
Jeslyn merasa gembira karena keinginannya hari ini terpenuhi. Kini dia duduk tenang di kursi mobil yang di kemudikan oleh suaminya. Sementara mobilnya sendiri di bawa oleh orang suruhan Nathan.
"Coku aku sungguh sangat kenyang sekali. Padahal aku cuma makan sedikit." Ucap Jeslyn seraya mengusap-usap perutnya.
Nathan menautkan kedua alisnya menatap sekilas pada istrinya. Dia sedikit terkejut dengan ucapan Jeslyn yang berkata hanya makan sedikit. Padahal jelas istrinya itu menghabiskan dua porsi lontong sayur.
"Hei kenapa ekspresimu seperti itu coku? Ya memang aku tadi makan dua porsi, tapi kan aku hanya dapat beberapa sendok saja. Sisanya yang makan bayi kita semua." Ucap Jeslyn menekankan pada Nathan.
"Iya iya cebor, makanlah sebanyak yang kamu mau dan bayi kita inginkan. Namun tetap dibatas wajar. Agar kamu juga bayi kita tetap sehat." Ucap Nathan
"Baik suamiku." Balas Jeslyn dengan senyum manis.
Saat ini mereka berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah. Jeslyn melihat penjual es cendol yang tak jauh dari sana. Rasanya air liur ingin menetes saja.
Wanita yang sedang hamil itu kemudian menggoyangkan lengan suaminya. Dia meminta agar suaminya berhenti di dekat penjual cendol itu.
"Sayang aku mau beli es cendol itu, jadi berhenti disana ya," Ucap Jeslyn dengan mata yang berbinar.
"Belum lama kamu bilang sudah kenyang, kok masih mau beli es itu." Ucap Nathan dengan heran, belum lima menit istrinya berkata kenyang sekarang sudah ingin makan sesuatu lagi.
"Tadi itu kenyang karena makan, ini kan minum. Jadi masih ada tempat khusus di dalam perutku." Ucap Jeslyn sembari mengusap perutnya.
"Tapi kan itu tidak sehat sayang, kita pulang aja ya biar dibuatkan sama Inem." Bujuk Nathan, dia khawatir akan kesehatan istri juga kandungannya jika jajan di pinggiran jalan.
"Tidak coku! Aku maunya itu. Kalau kamu nggak mau ya sudah aku turun di sini." Jeslyn yang merajuk langsung turun saja dari mobil. Wanita hamil itu berjalan kaki menuju pedangan es cendol. Sementara Nathan hanya bisa menghela nafas kasar. Kemudian saat lampu sudah hijau baru dia menyusul.
Nathan mencari parkiran untuk mobilnya. Karena tidak mungkin dirinya sembarangan parkir di jalanan. Bisa-bisa terkena pelanggaran polisi.
__ADS_1
Jeslyn sudah duduk manis mengantri dibuatkan es cendol. Bukan hanya satu, tapi Jeslyn memesan dua gelas es cendol. Saat Nathan menghampirinya, dua gelas es cendol diantar ke meja Jeslyn.
"Kenapa pesan dua, aku tidak mau minum ini." Ucap Nathan yang mengira satu gelas esnya untuk dirinya.
"Siapa yang menyuruhmu minum, ini kan satu aku satu bayi kita. Jadi aku pesan dua." Ucap Jeslyn yang kemudian langsung menyeruput es itu. Namun ternyata baru dua sendok Jeslyn merasa sudah tidak ingin lagi.
"Sayang habiskan ini ya, aku sudah kenyang." Ucap Jeslyn sembari menyodorkan es cendol itu pada suaminya.
"Enggak aku nggak mau sayang, kalau sudah ya ayo kita pulang." Ucap Nathan menolak, karena dia tidak pernah minum es seperti itu takutnya tenggorokannya yang sensitif akan sakit.
"Ayolah ini enak kok, lagipula bayi kita yang ingin melihat Daddynya menghabiskan es cendol ini." Pinta Jeslyn dengan ekspresi yang menjadikan Nathan tidak bisa menolaknya. Apalagi dengan alasan permintaan anak di kandungan istrinya itu, membuat Nathan mau tidak mau menurutinya.
