Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_35 Melawan


__ADS_3

"Habis lah kita, Rin. Kenapa kau masukkan kedalam dua gelas sekaligus?" Dafa menatap penuh ketidak mengertian pada pola pikir Rindy. Gadis itu tampak imut meski sedikit gemuk.


"Yah, Saya kan hanya ingin memudahkan semuanya, Pak. Saya gak bisa membayangkan kalau sampai hanya Nona Hana yang minum?" tutur Rindy. Diluar dugaan Dafa meski sering menggoda Dafa, Rindy menjunjung tinggi harga diri semua perempuan.


"Maksudmu?" tanya Dafa.


"Nona Hana kan perempuan baik-baik, Pak. Gak etis dong kalau dia yang menggoda Pak Melvin duluan," jawab Rindy.


Dafa tersenyum kecil.


"Iya juga sih, Aku gak bisa membayangkan bagaimana lucunya Nona Hana merayu Bos Melvin dengan kelakuannya ya?"


"Hus, gak usah dibayangkan. Otak Pak Dafa ngeres ihk," ketus Rindy tidak suka.


"Ya bukan begitu, Rin. Kamu kok... aduh parah." Dafa memukul lututnya berkali-kali saking gemasnya pada Rindy.


"Makanya itu, Pak. Aku memasukkan obat itu kedalam dua gelas yang sama biar mereka biar impas, pasti seru deh," celetuk Rindy.


"Ha? Kok bisa?" Tanya Dafa lagi.


Rindi menoleh kearah Dafa, Ia sejenak mengamati wajah Dafa yang membuatnya terpikat dengan tampang Dafa.


Dafa melambaikan tangan kewajah Rindy.


"Oh, Iya. Karena Obat itu juga bisa bikin orang_." Rindy tidak melanjutkan ucapanya hanya memberi isyarat dengan memiringkan telunjuknya di atas jidat.


Dafa menganga melihat itu, Ia semakin tidak percaya lagi dengan penjelasan Rindy.


"Gimana, Gimana Rin, Aku kurang peka? coba jelaskan saja, aku tidak mengerti bahasa begituan," Desak Dafa.


"Ihk, Bapak mah. Ya Pak, Obat itu bikin orang kurang waras lebih dulu baru kemudian bereaksi di bagian intinya, gitu," jelas Rindy sembari memonyongkan bibirnya.


"Hahaha....." Dafa memukuli lagi lututnya berulang-ulang.


"Gokil lo Rin, gak sangka gue. Ini mah parah, parah, parah."


"Ihk, Bapak. Aku kan cuma berinisiatif aja," dengus Rindy.


"Aduh, ya ampun Rin, jenius juga otak lo, apa jadinya kalau sampai mereka meminum keduanya pasti seru tingkat dewa deh," gelak Dafa.


"Bapak, tutup mulutmu!" Rindy kesal melihat Dafa malah terkesan mengejek dirinya.


"Kenapa sih?" Masih dengan tertawa.


"Ya kalau mereka yang minum, mereka kan halal, Pak. Nah kalau kita yang minum bagaimana, Pak?" Pertanyaan Rindy sontak membuat Dafa tercekat.


Dafa akhirnya terdiam.


"Mampus lo!" gumam Rindy lirih. membuang muka kesamping agar Dafa tidak melihat.


"Bener juga ya, gila dong gue. Tapi tadi gelasnya lo letakin di bagian mana, Rin?" Malah Rindy terserang balik.

__ADS_1


Rindy mencoba membayangkan reka adegan dirinya tadi.


"Keduanya di bagian sebelah perut, Pak. Coba Bapak ingat-ingat Bapak liat gak Nona Hana ketika membagikan keempat Coffee itu?"


"Nanti dulu, coba kuingat?" Dafa juga mengurai gambaran saat Hana meletakkan gelas didepannya dan Melvin dari sini dirinya Hana berikan pada dirinya sedang disisi Melvin Hana berikan pada Melvin.


"Kurasa Nona Hana tidak memberikanya padaku, dan dia juga memberikan milikmu dari posisi gelas yang sejajar kearah tubuhku. Ahk fiks, obat tepat sasaran, Rin." Dafa yakin dan puas rencana mereka sudah dipastikan tepat mengenai tujuan.


Rindy masih gamang dengan ucapan Dafa yang notabennya Dafa orangnya suka selengekan.


"Kau yakin, Pak. Gimana kalau salah? tubuhku panas dingin, Pak?" Rindy mengusap-usao kedua tangannya karena berkeringat terus.


"Kurasa tidak, jika kita yang minum pasti kita sudah gila sekarang," ucap Dafa sangat yakin. Sedikit banyaknya Dafa tau perihal jalanya Obat Pembangkit hasrat tersebut. Obat sejenis itu tidak akan bereaksi dengan jangka yang lama. Sudah dipastikan lima belas menit adalah waktu terlama setelah dikonsumsi.


"Mudah-mudahan saja Bapak bener, kalau tidak habislah aku dilalap Bapak ma emakku," pungkas Rindy.


Dafa mengulas senyum kearah Rindy.


"Yakin dimarahin? Emang kalau godain aku, Gak?"


"Kalau itu mah beda dong, Pak. Aku kan usaha biar cepet punya pacar. Beda dengan menjual diri," jawab Rindy mengelak keburukan tabiatnya. Kerap kali Ia suka merayu Dafa lebih dulu membuat Dafa tidak merasa nyaman bersama denganya.


"Oh begitu, Kamu mau gak jadi pacar aku?" goda Dafa.


"Ha?" Kali ini Rindy menganga lebar.


