
Persidangan pertama telah usai dilakukan. Jeslyn sangat tidak menyangka Nathan serius ingin bercerai darinya. Tangisnya tidak bisa tertahan lagi. Di luar pengadilan Jeslyn terduduk sendu. Air matanya mengalir deras. Dafa memanfaatkan itu semua untuk menjadi sandaran bagi Jeslyn.
Nathan pun menatap tak tega pada istrinya. Dia merasa sudah jahat dengan mengatkan bahwa pernikahan mereka membuatnya hidup sengsara apalagi dengan mengajukan tuduhan kalau si istri berselingkuh. Jeslyn yang semula ingin menolak perceraian ini, mendengar pernyataan Nathan yang menjelekkan dirinya kini hanya pasrah.
"Kenapa kakakmu sama jahatnya denganmu, kukira dia itu beda." Ucap Jeslyn seraya memukul-mukul lengan Dafa. Sejenak Jeslyn berada dalam pelukan Dafa. Tapi kemudian dia melepaskan diri dan hendak pergi darisana.
"Aku benci denganmu tapi aku lebih benci dengan kakakmu. Kalian sama saja." Ucap Jeslyn yang setelah itu pergi dari sana. Dia berlari entah kemana seraya menangis menahan pedih di hatinya.
"Puas kau sekarang! Ini yang kau sebut cinta? Sadar Daf, kamu sudah menyakitinya dua kali." Ucap Nathan yang baru saja menghampiri Dafa.
"Aku nggak butuh komentar darimu. Tenang saja sebentar lagi dia akan bahagia lagi bersamaku. Ingat kalau kau berani membongkar semuanya, nyawa papa pasti akan dalam bahaya." Ucap Dafa yang kemudian pergi juga.
"Aarrghh...! Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa?!" Teriak Nathan meluapkan amarahnya.
*
*
Nathan mendatangi makam Asha. Disana dia meluapkan semua isi hatinya, bahkan sampai menangis. Seorang Nathan yang notabene kaku dan dingin ternyata ketika patah hati bisa menangis juga.
"Asha maaf ketika aku kemari aku membawa kesedihan. Aku tidak tahu harus bercerita dengan siapa, sejak kepergianmu hidupku rasanya kosong hampa."
"Seperti keinginanmu aku sudah menemukan pendamping hidup yang membuatku merasakan kebahagiaan lagi. Harusnya dia kuajak kemari untuk berkenalan denganmu. Tapi, itu tidak bisa kulakukan."
"Rasanya hatiku sakit sekali Asha, Aku sangat mencintainya tapi aku dipaksa merelakannya. Aku telah membuatnya menangis. Aku telah menyakiti hatinya, tapi itu bukan mauku. Adikku di balik semua ini."
"Ya memang istriku dulu pernah berhubungan dengan adikku, tapi aku tidak pernah merebutnya. Aku pikir takdir memang menyatukan kita. Tapi ternyata takdir juga memisahkan kita. Rasanya sakit sekali, sama seperti ketikaku kehilanganmu Asha."
__ADS_1
Nathan mengungkapkan isi hatinya. Setelah itu dia mengirimkan doa untuk Asha dan menaburkan bunga diatas tempat peristirahatan terakhir Asha.
Tak disadari oleh Nathan, sejak tadi Sandra mengikuti dirinya. Sandra mendengar semua ungkapan Nathan. Sandra pun ikut menangis melihat sang pujaan hati menangis.
"Segitu cintanya ternyata kamu sama Jeslyn. Sama seperti dulu ketika kamu kehilangan Asha. Aku melihat kesedihan yang mendalam. Aku tidak tega melihatmu terpuruk lagi dalam kesedihan. Aku akan menyuruh Dafa untuk stop melakukan ini semua." Ucap Sandra seraya mengusap kasar wajahnya.
Sandra menemui Dafa di perusahaannya. Seperti biasa, Sandra langsung masuk tanpa permisi dulu. Tapi sayangnya Dafa sedang tidak ada disana.
"Arrggh.. Kemana perginya pria licik itu," Umpat Sandra yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Dafa seraya mencoba menelfonnya.
Lifia menatap heran kepergian Sandra. Dia sering melihat Sandra datang berlama-lama di kantor padahal sudah tidak bekerja disana.
"Sebenarnya apa yang dilakukannya dengan pak Dafa, Oh iya aku baru ingat tentang video itu. Aku harus menunjukkannya pada pak Nathan."
