
Melvin memalingkan wajah berupaya mengabaikan Hana. Ia belum sanggup menyampaikan keinginannya pada Hana hari itu juga. Ada rasa tak tega membayangi relung hatinya.
"Vin..." Hana angkat bicara.
Melvin menoleh dalam diam.
"Apa yang Mama dan Papa sembunyikan, Vin. Aku takut?" Hana menahan buliran air matanya yang hampir jatuh.
Melvin meleguk salivanya, bagaimana mungkin Ia jelaskan pada Hana. Sedangkan Ia sendiri tidak tahu apa pun.
"Aku tidak tahu, Hana." Melvin melepaskan jaketnya dengan cekatan Hana turut membantu.
"Kau tidak tahu apapun?" Hana ingin menggali lebih dalam. Menurutnya mustahil Melvin tidak mengetahui sedikit pun tentang kisah orang tuanya.
Melvin menatap tajam pada Hana yang tengah memeluk erat jaketnya tadi sambil mengusap keningnya. Seolah-olah ingin balik menyerang Hana dengan rentetan pertanyaan namun urung, bibirnya terlalu berat untuk mengutarakannya. Melvin di dera bingung tak berkesudahan.
Hana meraih lengan Melvin, di dekapannya dalam asa. Ingin sekali Ia yang malah menyampaikan keinginannya untuk meminta Melvin tidak punya niatan mengakhiri hubungan mereka. Meski hubungan mereka terkesan terpaksa Ia berharap pernikahan mereka berakhir sampai tua.
Melvin memejamkan sejenak matanya lalu kembali memandangi Hana. Setiap kali melihat wajah itu, Melvin teringat lagi ketika Arya menyerahkan tangan Hana dalam genggamannya. Bagaimana bisa Ia menikah berdasarkan permintaan konyol Arya.
Melvin melepaskan tangan Hana lalu memegang kedua sisi pundak Hana dalam sejuta ragu.
"Han, kau tidak mencintaiku kan?" Pertanyaan itu sontak membuat Hana membulatkan mata.
"Maksud mu?"
"Jika pernikahan kita berakhir itu artinya aku tidak melukai diri mu."
Hana mengerjapkan bola matanya berulang-ulang. "Apa kau berencana me.. mengakhirinya?" Hana terbata penuh ke khawatiran.
"Han, mengertilah. Kau dan aku tidak saling mencintai? kuharap kau siap dengan resikonya?"
Buliran mutiara yang tertahan akhirnya lepas. Hana menarik mundur langkah kakinya.
Reaksinya terasa membelenggu jiwa Melvin. Melvin tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia punya satu keinginan, Meskipun nanti wanita itu Ia lepaskan setidaknya Hana tidak perlu menangis gara-gara dia.
__ADS_1
"Maaf, Hana. Aku menghadapi kesulitan kerena kedatangan mu. Kau lihat, keluarga ku bukan keluarga baik-baik tidak ada bedanya dengan keluarga broken Home," tandas Melvin memberi pengertian.
Hana menggeleng kecil hatinya menolak penuturan Melvin. Melvin terlalu buruk menilai keluarga nya sendiri.
Melvin mendengkus menertawakan kemalangan nasibnya. Terlalu na'if dan rendahnya dirinya di depan Hana Agista gadis polos tanpa kekurangan sedikitpun.
"Aku hanya lelaki buruk, Han. Kau telah masuk kedalam keluarga penuh onak dan duri. Tak ada yang bisa kau banggakan dalam keluarga ini." Melvin mengeluarkan lagi pendapatnya.
Hana tak mampu bergeming menangkap serpihan kecewa di wajah Melvin.
"Kau akan menyesal mengatakan itu, Vin. Tak ada orang tua ingin kehancuran anaknya. Seharusnya kau cari cara untuk menemukan titik terang bagi kedua orang tuamu. Setelah itu, kau baru boleh mengatakan ekspetasi mu perihal mereka dalam kehidupanmu."
