
"Ehk, Besan datang!" Mama Maya bangkit dari duduknya.
Paman Roy dan Bibi Yuna disambut ceria oleh Mama Maya tak lupa juga dua besan perempuan itu cipika-cipiki.
Bibi Yuna sebenarnya kurang srek dengan keluarga besar Prabu Wijaya meski pun kaya raya tak pernah sekalipun keluarga Prabu mengunjungi mereka apalagi membeli buah tangan untuk mereka selama Hana menikah dengan Melvin.
Rangga menghampiri Hana.
"Hai, Hana!" Rangga melambai kan tangan pada sosok Hana Agista. Wajah yang selalu Ia rindukan setiap nafasnya. Senyumnya merekah bahagia bisa melihat wanita impiannya telah ada didepan mata.
"Rangga, Kok kamu bisa bareng Paman dan bibi?" tanya Hana. Hana tampak biasa saja. Tak ada canggung sedikit pun.
Berbeda dengan Melvin, Melvin enggan menyapa Rangga, hatinya tidak suka dengan kedatangan pemuda itu. Satu hal yang menarik pada Melvin mengamati pandangan Hana pada Rangga belum juga teralihkan.
Melvin semakin tidak suka akan adegan saling pandang didepannya.
Prang!
Melvin sedikit membanting mangkok bubur di tanganya ke atas meja. Beranjak ingin pergi meninggalkan tempat itu hingga semua mata tertuju padanya.
Hana membulatkan mata, Ia mengulum bibir melihat aksi Melvin. "Vin, mau kemana?" Hana menarik tangan Melvin agar tetap ditempat.
Melvin berdecak Ia tak mengindahkan permintaan Hana.
"Ck, Bukan kah banyak orang yang menunggu mu sekarang. Itu artinya aku bisa bebas. Aku mau pulang dan tidur," jawab Melvin dengan ketus.
Hana menggeleng berharap Melvin tidak melakukan itu.
"Vin, tetaplah disini. Apa kau akan membiarkan aku?" Hana berbicara penuh permohonan.
Melvin hanya melirik dengan manik sipitnya kemudian berlalu meninggalkan mereka tampa pamit. Rangga tersenyum sinis mendapat sambutan luar biasa dari Melvin.
Rangga sadar, Melvin tidak nyaman melihat dirinya. Apa peduli Rangga. Rangga justru merasa menang dengan kondisi itu.
Rangga kembali terpantik pada Hana, mengamati wajah gadis yang bersedih atas Melvin.
Paman Roy mendekat mengusap rambut keponakanya dengan tulus. Paman Roy adalah satu-satunya adik Ibunya sedangkan Ayah Hana seorang anak tunggal.
Sejak Hana ditinggalkan, Paman Roy selalu berusaha keras membesarkan dirinya. Pontang panting memeras keringat agar Hana bisa sekolah tinggi maklum kala itu juga putri Paman Roy dan Bibi Yuna masih tiga tahun.
Kondisi dan situasi Paman Roy tak mendapat dukungan Bi Yuna. Bi Yuna sering marah-marah akibatnya ekonomi semakin terhimpit.
__ADS_1
Bi Yuna kerap kali menghakimi Hana tampa Paman Roy ketahui mengusir Hana pun pernah dilakukanya. Tapi kala itu , akhirnya Paman Roy mengetahui perbuatan Bibi Yuna pada Hana hingga nekat mencari Hana.
Paman Roy menemukan Hana duduk menangis di bawah pohon pisang dalam derasnya air hujan. Sakit hati Paman Roy pada Bibi Yuna kemudian menalak Bibi Yuna demi membela Hana.
Bibi Yuna mengaku menyesal dan meminta maaf tidak lagi mengulangi kesalahannya. Dari situlah Paman Roy dan Bibi Yuna bersatu lagi. Bukannya berhenti Bibi Yuna semakin kejam memperlakukan Hana layaknya pembantu. Ia juga sering membuat Hana kelaparan dan menyimpan makanan yang tersisa.
Ketika Hana berusi lima belas tahun. Hana tidak lagi melanjutkan Sekolah menengah atas dan memilih ikut kursus menjahit di kampung itu secara gratis.
Enam bulan belajar menjahit, Hana berhasil menyulap kain dasar berubah menjadi gaun termahal di tempatnya belajar. Hasil karyanya menjadi daya tarik pengusaha terkenal dari Selandia Baru membeli gaun itu dengan harga fantastis.
