Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 47


__ADS_3

Proyek yang ditangani oleh Dafa semuanya kacau. Apa yang berjalan sekarang tidak sesuai dengan proposal yang tertera ketika meeting dulu. Mischa merasa sangat pusing menerima telfon dari para klien yang komplain. Apalagi saat ini Dafa tidak bisa dihubungi.


"Lo kenapa cha kok ngedumel sendiri?" Tanya Lifia


"Gue pusing banget lif, selama gue bekerja disini baru kali ini ada masalah fatal seperti ini." Jawab Mischa seraya memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


"Ada masalah apa cha?"


"Dua proyek yang ditangani pak Dafa itu nggak sesuai sama proposalnya. Klien pada protes meminta kejelasannya dari pak Dafa sendiri. Tapi sekarang pak Dafa malah susah dihubungi." Ucap Mischa


"Kepalaku rasanya mau pecah lif," imbuhnya.


"Kalau sampai mereka minta ganti rugi, perusahaan ini bisa hancur deh kayanya dan kita terancam di phk. Pak Dafa aja udah gunain uang perusahaan banyak banget." Ucap Lifia


"Hemm nggak tau deh aku pusing. Lagipula aku heran kok bisa ya pak Mahesa menyerahkan perusahaan ini untuk pak Dafa yang sangat tidak kompeten itu. Disaat seperti ini saja dia menghilang entah kemana." Ucap Mischa


"Ehemm.." Suara deheman berat membuat mereka berdua menengok kearah pintu ruangan milik CEO mereka. Mat mereka terbelalak melihat siapa yang datang.


"Sedang apa kalian disini?" Sentak Dafa pada kedua bawahannya yang tengah duduk di kursi sofa di dalam ruangannya.


"Astaga mati gue kalau sampai pak Dafa denger apa yang gue katakan tentang dia barusan." Ucap Mischa dalam batinnya.


Mischa dan Lifia pun sontak langsung berdiri dan menundukkan kepala.


"Kenapa diam? Sana kembali bekerja. Jangan makan gaji buta. Apalagi bersantai-santai diruangan saya seperti ini. Sangat tidak sopan." Ucap Dafa dengan tatapan tajam. Sebenarnya kata-kata itu pantasnya untuk dirinya sendiri.


Lifia pun pamit keluar untuk kembali ke bilik kerjanya. Sementara Mischa merasa sedikit lega karena atasannya tidak sempat mendengar perkataannya tadi.


"Ada masalah apa sampai kau menghubungiku berkali-kali. Kau tahu telfonmu itu sangat mengganggu tidurku." Ucap Dafa dengan nada membentak. Dafa memang tidak tidur semalaman. Dia baru tidur jam tujuh pagi tadi saat sampai dirumah. Karena semalam dia bermain dengan tiga wanita dan bersenang-senang dengan mereka di hotel.

__ADS_1


"Gila bener-bener gila, CEO apaan sih ni orang. Gue pusing ngehandle kerjaan dia. Eh dianya malah enak-enakan tidur. Dan sekarang malah marah-marah." gerutu Mischa dalam hati.


"Hei kenapa ekspresimu seperti itu? Kau tidak senang? Kau sudah bosan menjadi karyawan di perusahaan ini?" Bentak Dafa


"Saya masih betah disini pak jangan pecat saya. Maaf saya menelfon pak Dafa karena klien juga terus menelfoni saya meminta dipertemukan dengan anda pak." Ucap Mischa


"Hmm kenapa lagi sih, bukannya proyek berjalan aman semuanya. Kenapa rewel sekali sih mereka." Dafa benar-benar meremehkan segala urusan perusahaan.


"Mereka komplain karena proyek yang berjalan tidak sesuai dengan proposal yang anda ajukan dulu pak. Mereka meminta kejelasan dari anda pak,"


"Arrgh.. Kenapa rumit sekali sih." Bukannya mengurusi masalah itu, Dafa malah pergi lagi. Membuat Mischa tidak bisa berfikir lagi.