"Kok gitu reaksinya?" Seloroh Dafa menopang dagu mengerling manja pada Rindy.


"Jangan-jangan Bapak lagi yang minum Obatnya, Ihk sereem." Rindy bangkit dan bergegas berlari meninggalkan Dafa. Mungkin saja Kan Dafa yang minum obat itu hingga tampa ada angin dan hujan DaFa mengungkapkan perasaan padanya setelah sekian lama tak pernah mampu Ia bujuk dan rayu.


"Hahaha...." Dafa ketawa lagi seorang diri.


"Penakut juga dia."


Dikamar itu, msih dengan posisi sama. Melvin beralih menjimpit tubuh Hana dalam pelukan di bawah tubuhnya.


Senyum memikat Ia kembangkan kearah wanitanya. Hana semakin cantik dengan baju tidur minim yang tersisa ditubuhnya hingga menyembulkan dua gundukan gunung kembar di belahan dadanya.


Melvin menarik kain tipis itu sedikit kebawah agar gundukan itu keluar sempurna. Melvin tak sabar, menyaksikan sesuatu yang makin memikat perasaan dari lelakinya. Ia segera memainkan ujungnya dengan lid*h perlahan-lahan.


"Aw, Vin. Geli..." desis Hana disertai gelak tawa.


Bukanya berhenti Melvin malah semakin bu*s meraupnya bergantian hingga menggenggam yang lainya masuk dalam telapak tanganya.


"Ahk..., Vin. Itu sangat lezat rasanya dibandingkan makan es buah." Ocehan demi ocehan kenikmatan keluar dari mulut Hana. Ia terbuai oleh sentuhan yang Melvin lakukan.


Puas mencicipi kedua gunung kembar itu, Melvin memberikan ciuman lembut kebibir Hana.Nampaknya Hana siap mendapat serangan itu dari dirinya.


Melvin bermain dan mendapat perlawanan dari Hana dengan sengit. Tidak ada yang kalau maupun menang mereka bermain cantik.


Lelah dalam perang lid*h, Melvin beralih memberikan sedotan kecil dibagian jenjang leher kiri milik Hana.

__ADS_1


"Aduh, Sakit," teriak Hana.


Melvin meninggalkan beberapa jejak disana, tidak peduli sesakit apa Hana merasakannya yang pasti mengalahkan kenikmatan perang badar yang tengah membara.


Keduanya kembali membalas pandang, sesaat kemudian Hana tersadar dan tiba-tiba mendorong dada Melvin dengan kuat dari atas tubuhnya hingga Melvin jatuh disampingnya.


"Melvin, apa yang kau lakukan?" Hana malu mengetahui buah dadanya berada diluar hingga segera Ia buru-buru sembunyikan lagi kedalam.


Melvin menyeringai aneh dengan tindakan Hana.


"Ada apa dengan mu? bukanya kamu ingin kita melakukan ini?"


Hana meringis menahan rasa yang bertumpu besar di daerah intinya. Ingin mendapatkan sesuatu agar bisa menyelesaikan rasa itu tapi tetap saja Ia tahu betul Melvin tidak mencintainya. Jadi mana mungkin Ia dan Melvin bisa melakukan aksi itu tampa disadari .


"Vin, ada apa dengan ku? mengapa aku merasa tersiksa hiks.. hiks...." Hana terisak-isak.


Melvin memandangi Hana masih terlentang dalam posisinya diatas ranjang. Melvin juga setengah sadar. Pasti Ia baru saja melakukan sesuatu yang membuat Hana menangis. Sama, Senjata lelakinya menggelora melihat setiap inci tubuh wanita di hadapannya.


"Pasti sesuatu menimpa kita, Hana," tebak Melvin. Berusaha mengendalikan siksaan dari dalam sana.


"Maksud mu?" Hana mengambil posisi duduk bersamaan dengan Melvin.


"Entahlah, Ini sama seperti saat aku meminumnya waktu itu."


Hana turun kebawah dan duduk menyandarkan ranjang dan kembali diikuti Melvin.


"Tahan, Vin. Aku tidak mau melakukanya lagi," pinta Hana menoleh pada Melvin.


Melvin mengiyakan ucapan Hana.


Sulit, bukanya surut tapi semakin runcing.


"Oh, Tuhan. Jangan biarkan ini..hig.. hig...." Hana rasanya tak sanggup lagi menahan diri. Menoleh lagi dan lagi kearah Melvin yang tampak menggoda pandangan matanya.


Melvin juga sama, Mengamati bibir ranum Hana dan hidungnya yang Bangir . Ingin sekali Ia menyerang langsung dan menikmati sensasi di bagian itu dengan lama agar terpuaskan.


Detik dan waktu bergulir keduanya tetap dalam mimik wajah masing-masing. Melawan, itu yang mereka lakukan. Tapi semakin melawan malah semakin tidak terkendali.


Melvin menggelengkan kepalanya dan menoleh lagi kearah Hana yang tengah menekan bagian intinya supaya hilang.


"Hana, apa kau sanggup. Maaf jika nanti aku tidak mampu melawan diriku dan me.. me.... Ahk, tidak maafkan aku Hana." Melvin menahan tengkuk Hana dan menyerang lagi bibir berlapis sejajar itu dengan rakus.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Jangan lupa tinggalkan jejak dan hadiahnya ya kawan.


Aku selalu mengharapkan dukungan dan kesedian mu memberikan Like, komen,Vote and bintang limanya.


Thank you!!


Hanya itu yang bisa aku haturkan pada kalian yang tidak bisa ku sapa satu persatu.

__ADS_1


"


__ADS_2