
Mahesa menatap bingung, dia belum mengenal siapa Gladys. Nathan belum bercerita apapun tentang Gladys yang dihamili oleh Dafa. Dafa sendiri ingin pergi begitu saja darisana, tapi dia ditahan oleh Nathan. Akhirnya kini enam orang duduk bersama disana.
"Jelaskan pada papa, siapa dua wanita ini," Ucap Mahesa, Nathan pun mengkode Gladys untuk berbicara. Tapi dia tidak sanggup berbicara hingga akhirnya diwakilkan oleh Herlin.
"Saya Herlin temannya Dafa dan juga Jeslyn. Disebelah saya ini adalah sepupu saya yang sedang mengandung cucu om." Ucap Herlin dengan jelas. Dafa langsung mengepalkan kedua tangannya merasa tidak suka dengan pernyataan Herlin.
"Apa? Maksudnya bagaimana?" Tanya Mahesa merasa bingung.
"Dafa menghamili Gladys dan dia tidak mau bertanggung jawab pa." Ucap Nathan memperjelas semuanya.
"Astaga Dafa, apa-apaan ini! Kamu marah karena Jeslyn menikah dengan Nathan, tapi ternyata dibelakangnya selama ini kamu main dengan gadis lain hingga dia hamil." Ucap Mahesa murka. "Kamu ini kenapa selalu membuat nama papa tercoreng!" Mahesa memukul-mukul putranya karena sangat kesal. Dafa diam saja menerima pukulan dari sang papa. Gladys yang merasa tidak tega Dafa dipukuli mencoba melerai dengan ucapannya.
"Om sudah jangan pukuli dia. Saya tidak apa-apa, saya akan membesarkan anak ini sendirian. Ini juga salah saya bukan hanya Dafa. Saya yang bodoh karena.."
"Aku akan menikahinya, aku akan bertanggung jawab." Ucap Dafa dengan keras membuat papanya berhenti memukulinya. Semua yang ada disana merasa terkejut mendengar pernyataan Dafa.
"Aku serius dengan ucapanku. Maafkan aku Gladys, aku sudah menyakitimu. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu." Ucap Dafa dengan menghamburkan pelukan hangatnya pada Gladys.
Nathan dan juga Jeslyn saling menatap satu sama lain. Mereka berdua mempunyai fikiran yang sama. Dari awal jelas Dafa menolak keras mengakui anak di kandungan Gladys. Tapi dengan mudahnya Dafa merubah keputusannya sekarang. Herlin pun juga merasa heran. Tapi disisi lain dia merasa senang, karena akhirnya sepupunya tidak akan menjadi orang tua tunggal bagi anaknya.
"Harusnya aku senang, tapi entah mengapa hatiku berkata lain. Apakah ini hanya sebuah sandiwara? Apa yang sedang direncanakan Dafa? Semoga dia benar-benar tulus ingin bertanggung jawab." Ucap Gladys dalam benaknya.
🌺
__ADS_1
🌺
Pernikahan Gladys dan Dafa akan diadakan bersamaan dengan pesta resepsi pernikahan Nathan dan Jeslyn. Saat ini mereka berempat sedang berada di sebuah butik untuk mencoba gaun pernikahan. Karena perut Gladys sudah membuncit, dia mencari gaun yang tidak menonjolkan bentuk perutnya.
Saat para wanitanya sibuk berada di ruang ganti, Dafa dan Nathan duduk di sofa yang ada disana. Mereka tidak saling bicara. Mereka sama-sama sibuk dengan ponselnya.
"Bagaimana rasanya bercinta dengan bekas kekasihku bang?" Tiba-tiba saja Dafa membuka percakapan yang menurut Nathan tidak sopan. Membuatnya enggan menjawabnya.
"Ayolah bang jangan kaku banget. Aku sudah menikmati banyak wanita. Tapi sayangnya aku belum sempat menyentuh dia yang paling indah. Ceritakan padaku bagaimana rasanya?"
Nathan menyimpan ponselnya disaku kemudian menatap sekilas sang adik dengan tajam. Dia tetap enggan menjawab pertanyaan tidak berbobot dari adiknya.
