
"Kenapa kau menghalangiku sih kak?" Liona sungguh murka.
"Karena kau salah, kau sudah dengar apa yang dikatakan Nathan. Dia sudah bahagia dengan istrinya. Jadi cukup sudah, jangan ganggu dia." Ucap Sandra
"Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkannya. Aku harus menang darimu. Aku tidak peduli jika ada hati yang akan tersakiti. Aku tidak peduli rumah tangga orang lain akan hancur." Ucap Liona menggebu.
Plakk..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Liona.
"Pemikiran macam apa itu!" Sandra membulatkan matanya saat menatap adiknya yang baru saja ia tampar.
"Tidak usah munafik kak, kau dulu juga sama sepertiku saat ini." Ucap Liona sembari memegangi pipinya yang terasa panas.
"Ya maka dari itu jangan ulangi kesalahanku. Aku sudah melupakannya dan kini kau malah menginginkannya." Ucap Sandra
"Sebenarnya aku tidak terlalu menginginkannya, hanya saja aku ingin membuatmu kalah. Karena hanya hal itu yang tidak bisa kau dapatkan. Jika aku mendapatkannya, apa yang sudah kau menangkan dariku tidak akan ada artinya bukan," Ucap Liona dengan senyum kaku yang terukir di bibirnya.
Sedari dulu memang Sandra selalu unggul dari adiknya. Sandra selalu di banggakan oleh papanya terutama dalam hal bisnis. Sedangan Liona selalu dianggap sebagai anak manja yang kerjaanya menghabiskan uang. Kali ini dia membuktikan bisa mengurus perusahaan. Namun, ketika sudah bertemu Nathan dia terfikirkan suatu hal yang akan membuat Sandra kalah telak darinya.
"Sudahlah pergi dari apartemenku. Mau seberapapun kau menceramahiku, itu tidak akan mengurungkan niatku untuk mendapatkan Pak Nathan." Ucap Liona mengusir Sandra.
"Kalau kau benci padaku, jangan libatkan orang lain. Kau marah karena papa selalu memujiku? Ya harusnya kau mengaca diri, sudahkah kau menjadi seperti yang papa inginkan? Dengan kelakuanmu yang seperti ini, aku rasa papa akan malu menganggapmu sebagai putrinya." Ucap Sandra dengan lantang. Dia sudah sangat jengah dengan adiknya yang keras kepala.
"Kumohon berhentilah melakukan ini semua, sebelum semuanya menghancurkan dirimu sendiri. Kita ini saudara, tidak ada menang dan kalah. Papa juga sangat menyayangimu." Ucap Sandra sebelum akhirnya pergi dari apartemen Liona.
...****************...
__ADS_1
Nathan menyusul Jeslyn di rumah orang tuanya. Kebetulan sekali yang membukakan pintu adalah Jeslyn sendiri. Nathan pun langsung mengahmburkan pelukannya pada sang istri.
"Hei coku kenapa, datang-datang langsung peluk saja," Ucap Jeslyn merasa heran. Karena suaminya langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu," Ucap Nathan tanpa melepaskan pelukannya.
"Hmm,, apa kamu habis melakukan kesalahan?" Jeslyn melepaskan pelukan Nathan dengan paksa.
"Tidak, kenapa kamu curiga seperti itu. Aku benar-benar merindukanmu." Ucap Nathan kembali menarik Jeslyn ke pelukannya. Jeslyn pun kini membalas pelukan suaminya.
"Ehmm,, belum sehari loh Jeslyn kembali ke rumah tapi kalian berpelukan seakan sudah berbulan-bulan tidak bertemu." Ucap Kinan seraya tersenyum senang melihat kemesraan anak dan menantunya.
Nathan dan Jeslyn melepas pelukan mereka. Mereka hanya tertawa menanggapi perkataan mama Kinan.
"Ayo masuk, kita makan siang bersama. Atau sampai nanti kalaian akan berdiri di depan pintu saja." Ucap mama Kinan diiringi tawa renyahnya.
Mereka pun masuk ke dalam untuk makan siang bersama. Hari ini mama Kinan memasak makanan sesuai request putri tercintanya yang sedang nyidam itu.
"Kalau menurutmu bagaimana Nathan?" Tanya Kinan pada menantunya, karena ini pertama kali Nathan makan masakannya.
