
Dafa langsung mematikan telfon dari Gladys. Dia juga memblokir nomornya.
"Nggak mungkin lah gue tanggung jawab, gue nggak cinta sama dia. Pokoknya jangan sampek tuh cewek sialan gagalin rencana gue buat dapetin Jeslyn lagi. Belum tentu juga itu anak gue. Dia aja cewek gampangan." Umpat Dafa
Sementara di Belanda, Gladys hanya bisa menangis mengetahui Dafa tidak mau bertanggung jawab. Apalagi sekarang nomornya sudah diblokir oleh Dafa. Mungkin untuk sementara dia bisa menyembunyikan kehamilannya. Tapi beberapa bulan kedepan perutnya pasti membesar. Ayahnya pasti akan sangat marah padanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, hiks.. hiks.. Dafa jahat."
"Enggak, aku nggak boleh lemah seperti ini. Nggak akan aku biarkan Dafa bebas dari apa yang sudah diperbuatnya padaku. Aku akan susul dia ke jakarta." Gladys pun bertekad untuk menyusul Dafa ke jakarta. Dia langsung pergi ke restoran untuk bertemu Ayahnya. Dia ingin berpamitan. Dia juga ingin jujur pada ayahnya kalau saat ini sedang hamil.
Sampai di restoran Gladys melihat kerumunan orang di dalamnya. Ternyata Ayahnya jatuh pingsan. Gladys pun langsung berlari mendekatinya. Dia langsung meminta bantuan karyawan disana untuk membawa ayahnya kerumah sakit.
Sampainya di rumah sakit Gladys menunggu ayahnya diperiksa dokter. Dia merasa sangat cemas. Tak lama kemudian dokter selesai memeriksa ayahnya. Dokter berkata kalau ayah Gladys sepertinya terkena serangan jantung mendadak. Dokter menyarankan agar sang ayah tidak dibebani dengan masalah yang terlalu berat. Pikirannya harus tenang. Sang ayah kuga harus berhenti dari aktivitas yang melelahkan untuk sementara waktu.
"Astaga ayah, bagaimana aku bisa berbagi masalahku kalau keadaan ayah seperti ini. Aku juga nggak mungkin ninggalin ayah ke jakarta dalam keadaan seperti ini." Gumam Gladys, dia benar-benar merasa stres.
...----------------...
Nathan mulai pusing memikirkan tentang perusahaan barunya. Meskipun pamornya dalam dunia bisnis sudah melejit, membuka perusahaan baru tetap saja tidak mudah.
"Coku.. coku.." Teriak Jelsyn dari lantai dua, dia menuruni tangga dengan sangat buru-buru.
"Ada apa? Hei pelan-pelan nanti kamu jatuh." Ucap Nathan
"Gawat, ini gawat. Dafa bener-bener udah keterlaluan." Ucap Jeslyn dengan kesal.
"Ya keterlaluan kenapa? Dia buat ulah apalagi?"
"Dia menarik seluruh dana bantuan dari perusahaan papaku. Bahkan dia juga ingin mengakuisisi perusahaan papaku. Dia juga membatalkan kerjasama dengan perusahaan papaku. Padahal proyeknya udah berjalan 50%. Itu membuat perusahaan papaku diambang kehancuran." tutur Jeslyn
"Kamu kata siapa?"
"Mamaku barusan telfon. Dafa udah bikin papaku sampai jatuh pingsan."
__ADS_1
"Dia nggak mungkin bisa melakukan itu. Kendali perusahaan kan masih berpusat pada papaku. Apa yang sedang terjadi? Aku harus cari tahu." Nathan pun bergegas pergi ke kantor. Baru satu minggu sejak Dafa resmi menjabat menjadi CEO, tapi dia sudah membuat ulah sebesar ini.
Dua hari yang lalu
"Kalau papa tidak memberikan seluruh perusahaan ini padaku, lihat saja apa yang akan kulakukan pada anak kesayangan papa itu." Ucap Dafa mengancam.
"Kenapa sih kamu Daf, kamu kan sudah mengambil posisi Nathan. Dalam perusahaan ini juga ada saham milik Nathan, tidak mungkin papa membiarkan kamu memiliki semuanya." Bentak Mahesa
Dafa tersenyum, tapi dalam sekejap ekspresinya berubah menjadi tatapan tajam penuh amarah pada papanya.