Lifia ingin menunjukkan video ketika Sandra menyerahkan flashdisk berisi file milik Nathan. Sebenarnya sudah sejak lama dia ingin menunjukkannya, tapi waktu itu hpnya rusak dan file itu hilang. Tapi beruntungnya beberapa hari yang lalu file itu berhasil dia pulihkan kembali.
*
*
"Apa ini Daf, ternyata benar yang kudengar bahwa kau suka main perempuan." Ucap Sandra
"Aah itu bukan urusanmu. Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku."
"Aku ingin kau berhenti mengusik rumah tangga kakakmu sendiri. Kau sudah menyakiti perasaan mereka. Apakah kau tidak merasa bersedih melihat wanitamu menangis karena drama yang kau buat?"
Dafa langsung berdiri mendekati Sandra. Dia menertawakan Sandra atas kata-kata yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Hei kau sadar kan apa yang kau bicarakan barusan? Ahahah bukannya harusnya kau senang. Aku berhasil memisahkan mereka. Jelsyn akan kembali padaku dan Kau bisa mendekati bang Nathan dengan bebas."
"Tidak aku tidak setuju denganmu. Aku memang cinta dengan Nathan, tapi sekarang aku sadar. Melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain itu lebih baik daripada melihat dirinya bersedih, tapi kita sendiri nggak bisa menghapus kesedihan itu. Aku mohon stop lakuin hal jahat dengan memisahkan mereka." Ucap Sandra
"Hah.. Aku nggak salah dengar. Kau jangan sok suci. Dulu kau menghabisi nyawa sahabatmu sendiri demi bisa bersama bang Nathan. Kau jangan menceramahiku. Apa yang kau lakukan itu lebih parah dariku. Aku tidak sampai menghilangkan nyawa seseorang seperti yang kau lakukan." Ucap Dafa dengan menatap tajam kearah Sandra.
"Jangan lupa, kalau kau berani mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan rencanaku, siap-siap masuk ke penjara dan ku pastikan bang Nathan akan lebih membencimu." Ancam Dafa
Sandra mengepalkan kedua tangannya. Dia telah salah memilih rekan kerjasama seperti Dafa yang ternyata lebih licik dari yang dia fikirkan.
"Terserah kau saja mau apa, aku akan tetap membongkar kebenaran ini. Aku juga akan mengaku sendiri dihadapan Nathan." Tegas Sandra yang kemudian meninggalkan Dafa.
Dafa tertawa mendengar perkataan Sandra. Dia tidak percaya kalau Sandra akan mengatakan yang sebenarnya pada Nathan tentang kematian Asha. Tapi kalau benar itu sampai terjadi, rencananya memisahkan Nathan dan Jeslyn akan gagal.
"Halo, tangkap wanita yang fotonya sudah ku kirimkan padamu. Sekap dia di tempat yang sangat jauh dari sini. Sepertinya dia akan menuju kerumah Jeslyn. Kalian sergap didaerah sana saja." Perintah Dafa pada anak buahnya lewat sambungan telfon.
"Kau pikir bisa dengan mudahnya menghancurkan rencanaku, Tidak semudah itu." Ucap Dafa seraya tersenyum menyeringai.
Anak buah Dafa menunggu kedatangan Sandra di jalan sepi menuju rumah kontrakan Jeslyn. Benar saja Sandra melewati jalan itu karena dia akan menuju kerumah Jeslyn untuk mengatakan semuanya. Bagaimana bisa Sandra tahu alamat Jeslyn, ya karena Nathan yang memberitahunya waktu itu. Saat Nathan masih bekerja di hotel miliknya.
Mobil Sandra dihadang oleh lima preman. Kondisi jalanan yang sepi tak ada yang bisa menolongnya. Dengan mudah Sandra dilumpuhkan oleh mereka dan dibawa ke suatu tempat.
"Bos kita berhasil melumpuhkan target. Saya sudah kirimkan fotonya." Ucap Anak buah Dafa lewat sambungan telfon.
Masih di Kafe dengan diapit dua wanita cantik, Dafa merasa senang melihat foto Sandra tergeletak tak berdaya di lantai sebuah gudang yang letaknya entah dimana.
"Makanya jangan berani main-main denganku." Gumam Dafa seraya tersenyum tipis.
__ADS_1