
Dafa tersenyum senang setelah pertemuannya dengan owner stars city untuk yang kesekian kalinya. Dia berjalan menuju ruangan papanya. Dia berpapasan dengan Nathan.
"Hai bang, semoga harimu tetap indah setelah ini." Sapa Dafa, dia terus berjalan melewati Nathan. Nathan hanya menatapnya sampai Dafa menghilang masuk ke dalam lift.
"Mischa," Panggil Nathan pada sekretaris adiknya itu,
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Mischa dengan ramah.
"Saya cuma mau tanya, kamu habis keluar sama Dafa kan? Kalian darimana?" Tanya Nathan
"Oh iya pak, saya baru saja menemani pak Dafa meeting dengan owner stars city. Akhirnya setelah berkali-kali ditolak, pak Dafa berhasil mendapatkan proyek itu pak." Jawab Mischa
"Emm yasudah silahkan kembali bekerja." Ucap Nathan
"Baik pak."
Nathan tidak percaya adiknya berhasil memenangkan tantangan darinya. Tapi Nathan masih merasa aneh, setelah filenya di laptop yang tiba-tiba menghilang, hari ini Dafa malah berhasil mendapatkan proyek itu. Nathan pun segera pergi keruangan papanya menyusul Dafa.
"Papa aku sudah berhasil mendapatkan proyek ini, jadi aku mau bang Nathan keluar dari perusahaan ini." Ucap Dafa seenaknya.
"Ya sesuai perjanjian memang kamu akan menjadi CEO disini. Tapi, bukan berarti abang kamu keluar dari sini. Kemampuan kamu itu masih jauh dibawah level Nathan. Papa tidak yakin kamu bisa urus perusahaan ini." Ucap Mahesa dengan tegas. Saat suasana memanas Nathan datang.
"Selamat kamu berhasil, dengan senang hati aku akan turun dari jabatan kalau kamu jujur. Sayangnya kamu mengambil proposal rancangan milikku kan? Itu namanya curang." pungkas Nathan
"Apaan sih bang, kalah ya kalah aja. Pakai nuduh yang enggak-enggak. Buktinya mana kalau aku ini ngambil proposal bang Nathan?" tukas Dafa merasa tidak terima disalahkan.
"Aku sudah lihat isi proposal yang kamu ajukan untuk meeting tadi. Isinya itu semua persis seperti rancanganku. File dalam laptopku juga tiba-tiba menghilang." Ucap Nathan
"Benar itu Daf? Perilaku kamu saja seperti ini, bagaimana bisa kamu memimpin perusahaan ini. Sifat curang dan culas akan menghancurkan perusahaan kita." Ucap Mahesa, membuat Dafa malah kesal.
"Bang Nathan aja nggak ada bukti. Stop belain dia terus, aku ini juga anak papa. Yang penting sekarang aku sudah berhasil menyelesaikan tantangan ini. Bang Nathan harus keluar dari perusahaan ini." Tegas Dafa
Mahesa ingin sekali marah pada Dafa tapi dicegah oleh Nathan. Nathan tak mau jantung papanya kumat lagi karena hal itu.
__ADS_1
"Oke aku keluar dari perusahaan. Tapi aku mohon satu hal, jangan main-main dengan kedudukan yang sudah kamu dapatkan. Aku tidak mau perusahaan yang sudah dibangun susah payah oleh orang tua kita hancur ditangan kamu." Ucap Nathan dengan tatapan tajam. Kemudian dia pergi darisana.
"Aku mau besok papa nobatkan aku jadi CEO." Ucap Dafa kemudian pergi juga dari ruangan papanya.
...****************...
Nathan pulang kerumah dengan wajah yang masam. Tak berselang lama, Jelsyn datang bersama Cecilia dengan belanjaan yang sangat banyak.
"Loh coku kamu kok udah dirumah masih jam 2." Ucap Jeslyn. Didepan Cecilia Jeslyn biasa memanggil Nathan dengan coku dan Nathan memanggilnya cebor.
"Cebor kita harus bicara berdua." Ucap Nathan, dia langsung berjalan menuju kolam renang.
"Kak aku tinggal bentar ya," Ucap Jeslyn pada Cecilia. Cecilia mengangguk.
