Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_87 Kejutan


__ADS_3

Melvin menurunkan kaca mobil dan melihat Litha tengah nyengir pada mereka. Melvin berpindah menoleh Hana. Melvin tahu Hana pasti cemburu lagi.


"Ada apa Lith?" tanya Melvin sedikit tegas.


"Aku mau minta nomor ponselmu." Litha menengadahkan tanganya


Melvin salah tingkah, Ia tidak tahu haru ls berbuat apa.


"Eum.. itu, Lith_."


"Melvin tidak bawa ponsel," sambung Hana cuek.


"Oh begitu, ya udah aku saja yang save nomorku," ucap Litha yang sedikit sinis pada Hana dan beralih ke arah Melvin.


Litha lancangnya menarik tangan Melvin dan menuliskan nomor nya di telapak tangan Melvin dengan bolpoin di saku jas putih Dokternya.


"Ini punyaku, hubungi aku secepatnya ya."


Litha pergi dan tidak menunggu anggukan Melvin.


Hana melipat tangan dan memilih diam.


Melvin segera melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit itu. Takut juga Ia kalau Litha akan balik lagi dan merusak semuanya.


Hana dan Melvin melewati rumah penjual bakso yang cukup terkenal dengan sebutan bakso jumbo.


Hana sangat ingin memakannya dan meminta Melvin menghentikan mobilnya lebih cepat.


"Ada apa, Sayang?" Hari ini Hana kerap kali membuat nya memacu jantung.


Hana berlari kecil dan masuk kerumah tukang bakso itu.


"Pak, dua porsi ya," mintanya menunjukkan dua jarinya.


Melvin menepuk keningnya, Ia terpingkal-pingkal mendapati aksi si istri tercinta.


"Sejak kapan dia menjadi manja begitu?" gumam Melvin di sertai gelengan kepala.


Melvin mengikuti jejak sang istri dan duduk di depan Hana sambil terus memandang Hana.


Tukang bakso menyodorkan dua mangkok bakso diatas meja. Hana meneguk liurnya melihat makanan itu terlihat sangat menggoda pandangan matanya seperti orang yang tengah kelaparan.


Tidak menunggu lama, Hana langsung mengambil sendok dan garpu. Ia potong kecil dan melahapnya tanpa menunggu dingin. Satu sendok sudah terbang kedalam mulutnya.


Sekian kalinya Melvin membulatkan mata melihat tingkah istri tercinta.


Uhuk.. uhuk..


Hana tersedat oleh kuahnya.


"Astaga, Sayang. Hati-hati dong."


Melvin siaga menyerahkan segelas air putih kepada Hana. Melvin menyadari beberapa pasang mata mengamati mereka.


Melvin pindah di samping Hana dan menawarkan diri jadi tukang Suap.


"Biar aku suapin ya."


Melvin sengaja menunjukkan pada orang-orang itu ke hormantisan yang Ia lakukan pada Hana agar terhindar dari gunjingan mereka.

__ADS_1


Melvin potong pentol bakso jumbo itu kecil-kecil lalu Ia menyuapi sang istri dengan penuh cinta.


"Ayo buka mulutnya!"


Hana tersenyum, di terimanya suapan sang suami suka rela.


"Dedek bayi baik-baik ya di perut Mama," ucap Melvin mengusap perut sang istri pelan.


"Istrinya ngidam, Mas?" teriak seorang Ibu.


"Pasti anak pertama so sweet banget iri deh," sahut seorang Ibu lain lagi senyum-senyum kearah Hana dan Melvin.


"Iya, Bu. Mintak doanya ya, semoga istri dan calon anak kami selalu sehat," ucap Melvin yang memperlihatkan betapa bahagia hatinya saat ini.


"Iya, Mas. Mas harus ektra sabar ngadepin istri yang lagi hamil. Sensitif lo, Mas," jawab Ibu yang pertama tadi.


Melvin mengangguk dan mengusap pucuk kepala Hana.


Mungkin itu sebabnya Hana mudah sekali marah hari ini...


"Makan lagi ya, biar sehat."


Baru saja mau menyodorkan sendok, Hana mau menambahkan satu sendok sambal.


"Ehk mau ngapain?" sentak Melvin membuat tangan Hana menggatung.


"Kurang pedes," jawabnya jujur.


