
Usia kandungan Jeslyn genap tiga bulan. Saat ini wanita hamil itu tengah stress. Dirinya berdiri di depan kaca besar dan mencubiti lemak yang bersarang di tubuhnya.
"Oh tidak, kenapa lenganku jadi sebesar ini. Sudah lama aku tidak menimbang, kira-kira berat badanku berapa ya?"
Jeslyn pun mengeluarkan timbangan berat badan digital dari lemari. Kemudian dia menaruhnya di lantai. Perlahan dia menaiki timbangan itu.
"Oh 52 kg,," Ucap Jeslyn dengan ekspresi biasa saja. Tapi beberapa detik kemudian dia menyadari jika dirinya sudah naik 6 kg, Dari berat sebelumnya 46 kg.
"Tidak.. Aaaaaaaa!" Jerit Jeslyn sekencang-kencangnya. Sampai membuat Nathan langsung lari ssat mendengarnya.
Bukan hanya Nathan, Inem juga Asih pun ikut berlari meninggalkan pekerjaan mereka.
"Sayang apa yang terjadi? Kamu kenapa?" Tanya Nathan dengan panik apalagi melihat Jeslyn yang terduduk lesu.
"Apa mbak Jeslyn terjatuh?" Sahut Inem yang juga ikut bertanya.
"Tidak terjadi apa-apa padaku. Aku juga tidak terjatuh." Jawab Jeslyn dengan raut wajah tertekan.
"Apa jangan-jangan mbak Jeslyn melihat hantu?" Terka Asih sembari merangkul erat lengan Inem.
"Ish,, Asih apaan sih kamu ini ngada-ngada saja." Ucap Inem pada Asih.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Jeslyn menangis histeris. Membuat mereka semua kebingungan, terutama Nathan.
"Sayang kamu kenapa? Aku bingung kalau kamu malah nangis begini," Ucap Nathan sembari mengusap-usap punggung istrinya.
Tiba-tiba Jeslyn beranjak dari tempatnya duduk. Wanita itu kembali menaiki timbangan digital miliknya. Setelah terlihat hasilnya, dia menunjukk kearah angka yang terlihat.
"52 kg, terus kenapa?" Tanya Nathan dengan santai. Dia sama sekali tidak peduli dengan angka timbangan istrinya. Tapi Jeslyn malah kembali merengek.
"Aku sudah naik enam kilo coku, enam kilo!" Seru Jeslyn
__ADS_1
"Oh jadi karena ini mbak Jeslyn berteriak. Saya kira mbak Jeslyn melihat penampakan." Ucap Asih merasa lega majikannya teriak bukan karena melihat makhluk halus atau semacamnya.
"Aku lihat penampakan ini lebih mengerikan dari hantu!" Ucap Jeslyn sembari menunjuk ke angka yang ada di timbangan.
"Lalu apa masalahnya sayang, kamu tetap Jeslyn istriku. Kamu kan sedang mengandung, jadi wajar lah kalau naik beratnya." Ucap Nathan
"Ya tapi kan ini masih tiga bulan, bayi kita juga palingan cuma berapa gram doang. Sisanya lemak yang menumpuk. Aaaa,, aku nggak mau gendut!" Rengek Jeslyn
Nathan pun langsung mendiamkan istrinya yang terus merengek itu. Dia menutup mulut sang istri dengan satu jari tangannya. Kemudian dia memberikan pelukan hangat.
"Cebor, bagaimana pun kamu, seberat apapun berat badanmu, kamu tetaplah istriku. Perubahan dalam fisikmu tidak akan merubah cintaku padamu." Ucap Nathan dengan manis. Itu pun akhirnya membuat mood Jeslyn kembali. Wanita yang tengah mengandung itu mulai mengembangkan senyum di bibirnya.
Inem dan Asih yang masih berada di sana ikut meleleh melihat betapa manisnya bos mereka.
"Aku jadi pengen deh cari suami seperti pak Nathan. So sweet," Ucap Asih lirih, Inem pun langsung mencubit rekan kerjanya itu. Bagaimana tidak, Asih saat ini sudah bersuami. Tapi malah ingin mencari lagi. "Aduh aduh apa sih kok nyubit?" pekik Asih
"Ya kamu sudah punya suami kok mau nyari lagi. Ingat anak di rumah Asih," Ucap Inem
"Hehe bercanda kok, ya sudah ayo kita keluar saja. Mbak Jeslyn juga sudah tenang." Ucap Asih
Jeslyn langsung mengurai pelukan Nathan. Dia memikirkan sesuatu. Tentu saja tentang makanan.
