
Dua minggu sudah sejak kejadian di proyek. Sampai saat ini Nathan kesulitan mencari pekerjaan. Dia sudah menjadi tukang ojek online, tapi susah sekali mendapatkan penumpang. Sampai pada hari ini, ada orderan masuk. Dengan semangat dia menuju ke lokasi.
"Hai Nathan, ternyata beneran kamu tukang ojeknya." Ucap Sandra
"Iya," Nathan menyesal menerima orderan itu, karena ternyata penumpangnya adalah Sandra. Wanita yang harus ia hindari. Tanpa mau berbasa-basi Nathan memberikan helm pada Sandra. Mau tidak mau dia harus mengantarkan penumpangnya itu. Karena tidak mungkin dia mengcancelnya begitu saja. Itu akan menghancurkan peformanya.
"Aku pegangan ya soalnya ini pertama kali aku naik motor. Terpaksa sih sebenarnya soalnya buru-buru takut kena macet jadi aku pesen ojek eh kebetulan dapet kamu." Tanpa menunggu persetujuan Nathan, Sandra memegang pinggangnya. Di tengah perjalanan Sandra malah memeluk Nathan. Nathan merasa sangat risih. Berkali-kali dia menyingkirkan tangan Sandra tapi bukannya melepas, Sandra malah mempereratnya.
Saat berhenti di lampu merah pun Sandra enggan melepaskan pelukannya. Di tempat yang sama Jeslyn sedang berada di dalam sebuah taksi. Dia melihat suaminya tengah di peluk oleh wanita yang jelas dia kenali. Karena wanita itu pernah melarangnya menemui Nathan.
"Beraninya, wanita itu memeluk coku." Jeslyn ingin turun dari taksi tapi lampu sudah hijau. Motor yang dikendarai Nathan sudah melesat jauh di depan. Lagipula perjalanan mereka tak searah. Jeslyn juga tidak mungkin menyuruh pak sopir mengikuti kemana Nathan pergi, karena dia ada pemotretan.
Jeslyn ingin mengirim pesan pada Nathan, tapi ketikannya terus dihapus dan berakhir tak jadi mengirimkannya. Hati Jeslyn benar-benar terbakar cemburu. Dia sangat tidak rela suaminya di peluk wanita lain yang bukan keluarga. Moodnya seketika down.
"Astaga aku bener-bener udah ngrasain cemburu ngelihat coku sama wanita lain. Rasanya bener-bener sama saat dulu aku lihat Dafa akrab dengan Herlin. Apa aku udah punya rasa cinta sama dia?" Ucap Jeslyn dalam benaknya, perasaannya benar-benar tidak karuan.
****
Sudah sampai tempat tujuan Sandra turun dan mengembalikan helm kepada Nathan.
"Sudah kubayar lewat aplikasi ya," Ucap Sandra, kali ini dia mencoba bersikap lemah lembut agar Nathan tidak risih dengannya.
"Loh ini kamu kasih tips kebanyakan. Aku transfer kembali, aku cukup terima upah sesuai tarif aja." Ucap Nathan setelah melihat di hpnya.
"No, jangan dikembalikan. Aku tahu kamu lagi butuh uang. Oh iya di hotelku sedang ada lowongan sebagai manager. Sepertinya kamu cocok. Kalau mau besok kamu bisa langsung kerja." Ucap Sandra
Nathan ingin menolaknya tapi dia tidak mungkin terus mengandalkan uang dari Jeslyn. Apalagi Jeslyn juga menghidupi orang tuanya.
"Tenang aja gajinya besar kok, aku tahu kamu kan sangat kompeten." Imbuh Sandra
__ADS_1
"Hemm baiklah aku terima pekerjaan itu." Ucap Nathan
"Oke besok datang ke ARAYA hotel, kamu tahu kan alamatnya dimana, aku tunggu." Ucap Sandra dengan senyum sumringahnya. Satu langkah lagi dia bisa menjalankan rencananya. Ternyata mudah membuat Nathan menerima pekerjaan itu. Karena kondisinya yang sudah kepepet.
****
"Loh mana nih kok nggak ada kru dari studio disini? Tempatnya sepi. Apa aku salah alamat ya?" Jeslyn datang ke sebuah Restoran yang katanya disana akan ada pemotretan. Tapi nyatanya tempat itu sepi. Tiba-tiba suara yang sangat dia kenali mengagetkannya.
