terbiasa soalnya. Dadaa coku suamiku yang paling bermuka kaku, eh ganteg maksudnya." Ucap Jeslyn sambil berlari kecil, Nathan langsung berdiri dari tempat duduknya menyusul Jeslyn. Dia menghadang Jeslyn untuk pergi.
"Coku kenapa lagi sih, kan udah cium tangan jadi aku boleh berangkat dong. Udah telat nih,"
Nathan mendaratkan ciumannya di kening Jeslyn. Asih dan Inem yang melihat adegan itu merasa senang, karena akhirnya majikannya bisa akur.
"Coku apaan sih," Ucap Jeslyn, pipinya seketika memerah setelah mendapatkan kecupan di keningnya.
"Kenapa kamu kan istriku, ini juga salah satu yang dilakukan suami istri ketika pagi hari suaminya akan berangkat ke kantor."
"Hah yaudahlah terserah, aku berangakat dulu." Ucap Jeslyn sambil berlari keluar rumah menuju mobilnya.
"Iya hati-hati cebor." Ucap Nathan, Jeslyn menoleh dan sesaat melotot kearah Nathan.
"Cebor, istriku yang paling gemesin." Gumam Nathan sambil tersenyum.
.
.
Jeslyn masih diam berada di dalam mobil, padahal dia sudah sampai di depan studi bintang agency.
"Ciuman coku bikin jantung gue mau meledak pagi ini. Bisa-bisanya dia kaya gitu, tapi rasanya ini baru awalan deh. Suatu saat dia pasti akan melakukan itu sama gue, aaa gimana coba??!" Jeslyn ngomel sendirian di dalam mobil sampai terbayang malam pertamanya suatu saat nanti.
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya dan dia adalah Dafa. Jeslyn keluar dari mobil.
"Pagi beb, cantik banget kamu hari ini." Ucap Dafa
"Pagi-pagi nggak usah ngerusak mood gue deh. Belum cukup apa yang lo lakuin waktu itu sama gue. Gue bisa laporin lo ke polisi atas tindakan lo waktu itu." Ucap Jeslyn dengan penuh amarah.
"Wah wah santai dong, kakak iparku yang cantik jangan marah-marah dong." Ucap Dafa
"Pergi dari sini jangan ganggu gue."
"Tunggu Jess, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu. Kamu sih nggak mau balik sama aku. Aku tuh cinta sama kamu. Aku dan Herlin nggak ada apa-apa. Dia kan udah jelasin sama kamu juga."
"Gue udah nggak peduliin itu. Sekarang gue udah menikah jadi nggak ada lagi harapan untuk lo kembali. Gue sudah mencintai Nathan bukan lo lagi." Tegas Jeslyn
"Ahaha.. mencintai bang Nathan? Nggak usah bohong kamu sama aku. Aku tahu semuanya, kalian kan nikah cuma status, kalian memang menikah tapi hubungan kalian seperti orang asing."
"Ya kemarin-kemarin mungkin begitu, tapi sekarang gue sadar mana pria yang pantas buat gue. Pria yang menghargai gue, dan tentunya nggak berniat melecehkan gue kaya lo. Sekarang gue dan Nathan udah jadi suami istri yang normal. Kita udah saling mencintai jadi gue mohon lupain semua tentang kita. Karena semua itu udah berakhir ketika kamu pergi ninggalin aku dulu." Ucap Jeslyn, dia pergi masuk ke dalam studio meninggalkan Dafa.
Dafa merasa sangat kesal, dia tidak bisa percaya begitu saja. Tidak mungkin Jeslyn dengan mudah melupakannya. Dafa yakin ini hanya tak tik Jeslyn agar dia tidak mengganggunya lagi.
"Liat aja nanti kamu pasti kembali sama aku, apapun caranya itu akan aku lakukan sekalipun harus menghabisi bang Nathan."
Dafa mulai fokus di kantor, dia benar-benar serius memperlajari tentang semua pekerjaan disana. Ambisinya untuk merebut posisi kakaknya, membuat dia cepat menguasai bidangnya.
