
Sikap romantis bukanya surut malah semakin mengalir deras tak ubahnya seperti air sungai. Biasanya kejadian itu di alami pada masa berpacaran tapi Uniknya ini yang di sebut orang pacaran setelah menikah.
Melvin sangat telaten menyuapi Hana dan itu mereka lakukan bergantian.
"Sayang, jangan pernah pergi dariku ya atau aku akan mati tanpa mu."
Cinta itu memanglah misteri, dulu Melvin melihat Hana hanya sebagai sebuah amanah dari sang Kakak tapi sekarang telah menjadi sebuah kewajiban sakral yang tak bisa di lepaskan.
"Jangan kamu saja yang pesan, aku juga. Awas saja kau cari istri muda," balas Hana lekas melototi Melvin.
"Kau benar adanya Cintaku sudah terbagi dua tanpa sisa."
"Ha? pada Siapa?"
"Pada kamu dan anak kita. Ups salah..." Melvin memukul mulutnya. "Berarti semuanya jadi tiga dong, kan anak kita kembar."
"Hampir saja aku bogem, untung cepet sadar. Vin, kapan rencananya kau mau menolong Papa aku masih kepikiran?" Hana mengalihkan tema pembicaraan.
Hana membolak-balik nasi goreng yang masih ada di atas piring. Pikirannya belum lah tenang sebelum Prabu di pindahkan ketempat yang lebih pantas.
Melvin mengetuk-ngetuk kan jari jemarinya di atas meja, lalu beranjak merengkuh Hana yang kini terlihat berisi.
"Kau sabar ya, nanti juga kau tahu kapan itu tiba." Melvin menciumi kening dan pipi Hana berulang-ulang. Seakan sudah menjadi candu di dalam hidup nya.
Ting nong! Ting nong!
Maya yang sedang sarapan bersama Arya hendak beranjak tapi Arya menahannya.
"Biar Arya, Ma?" Arya mendahului gerakan Maya.
Ia mendekati daun pintu dan membuka kedua belah nya lebar-lebar.
Prabu terkejut melihat Arya ada di depan nya. Ia di bawa oleh suruhan Melvin.
"A_ Arya. A_ anak ku?" Prabu gagap dan tak percaya.
Berbeda dengan Arya, Ia terlihat cuek dan hanya memonyongkan bibirnya.
"Si lumpuh, ada masalah apa?" tanya Arya ketus. Tidak suka Prabu memandanginya.
Prabu ingin menggapai tangan Arya tapi ketidak mampuannya membuat Ia merasa kesal.
Benarkah dia Arya, apa putraku masih hidup?...
__ADS_1
"Males banget liat orang lemah." Arya memutar tubuhnya dan kembali ke meja makan.
Orang suruhan Melvin, mendorong kursi roda itu masuk. Ia langsung menuju di ruang keluarga.
Prabu gemetar, Ia akhirnya melihat lagi wanita yang pernah Ia sia kan menoleh kearahnya.
"Sudah datang, apa kabar, Mas?" Maya menghampiri Prabu dan menciumi punggung tangan Prabu yang terasa begitu dingin.
Prabu semakin di tekan perasaan bersalah, Ia sangat menyesal meninggalkan wanita yang begitu hormat padanya.
"Vin...!" teriak Maya. Ruang tengah dan dapur tak terlalu jauh jaraknya.
Melvin dan Hana muncul, Hana mengembangkan senyum mendapati Prabu ada disana. Sejenak Hana menatap Melvin dan ingin menanyakan sesuatu tapi urung.
Belum saatnya Ia menanyakan itu pada suaminya di depan orang banyak. Ia sudah sangat senang, Melvin telah mengabulkan keinginannya.
"Pa..." Hana menyalami. Hana menyenggol lengan Melvin untuk mengikuti nya dengan terpaksa Melvin menurut meski bola matanya tak bisa bohong, Ia belum sepenuhnya memaafkan sang Ayah.
"Maafkan kami, Mas. Kami tidak menyusul mu ketempat itu sendiri. Kami pikir jika kami yang datang kau pasti menolak," tukas Maya berargumen.
"Arya, kau sudah menyalami, Papa?"
Sontak Arya terkejut mendengar pertanyaan Maya.
"Iya Ma, sudah," bohong Arya. Mana mungkin Ia sudi jujur bisa malu jika Ia tidak melakukan itu.
Suruhan Melvin menatap heran, Ia tidak menduga Arya tidak jujur pada Mereka. Padahal hanya ucapan sinis yang Ia lontarkan saat menyambut Prabu. Namun Ia tak berani bersuara karena bagaimana pun Arya juga Tuannya.
