Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 58


__ADS_3

Setelah satu bulan di penjara, Dafa mulai dihantui rasa bersalahnya. Apalagi setelah dia tahu kalau kandungan Gladys tidak bisa diselamatkan. Dia sudah membunuh anaknya sendiri. Setiap malam Dafa selalu dihantui oleh rasa bersalahnya. Dia dimimpikan oleh sosok anak kecil yang terus saja menyebutnya ayah yang jahat.


Saat tengah melamun memikirkan tentang mimpinya, Suara polisi membangunkan lamunannya. Ada orang yang ingin bertemu dengannya. Polisi membukakan sel untuknya.


Orang yang sudah menunggunya adalah Gladys dan Marko. Dafa langsung bersujud di kaki Gladys. Dia meminta maaf kepada wanita yang sudah disakitinya itu.


"Sudah berdirilah." Ucap Gladys


"Ya berdirilah, tidak ada gunanya lagi kamu bersujud dikaki putriku. Kesalahanmu itu tidak pantas dimaafkan." Ucap Marko yang sangat marah kepada Dafa.


"Sudahlah Ayah kita kemari kan bukan untuk menghakiminya lagi. Dafa aku sudah memaafkanmu. Semoga dengan ini kamu bisa berubah." Ucap Gladys


"Terimakasih kamu sudah memaafkanku. Aku akan menjalani hukuman ini. Mungkin ini saja belum cukup untuk menebus segala kesalahanku padamu dan juga calon anak kita." Ucap Dafa seraya menggenggam kedua tangan Gladys. Perlahan Gladys melepas genggaman tangan Dafa. Wanita itu mulai berkaca-kaca.


"Ayo kita tidak punya banyak waktu lagi. Keberangkatan pesawat 45 menit lagi." Ucap Marko mengajak Gladys pergi darisana.


"Hmm.. Daf aku pamit dulu." Ucap Gladys yang kemudian langsung melangkah pergi.


"Saya berharap kamu bisa belajar menjadi lebih baik disini." Ucap Marko sebelum menyusul putrinya.


Dafa hanya diam. Dia benar-benar merasa sangat bersalah sekarang. Dia sudah menyakiti wanita yang berhati lembut seperti Gladys. Disaat semua orang membencinya dan tidak memaafkannya, Gladys malah dengan lapang memaafkannya. Wanita itu pun datang secara langsung menemuinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Akhirnya kini Jeslyn dan Nathan kembali kerumah mereka. Inem dan Asih pun kembali dipekerjakan. Kedua asisten rumah tangganya itu sangat senang.


Sebelumnya Nathan sudah memanggil jasa pembersih seluruh isi rumah. Jadi mereka datang saat rumah sudah rapi. Jeslyn langsung menata seluruh barangnya yang dia bawa dari rumah orang tuanya. Karena semenjak menikah dia hanya membawa beberapa barang kesana belum semua barang. Saat masuk kedalam kamarnya yang biasa dia tempati. Jeslyn merasa terkejut, karena didalam sana sudah berubah total. Tak ada lagi kasur, yang ada malah rak dan lemari yang jumlahnya bukan hanya satu.


"Coku kok kamarku jadi begini?" Tanya Jeslyn

__ADS_1


"Itu ruang khusus untuk baju dan seluruh barangmu yang super banyak itu." Jawab Nathan


"Oh jadi gitu ya, pengertian banget si suamiku." Ucap Jeslyn seraya menunjukkan wajah gemasnya. Tapi Nathan tidak menanggapi, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Jeslyn teringat, dia akan tidur dimana jika kamarnya sudah disulap menjadi lemari barang-barangnya. Dia pun segera menyusul suaminya masuk kedalam kamar.


"Aaa.." Teriak Jeslyn saat melihat Nathan sedang bertelanjang dada.


"Kenapa sih teriak?" Tanya Nathan yang kaget karena teriakan istrinya.


"Itu kamu.." Jeslyn menutup matanya dengan tangan tapi tetap merenggangkannya. Dia terpesona dengan roti sobek milik suaminya itu, tapi malu untuk melihatnya.


Nathan malah mendekat kearah istrinya. Dia membuka tangan sang istri dari kedua matanya. "Aku ini suamimu. Kalau mau lihat, lihat aja. Nggak dosa kok." Ucapnya seraya tersenyum tipis.