Dalam dua menit dua gelas itu pun kosong tak bersisa sedikitpun. Jeslyn pun terlihat senang melihatnya.
"Nah kalau sudah habis begini baru kita pulang." Ucap Jeslyn beranjak dari tempat duduknya. Nathan pun juga ikut beranjak, namun sebelum pergi dia membayar cendol itu.
"Itu kembaliannya untuk bapak semuanya. Pertahankan jualannya dengan tetap menggunakan gula asli yang sehat." Ucap Nathan yang kemudian pergi menyusul istrinya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Terima kasih mas terima kasih." Pedagang cendol itu berteriak berkali-kali mengucap terima kasih.
Jeslyn berhenti sejenak karena dia baru ingat jika tidak tahu dimana mobil suaminya parkir. Jeslyn pun melihat dan mendengar pedagang cendol itu berucap terima kasih dan tersenyum kearah Nathan yang menghampirinya.
"Sayang kamu bayar berapa penjual cendol itu sampai berterima kasih berkali-kali gitu?" Tanya Jeslyn
"lima ratus ribu," Jawab Nathan sembari menggandeng tangan Jeslyn menuju mobilnya berada.
"Pantesan orangnya girang banget gitu. Sepertinya semua pedagang akan cepat kaya jika kamu beri tips sebanyak itu. Setiap aku membeli sesuatu kamu pasti membayar lebih. Tadi saja ibunya Erina kamu kasih lima ratus ribu juga kan," Ucap Jeslyn
__ADS_1
"Ya itu hanya sebagai bentuk apresiasiku pada mereka pedagang yang jujur. Tidak menggunakan bahan yang berbahaya. Jaman sekarang kan banyak pedagang pinggiran jalan yang tidak jujur trus pakai bahan berbahaya untuk dagangannya." Ucap Nathan
"Iya tapi tidak semuanya seperti itu coku." Ucap Jeslyn
Mereka pun masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah mereka.
🌺🌺🌺
Nathan yang baru saja mandi sudah tidak menemukan keberadaan istrinya. Akhirnya dia masuk ke ruang wardrobe milik istrinya. Dia menemukan istrinya sedang bingung memilih baju. Bahkan ruangan itu sudah hampir mirip kapal pecah.
"Cebor, apa yang kamu lakukan? Kenapa berantakan seperti ini?" Pekik Nathan yang syok melihat hampir semua baju berada di luar lemari.
"Aku hanya mencari baju yang bagus untuk dipakai ke kantor bersamamu. Tapi rasanya semuanya nggak ada yang bagus." Ucap Jeslyn dengan ekspresi kesal campur sedih.
Kemudian Nathan memungut satu baju yang paling dekat dengan kakinya. "Ini bagus kok, dan aku rasa semua baju milikmu tidak ada yang jelek." Ucap Nathan
"Menurutku tidak ada yang bagus. Aku harus tampil cantik hari ini. Aku harus ikut denganmu ke kantor." Ucap Jeslyn dengan terus mencari baju terbaik menurutnya.
"Sebentar, kalau hanya ingin ikut ke kantorku kenapa harus sampai mengacak-acak baju seperti ini cebor, kamu itu pakai apa saja cantik. Tapi aku lebih suka kamu nggak pakai apa-apa." Ucap Nathan dengan diakhiri senyum nakal.
"Ihh coku apaan sih, masa iya ke kantor kamu aku nggak pakai baju. Yang benar saja!" Seru Jeslyn,
"Ya jangan, harus pakai baju kalau keluar. Memangnya kenapa sih tumben sekali kamu ingin ikut denganku ke kantor?" Tanya Nathan
"Aku harus ikut hari ini dan aku harus berpenampilan perfect, karena hari ini akan ada Sandra di kantormu. Aku tidak mau dia kembali ingin mendekatimu." Ucap Jeslyn menggebu.
Memang hari ini Sandra akan melakukan tanda tangan kontrak kerja sama di kantor Nathan, untuk mewakili papanya. Oleh karena itu Jeslyn ingin ikut ke kantor. Dia tidak mau memberikan kesempatan sedikit pun untuk Sandra mendekati Nathan. Masih teringat jelas di benak Jeslyn bagaimana dulu Sandra mencoba merebut Nathan darinya.
__ADS_1