Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 59


__ADS_3

Hujan deras mengguyur di malam ini. Sejak tadi siang Nathan sama sekali tidak mengajak Jeslyn berbicara. Dia juga tidak ikut makan malam. Saat Jeslyn masuk ke kamar, dia melihat sang suami sudah berbaring dikasur dengan fokus pada hp dalam genggaman.


Namun begitu melihat dirinya bergabung keatas kasur, suaminya langsung memposisikan diri membelakanginya. Nathan memang sengaja melakukan itu karena memang dirinya masih sangat kesal.


"Coku kamu marah sama aku," Ucap Jeslyn dengan menggoyangkan tubuh suaminya. Tapi sama sekali tidak ada jawaban ataupun pergerakan darinya. Kemudian dia berfikir cara apa yang bisa meluluhkan kembali hati suaminya yang keras itu. Memang ketika marah Nathan kembali ke setelan pabrik. Itu kata Jeslyn.


Jeslyn terdiam sejenak, kemudian dia tersenyum tipis dan segera pergi meninggalkan Nathan sendirian. Saat Jeslyn pergi Nathan menoleh.


"Dasar cebor istri tidak pengertian. Ck.. Biarin ajalah tapi aku juga tidak akan membelikannya tas yang dia inginkan." Ucap Nathan yang kemudian menghilang dibalik selimutnya.


Lampu kamar yang tadinya sudah dimatikan oleh Nathan, tiba-tiba menyala sangat terang. Itu membuatnya langsung terbangun. Padahal barusaja dia benar-benar ingin tidur. Karena sejak tadi dia merasa gelisah dibalik selimutnya.


"Cebor matiin lampunya aku mau ti.." Ucapan Nathan terhenti ketika melihat istrinya berpose seksi di hadapannya.


Glekk


Nathan menelan saliva melihat sang istri berpose seksi dengan balutan lingeri merah transparan. Kulit putih Jeslyn pun terekspose dan juga seluruh lekuk tubuhnya hampir terlihat jelas.


Jeslyn berganti-ganti pose bak sedang melakukan pemotretan. Dia membuat mata Nathan hampir keluar melihat kemolekan tubuhnya.


"Sepertinya aku cocok menjadi bintang iklan lingerie." Celetuk Jeslyn bercanda.


"Apa? Aku tidak akan mengizinkannya. Hanya aku yang boleh melihat semua yang ada pada dirimu." Ucap Nathan yang sudah turun dari kasur.


"Wah sekarang posesif juga ya suamiku." Ucap Jeslyn


Tidak mau lagi mendengar perkataan apapun dari Jeslyn, Nathan menggendong istrinya itu ke kasur. Dengan ganas dia mencumbu sang istri. Namun beberapa saat kemudian aksinya dihentikan secara paksa.

__ADS_1


"Stop coku, stop." Ucap Jeslyn dengan keras.


"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan? Berpakaian seperti ini dihadapanku, untuk ini kan?" Tanya Nathan dengan posisi masih berada diatas tubuh Jeslyn.


"Aaa iya, tapi malam ini harus ada imbalannya."


Nathan tidak lagi memperdulikan perkataan sang istri. Nafsunya sudah tertahan sejak tadi siang. Dia memberikan hukuman pada istrinya malam itu hingga kewalahan melayaninya.


🌺🌺🌺


Suara dering ponsel membangunkan Jeslyn yang masih terlelap. Perlahan dia membuka matanya dan mencoba meraih ponselnya yang berada diatas nakas.


"Hmm.. Siapa ini?" Jeslyn menjawab telfon itu dengan mata yang masih terpejam.


"Astaga Jess, kamu nggak ngesave nomor bestie sendiri. Aku Olif."


"**Pagi apaan ini udah siang. A**ku dan Sabila sudah ada didepan rumahmu. Tapi dari tadi kita ketuk nggak ada yang bukain."


"Bukannya kalian ada di korea. Kok udah di depan rumahku aja,"


"Kita udah pulang, kita ada oleh-oleh nih buat kamu. Cepetan bukain pintu."


Sambungan telfon terputus dan Jeslyn mau tidak mau harus bangun. Badannya terlihat remuk diakibatkan ulah suaminya. Dia baru sadar jika Nathan sudah tidak ada disebelahnya. Kemungkinan suaminya itu sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Karena yang dia kira pagi, ternyata sudah jam sebelas siang.


