
Sudah dua hari Jeslyn absen dari kegiatan pemotretannya. Dua hari itu sebagian besar dia habiskan di rumah sakit menjaga papanya. Kinan pun juga selalu siaga menjaga suaminya 24 jam. Sementara Nathan bingung mencari nafkah untuk sang istri dan kedua mertuanya.
Hari ini Jeslyn kembali ke rutinitasnya, dia dikabari oleh Radit kalau ada project besar untuknya. Fee nya lumayan besar, jadi Jeslyn bersemangat untuk mengambil project itu.
Sampainya di studio bintang agency, Jelsyn langsung menuju ke ruangan Radit. Disana Radit menjelaskan tentang semua pekerjaannya nanti. Jeslyn sangat senang mendengar fee yang akan diterimanya nanti. Dan pemotretan kali ini tidak dilakukan di studio, Jeslyn harus datang ke sebuah hotel bintang 5. Radit juga berkata kalau nantinya Jeslyn harus datang sendiri karena dari pihak yang mengadakan event hanya ingin modelnya saja tidak dengan kru dari studio miliknya.
Jeslyn tidak masalah dengan itu semua, karena dia sudah sering mengikuti event seperti ini. Setelah menjelaskan semuanya Radit menyuruh Jeslyn berganti pakaian dan segera berangkat kesana. Jeslyn juga tak perlu mengendarai mobil sendiri kesana. Karena nanti akan ada seseorang yang menjemputnya dari pihak event.
"Oke bang, gue akan bawa nama baik agency kita seperti biasanya." Ucap Jeslyn sebelum meninggalkan ruangan Radit.
"Sorry Jess, gua terpaksa nglakuin ini. Dafa yang udah setting ini semua. Semoga dia nggak nglakuin hal jahat sama lo." Batin Radit, Dia menatap tajam kearah sebuah kamera kecil yang berada diatas meja seberang tempatnya duduk. Dafa mengawasinya dari kamera itu.
Dafa sudah membeli Studio milik Radit itu. Kebetulan studionya dijual karena Radit akan menetap di Jerman. Jadi sekarang Bintang agency sudah berpindah kepemilikan. Tapi Radit tidak tahu kalau Dafa membeli ini karena ingin menjerat Jeslyn.
Sebelum menyuruh Radit menuruti semua perintahnya, Dafa lebih dulu membuat sebuah ancaman. Dia membuat seolah-olah sebelumnya Radit membuat angency foto yang berunsur pornografi dan Majalahnya dijual secara ilegal di pasaran. Dafa mengancam akan melaporkan Radit ke polisi atas hal itu jika dia tidak mau menuruti perintahnya. Itulah sebabnya sekarang Radit berbohong kepada Jeslyn tentang pekerjaan di hotel itu. Padahal itu sebuah rencana Dafa, entah untuk apa Radit tak tahu.
***
Saat memasuki ruang ganti, Herlin menghadang Jeslyn.
"Mau ngapain lo?" Tanya Herlin dengan ketus.
"Lo itu masih punya otak kan? Gue mau masuk ruang ganti baju tandanya mau ganti baju lah." Jawab Jeslyn yang tak kalah ketus. Bahkan dia menerjang Herlin yang menghalangi jalannya hingga hampir terjatuh.
"Aww.." Pekik Herlin
"Salah sendiri ngalangin jalan orang. Gue tuh lagi buru-buru nggak ada waktu buat ngurusin lo." ucap Jeslyn
"Gue tahu lo dapetin project besar kan, Lo itu nggak pantas ikut event itu! Istri dari seorang koruptor upss. keceplosan deh gue." Ucap Herlin tanpa memfilter kata yang diucapkannya.
__ADS_1
"Jangan asal bicara lo ya, dia itu cuma dituduh." Jeslyn merasa tidak terima.
"Udahlah intinya lo itu nggak pantas ikut event ini. Bikin rusak nama baik agency aja. Kalau lo nggak mundur, gue pastikan nama lo bakal jelek dan karir lo akan hancur sekarang juga!" Ancam Herlin
"Dahlah gue males debat sama lo, nih gantiin gue dengan suka rela gue kasih project ini sama lo. Puas!" tukas Jeslyn yang merasa sudah tidak mood mengikuti event itu.