"Kenapa ya, apa ada masalah yang besar? Kok wajah Nathan begitu, iya sih dia emang kaku tapi ini tuh lebih menegangkan wajahnya." Gumam Cecilia
Nathan langsung to the point mengatakan semuanya pada Jeslyn.
"Apa? Kok bisa Dafa rebut posisi kamu? Dia kan belum punya pengalaman apa-apa, Dia dulu pernah bilang kalau nggak tertarik di dunia perkantoran seperti itu."
"Dafa itu emang cuma mau ngerasa menang dari aku."
"Trus gimana?"
"Mungkin kita akan melewati masa sulit karena aku harus memulai lagi dari awal karirku. Aku akan membuka perusahaan sendiri dengan uang tabungan yang aku punya. Aku cuma butuh dukungan kamu."
"Hemm.. Dafa emang keterlaluan, Aku akan dukung kamu kok. Aku ada tabungan juga kalau modal kamu kurang. Tapi ya nggak banyak soalnya setiap habis job uangnya bablas buat shopping hehe."
"Dasar cebor.. Tenang aja uang aku cukup kok. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf kalau dalam beberapa bulan kedepan aku nggak bisa kasih uang bulanan dan uang shopping kamu sebanyak biasanya. Tapi aku janji kalau usahaku lancar semuanya pasti akan kembali normal."
"Iya coku, Aku doain usaha kamu lancar. Tapi gimana dengan kak Cecil?"
"Kak Cili nanti aja deh biar aku fikirin."
__ADS_1
.
.
.
Dafa dinobatkan sebagai CEO hari ini, banyak karyawan disana yang bergunjing karena rasanya Dafa itu belum pantas. Apalagi bersamaan dengan itu Nathan dinyatakan keluar dari perusahaan. Gosip disana semakin memanas. Banyak yang menyayangkan kepergian Nathan darisana.
Nathan sudah mengemasi barangnya. Dia keluar dari tempatnya mengabdi selama bertahun-tahun. Dari sana karirnya melebar, dia tak pernah sekalipun kalah tender. Proyek besar selalu didapatkannya hingga membuat nama perusahaan papanya terkenal seperti sekarang ini.
"Gue pergi, tapi ingat jangan main-main dalam memimpin perusahaan ini." Ucap Nathan
"Nggak perlu lo ingetin lagi. Gue udah berhasil merebut kedudukan lo di perusahaan ini. Sebentar lagi gue akan rebut Jeslyn dari lo." Ucap Dafa tersenyum menyeringai.
"Lo boleh rebut kedudukan gue. Tapi enggak dengan istri gue, dia bukan objek yang bisa diperebutkan. Sampai kapan pun dia hanya akan jadi istri gue. Selamat atas kenaikan jabatannya pak Dafa." Ucap Nathan sebelum benar-benar pergi darisana.
Dafa marah mendengar perkataan Nathan itu. Dia malah semakin ingin merebut Jeslyn kembali. Tidak berhenti sampai disitu saja, Dafa bertekad akan membuat Nathan sengsara sampai ke titik terendah.
Sandra yang mengetahui Nathan keluar dari perusahaan langsung menemui Dafa. Dia merasa tidak terima.
"Dafa kenapa kamu nyuruh Nathan keluar dari perusahaan? Aku kan udah bantuin kamu, kenapa kamu malah jauhin dia dari aku. Kamu kan udah tahu aku itu berusaha deketin dia." Protes Sandra
"Hei hei gue atasan lo, sopan dikit dong. Lo ikutin aja rencana gue, Sabar dulu. Udah balik ke ruangan lo sana dan satu lagi kalau di kantor panggil gue pak Dafa. Jangan sampai yang lain curiga kita sedang kerjasama." Tegas Dafa.
Dafa membekukan fasilitas kartu kredit milik Nathan dari perusahaan yang diberikan oleh papanya. Dia juga mengambil alih keuangan keluarga dan juga perusahaan.
Dafa berencana membeli studio milik Radit agar Jeslyn berada dibawah naungannya. Dia jadi bebas mengatur Jeslyn nantinya.
Saat sedang membayangkan kesenangan, Hpnya berbunyi. Tertulis nama Gladys disana. Karena suasana hatinya sedang senang, Dafa langsung menjawab telfonnya.
"Halo ada apa gladys, lo kangen gue?"
"Aku hamil Daf, Kamu harus tanggung jawab."
__ADS_1