Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_101 Dirawat


__ADS_3

Sore itu, Hana duduk di tepi kolam. Menikmati suasana hembusan angin yang masih menyapa kulit. Musim hujan telah usai dan kini menyisa kan cuaca yang masih dingin.


Antara musim panas dan hujan langit sering mendung tapi tak lagi menjatuhkan buliran air ke bumi.


Dari atas balkon, Arya berdiri berpangku tangan di pinggiran pagar yang terbuat dari besi pengaman mengamati kegiatan Hana.


Arya akan melakukan sesuatu pada wanita itu yang pastinya bukanlah perkara mudah.


Dia harus mencari waktu yang pas untuk melakukan aksinya. Sesuatu yang rapat tersembunyi dan itu bukanlah sesuatu yang mudah.


Sesekali Arya menekan kepalanya, Ia merasakan sakit jika Ia mulai mencoba berpikir keras.


Arya mengabaikan sakitnya dan berlari turun kebawah. Ia mengulang memeriksa keadaan dan yakin tidak ada orang lain disana.


Kakinya mengayun tanpa suara kearah Hana. Mengangkat tanganya ingin mendorong tubuh itu. Bersamaan itu, Prabu yang ditinggal sebentar oleh perawat ingin santai di teras.


Alangkah terkejutnya Ia saat Arya hampir dekat ke punggung Hana di tandai gerakan mencurigakan.


"Ha_ Hana..!" Mulut itu terlalu sulit terbuka. Prabu benar-benar tidak mempercayai aksi Arya yang bisa saja membahayakan nyawa Hana.


Sebisa mungkin, Prabu menekan tombol On, agar kursi roda itu bisa bergerak ke sasaran sebelum Melakukanya.


Sedikit lagi telapak tangan Arya sampai di kulit Hana, otomatis Hana akan jatuh ke kolam itu dengan posisi kepala lebih dulu.


"Aaaaa....." Kursi roda Prabu melesat dan menabrak Arya hingga Ia terjatuh dan mengundang perhatian Hana.


"Sial, dasar si tua bangka," rutuk Arya seorang diri. Ia jatuh terduduk.


Hana mengerjapkan bola matanya, kursi roda Prabu tidak terkendali hingga meluncur ke dalam kolam.


"Papa..!" Hana berteriak histeris. Dalam kondisi seperti itu tentu tidaklah mudah untuk Prabu bernafas.


"Papa, Papa dengar suara Hana?" Diantara kepanikan besar Hana beralih ke arah Arya yang masih berdiam diri tanpa reaksi. "Mas Arya cepet tolongin Papa, Mas! kok kamu diam aja sih? Mas, cepetan!"


"Ada apa, Han?" seru seseorang. Arya tak ingin ketahuan lekas Ia beranjak dan melompat kedalam air lalu menggeret Prabu ke permukaan.


Prabu sudah pingsan dan tubuhnya memucat.


"Ya ampun, Mas Prabu kok bisa sih nyebur di kolam, ha? ada apa ini?"


Maya segera menekan perut Prabu untuk mengeluarkan air dari perutnya. Sekuat tenaga, Ia berharap Prabu masih bernafas.


Tidak ada perubahan Prabu tak kunjung sadar bahkan denyut jantungnya seakan melemah.

__ADS_1


"Arya, Ayo gendong, Papa. Kita harus bawa dia kerumah sakit!" perintah Mama Maya.


"I_ Iya, Ma." Arya mengangkat tubuh ringkih Prabu ke dalam mobil.


"Han, nanti jika Melvin pulang, Kalian susul bareng-bareng," ucap Mama Maya berpesan.


"Iya, Ma."


Sudah dua jam berlalu, hari makin gelap tak ada kabar baik dari Melvin maupun sang Mama entah apa yang terjadi pada tubuh tua itu.


Melvin, kamu dimana sih? kenapa belum pulang juga?..


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan pintu, secepatnya Hana membukakannya berharap Melvin yang pulang.


"Hey, Hana ku kenapa mata mu berair?" belum juga masuk Melvin melihat wajah Hana memerah.


Hana memeluk tubuh Melvin dan menjelaskan duduk perkaranya.


"Melvin ku, ayo kita kerumah sakit. Papa tadi kecebur kolam."


"Lo, kok bisa sih? apa yang terjadi, Sayang?" Melvin menautkan alisnya.


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti itu terjadi saat aku duduk di tepi kolam tiba-tiba kursi roda Papa meluncur kearah aku dan_ dan_."


Hana berusaha mengatur nafas lalu melanjutkan ceritanya.