"Gak boleh, nanti kamu sakit perut. Ini udah pedes banget lo, Sayang," kata Melvin.


Hana akhirnya mengembalikan sambal itu ketempat semula.


Hana mengangguk kecil, Ia sadar itu memang tidak baik untuknya.


Sekitar satu jam Hana dan Melvin selesai makan. Melvin mendapat pesan WA dari Pak Gany. Mengharuskan Ia pergi ke suatu tempat sekarang.


"Siapa?" tanya Hana mengernyit heran.


"Om Gany ngajak ketemu. O ya Sayang kamu kuat gak? kalau gak biar ku antar pulang," kata Melvin khawatir.


Hana menggeleng.


"Aku mau ikut," ucapnya manja.


"Oke, tapi jangan berbuat sesuatu yang membuat aku takut ya."


Melvin perlu waspada karena kondisi Hana sangat rentan.


"Iya, tenang saja aku kuat kok," jawab Hana yakin.


Beberapa waktu dalam perjalanan Melvin menepikan mobilnya di sebuah taman hiburan.


"Katanya ketemu Om Gany apa disini tempatnya?" tanya Hana kian di dera rasa ingin tahu.


"Ikuti saja, Sayang. Apa kau takut?" Melvin menggenggam tangan Hana. Tangan itu terasa dingin.


"Lihat wajahmu kau tampak pucat. Apa kamu merasa pusing?" tanya Melvin memastikan.


"Sedikit," jawab Hana nyengir.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo ikut aku!" ajak nya merangkul Hana.


Jauh kaki berjalan, Hana semakin kaku.


"Ini tempat apa? sepertinya kita sudah keluar dari taman tadi?" Hana memeluk erat tubuh Melvin. Takut jika sesuatu membahayakan dirinya.


Melvin terkekeh mengamati raut wajah sang istri.


"Tak apa, hanya saja tempat ini cukup tersembunyi."


Melvin merangkul Hana dengan langkah hati-hati hingga tiba di sebuah tempat yang begitu mewah.


Taman yang ramai menyambut kedatangan mereka. Mereka semua sudah di pastikan seusia Melvin. Mungkin juga teman-teman Melvin.


"Pengantin baru datang ni!" seru seorang pria. Tubuhnya di penuhi tato.


Dua orang wanita seksi menyiram bunga ke tubuh Keduanya. Itu adalah hadiah kejutan istimewa.


Hana tersenyum kearah Melvin, pasti Melvin sengaja melakukan ini untuk memperkenalkan dirinya pada teman-temanya.


"Kamu suka, Sayang?" tanya Melvin lirih.


Hana mengangguk berkali-kali.


"Terima kasih," ucap Hana balas dengan volume kecil.


Kebahagian sang istri benar-benar menjadi pokus utamanya. Tapi Hana sedikit kurang nyaman saat melihat ada Dokter Litha juga di sana.


Bagaimana mungkin? bukankah dia tadi ada di rumah sakit?..


"Kenapa?"


Melvin menautkan alisnya.


Hana menggeleng.


Ia tak ingin merusak suasana indah itu. Biarlah wanita itu ada di sana dalam batas kewajaran.


Ia mencintai Melvin maka Ia harus belajar menerima juga semua yang berhubungan dengan sang suami.


Seorang lelaki kembali mengagetkan Hana. Dia adalah temanya kecilnya sebelum Ia mengenal Arya, mengulurkan tangan padanya.


"Selamat ya, Hana. Semoga pernikahan mu langgeng," kata lelaki itu Rio namanya.


Hana lagi-lagi mengangguk. Semua seperti misteri. Kenapa ada temanya juga ikut berkumpul di sana.


"Terima kasih, Rio," balasnya.


"Hey, kau masih ingat aku?" tanya Rio takjub.


"Tentu saja, kau yang waktu itu jahil menempelkan permen karet di rambutkan sampai harus di gunting hingga aku botak," jawab Hana terkekeh.


Masa SMP memang masa yang indah. Ia tidak bisa melupakan kejadian itu meski waktu sudah berlalu.


"Kau makin cantik, Hana. Dulu pipi mu sangat tembem tapi tetep saja jadi idola," celoteh **Rio lagi.


Melvin mengulum** senyum. Istrinya mudah sekali akrab dengan si Rio ini.


siapa lagi ini..??

__ADS_1


__ADS_2