"Aku mau pudding mangga yang disiram coklat kental. Eh tapi kan itu bikinnya cukup lama ya, sebelum itu bikinkan aku mie kari ayam pakai telur rebus dua. Telurnya yang dua." Ucap Jeslyn menggebu. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia tidak mau gendut. Tapi setelah moodnya kembali malah larinya ke makanan lagi.
Nathan hanya tersenyum tipis mendengar permintaan istrinya. Tapi karena tidak mau merusak moodnya lagi, Nathan pun diam tidak berkomentar. Dia hanya mengkode dua pembantunya untuk segera membuatkan keinginan sang istri.
"Baik mbak Jelsyn, saya bikinkan." Ucap Inem yang kemudian bergegas ke dapur bersama Asih.
"Kenapa kamu kok senyumnya gitu, kamu pasti berfikir aku makannya kebanyakan ya," Ucap Jeslyn pada suami tercintanya.
"Tidak, itu hanya sedikit kok. Kamu kan sekarang berdua dengan junior yang ada di perut ini." Ucap Nathan sembari mengusap-usap perut Jeslyn yang sudah mulai terlihat menyembul.
__ADS_1
"Iya betul sekali, meskipun larinya lemak semuanya di tubuhku." Ucap Jeslyn terkekeh.
.
.
.
Di sore harinya Jeslyn baru menikmati puding sesuai request annya tadi. Dia duduk di depan televisi sembari menikmati manis dan segarnya puding buatan Inem dan Asih. Tiba-tiba saja Nathan muncul dengan pakaian yang rapi.
"Coku mau kemana?" Tanya Jeslyn
"Aku mau ke lokasi pembangunan proyekku. Katanya ada masalah di sana. Aku harus mengecek keadaan di sana." Jawab Nathan
"Aku ikut ya, tunggu sebentar aku ganti baju dulu." Ucap Jeslyn
"Tidak sayang, kamu di rumah saja. Disana itu tidak aman untukmu dan calon bayi kita." Ucap Nathan
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama ya. Aku akan cepat sekali merindukanmu." Ucap Jeslyn dengan manja. Jeslyn memeluk suaminya dengan erat.
"Iya sayang, aku tidak akan lama. Ketika masalah selesai aku akan langsung pulang. Hey junior jagoan, Daddy tinggal sebentar ya." Nathan mendaratkan ciumannya ke perut sang istri. Kemudian lanjut mencium kening sang istri.
Dua setengah jam berlalu, saat ini Jeslyn menunggu Nathan pulang untuk makan malam bersama. Namun tidak ada tanda-tanda Nathan datang. Jelsyn pun mulai gelisah. Dan dirinya langsung teringat sesuatu yang membuat dadanya kembang kempis.
"Oh astaga, bagaimana bisa aku membiarkan coku pergi begitu saja? Proyek pembangunan yang sedang berjalan kan kerja sama dengan perusahaan Papanya Sandra. Pastinya si singa genit itu juga datang kesana."
Jeslyn langsung menghubungi Mischa untuk menanyakan alamat proyek yang bekerjasama dengan Giandra group. Sudah mendapatkan alamatnya, Jeslyn pun mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Dia bergegas pergi ke garasi.
"Bu Jeslyn mau keluar? Mari saya antar." Ucap Deri, sopir pribadi yang di siapkan oleh Nathan untuk Jeslyn.
"Saya mau ke alamat ini, ayo cepat." Ucap Jeslyn menunjukkan alamat juga memberikan kunci mobilnya.
__ADS_1
Selama di perjalanan, Jeslyn terus menyuruh Deri untuk menambah kecepatan. Dia juga terus mencoba menelefon suaminya. Namun tidak terjawab.
Jeslyn cukup gelisah, karena di proyek itu dipastikan ada Liona juga. Dia takut wanita itu akan kembali mencoba mendekati Nathan. Mengingat kejadian dua minggu lalu, wanita itu berpura-pura sakit demi bisa mendapat perhatian Nathan.