Dafa mulai membuat proposal untuk meeting dengan klien. Dia yakin dia bisa mendapatkan proyek Stars city sesuai tantangang dari Nathan.
Nathan tidak sengaja lewat di depan ruangan adiknya. Dia mengintip sebentar. Dia melihat keseriusan Dafa dalam mengerjakan pekerjaannya.
"Hey abang, ngapain ngintip-ngintip gitu?" Ucap Dafa yang menyadari kakaknya sedang berdiri dibalik pintu. Nathan pun masuk kedalam.
"Bisa serius juga ternyata kamu."
"Haha lo ngremehin gue?"
"Saya nggak ngremehin kamu, saya merasa kagum akhirnya adik saya bisa serius dalam pekerjaannya."
__ADS_1
"Hey bang nggak usah sok formal gitu deh, biasanya juga lo gue."
"Rasanya tidak sopan kalau saya berbicara seperti itu dengan calon CEO pengganti saya." Ucap Nathan
"Oh udah siap kalah ya, bagus kalau gitu. Karena gue udah bikin rancangan untuk meeting sama owner stars city. Gue pastikan proyek itu akan jatuh ke tangan gue. Dan lo jatuh dari posisi lo."
"Bagus kalau gitu dengan senang hati saya akan meninggalkan posisi saya untuk CEO baru bapak Dafa. Kalau begitu Saya permisi." Ucap Nathan layaknya bawahan Dafa.
"Tunggu bang, satu lagi hal penting. Gue nggak akan berhenti buat ambil Jeslyn kembali. Dia harus jadi milik gue."
"Kalau masalah itu Saya nggak akan mudah menyerahkannya begitu saja. Dia istri saya dan dia bukan barang ataupun kedudukan yang bisa diperebutkan. Dia istri saya dan selama saya hidup dia akan tetap menjadi istri saya." Ucap Nathan dengan tegas, tatapannya begitu tajam. Setelah itu dia kembali ke ruangannya sendiri.
"Apa dia bilang? istri dia? Hey dia rebut Jeslyn dari gue! Jelsyn itu milik gue! Liat aja Gue akan hancurin lo sehancur-hancurnya bang." Ucap Dafa penuh amarah.
Triring... Hpnya Berbunyi, tertulis nama Gladys disana.
"Halo ada apa dys?"
"Sayang aku kangen kamu, kapan kamu balik kesini?"
"Aku nggak akan balik kesana kayanya,"
"Loh kenapa? trus kuliahmu gimana?"
"Aku daring dari sini. Aku sibuk udah dulu ya,"
"Tunggu dong, aku masih kangen sama kamu. Rencananya aku pengen balik ke indo kerumah nenekku, tapi restoran papaku disini rame aku nggak boleh pulang harus bantu ngehandle."
Gladys adalah seorang chef di restoran milik ayahnya sendiri. Dafa menjadi salah satu pelanggan tetap restorannya. Dari situlah mereka menjadi dekat. Tapi saat ini Dafa sudah tidak menganggap Gladys lagi. Hubungannya dengan Gladys dia anggap sudah selesai.
"Ya kamu nggak usah kesini, disana aja."
"Kamu nggak kangen aku Daf, biasanya tiap hari kita tidur bareng. Sekarang aku merasa sepi nggak ada kamu. Apalagi sekarang musim dingin. Aku kangen dipeluk sama kamu."
"Udah dulu ya aku mau meeting." Dafa mematikan telfonnya. Dia merasa risih dengan semua ocehan Gladys itu.
__ADS_1
Sementara di belanda Gladys merasa sedih. Semenjak pulang ke indonesia, Dafa berubah sikap padanya.
"Daf kamu kenapa sih, aku kan sudah memberikan semuanya sama kamu. Kesucianku sudah kamu ambil. Tapi kenapa kamu seperti mencampakkan aku." Gladys berbicara sendiri meratapi nasibnya.