
Jeslyn terus berjalan kesana-kemari di dalam ruangan milik suaminya. Dia sudah tampil cantik dan rapi demi untuk mendampingi suaminya bertemu Sandra. Namun ternyata dirinya tidak boleh ikut dalam pertemuan itu. Karena bukan hanya Sandra yang ada di sana. Tapi juga klien dari luar negeri yang juga ikut bekerjasama. Pertemuan penandatanganan kontrak itu sangat penting, jadi Jeslyn yang tidak berkepentingan dilarang ikut masuk ke ruang rapat.
"Ck,, coku apaan sih, aku kan istrinya. Masa cuma pertemuan begitu saja tidak boleh ikut. Aku kan hanya ingin duduk di sebelahnya saja." Gerutu Jeslyn sembari sesekali mengunyah camilan coklat yang dibawanya.
Melihat jam sudah sekitar satu setengah jam Nathan belum kembali. Akhirnya Jeslyn memutuskan untuk menyusul ke ruang rapat. Belum sampai di sana, Jeslyn berpapasan dengan Mischa yang berjalan bersama dua orang asing. Dipastikan itu klien Nathan yang berasal dari luar negeri.
"Mischa meetingnya sudah selesai?" Tanya Jeslyn yang menghentikan langkah sekretaris suaminya itu.
"Sudah Bu Jeslyn, saya permisi mau mengantarkan Mr. Robby dan Mr. Lucas ke lobi." Ucap Mischa yang kemudian pergi dengan dua klien Nathan.
Jeslyn langsung bergegas pergi ke ruangan dimana suaminya berada. Dua klien sudah keluar bersama Mischa, itu artinya di sana hanya tersisa Nathan dan Sandra. Hal itulah yang membuat Jeslyn berlari sampai dia lupa jika sedang hamil.
Pintu ruang meeting masih tertutup. Hal itu membuat jantung Jeslyn kembang kempis. Dia sudah tidak bisa berfikir jernih.
"Ah aw," Suara pekikan wanita dari dalam ruangan itu.
"Suara apa itu? Apa yang mereka lakukan di dalam, jangan-jangan..." Tanpa basa-basi lagi Jeslyn membuka pintu itu.
"Apa yang kalian lakukan disi..ni," Jeslyn yang semula berteriak menggebu langsung seakan kehilangan suara melihat yang terjadi sebenarnya.
Di dalam sana ada tiga orang, satu Nathan dan dua wanita lainnya tidak Jeslyn kenali. Sandra yang semula dia cemburui tidak terlihat ada di sana. Dan yang terjadi adalah Nathan sedang memijat kaki salah satu wanita.
"Upss.. Sorry,, aku kira ada sesuatu hal yang terjadi disini." Ucap Jeslyn sembari berjalan mendekat kepada suaminya. Nathan yang tadinya berjongkok memijat kaki kliennya, kini berdiri.
"Oh anda pasti mendengar teriakan saya dan berfikir yang tidak-tidak." Ucap wanita yang masih duduk itu.
"Maafkan istri saya," Ucap Nathan menimpali permintaan maaf Jeslyn.
"Oh jadi ini istri pak Nathan, cantik ya. Saya dengar anda seorang model terkenal. Perkenalkan saya Liona," Liona berdiri dengan bantuan sekertarisnya, kemudian mengulurkan tangan pada Jeslyn.
"Saya Jeslyn," Balas Jeslyn
"Hemm,, Pak Nathan sepertinya kaki saya sudah tidak apa-apa. Saya permisi. Terima kasih untuk hari ini." Ucap Liona, kakinya terkilir akibat heels sepatunya yang terlalu tinggi.
__ADS_1
Saat akan mencoba berjalan, Liona tiba-tiba akan kehilangan keseimbangan. Dia pun ingin menjatuhkan tubuhnya pada Nathan. Namun karena ada Jeslyn di sana, hal itu tidak bisa terjadi. Wanita hamil itu dengan sigap memegangi tubuh Liona agar tidak terjatuh di pelukan suaminya.
"Yakin kakinya sudah tidak apa-apa?" Tanya Jeslyn dengan raut wajah datarnya.
"Emh,, sepertinya masih sedikit sakit. Pak Nathan mungkin bisa memapah saya sampai ke lobi," Ucap Liona dengan berani meminta Nathan memapahnya. Padahal ada sekretarisnya yang bisa membantunya berjalan.
"Oh masih sakit ya, sayang kamu bantuin gih kasihan loh klienmu ini." Ucap Jeslyn sembari melepas pegangannya pada Liona.