"Kamu tidak salah alamat kok sayang," Ucap Dafa seraya menyerahkan bucket bunga pada Jeslyn. Namun dengan cepat bucket itu di singkirkan oleh Jeslyn. Bucket bunga indah itu jatuh ke lantai. Kemudian Jeslyn ingin meninggalkan tempat karena merasa ditipu oleh Dafa.
"Hei mau kemana, ini pekerjaan kamu. Kalau kamu pergi sama saja menyalahi kontrak kerja. Kamu harus membayar denda atau di penjara." Ancam Dafa seraya tersenyum menyeringai.
"Aturan darimana itu, dari dulu kalau pihak model nggak suka project yang dia kerjakan bebas mau menolaknya."
"Itu dulu sekarang beda. Duduk temani aku makan siang seperti yang kita lakukan dulu. Atau bayar dendanya 30 juta."
"Oh ya sini handphone kamu, aku tidak mau ada yang mengganggu makan siang kita ini." Dafa merampas hp milik Jeslyn.
"Ingat disini kita sebagai rekan kerja, disini kamu bukan kakak iparku. Jadi tidak perlu mengingatkan lagi tentang status itu." Ucap Dafa seraya tersenyum.
Jeslyn cukup kesal dengan perlakuan Dafa itu. Tapi dia tidak ada pilihan lain, uang segitu untuk sekarang terlalu besar nominalnya bagi Jeslyn. Sekarang dia harus mengumpulkan uang untuk membantu membangkitkan kembali perusahaan papanya. Ditambah suaminya juga sedang kesusahan. Kalau saja keadaan ekonominya masih seperti dulu, dia akan memilih membayar dendam saja.
"Oke Jes tenang, kamu hanya perlu duduk manis dan makan." Batin Jeslyn menenangkan dirinya sendiri.
"Suapi aku," Pinta Dafa pada Jeslyn
"Nggak, Tugasku hanya menemanimu makan siang tidak lebih." Ketus Jeslyn
"Ini juga termasuk di dalamnya. Kalau tidak mau.."
__ADS_1
"Oke oke, nggak perlu diulangi lagi aku tahu apa yang akan kau ucapkan."
Dengan terpaksa Jeslyn menyuapi sang mantan kekasih.
"Suapin akunya sambil senyum dong," Protes Dafa
"Hmm.." Jeslyn mengukir senyum terpaksanya.
"Disaat begini apa kamu nggak ingat tentang kita dulu." Dafa mulai membahas masalalu mereka. Tapi Jeslyn hanya diam saja. Jeslyn memang masih ingat semua kenangan mereka. Tapi rass cintanya untuk Dafa sudah hilang apalagi sekarang sifat Dafa yang jahat semakin membuat cinta itu berubah jadi kebencian.
"Apa sedikitpun sudah tidak ada harapan untuk kita kembali bersama. Aku yakin kamu masih cinta kan sama aku,"
"Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan lagi apa statusku sekarang. Sudah berkali-kali aku berkata kalau aku tidak akan pernah mempermainkan pernikahan." Tegas Jeslyn
Dafa menghembuskan nafas dengan kasar seraya tertawa kecil mendengar ucapan Jeslyn. "Ahah.. dengan tidak melaksanakan kewajiban suami istri kamu bilang tidak mempermainkan pernikahan? Kamu pikir aku tidak tahu tentang itu, sampai sekarang kalian masih tetap seperti itu kan?"
"Jangan sok tau, Pokoknya aku nggak akan pernah kembali sama kamu. Aku rasa makan siangnya cukup sampai disini. Aku udah menemanimu makan siang. Jadi tugasku sudah selesai."
Jeslyn pergi meninggalkan Dafa. Dia sudah tidak tahan berduaan dengan mantan kekasih yang selalu berusaha mengajaknya berhubungan kembali.
"Kemari, sudah kau dapatkan fotonya?" Dafa megkode seseorang yang sedari tadi sibuk bersembunyi untuk mengambil foto Jeslyn saat bersamanya.
"Sudah bos hasilnya sudah saya kirim ke hpnya bos." Jawab orang itu, Dafa langsung mengecek ponselnya.
"Oke perfect. ini bayaranmu."
Dafa tersenyum senang melihat hasil foto yang ada di hpnya. Dia segera mengirimkan foto itu ke nomor Nathan menggunakan nomor yang tidak dikenali oleh Nathan.
"Dengan foto ini semoga kau sadar bang, kalau Jeslyn itu masih punya perasaan untukku." Ucap Dafa seraya tersenyum menyeringai.
__ADS_1