
Semua sudah berkumpul. Mahesa senang sekali mendapat kejutan ulang tahun dari anak, menantu juga cucunya. Mereka mengadakan acara keluarga itu di halaman belakang rumah. Disana juga sudah hadir fotografer untuk mengambil potret sekeluarga. Inilah hari yang sangat dinantikan oleh Mahesa. Dimana keluarganya utuh, terutama kedua putranya akur kembali.
Jeslyn sudah sangat akrab dengan keluarga suaminya itu. Bahkan dua anak Cecilia nempel dengannya. Melihat kedekatan Jeslyn dengan seluruh anggota keluarga membuat Gladys kembali merasakan kecemburuan. Dirinya merasa tersisih disana.
Entah mengapa dalam hati Gladys terus saja merasa tidak suka dengan Jeslyn. Dia merasa iri dengan kehidupan kakak iparnya yang terlihat sangat sempurna itu. Disayang suami dan seluruh keluarganya. Berbeda dengan dirinya yang merasa suaminya belum seutuhnya menyayangi dirinya. Mungkin separuh hati Dafa masih untuk kakak iparnya itu.
Anak Cecilia berlarian kesana-kemari hingga akhirnya menyenggol Jeslyn yang berdiri di pinggir kolam renang. Jeslyn kehilangan keseimbangan dan hampir saja tercebur jika saja Dafa tidak menariknya. Kebetulan sekali Dafa sedang berada di dekatnya. Sementara Nathan berada di dalam rumah mengambil korek api untuk tiup lilin.
Gladys menatap sinis kepada Jeslyn yang berada sangat dekat dengan suaminya. Dia merasakan kecemburuan lagi untuk kesekian kalinya.
"Emm makasih ya Daf, aduh bisa basah kuyup kalau saja kamu tidak menolongku." Ucap Jeslyn yang sudah melepaskan diri dari rangkulan Dafa.
"Sama-sama, maklum saja keponakan kita memang super aktif persis mamanya." Ucap Dafa terkekeh.
"Sheren sini, minta maaf dulu sama tante Jeslyn." Panggil Cecilia pada putri keduanya yang tadi menabrak Jeslyn.
"Sorry tante," Ucap Sheren dengan manis.
"Iya sayang nggak papa kok." Balas Jeslyn dengan senyum manis.
Gladys tambah panas melihat itu semua. Kenapa rasanya semua orang tidak memperdulikan perasaannya. "Mereka sama sekali tidak memperdulikan perasaanku. Terutama Jeslyn. Bisa-bisanya dia peluk suamiku trus nggak ada basa-basinya sama aku. Dikiranya aku ini patung apa!" Batin Galdys
Nathan sudah kembali dengan membawa korek apiknya. Lilin sudah menyala, semua diminta untuk berkumpul. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk papa Mahesa. Kemudian lilin berhasil di tiup. Mahesa merasa sangat terharu. Baru kali ini dia merasakan kehangatan keluarga lagi bersama anaknya yang utuh dan harmonis.
Setelah itu mereka melakukan foto keluarga. Karena kalau potong kue dahulu, dipastikan kedua anak Cecilia akan cemot krim kue.
Sesi foto selesai, saatnya makan kue. Tapi ternyata pisau dan piring kuenya masih di dalam.
"Biar aku saja yang mengambilnya." Ucap Jeslyn, dia pun melangkah masuk kedalam rumah pergi ke dapur untuk mengambil apa yang diperlukan.
__ADS_1
"Cari muka banget sih, kalau dia masih terus ada disini. Hidupku selamanya nggak akan tenang. Aku yakin Dafa tidak akan bisa melupakan Jeslyn jika wanita itu masih ada di dunia ini." Batin Gladys yang tidak suka dengan Jeslyn.
"Emm sayang aku ke toilet dulu ya," Pamit Gladys
Nathan merasa was-was ketika Gladys ikut masuk kedalam rumah juga. Namun dia mencoba berfikir positif. Lagipula sejak tadi Gladys tidak menunjukkan sikap yang aneh.
Gladys tidak pergi ke toilet, dia menyusul Jeslyn ke dapur.
"Jeslyn aku disuruh ngambil kembang api di balkon lantai dua. Tapi pintunya menuju balkon itu dikunci, kamu tahu nggak kuncinya dimana?" Gladys mencoba berbasa-basi pada Jeslyn.
"Emm biasanya kayanya tetap terpasang di pintunya deh. Yaudah coba aku bantuin cari deh."
Akhirnya Jeslyn dan Gladys naik ke lantai atas. Tapi mereka tidak menemukan kunci pintu balkonnya. Kemudian Jeslyn mencoba membuka kembali pintunya, ternyata memang tidak terkunci.