*


*


Herlin sudah mendengar kabar perceraian Jeslyn. Dia merasa kesal karena itu akan lebih mempersulit dirinya untuk memiliki Dafa. Dia pikir setelah malam itu, Dafa akan lebih dekat dengannya. Tapi ternyata tidak. Dafa masih tetap dingin dengannya.


Herlin memandangi foto Dafa yang menurutnya sangat tampan itu. Tapi layarnya berubah ketika ada telfon masuk di ponselnya.


"Halo, what? Kau sudah di jakarta? Ya ya okey aku jemput sekarang." Ucap Herlin pada orang yang ada di sambungan telfonnya. Dia adalah sepupu Herlin yang beberapa hari lalu berkata akan berkunjung kerumahnya karena ada kepentingan di Jakarta.


*


*


Di tempat lain, tepatnya di bandara. Seorang wanita berambut pirang berdiri dengan koper disebelahnya. Dia menatap intens pada foto yang ada di layar ponselnya. Foto dirinya bersama seorang pria. Beberapa menit kemudian, dia menutup ponselnya dan melangkah keluar bandara untuk menunggu orang yang akan menjemputnya. Dia melambaikan tangan ketika melihat Herlin.


"Gladys, I miss u so much." Ucap Herlin yang tadinya berlari dan menghamburkan pelukannya pada sepupunya yang berasal dari Belanda itu.

__ADS_1


"I miss u to. Tapi jangan erat-erat peluknya. Ada kehidupan di bawah sini, kasian dia tertekan." Ucap Gladys seraya membelai lembut perutnya yang sedikit membuncit. Meskipun belum terlalu terlihat masih seperti perut wanita yang tidak hamil.


Herlin menatap penuh pertanyaan. Sepupunya memang sering menceritakan tentang masalahnya dengan seorang pria yang dia cintai. Tapi dia tidak pernah bercerita kalau dia tengah hamil sekarang.


"Seriously? you are pregnant?" Herlin mengatakannya dengan keras hingga membuat seisi coffe shop menatap kearah mereka.


"Upss sorry aku kelepasan." Ucap Herlin seraya menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Its oke no problem. Aku butuh bantuanmu." Ucap Gladys


"Apapun itu aku siap membantumu. Kalaupun harus mencekik pria yang telah menanam benihnya dan kemudian dengan tega mencampakkanmu." Ucap Herlin dengan serius.


"Haha kau memang sepupuku yang selalu bisa kuandalkan. Aku hanya ingin kau membantuku mencari keberadaannya."


"Dia memblokir semua aksesku untuk menghubunginya. Dia sudah menghancurkan hatiku dan hidupku. Ayahku benar-benar merasa kecewa padaku. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya ini." Tangis Gladys pecah, mengingat dirinya dibenci oleh ayahnya sampai ayahnya tidak lagi sudi berbicara dengannya. Saat berpamitan pergi ke indonesia pun ayahnya diam tak peduli. Jelas ada kekecewaan yang mendalam di mata sang ayah.


"Sudahlah jangan menangis, kasihan anak didalam kandunganmu." Ucap Herlin seraya memberikan tisu untuk menghapus air mata sepupunya itu.


"Aku jadi penasaran seperti apa sosok pria yang membuatmu tergila-gila hingga membuatmu hamil." Ucap Herlin merasa penasaran. Gladys masih menyeka air matanya. Kemudian dia menyodorkan ponselnya pada Herlin.


"Oh my God! Kau serius pria ini yang sudah menghamilimu?" Tanya Herlin dengan mata yang terbelalak.


"Iya dia ayah dari anak yang kukandung. Kau mengenalnya?"


Herlin tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak menyangka pria yang menghamili sepupunya adalah pria yang sama yang selama ini dia kejar cintanya.


"Herlin kenapa diam? Apakah kau mengenalnya?"


"Iya jelas aku mengenalnya. Dia pria yang sama yang selalu ku ceritakan padamu." Jawab Herlin,

__ADS_1


"What? Jadi dia pria yang kau sukai yang tempo hari kau ceritakan berciuman mesra denganmu?"


Mereka berdua saling bertatapan. Tak menyangka jika mereka telah terlibat dengan pria yang sama.


__ADS_2