Saat turun dari kasur, Jeslyn baru melihat ada black card yang tentunya sengaja ditinggal oleh suaminya. "Setidaknya coku meninggalkan kartu berharga ini untukku."


Jeslyn membersihkan diri cukup lama didalam kamar mandi. Banyak sekali kiss mark yang ditinggalkan oleh suaminya di hampir seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Aku sangat tidak menyangka coku bisa sebrutal itu juga. Tapi aku suka." Gumam Jeslyn seraya tersipu sendiri saat kembali mengingat pertempurannya semalam.


Setelah kurang lebih satu jam akhirnya dia siap juga. Dia bergegas turun kebawah untuk membukakan pintu. Tapi ternyata dua sahabatnya sudah duduk manis di sofa ruang tamunya.


"Astaga Jess kamu tidur lagi ya, kalau saja dua pembantumu enggak datang, udah kering kita diluar." Gerutu Sabila


"Iya, lagian masa udah jadi istri jam segini baru bangun sih jes," Imbuh Olif


"Husst.. Sorry sorry. Jangan ngomel terus ah. Kalian nanti pasti juga bakal terus-terusan bangun siang kalau udah punya suami. Soalnya tiap malam kerja keras say." Ucap Jeslyn yang membuat kedua sahabatnya tertawa ngeri.


Olif memberikan dua paper bag berisi oleh-oleh dari korea untuk Jeslyn. Setelah itu mereka tidak duduk disana dan mengobrol, karena Jeslyn mengajak dua sahabatnya itu untuk shopping. Tak lupa dia juga mengajak Cecilia. Tentunya dua sahabatnya tidak keberatan jika ada Cecilia karena mereka semua sangat friendly.


Berbeda dengan Jeslyn yang sedang bersenang-senang di mall. Nathan sedang berada di lapas tempat Dafa ditahan. Pagi tadi Nathan mendapatkan telfon dari sana, mereka memberitahukan tentang Dafa. Ada insiden yang terjadi didalam lapas hingga membuat Dafa celaka.


Kini Nathan dan papanya sedang berada di rumah sakit tempat Dafa dirawat. Dafa menyelamatkan temannya saat ada kebakaran di dapur lapas. Itu membuat dirinya terjebak di asap yang tebal dan kakinya kejatuhan kayu. Hingga membuat patah tulang betisnya.


Dafa belum sadarkan diri sekarang. Karena dia ditemukan sudah pingsan. Mungkin akibat terlalu banyak menghirup asap didalam sana. Tiba-tiba seorang wanita masuk dan langsung memeluk Dafa yang masih terbaring lemas di atas brankar.


"Gladys, bukannya kamu sudah kembali ke Belanda," Ucap Nathan yang kaget melihat kedatangan Gladys. Wanita itu sudah menangis saja melihat keadaan pria yang dicintainya terkulai lemas. Ya, Gladys mengurungkan niatnya kembali ke Belanda. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya masih sangat mencintai Dafa. Meskipun pria itu pernah menyakiti hatinya dan juga mencelakainya. Tapi rasa cinta itu masih tetap kokoh didalam hatinya.


"Dafa bangun, aku akan mencabut tuntutan yang menjeratmu. Aku tidak mau kamu tersiksa di dalam penjara. Sampai celaka seperti ini." Ucap Gladys


"Kamu serius dengan ucapanmu?" Tanya Nathan dengan tatapan heran. Begitu pula dengan Mahesa yang juga merasa heran. Kejahatan yang dilakukan oleh putranya itu cukup fatal. Tapi wanita yang menjadi korbannya malah akan membebaskannya.


"Mas Nathan, om Mahesa saya yakin dengan keputusan saya ini." Jawab Gladys dengan mantap. Sementara Marko hanya diam saja melihat itu semua. Gladys tidak datang sendiri, dia bersama sang Ayah. Sebenarnya Marko sangat tidak setuju dengan keputusan yang diambil putrinya. Akan tetapi dirinya tidak bisa mencegah keinginan putrinya itu.


"Cinta benar-benar sudah membutakanmu. Semoga saja Dafa sudah berubah dan tidak lagi menyakitimu." Ucap Nathan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2