"Iya, aku mendengar Arya terjatuh di belakangku. Herannya dia gak cepet nolongin Papa tadi, aku kesel sama dia. Kenapa Kak Arya jadi jahat begitu..hiks."


Hana menenggelamkan lagi wajahnya ke dada Melvin. Melvin mengusap-usap kepala Hana dan merasa ada yang aneh dalam inti cerita Hana. Melvin tau betul dulu Arya sangat menghormati orang tuanya terutama Prabu.


"Ya sudah, kita cek kondisi Papa, Sekarang." Melvin merangkul Hana keluar.


Dua puluh menit dalam perjalanan, Hana dan Melvin tiba di rumah sakit. Mereka melihat Mama Maya dan Arya masih duduk di ruang tunggu.


"Ma, apa sudah ada kabar?" cecar Melvin tak sabar menanyai.


"Belum, Nak. Entah apa yang di lakukan para Dokter itu sejak tadi." Mama Maya mengusap wajahnya, Ia belum siap sepenuhnya jika Prabu meninggal secepat itu.


Tak berapa lama Dokter Litha keluar dari ruangan itu.


"Keluarga Pak Prabu?"

__ADS_1


"Kami, Dok," sahut Melvin.


"Ha? kamu Vin? jadi Pak Prabu Papa kamu?" tanya Dokter Litha.


"Benar, Lith. Bagaimana kondisi Papa, saya?" tanya Melvin sebaliknya.


Hana menundukkan kepala, tidak suka rasanya jika Melvin mengobrol dengan Dokter itu. Tapi Ia tidak boleh egois. Dokter Litha sudah berusaha menyelamatkan Ayah Mertuanya.


"Alhamdulilah, kondisi beliau sudah membaik. Ayo masuk!" Dokter Litha menarik lengan Melvin.


"Kami ikut," kata Mama Maya.


"Maaf, ya Tante. Kalian baru boleh jenguk jika Pak Prabu sudah dipindahkan, untuk sekarang biar Melvin sendiri," kata Dokter Litha masih posisi memeluk lengan Melvin.


Melvin melirik Hana, Melvin sudah tahu Hana tidak suka. Ia melepas tangan Dokter Litha perlahan.


"Maaf, Lith. Biar Mama yang masuk dan melihat nya. Sebab Mama lebih dibutuhkan oleh Papa," ujar Melvin halus.


Dokter Litha tersenyum miring, nampaknya Ia menghela nafas kecewa.


"Oke, baiklah. Silakan Tante, saya permisi dulu!" Dokter Litha memutuskan meninggalkan mereka.


"Silakan masuk, Ma!"


Mama Maya yang akhirnya menemui Prabu. Arya hanya ber sedekap tanpa suara. Wajah cuek saja yang Ia tunjukkan.


Hana tersenyum kecil, Ia terharu Melvin menolak ajakan Dokter itu.


"Makasih," ucap Hana lirih.


"Aku gak mau istri ku marah," balas Melvin seraya mengecup kening Hana.


Arya melotot jengkel, bisa-bisanya keduanya mengumbar kemesraan di depan matanya. Tapi bukan itu yang Ia pikirkan Ia takut Prabu Melihat aksinya tadi, bisa saja Prabu mengadukan niatnya pada Melvin maupun Mama Maya.


Asem, lelaki tua bangka itu harus segera di khek. Bisa gawat jika Ia membongkar semuanya...


Melvin mengajak Hana duduk, perut besarnya pasti membuat nya mudah kelelahan.


"Kamu tidur saja, biar nanti kita lihat Papa jika sudah di pindahkan keruang perawatan." Melvin menepuk pahanya.


Hana menurut dan merebahkan tubuh itu, Sikapnya yang perhatian tak membiarkan Hana kedinginan. Ia melepas jaketnya dan menyelimutkannya ketubuh Sang istri.


Mama Maya bergetar menyaksikan kondisi Prabu yang kian melemah. Beberapa alat medis menempel di tubuh pria yang mengurus itu.

__ADS_1


"Mas Prabu, meski kau selalu menyakiti aku. Aku tidak pernah dendam pada mu, Mas. Aku tahu semua ini terjadi memang karena kesalahan ku. Harusnya aku yang sadar diri. Kau tidak layak mendapat hukuman seperti ini."


Mama Maya menitikan air mata, Ia tidak tega kalau Prabu tidak lagi segagah seperti dulu. Ia lebih rela rasanya jika lebih baik Ia dibenci asal Prabu sehat-sehat saja.


__ADS_2