"Kenapa aku tidak bisa mengambil miliknya, sedangkan anak kesayangan papa itu sudah merebut milikku." Ucap Dafa dengan suara lantang sampai otot di lehernya terlihat mengurat.
"Apa yang Nathan ambil darimu? Jangan kekanak-kanakan. Papa itu tidak pernah membeda-bedakan kalian. Kamu saja yang susah papa atur." Ucap Mahesa
"Oh bukan dia yang merebut, lebih tepatnya papa yang merusak kebahagiaanku. Papa menyerahkan milikku kepadanya. Asal papa tahu Jeslyn itu pacar aku, harusnya aku yang menikahinya bukan so brengsek itu!" Teriak Dafa penuh emosi.
"Apa?!" Mahesa terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Dengan cara apapun, menghabisi bang Nathan sekalipun akan kulakukan!"
Mahesa tidak menyangka anaknya sendiri bisa sejahat ini. Karena tidak mau Nathan disakiti oleh Dafa, dia memberikan seluruh perusahaan untuk Dafa. Dia juga sudah menandatangi berkasnya di hadapan Dafa.
Kembali ke hari ini...
"Mohon maaf pak Nathan dilarang masuk." Ucap satpam yang berjaga di depan lobby perusahaan milik Mahesa yang sekarang sudah berpindah tangan kepada Dafa.
"Kenapa saya tidak boleh masuk? Saya memang sudah tidak bekerja disini, tapi ini perusahaan ayah saya." tukas Nathan
"Iya tapi ini semua atas perintah pak Dafa. Sekarang semuanya sudah diambil alih oleh pak Dafa. Bapak Mahesa sudah menyatakan pensiun dari perusahaan ini, beliau berkata perusahaan ini sekarang di pimpun oleh pak Dafa." tutur satpam.
"Astaga apa yang ada difikiran Dafa saat ini, kenapa dia melakukan semua ini? Dan papa kenapa dengan mudahnya menyerahkan perusahaan, pasti ada sesuatu." Gumam Nathan, dia pun bergegas kerumah papanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
.
__ADS_1
.
Di dalam ruangannya, Dafa sedang berbicara dengan Sandra tentang rencananya. Dafa menyuruhnya untuk menarik aset milik Nathan. Dia akan membuat seolah-olah Nathan korupsi di kantornya.
"Daf gue bantuin bikin keterangan palsu tentang penggelapan dana ini, tapi cukup ambil asetnya aja. Jangan penjarain Nathan. Kalau dia dipenjara, gue nggak bisa deketin dia. Perjanjian dari awal kan kita misahin mereka trus ambil bagian masing-masing. Lo sama Jeslyn gue sama Nathan." Ucap Sandra
"Iya, gue nggak akan bikin dia masuk penjara. Gue cuma pengen dia bener-bener jadi gembel." Ucap Dafa
Dafa sudah menyuruh orang untuk menyita rumah yang ditinggali oleh Nathan sekarang. Dirumah hanya ada kedua asisten rumah tangga. Jeslyn dan Nathan sedang pergi kerumah orang tua mereka masing-masing.
Tokk.. tokk tokk..
"Iya sebentar.." Ucap Asih, dia segera berlari membukakakan pintu. Berdiri dua orang berbadan kekar di depannya saat ini.
"Kami diperintahkan untuk menyita rumah ini. Pemilik rumah ini tepatnya pak Nathan sudah terbukti melakukan korupsi di perusahaan."
"Hari ini juga saya minta kosongkan rumah ini, kalau tidak saya akan mengobrak-abrik isi rumah ini."
"Hahh.. Jangan.. bentar saya hubungi majikan saya dulu." Asih berlari kedalam.
"Loh kenapa sih siapa yang datang?"
"Itu in orangnya serem banget, katanya rumah ini mau disita karena pak Nathan korupsi di perusahaan."
"Lah mana mungkin? Ini pasti cuma fitnah. Lagian bukannya pak Nathan sudah keluar dari perusahaan? Yaudah cepetan hubungi pak Nathan sekarang."
Asih pun menelfon Nathan, saat ini Nathan masih dalam perjalanan menuju rumah papanya. Mendengar hpnya berbunyi, Nathan meminggirkan mobilnya. Dia berhenti untuk menjawab telfon itu.
"Halo, ada apa Asih?"
"Gawat pak, Rumah pak Nathan mau disita."
"Apa? Astaga masalah apa lagi ini."
__ADS_1