"Masakan mama Kinan enak, mengingatkan saya dengan masakan almarhum mama." Jawab Nathan melegakan hati mama Kinan.
.
.
Saat ini Nathan dan Jeslyn sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Jeslyn tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Coku, sudah satu tahun lebih kita menikah, tapi aku belum pernah kamu kenalkan dengan mamamu." Ucap Jeslyn
"Maaf aku tidak pernah terfikirkan tentang itu. Mumpung masih sore bagaimana kalau kita mampir dulu," Ucap Nathan, Jeslyn menanggapinya dengan anggukan dan senyum yang terukir di bibirnya.
Sampailah mereka di taman pemakaman tempat peristirahatan terakhir Mama Nathan. Mereka pun berjalan beriringan dengan bergandengan tangan.
Kini mereka sudah berdiri di sebelah makam dengan nisan yang bertuliskan Mariana. Nathan menaruh buket bunga yang dia bawa diatas makam mamanya. Terlihat banyak sekali buket yang sudah mengering. Itu semua buket yang selalu Nathan bawa ketika berkunjung. Nathan memang sering mengunjungi mamanya.
"Mah aku datang lagi, kali ini aku tidak sendiri. Aku bersama istriku, menantu mama." Ucap Nathan sembari membantu Jeslyn untuk jongkok. Sedikit susah memang, karena Jeslyn sedang hamil.
"Halo mama Mariana, saya Jeslyn. Oh iya saya sedang mengandung cucu mama loh. Andai saja mama masih ada disini, tapi semoga mama tenang ya di sana. Saya janji akan menyayangi putra kesayangan mama ini." Ucap Jeslyn seakan ibu mertuanya sedang duduk di hadapannya.
Setelah itu Jeslyn menyiramkan air yang ia bawa ke makam mama mariana. Kemudian berdoa dan berpamitan untuk pulang. Nathan membantu sang istri berdiri. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan makam Mama Mariana. Mungkin jika Mariana bisa melihatnya, dia pasti akan tersenyum melihat kini putranya sudah bahagia.
"Kamu sudah senang kan?" Tanya Nathan ketika sudah di dalam mobil.
"Iya senang sekali, kamu sering kemari tapi nggak ngajak aku. Kalau mama masih hidup ibaratnya aku menantu yang tidak tahu diri. Hanya mau dengan anaknya saja." Ucap Jeslyn
"Ya maaf, kemarin-kemarin kita kan masih rumit banget. Yang penting sekarang kan sudah ku ajak kemari." Ucap Nathan seraya mengusap-usap rambut istrinya.
"Iya iya aku maafin, tapi tiba-tiba aku pengen sesuatu." Ucap Jeslyn sembari tersenyum penuh arti. "Aku mau makan buah sawo." Ucap Jeslyn mengungkapkan keinginanya.
Nathan bernafas lega karena keinginanya tidak aneh-aneh. Buah sawo sedang musimnya, pasti ada di toko buah.
"Tapi aku maunya yang di petik dari pohonnya langsung. Tepatnya di rumah bu wiwik tetangga kita di rumah kontrakan dulu." Ucap Jeslyn berantusias. Tapi ini membuat Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Jadi kita harus kesana nih? Gamau beli aja gitu?" Tanya Nathan, siapa tahu istrinya berubah fikiran dan mau membeli di toko saja.
__ADS_1
"Enggak mau, maunya petik di sana. Ibaratkan aja beli sama bu wiwik. Nanti kita bayar juga. Ini kan musimnya pasti sudah berbuah banyak. Lagipula bu wiwik kan orangnya baik. Ayolah kesana, ini permintaan anak kamu loh." Ucap Jeslyn meyakinkan suaminya agar menuruti kemauannya.
"Iya orangnya baik, tapi akunya yang takut kalau ke sana. Bisa abis pastinya aku ketemu bu Wiwik." Batin Nathan, dia merasa merinding membayangkan bertemu bu Wiwik yang notabene selalu membuatnya geli. Bu Wiwik itu sangat menyukai dirinya. Bu Wiwik selalu ingin memeluknya saat bertemu. Bagaimana tidak geli dipeluk oleh sesama jenis. Ya, Bu Wiwik ini adalah waria berumur 40 tahun.