Menikah Dengan Kakak Pacarku

Menikah Dengan Kakak Pacarku
Episode 21


__ADS_3

"Mari kita mulai semuanya dari awal." Ucap Nathan


Jeslyn terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia juga tidak menyangka Nathan bisa berucap seperti itu. Pria yang awalnya kaku dan selalu cuek kepadanya saat ini malah jatuh hati kepadanya.


"Coku lo serius?" Tanya Jeslyn dengan gemetar.


"Iya aku sangat serius. Tapi kalau kamu nggak mau nggak papa aku nggak akan maksa." Jawab Nathan,


"Lo bilang aku kamu?"


"Iya kenapa? rasanya lebih enak kalau suami istri itu pakai kata itu daripada lo gue."


"Ahahaha, tapi rasanya aneh aja gitu." Ucap Jeslyn sambil tertawa.


"Jadi gimana kamu mau nggak? Seperti yang kamu bilang, aku ini pria yang mapan. Aku butuh sosok seorang istri. Aku pria yang normal. Aku melihat kamu bukan lagi sebagai gadis menyebalkan. Tapi sebagai gadis yang aku cintai." Ucap Nathan dengan menatap dalam-dalam mata jeslyn.


"Ouuw astaga kok gue jadi deg-deg an gini sih, Aduhh mana tatapannya gitu banget. Bisa meledak nih gue."


"Kalau kamu nggak mau aku akan urus perceraian kita secepatnya, karena sama seperti kamu aku juga capek memainkan drama pernikahan ini."


"Tapi coku, lo kan tahu gue ini pernah ada hubungan sama Dafa. Dan lo juga tahu kan gue belum bisa 100% lupain dia. Jujur masih ada perasaan buat dia."


"Hemm jadi kamu masih ada niatan balik sama dia, Oke kalau gitu aku akan urus perceraian kita." Ucap Nathan. Nathan langsung pergi masuk kedalam meninggalkan Jeslyn sendirian disana.


"Astaga belum juga gue jawab udah main pergi aja. Duh gimana nih, gue terima nggak ya? Tapi kalau gue terima apa gue bisa mencintai coku? Tapi kalau gue tolak trus bercerai, si Dafa pasti nggak akan nglepasin gue. Dan papa bisa kena serangan jantung kalau gue tiba-tiba cerai. Arrgghh.. pusingg!"


Setelah setengah jam berfikir Jeslyn masuk kedalam rumah mencari keberadaan Nathan. Disekeliling rumah tidak terlihat ada Nathan disana. Kemudian Jeslyn langsung saja menuju kamar Nathan. Di depan pintu kamar Nathan, langkahnya terhenti.


"Aduhh kok gemeter gini sih, ketuk enggak ya." Jeslyn merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar Nathan. Tiba-tiba pintu terbuka, Jeslyn langsung berbalik arah menuju kamarnya.


"Jes,"


"Aa iya coku," Jeslyn berbalik arah lagi


"Yaudah cuma manggil aja." Ucap Nathan yang kemudian langsung melangkah pergi.


"Isshh ngeselin deh. Gatau orang deg-deg an apa?!" Omel jeslyn dalm batinnya.


"Hey hey coku tunggu. Gue mau ngomong."


"Iya, ngomong aja. Oh iya aku udah hubungin pengacara untuk urus perceraian kita." Ucap Nathan

__ADS_1


"Haa?! Gila lo coku, gue kan belum ngomong apa-apa,"


"Batalin coku gue nggak mau cerai." Ucap Jeslyn dengan tegas. Tapi Nathan masih diam saja.


"Coku kita itu menikah secara sah, meskipun dengan paksaan tapi pernikahan kita ini suci. Aku nggak bisa juga menodainya dengan perceraian. Jadi nggak ada salahnya sih kita mencoba memulai hubungan yang baru didalam pernikahan ini." Ucap Jeslyn namun tidak dengan menatap mata Nathan.


"Kamu serius?" Tanya Nathan


"Iya.. Aku itu nggak pernah ada niatan lagi untuk kembali sama Dafa. Mungkin dengan cara ini aku bisa benar-benar lupain Dafa. Aku akan coba buka hati buat kamu." Ucap Jeslyn yang dia sendiri tidak sadar mengucapkannya.


"Astaga ngomong apa gue barusan." Batin Jeslyn


Hati Nathan seketika berbunga-bunga, sudah lama sekali dia tidak berinteraksi perasaan dengan seorang wanita. Tapi saat ini Nathan tetap mengontrol ekspresinya.


"Tapi untuk satu kamar mungkin itu butuh waktu ya," Ucap jeslyn


"Iya aku bisa ngerti." Ucap Nathan, setelah itu mereka saling diam.


Mereka jadi sama-sama canggung, Jeslyn bingung ingin mengatakan apalagi. Untuk pamit pergi masuk kamar pun mulutnya seakan terkunci.


"Yaudah kalau gitu aku telfon pengacaraku lagi untuk membatalkan semuanya." Ucap Nathan


"Jeslyn,"


"Aduh coku kenapa manggil lagi sih," Jeslyn menoleh lagi sebelum masuk kamar.


