
Dengan cepat Dafa berdiri, Dia menarik Gladys keluar. Sebelum sang istri berbuat sesuatu hal yang bisa menyakiti Jeslyn.
"Lepaskan aku Daf, apaan sih kamu. Biar aku memberi wanita itu pelajaran dulu!" Gladys terus saja meronta ingin melepaskan diri. Namun Dafa mencengkramnya dengan kuat hingga berhasil membawanya keluar dari area rumah sakit.
Nathan yang melihat Dafa menarik Gladys seperti itu, langsung berlari ke kamar sang istri. Dia takut istrinya sudah diapa-apakan oleh Gladys. Melihat ekspresi Dafa seperti orang yang sedang marah.
"Ah syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku langsung khawatir setelah melihat Dafa berjalan sembari menarik Gladys dari sini." Ucap Nathan, ia merasa lega melihat istrinya baik-baik saja.
"Mungkin jika Dafa tidak membawa istrinya yang cemburuan itu pergi dari sini, aku sudah masuk ugd." Ucap Jeslyn sembari menghembuskan nafas kasar.
"Apa dia yang ingin dia lakukan padamu tadi?"
"Dia ingin menusukku dengan pisau buah itu. Dia salah paham lagi padaku. Tadi aku hampir terpleset karena lantai yang licin ini. Kebetulan kan Dafa ada disini, dia membantuku. Gladys datang dan mengira aku sedang bermesraan dengan Dafa. Dia nggak mau dengerin penjelasan kita. Malahan Dafa didorong sampai membentur tembok." Jeslyn menceritakan kejadian tadi dengan rinci.
"Hmm.. Tapi kamu beneran nggak papa kan? Nggak ada yang luka?" Tanya Nathan sembari mengecek seluruh bagian tubuh sang istri.
"Enggak ada sayang." Ucap Jeslyn sembari memegang kedua bahu suaminya.
"Wah tumben manggilnya begitu,"
__ADS_1
"Yasudah kupanggil coku lagi saja."
"Tidak, aku lebih suka kamu panggil sayang." Ucap Nathan sembari mendekat tanpa jarak dengan Jeslyn. Dia hendak mencium bibir sang istri yang begitu menggoda dirinya. Namun seketika telapak tangan Jeslyn menghalangi.
"Coku kamu lupa ini dirumah sakit, ayo kita pulang kerumah dulu."
"Ayo kalau begitu kita pulang." Dengan semangat Nathan menggandeng tangan sang istri seraya membawa tasnya juga. Dia tidak sabar ingin segera sampai rumah karena ingin segera bermesraan dengan istrinya.
🌺🌺
Sementara itu di apartemen Gladys dan Dafa bertengkar lagi. Gladys menilai jika suaminya itu hanya mempermainkan dirinya. Karena sampai saat ini Dafa terus saja memarahinya, terus memberikan pembelaan pada Jeslyn.
"Semalam kamu pergi begitu saja. Lalu hari ini aku melihatmu memeluk mantan kekasihmu. Istri mana yang tidak cemburu dengan itu semua. Kamu meninggalkanku sendirian semalaman hanya untuk wanita penggoda itu!" Ucap Gladys dengan berlinang air mata.
"Dengarkan apa lagi daf? Dengarkan kenyataan kalau kamu masih mencintai Jeslyn, dan wanita itu juga ingin memilikimu lagi. Iya begitu?" Gladys sangat menggebu, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua kenyataan yang dia tahu dari catatan di ponsel Dafa.
"Daf aku yang selama ini kamu sakiti. Aku juga yang masih tetap berjuang membelamu disaat keluargamu pun tidak memperdulikanmu. Aku tidak pernah membencimu meski kamu pernah hampir membunuhku. Tapi kenapa selalu Jeslyn, Jeslyn dan Jeslyn saja yang kamu pikirkan. Kamu bela dia terus-terusan. Aku yang pantas kamu cintai bukan dia!" Gladys meluapkan emosinya. Namun perkataannya itu malah membuat Dafa kesal.
"Kamu pikir aku tidak berusaha untuk mencintaimu selama ini? Aku sudah berdamai dengan keadaan dan mencoba menebus segala kesalahan yang kulakukan padamu. Semua yang kamu pikirkan tentangku dan Jeslyn itu salah." Ucap Dafa dengan tatapan tajam. Dia merasa sangat lelah menghadapi kecemburuan Gladys yang menurutnya berlebihan.
__ADS_1
"Dan apa yang kamu lakukan di rumah sakit, kamu ingin membunuh Jeslyn. Aku dan Jeslyn tidak ada hubungan lebih. Aku tadi hanya menolongnya."
Gladys ingin membalas klarifikasi dari Dafa. Karena dia yakin apa yang dilihatnya tadi adalah Dafa dan Jeslyn bermesraan bukan seperti klarifikasi Dafa yang berkata hanya menolongnya. Tapi belum sempat mengeluarkan kata-kata, Dafa mendahuluinya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya padaku. Aku lelah menghadapi sifatmu yang semakin lama semakin kekanak-kanakan." Ucap Dafa yang kemudian berniat pergi. "Dan masalah semalam, maaf aku tidak mengabarimu karena terlalu panik saat papa sakit. Kupikir akan menghubungimu pagi ini, namun ternyata hpku tertinggal disini."
"Jadi semalam kamu tidak menginap di tempat Jeslyn dirawat? Kamu nemenin papa?" Tanya Gladys, amarahnya seketika menghilang.
"Ya, dan aku dirumah sakit tadi untuk mengambil obat papa. Lalu kamu datang salah paham denganku."
"Tapi kan memang.."
"Sudahlah aku capek berdebat denganmu. Lebih baik kita berpisah sementar, agar kamu bisa berfikir lebih jernih." Dafa mengambil ponselnya yang berada di dalam laci nakas. Ya, ponselnya kehabisan daya. Itulah sebabnya Gladys tidak bisa menghubunginya. Setelah itu Dafa pergi begitu saja meninggalkan sang istri yang sebenarnya belum puas berdebat dengannya.
Gladys berdecak kesal. Lagi-lagi dia membanting benda-benda di sekitarnya. Bukan hanya itu, dia juga berteriak tidak jelas meluapkan amarahnya.
"Semua ini karena Jeslyn!" Teriaknya
Gladys tetap saja melimpahkan kesalahannya pada Jeslyn. Padahal semua masalah rumah tangganya ini datang karena dirinya yang terlalu cemburu. Baru satu hari menikah rumah tangganya sudah berantakan. Suaminya juga malah memilih pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Di mobilnya, Dafa terdiam berfikir. Mengapa semua malah jadi seperti ini. Gladys yang tiba-tiba berubah menjadi pencemburu berat. Hingga berniat mencelakai Jeslyn yang tidak salah apa-apa. Dikiranya dengan menikahi Gladys semua masalahnya akan selesai. Dia akan hidup tenang tanpa memikirkan balas budi lagi. Namun ternyata salah. Gladys malah membuatnya pusing.
"Aku sedang belajar untuk mencintaimu dan menerimamu seutuhnya dalam hatiku. Tapi jika sikapmu terus saja begini, aku tidak akan bisa mencintaimu Gladys." Gumam Dafa