Karena mendapat perintah dari sang istri Nathan pun berniat memapah Liona.
"Astaga ular!" Teriak Jeslyn sembari menarik suaminya agar tidak jadi menyentuh Liona.
Liona yang katanya kakinya sakit tidak bisa berjalan sendiri, malah bisa loncat-loncat setelah mendengar teriakan Jeslyn.
"Loh katanya kakinya sakit kok bisa loncat lincah banget," Ucap Jeslyn dengan senyum kaku.
"Eh emm, tiba-tiba kaki saya sembuh. Ya sudah saya permisi." Liona yang ketahuan berbohong bergegas pergi diikuti sekretarisnya.
.
.
"Dia tidak melakukan apa-apa sayang, ya hanya berbohong tentang kakinya itu." Ucap Nathan untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Hemm,, tapi jatuhnya gimana? Dia memeluk kamu gitu?" Tanya Jeslyn lagi dengan ekspresi kesal, membayangkan suaminya dipeluk oleh makhluk genit yang mirip dengan Sandra.
"Tidak kok, saat jatuh sekretarisnya yang menolong. Aku hanya memijat kakinya karena dia lumayan kesakitan." Jawab Nathan jujur.
"Hah syukurlah kalau begitu," Ucap Jeslyn bernafas lega karena ternyata suaminya tidak sampai di peluk oleh Liona.
"Yang perlu kamu tahu Liona itu adalah adik Sandra." Ucap Nathan memberitahu.
"Oh pantas saja mereka mirip, kelakuannya juga sama persis." Ucap Jeslyn
__ADS_1
"Tapi kamu tadi berfikir apa saat mendengar teriakan Liona?" Tanya Nathan
"Ya berfikir kalau kamu begituan sama klienmu itu!" Seru Jeslyn
"Ah kamu ini fikirannya macam-macam saja. Aku tidak akan melakukan itu dengan orang lain apalagi dengan klien di kantor. Kecuali klienku itu kamu." Ucap Nathan dengan senyum penuh arti.
"Kamu mau melakukannya di sini?" Goda Jeslyn sembari menghembuskan nafas kasar di tengkuk suaminya. Hal itu membuat Nathan merasakan desiran di tubuhnya.
Tanpa menjawabnya, Nathan langsung mendorong Jeslyn hingga terduduk diatas meja. Mereka saling menatap kemudian saling beradu kecupan.
Kecupan Nathan kini sudah berpindah ke leher jenjang Jeslyn. Mereka berdua sudah terbuai sampai lupa jika masih berada di ruang meeting. Nathan membuka beberapa kancing baju milik Jeslyn hingga memperlihatkan bra putih yang membalut aset indahnya.
Saat asyik menikmati dua aset besar milik sang istri, mereka berdua tersentak oleh suara barang yang terjatuh. Jeslyn pun dengan cepat menutup asetnya yang tadi dinikmati Nathan.
"Oh no," Lirih Mischa yang masuk tiba-tiba mengira tak ada siapapun di dalam ruangan itu. "Maaf saya tidak tahu." Ucap Mischa sembari memalingkan pandangannya.
Dengan santai Nathan merangkul Jeslyn keluar dari sana tanpa mengatakan apa-apa.
"Oh astaga, begitukah ketika menjadi istri bos? Dimanapun harus siap melayani." Gumam Mischa seraya mengambil nafas dalam-dalam. Dia belum menikah tapi sudah melihat pemandangan seperti itu. Rasanya membuatnya merinding.
Sementara itu di ruangannya, Nathan kembali melanjutkan aktivitasnya. Juniornya sudah terlanjur bangun.
"Coku kamu yakin kita melakukannya disini?" Tanya Jeslyn yang masih ragu, takut ada yang memergoki lagi.
"Iya sayang, lihatlah ini sudah terlanjur bangun."
Jeslyn pun tertawa dan akhirnya dia larut dalam permainan hangat yang dipimpin oleh suaminya. Ini kali pertama mereka bermain bukan di dalam kamar.
Suara ceracauan Jeslyn sayup terdengar dari luar. Karena memang ruangan Nathan tidak kedap suara. Di balik pintu itu Dua karyawan yang salah satunya adalah Mischa mengupingnya.
"Astaga aku jadi ingin segera menikah." Ucap Yasha
"Aku juga Yas, Aku jadi penasaran. Seenak itukah rasanya," sahut Mischa
__ADS_1
"Eh suaranya udah hilang nih pergi yuk, nanti kita ketahuan nguping lagi." Mischa menarik Yasha untuk segera pergi dari sana.