"Eh ini bisa nggak terkunci kok," Ucap Jeslyn
"Oh masak sih, tadi aku coba nggak bisa loh." Ucap Gladys
"Gladys kamu yakin tadi disuruh ambil kembang api disini? ini nggak ada apa-apa loh,"
Bukannya membalas pertanyaan Jeslyn, Gladys malah tersenyum menyeringai. Membuat Jeslyn menjadi takut. Kemudian, Gladys melangkah maju membuat Jeslyn semakin mundur dan akhirnya terpojok pada pembatas balkon.
"Sebenarnya sih aku nggak disuruh ambil kembang api, aku mau nganterin kamu pulang." Ucap Gladys dengan tatapan tajam namu di detik kemudian dia tertawa renyah.
"Apa maksud kamu?" Tanya Jeslyn dengan jantung yang sudah berdegup lebih kencang. Karena merasa posisinya sangat terancam.
"Aku akan mengantarmu pulang bertemu Tuhan." Jawab Gladys yang kemudian langsung mencekik leher Jeslyn. Tentu saja hal itu membuat Jeslyn kesulitan untuk bernafas. Namun beberapa detik kemudian Jeslyn berhasil mendorong Gladys.
Uhukk..uhukk
__ADS_1
"Kamu sudah gila ya Gladys, salahku apa padamu? Kenapa kamu terus saja ingin mencelakaiku?" Teriak Jeslyn seraya memegangi lehernya yang sakit akibat cengkraman tangan Gladys tadi.
Gladys bangkit dan langsung mendorong Jeslyn sampai terjatuh dari balkon. Kini Jeslyn bergelantungan dengan hanya berpegangan pada pagar pembatas balkon.
"Aaa.." Teriak Jeslyn, dia menatap kebawah begitu tinggi. Jika dia tidak kuat lagi berpegangan otomatis akan terjatuh. Jatuh dari ketinggian itu pastinya akan membuat dirinya terluka parah atau bahkan meninggal.
"Ngapain sih berpegangan, lepasin. Udah jatuh aja sana." Ucap Gladys sembari menginjaki tangan Jeslyn yang berpegangan.
"Gladys apa yang kamu lakukan, tolong aku. Nanti aku bisa jatuh." Ucap Jeslyn seraya menangis.
"Memang itu yang kuinginkan. Kamu harus mati! Dafa akan 100% melupakanmu ketika kamu sudah tidak ada didunia ini lagi." Ucap Gladys sembari tertawa renyah.
Sementara itu Nathan yang menunggu istrinya tak kunjung kembali, menyusulnya ke dapur. Namun ternyata dia tidak mendapati Jelsyn ada disana. Dafa juga mencari Gladys ke kamar mandi di dekat dapur juga tidak ada.
"Tolong... Coku tolong aku..."
Sayup-sayup Dafa dan Nathan mendengar suara teriakan Jeslyn. Namun mereka berdua bingung Jeslyn berada dimana. Suara itu seperti berasal dari depan rumah. Akhirnya Nathan berlari keluar menuju halaman depan diikuti dengan Dafa. Betapa terkejutnya mereka melihat Jeslyn bergelantungan di balkon. Ditambah Gladys menginjaki tangan Jeslyn yang sedang berusaha kuat untuk terus berpegangan.
"Astaga Jeslyn!" Dengan cepat pula Nathan kembali masuk kedalam rumah dan berlari menaiki tangga menuju balkon. Begitu pula dengan Dafa. Dia tidak habis fikir apa yang dilakukan oleh istrinya tersebut.
Sampai di balkon Nathan mendorong Gladys untuk menyingkir. Tepat saat tangan Jeslyn sudah tidak kuat lagi, Nathan menggapai tangan istrinya itu. Perlahan tapi pasti, Nathan berhasil mengangkat Jeslyn kembali ke balkon.
Jeslyn menangis ketakutan di dalam pelukan Nathan.
"Tenanglah sayang kamu sudah selamat." Ucap Nathan menangkan sang istri. Kemudian Nathan menatap tajam kepada wanita yang sudah hampir membuat istrinya terjatuh dari ketinggian itu.
Sama sekali tidak ada rasa bersalah di mata Gladys. Wanita itu malah tertawa terbahak-bahak. Dafa langsung murka pada istrinya itu.
"Gladys apa yang kamu lakukan!"
__ADS_1
"Aku mau membunuh dia. Tapi dia nggak mati. Hahaha. Aku bodoh ya, harusnya aku tusuk pakai pisau aja ya tadi." Ucap Gladys secara terang-terangan. Dia tertawa tapi kemudian menangis.
"Gladys apa kamu sudah gila!" Bentak Dafa, Namun bukannya takut Gladys yang tadinya menangis kembali tertawa lagi. Sepertinya wanita itu terkena gangguan mental.