Jadi si tua bangka ini, Ayah Melvin? kok aku gak tahu ya?...
"Ya sudah, Mas. Ayo sarapan!"
Hari itu, Maya yang jadi perawat Prabu. Ia sangat telaten mengurus Prabu sendiri di suapi nya Prabu dengan lembut meski tanpa kata-kata.
Prabu tidak sanggup melihat wajah mantan istrinya, Hatinya di balut luka tidak bertepi pernah menyakiti Sosok wanita tegar seperti Maya.
"Ma_ Maaf." Satu kata itu lagi meluncur dari mulut gagu Prabu.
Maya tersenyum, sebesar apa pun kemarahannya tak kan tega membiarkan Prabu menderita.
"Tak apa, Mas. Lupakan masa itu. Kau baru sadarkan kalau Melvin yang kau anggap bukan anak mu sangat memikirkan keadaan mu?"
Maya memberikan satu suapan terakhir dan hendak pergi tapi Ia menghentikan langkahnya mendengar Prabu terisak pilu.
__ADS_1
"High... ma_ Maaf. A_ ..."
Maya tak menoleh dan melanjutkan langkahnya. Ia perlu menenangkan diri dari rasa perihnya.
Ya Allah, apa yang sudah kulakukan? sekejam itu aku pada Maya dan Melvin hingga satu kesalahan Maya telah membutakan hati ku dengan dendam...
Prabu diantar pesuruh Melvin jalan-jalan di tepi kolam renang. Udara pagi sangat baik untuk memulihkan kesehatan Prabu.
Hana terus menggelayuti Melvin, mereka sudah seperti Romy and Juliet yang tidak ingin terpisahkan.
"Makasih ya, Sayang. Udah bawa Papa pulang," ucap Hana manja. Kemanjaan itu sering sekali terjadi akhir-akhir ini.
"A_ apa? panggil apa tadi. Kok aku kayak dengar sesuatu ya?" Melvin mendekatkan daun telinganya di wajah Hana.
Plok!
Hana gemas memukul pundak Melvin.
"Aduh sakit, Sayang. Tadi kamu panggil apa, aku mau denger?" Melvin mengusap-usap bekas pukulan yang tidak seberapa itu.
"Yang mana aku lupa?" Sengaja Hana pura-pura lupa untuk menghindari kepedean Melvin yang sudah melebihi Penari akrobat. Jingkrak-jingkrak lepas tanpa beban.
"Yang tadi, Yang. Ayo katakan lagi." Melvin menyandarkan kepalanya di pundak Hana dan mengelus-elus perut sang istri.
"Gak mau, ah. Malu..." Hana menutupi wajahnya.
"Kok malu sih aku kan suami mu. Kamu gak cinta ya sama aku?" Melvin mengecup lagi pipi Hana.
"Cinta lah, tapi aku geli panggilnya." Hana menampakan jejeran sepasang gigi putihnya. Seperti biasa lesung pipit nya tenggelam sempurna di kedua sudut bibir ranum yang mempesona mata Elang milik Melvin.
"Ya sudah katakan, aku mau kamu rubah cara manggilnya!" Melvin mengerjap-ngerjapkan bola matanya.
"Emang aku harus panggil apa, Vin? aku kan gak biasa lebay kayak orang?" Hana mengembung kan pipinya. Ia tak se bucin itu sampai memanggil pasangan dengan sebutan unik.
"Oke, aku yang nentuin kamu harus panggil apa?" Melvin berpikir sesaat mencari nama yang cocok.
"Apa itu? jangan aneh-aneh ya atau aku akan mencubit pipi mu." Hana melotot Lucu.
"Hehehe.. iya. Gak akan sama kok. Ini ya, mulai hari ini aku akan panggil kamu Hana ku dan kamu harus panggil aku Melvin ku dan itu berlaku mulai detik ini, Titik." keputusan Melvin sudah final.
"Ih, itu kan aneh, Vin. Masak aku panggil kamu Melvin ku depan orang, sensi lah." Hana melipat tangan.
"Gak ada tapi-tapian, aku akan marah jika Hana Ku tidak menurut. Coba belajar dari sekarang untuk membiasakan diri!" Melvin memasang jebakan betmant.
__ADS_1
"Oke, Iya. Ini dengerin ya.. Melvin ku kamu sedang apa? hahaha..." Hana terpingkal-pingkal di buatnya.