"Tapi ingat ya, ini bukan karena gue takut. Gua cuma kasihan sama lo. Gue bisa dapetin 10 event kaya gini. Gue males debat sama lo." imbuh Jeslyn. Dia memberikan baju yang akan dipakainya ke tangan Herlin. Saat itu Radit datang menghampirinya.
"Loh kok belum siap jes? Jemputannya udah nunggu loh."
"Bang buat event kali ini biar Herlin aja ya, gue selesaiin pemotretan iklan aja." Ucap Jeslyn. Wajah Herlin yang tadinya merasa menang, jadi sedikit khawatir karena pasti Radit menolaknya.
"Iya okey, kalau gitu cepet siap-siap her."
Mendengar persetujuan Radit, Jeslyn langsung pergi. Sementara Herlin merasa sangat senang kali ini kemenangan memihaknya.
"Syukurlah, dengan begini rencana Dafa itu akan gagal. Semoga dia nggak tahu kalau yang datang herlin." Lirih Radit
Di dalam ruangannya, Dafa tersenyum senang. Dia sudah mendapat konfirmasi dari sopir yang sudah dia suruh untuk menjemput Jeslyn di studio. Saat ini mereka sedang menuju ke hotel. Hanya saja Dafa tidak tahu yang dibawa sopir itu bukanlah Jeslyn seperti rencananya. Bodohnya Dafa tidak memberitahukan foto Jeslyn. Yang penting sopir itu menjemput seseorang dari studio dan membawanya ke hotel.
"Hellow siang bolong gini udah kesambet setan aja lo," Ucap Sandra yang baru masuk ke ruangan Dafa dengan membawa sebuah laporan keuangan perusahaan.
"Apaan sih lo ganggu aja. Lo kan nggak gue panggil kesini ngapain lo kesini?" Ketus Dafa
"Jangan marah-marah mulu boss. Gue cuma mau ingetin sesuatu sama lo, Kalau lo terus-terusan bikin pengeluaran perusahaan membengkak seperti ini bisa-bisa perusahaan ini bangkrut." Ucap Sandra
"Tenang aja, nggak akan. Ntar kan tinggal cari proyek baru dan perusahaan akan dapetin pemasukan lagi." Ucap Dafa dengan entengnya.
"Ahaha terserah lo deh, oh ya jadi gimana rencana hari ini? Berjalan lancar kan?"
__ADS_1
"Tentu, pujaan hati gue sudah masuk ke perangkap sesuai rencana." Ucap Dafa dengan membuat senyum tipis di bibirnya.
.
.
Herlin sudah sampai di hotel, dia dituntun oleh seorang pria menuju kamar vvip disana. Sebelumnya pria itu sudah bertanya apakah dirinya bernama Jeslyn, Herlin hanya mengangguk.
"Biarin aja lah gue bohong, ntar sampek sana kalau tahu gue yang dateng nggak mungkin di tolak juga. Tinggal alesan si singa itu sakit beres." Batin Herlin
"Ini kamarnya nona, silahkan masuk."
"Emm.. pemotretannya di kamar?" Tanya Herlin bingung,
"Iya, hotel ini sedang melakukan promosi. Silahkan masuk, fotografer sudah menunggu di dalam."
Herlin masuk ke dalam, di dalam kamar itu memang ada kru kamera yang siap memotretnya. Make upnya juga di touch up oleh orang disana.
Pemotretan pun di mulai, anehnya mereka semua tidak ada yang komplain kalau yang datang bukan Herlin.
"Ahaha nggak ada yang komplain sama sekali kalau gue bukan Jeslyn."
Herlin diminta meminum segelas sirup sambil ala-ala menatap kearah jendela menikmati pemandangan luar kamar hotel. Dia benar-benar menelan minuman itu.
Tiba-tiba kepalanya pusing dan akhirnya dia pingsan diatas kasur yang dia duduki. Fotografer yang mengarahkan gayanya tadi mengecek kondisinya. Kemudian dia mengkode semuanya untuk keluar.
"Halo bos, target sudah berhasil kita lumpuhkan sesuai arahan bos." Ucap fotografer pada bosnya lewat telfon.
**
__ADS_1
Di kantor Dafa segera menyudahi pekerjaannya dan menyerahkan semuanya pada Mischa sekretarisnya.
"Tunggu aku pujaan hatiku, setelah ini kita akan bersenang-senang. Aku akan menunjukkan padamu surga dunia." Gumam Dafa seraya berjalan memasuki mobilnya.