"Apaan sih coku, pakai baju sana." Ucap Jeslyn seraya sedikit mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Tapi suaminya malah menarik dirinya hingga jatuh diatas kasur yang empuk. Dengan segera Jeslyn hendak beranjak dari sana, tapi usahanya itu sia-sia. Dengan cepat pula suaminya menerkam tubuhnya.


"Hiihh coku kamu berat. Minggir ah," Rengek Jeslyn yang tubuhnya sudah ditindih oleh Nathan.


"Sudah lama aku berpuasa. Hari ini sudah boleh kan," Ucap Nathan dengan tatapan nakal.


"Oh my God, it's so hot."


Suara dari seorang wanita membuat aktivitas mereka terhenti. Otomatis mereka menatap kearah pintu kamar yang terbuka lebar itu. Ya, mereka sama sekali tidak sadar jika sedari tadi pintu tidak tertutup. Untung saja mereka baru sebatas berciuman.


"Kak Cili, ngapain disini?" Pekik Nathan yang merasa terkejut. Jeslyn dengan cepat mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh ke lantai. "Aw, cebor sakit."


Jeslyn tidak memperdulikan suaminya. Dia membenarkan rambutnya dan segera menghampiri kakak iparnya.


"Aw, the hot wheater is getting hotter. Santai saja adik iparku sayang, I dulu dengan my husband juga gitu kok, anytime." Ucap Cecilia terkekeh melihat ekspresi panik campur malunya Jeslyn.


"Ck.. Kalau tahu begitu kenapa kak Cili ganggu kita." Ucap Nathan merasa kesal karena aktivitasnya terganggu.

__ADS_1


"Hei siapa yang ganggu, salah sendiri nggak tutup pintu. I kan jadinya lihat hihihi." Ucap Cecilia masih terkekeh melihat ekspresi adiknya yang terlihat kesal.


"Oke oke silahkan lanjutkan, I akan menunggu dibawah." Ucap Cecilia mengerti keinginan sang adik. Tapi Jeslyn malah menolaknya.


"Tidak usah kak, yuk ke bawah. Kakak kemari untuk mengobrol denganku kan. Urusan itu kan bisa nanti-nanti. Kapan saja, anytime." Ucap Jeslyn sembari menarik kakak iparnya itu pergi darisana.


"Awas kamu cebor," Gumam Nathan


🌺


🌺


Jeslyn terlihat sangat seru sekali mengobrol dengan Cecilia. Padahal mereka hanya berdua tapi suara tawanya hampir memenuhi seisi rumah. Nathan menatap dari balkon. Dia merasa sangat kesal dengan sang istri yang tega meninggalkannya begitu saja. Padahal dia sudah sangat ingin sekali.


Dua wanita yang duduk di kursi sofa itu sedang melihat katalog tas model terbaru. Jeslyn yang notabene suka mengoleksi tas mahal langsung tergiur ingin membeli salah satunya. Jeslyn langsung melihat kearah sang suami diatas dan tersenyum penuh arti kepadanya.


"Senyumnya itu pasti akan sedikit menguras isi dompetku." Gumam Nathan sudah mengetahui tabiat istrinya.


"Tapi kali ini tidak bisa, aku sedang marah dengannya." Gumam Nathan seraya menatap sinis kearah sang istri. Kemudian dia membuang muka. Ekspresinya seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Sepertinya untuk mendapatkan tas ini, aku harus menyelesaikan misi dulu kak." Ucap Jeslyn pada Cecilia.


"Haa, misi apa?" Tanya Cecilia yang bingung.


"Look up," Jawab Jeslyn tanpa menunjuk. Cecilia langsung terkekeh melihat ekspresi kesal adiknya di balkon. Menurutnya ekspresi Nathan itu bukannya menyeramkan, tapi malah menggemaskan.


"Dia cukup menggemaskan ketika marah, iya bukan." Ucap Cecilia


"Ya benar sekali. Padahal dulu coku itu kaku banget wajahnya. Eh sekarang dia banyak ekspresi kak. Apa diganti panggilan aja ya sesuai ekspresinya hehe." Ucap Jeslyn seraya tertawa gemas.

__ADS_1


Merasa dijadikan bahan candaan, Nathan dengan langkah gontai meninggalkan tempat. Masuk kedalam kamarnya.


__ADS_2