"Makasih ya," Ucap Nathan, sambil mengukir senyum diwajahnya.


Jeslyn hanya mengangguk mengiyakan kemudian langsung masuk kedalam kamarnya.


"Astaga jantung gue, si coku manis juga kalau senyum."


...****************...


Dafa pulang kerumah dengan keadaan lebam dan luka di bibir dan pipi kanannya. Dengan hati yang sedang dongkol dia berjalan menuju kamarnya.


"Dafa darimana aja kamu?" Tanya Mahesa yang tiba-tiba muncul di depan Dafa.


"Kamu habis berantem lagi? Pasti kamu habis kumpul nggak jelas sama club motor kamu itu kan?"


"Katanya kamu mau jadi CEO gantiin abangmu, tapi kelakuan kamu kaya gini, bisa hancur perusahaan keluarga kita."

__ADS_1


"Pah dengerin aku dulu, kenapa sih selalu nggak marah aja sama aku." Ucap Dafa protes.


"Kamu masih ingat kan perjanjian yang kamu buat sendiri waktu itu, Kalau kamu nakal lagi main cewek, balapan nggak jelas kamu akan hilang kesempatan untuk jadi pewaris perusahaan keluarga."


"Ya ya pah, aku masih ingat semuanya kok."


"Jangan-jangan di Belanda kamu masih suka main cewek ya?" Tanya Mahesa menyelidik,


"Enggak pah apaan sih, Aku tuh nggak pernah punya pacar. Semua cewek yang pernah papa lohat itu cuma rekan kerja. Aku kan fotografer jadi banyak punya temen cewek."


"Yaudahlah yang penting tepati janji kamu. Jangan pacaran dulu sebelum kamu bener-bener sukses jadi kebangaan papa, atau semuanya akan jatuh kepada abangmu." Tegas Mahesa.


Mahesa bersikap tegas dengan Dafa karena dulu ketika SMA dia pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dafa mengahamili teman sekolahnya. Hingga akhirnya Dafa dan perempuan itu dikeluarkan dari sekolah. Mahesa sebagai ayah bertanggung jawab atas tindakan anaknya itu. Mahesa menikahkan Dafa dengan perempuan yang dihamilinya. Namun sayangnya satu hari sebelum pernikahan terlaksana, perempuan itu meninggal karena kecelakaan.


Akhirnya Dafa bisa kembali bersekolah lagi hingga lulus. Setelah lulus dia malah semakin menjadi anak yang pembangkang. Bahkan dia tidak kapok dengaj kejadian sebelumnya. Dafa sering sekali berganti-ganti pacar. Dia mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk tebar pesona.


Hingga pada suatu hari dia memilih keluar dari rumah karena terus dibandingkan dengan kakaknya. Meskipun tidak tinggal satu rumah lagi, Mahesa tetap mengaktifkan kartu kredit milik Dafa.


Semakin hari pengeluaran Dafa semakin banyak. Itu dia gunakan untuk membelanjakan teman perempuannya sebagai imbalan bermalam dengannya. Itupun berlangsung ketika Dafa sudah berpacaran dengan Jeslyn. Dafa tidak puas hanya dengan satu perempuan. Apalagi dengan Jeslyn dia hanya bisa melakukan cipika-cipiki, tidak bisa lebih dari itu.


Mengetahui tagihan kartu kredit Dafa yang setiap bulan bertambah banyak, Mahesa langsung mencari keberadaannya.


Mahesa menemukan keberadaan Dafa. Dia langsung mendatangi kost annya. Mahesa langsung to the point menanyakan tentang tagihan kartu kredit sebanyak itu. Mahesa menerka pasti Dafa punya pacar dan itu untuk membelanjakan pacarnya.


"Kamu pasti punya pacar kan? Jangan-jangan kamu ngelakuin kesalahan lagi? Kamu iming-imingi anak orang dengan uang trus kamu hamili dia kaya dulu?!"


"Enggak pah kenapa sih selalu aja marah sama aku, nuduh yang enggak-enggak. Aku pake kartu kredit untuk beli perlatan kerja aku kok." Jawab Dafa membela diri.


"Kamu masih ingat apa omongan papa kan? Kamu itu baru boleh pacaran setelah kamu benar-benar bisa bikin papa bangga. Kalau kamu ketahuan nekat pacaran semuanya akan jatu kepada kakakmu." Ucap Mahesa.


"Ya nggak bisa gitu dong pah, Aku nggak punya pacar kok. Aku bakal jadi kebanggaan papa melebihi bang Nathan."


"Yasudah kamu pulang sekarang. Besok kamu berangkat ke Belanda untuk lanjutin S2 disana. Setelah itu kamu bisa dapetin setengah saham di perusahaan."


"Tapi kan pa kok mendadak,"


"Kenapa? Kamu pasti punya pacar kan? Oke papa akan cari siapa pacar kamu. Papa akan kasih tahu dia bagaimana kelakuan kamu di belakang dia."


"Astaga pah enggak. Oke oke aku ikut pulang sekarang."


Itulah sebabnya 6 bulan lalu Dafa tiba-tiba menghilang tanpa kabar meninggalkan Jeslyn.

__ADS_1


__ADS_2