Sejak dari itulah, Hana berhasil mendirikan butik nya sendiri. Sayangnya butik itu bukan miliknya lagi saat ini. Sang Paman menjualnya demi sekolah adik sepupunya. Hana melakukan nya juga bertujuan membalas kebaikan sang Paman.
"Hana, kau sudah menjadi seorang istri sekarang. Paman harap kau bahagia nak." Kata-kata Sang paman sangat menyentuh Hana. Paman Roy mungkin adalah jelmaan Ayah baginya.
Hana mengembangkan senyum pada lelaki itu.
"Terima kasih, Paman. Paman selalu mendo'akan kebaikan Hana."
Bibi Yuna menatap sinis.
"Heh, ya iyalah. Kalau bukan Paman mu kamu pasti sudah mati kelaparan," ketus Bibi Yuna.
"Baiklah, apa kamu gak liat?" jawab Bibi Yuna lagi kasar.
Hana menundukkan kepala sejenak lalu kemudian bertanya lagi. "Bagaimana dengan Sekolah Naina, Bi."
Bi Yuna membusungkan dada sombong.
"O ya jelas cerdas lah, gak kayak kamu bisanya ngabisin duit aja." Bibi Yuna nenyilangkan tangan.
Hana sudah tidak heran lagi dengan ucpan menyakitkan yang keluar dari mulut Bibi Yuna. Sebelumnya juga Bibi Yuna lebih sadis ucapanya dari sekarang.
Paman dan Mama Maya terdiam mendengar ucapan Bi Yuna . Bi Yuna tidak bisa lagi menyaring setiap bait kalimatnya.
Paman Roy menarik lengan Bi Yuna mungkin tidak enak pada Mama Maya sehingga berusaha menghindari perasaan Mama Maya agar tidak tersakiti.
Mama Maya menatap dalam pada Rangga mencoba mengingat apakah dia mengenal anak itu atau tidak. Susah payah memutar memori ingatannya Mama Maya tetap tidak ingat apapun.
"Nak Rangga, siapanya Hana ya?" selidik Mama Maya.
Rangga mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Saya Rangga, Tante. Sahabat Hana," ucap Rangga gamblang.
"Oh, iya. Sahabat lama?" Disertai menyambut tangan Rangga.
"Benar, Tante. Sejak dari SD. Tapi sekarang jarang ketemu." Rangga sengaja bercerita pada Mama Maya untuk menunjukkan begitu dekat dirinya dengan Hana sebelum datangnya Arya hingga akhirnya mengenal Melvin dalam waktu singkat dan berhasil dengan mudahnya menikahi Hana.
Perjuangan Rangga tidak ada hasilnya sampai dititik ini walaupun telah beribu-ribu cara Ia melakukan sesuatu yang dramatis agar memiliki Hana nyatanya hati Hana tidak juga Ia dapatkan.
"Rangga, makasih ya nak. Sudah mau datang kesini!" tukas Mana Maya.
"Sama-sana, Tante."
Hana mengabaikan obrolan mereka dan ingin minum. Mencoba menggapai gelas di meja disampingnya tapi menolehkan lehernya saja masih terasa sakit.
Rangga mengetahui itu dan itu kesempatan dirinya menaruh perhatian pada seorang Hana.
"Tunggu, Hana. Biar ku ambilkan," tawar Rangga.
Rangga bergegas membantu Hana menyeruput gelas air putih itu. Hana tak sampai hati menolak karena Rangga telah berbuat baik pada nya.
"Terima kasih, Rangga." Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Hana.
"Sama-sama, Hana."
Maya tertegun, Ia membayangkan kalau Rangga adalah Melvin. Maya mendambakan Melvin bisa seromantis itu pada Hana yang tidak pernah Ia pun sendiri dapatkan lagi dari Prabu.
Prabu berubah drastis dimulai dari hari dimana Arya meninggal. Tak ada lagi kasih sayang yang tercurah dari Prabu untuk Maya bahkan Maya sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
Melvin rupanya tidak benar-benar pergi dan telah menonton kejadian di depannya dari ambang pintu.
...ππππ...
Mana ni Vote nya aku nungguinππππ
Jangan lupa dukungan ya!
See you!
Mampir juga yuk kesini
__ADS_1