Kemudian dua wanita yang sama-sama cantik keluar dari balik tirai. Dengan gaun putih beraksen mutiara gemerlap, membuat mereka cantik bak putri negeri dongeng. Mata Nathan pun fokus pada istrinya. Dia memberikan dua jempolnya hingga membuat Jeslyn tertawa senang. Sementara Dafa sekilas melihat Gladys dan kemudian juga ikut fokus menatap Jeslyn.
"Sangat sempurna." Gumam Dafa, tapi terdengar jelas oleh Nathan. Nathan menyadari jika adiknya itu memuji Jeslyn bukan Gladys.
"Gladys tunggu," Jelsyn langsung menyusulnya masuk kedalam.
"Kau keterlaluan Dafa." Ucap Nathan.
"Hei aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau menatap tajam padaku?"
"Kau masih tidak mengakui kesalahanmu? Di depan calon istrimu kau menatap penuh ekspresi bahkan memuji istriku."
__ADS_1
"Ya apa yang salah kakak ipar memang sempurna. Kau beruntung bang, karena dia sangat seksi. Dia pernah menjadi kekasihku. Dari dulu aku sangat ingin melihat setiap lekuk tubuh indahnya."
"Hentikan omong kosongmu! Jangan lagi bicara apapun mengenai istriku. Dia itu milikku, kau sudah tidak berhak atas dia. Kuingatkan sekali lagi!"
Dafa hanya tertawa sinis mendengar perkataan kakaknya yang menurutnya begitu sombong.
"Ya ya aku tahu dia milikmu. Maafkan aku bang." Ucap Dafa dengan menepuk bahu Nathan. "Silahkan sombongkan diri mengakui dia milikmu sekarang, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti. Dia akan menjadi milikku selamanya." Batin Dafa dengan tersenyum menyeringai kearah Nathan.
Sementara di dalam ruang ganti, Gladys dan Jeslyn sudah memakai pakaian mereka yang semula. Mereka juga sudah menentukan gaun pilihannya. Disana Jeslyn mulai bertanya pada Gladys karena dilihatnya calon adik iparnya itu sedang bersedih.
"Kamu kenapa? Aku lihat kamu kaya sedih terus. Bukannya harusnya kamu bahagia. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan orang yang kamu cintai. Apalagi kamu sudah mengandung anaknya."
"Jeslyn sejujurnya aku tidak merasa bahagia. Dulu aku memang mencintainya. Tapi setelah dia berubah rasanya lebih baik aku hidup sendiri saja. Aku tidak yakin kalau dia benar mencintaiku." Ucap Gladys
"Hmm jangan berfikir negatif dulu, seiring berjalannya waktu pasti Dafa akan mencintai kamu. Apalagi kamu sedang mengandung anaknya." Ucap Jeslyn untuk memperbaiki suasana hati Gladys. Padahal sebenarnya dia juga tidak yakin dengan Dafa, sama seperti yang dikatakan Gladys.
Segala persiapan pernikahan selesai, tapi hanya satu yang masih menjadi kendala. Yaitu, restu dari ayah Gladys. Hingga kini ayah Gladys belum memberikan jawaban apapun. Gladys sudah menelfonnya sejak rencana pernikahan itu dibuat. Gladys ingin ayahnya datang untuk menjadi wali nikahnya, karena tanpanya pernikahan itu tak akan sempurna. Namun ayahnya tidak memberi jawaban apapun.
BELANDA
Seorang pria paruh baya tengah merenung seraya menatap fotonya bersama anak perempuan satu-satunya. Dia membelai foto sang anak.
"Ayah sangat sayang padamu nak,"
__ADS_1
"Ayah senang mendengar akhirnya kamu akan menikah. Tapi, rasanya ayah tidak rela melepasmu kepada pria yang jelas sudah membuangmu."
"Ayah takut dia akan kembali menyakitimu nak." Ucap Marko kepada foto Gladys. Dia merasa tidak rela anaknya dinikahi oleh Dafa. Pria yang sudah meninggalkan Gladys dan tidak mau mengakui anak dalam kandungannya. Marko mempunyai firasat buruk saat mendengar kabar anaknya akan menikah. Harusnya dia bahagia karena pria yang menghamili anaknya mau bertanggung jawab. Tapi entah mengapa di hatinya berkata lain.