Melvin menyeringai mengangkat alisnya.
"Apa keluarga seperti ini masih bisa di perbaiki?" Melvin menyangkal pendapat Hana.
"Tentu," jawab Hana yakin.
"Caranya?"
"Tak ada keburukan tampa solusi bukan?" tanyanya lagi-lagi Melvin tersengat.
Melvin tercekat lalu kemudian tertawa getir.
"Mana ada keluarga rusak bisa membaik, Hana. Bagaimana dengan guci yang rusak berkeping-keping itu. Tunjukkan padaku bisakah kau memperbaikinya?" Melvin menyiutkan keyakinan Hana.
Hana terkekeh, Ia sama sekali tidak merasa kalah.
"Manusia bukan barang, Vin. Mana bisa kau samakan?"
"Sudahlah, Han. Aku muak dengan semua kehidupan ini. Kamu tahu? aku tak ada bedanya dengan air diatas tungku bara api saat itu."
Melvin meninggalkan Hana terpaku kearah nya yang masuk ke kamar mandi.
"Aku mau kau menarik kata-kata mu, Vin." Hana mengulum bibir merasai jiwanya mati. Ia harus kuat dan berani menghadapi alogaritma kehidupannya bersama Melvin. Terlalu cengeng jika Ia menangis sekarang. Bahkan itu belum di fase berat.
__ADS_1
Hari-hari berlalu Melvin dan Hana saling diam. Mereka akan mempertahankan Egoisme yang mereka pendam dalam gelombang Mahligai pernikahan. Ikatan yang terpaksa menyatukan mereka dalam satu atap berteduh.
Pagi yang indah, pancaran sinar matahari memantul dari celah rerimbunan pepohonan tembus kedalam tenangnya air kolam. Musim kemarau membuang daun-daun menguning dan berguguran, air yang seharusnya bening dan jernih tampak seperti genangan air comberan.
Hana yang merasai punggungnya kian membaik semangat ingin berenang membersihkan air itu. Sayang kalau Ia biarkan keindahan kolam milik pribadi hanya dibiarkan menganggur. Bibi juga sedang pulang kampung entah kapan akan kembali mungkin Hana baru bertemu Bibi beberapa kali dan itu pun jarang ada perbincangan diantara mereka.
Bukan karena sombong, Hana lebih memilih mengerjakan lainnya jika sang Bibi memasak di dapur bersama Mama mertua. Mama mertua juga sangat baik jadi hal itu membuatnya merasa bebas melakukan banyak hal selama dalam keadaan positif.
Wajah Hana cerah, hatinya mungkin sedang bahagia. Ia sangat bersyukur bisa pulih dari cidera punggung yang belakangan ini menyiksa setiap geraknya.
Hana memakai kaos renang tipis dan celana pendek sepaha. Keadaan itu pasti akan memudahkan Ia dalam melakukan aksinya.
Byur!
Hana melompat kedalam kolam membuat air naik turun.
Hana mengepakkan sayapnya memulai memunguti dedaunan dan mengumpulkannya di pinggir.
Melvin ada di teras, Ia membawa segelas air Americano kelantai dua kamarnya. Mengitari setiap pemandangan indah dan mempesona. Banyak gedung-gedung perkantoran tampak menjulang tinggi memanjakan Indra penglihatan tersendiri bagi penikmatnya.
Melvin tak ingat apapun tentang awal mula mereka tinggal disana tapi kata Mama Maya rumah itu dibeli Prabu saat pertama kali berhasil memenangkan tender bersama orang Jepang.
Bangkitnya kantor Wijaya Cooperation memang lahir atas dasar kerja keras dan tekat Prabu. Pastinya tidak lepas dari Do'a Mama Maya, Istri tercintanya ketika mengandung Arya.
Itulah sebabnya, Arya bagaikan emas dan mutiara. Kehadirannya semakin membangkitkan semangat Prabu berkibar.
Sesaat kemudian Melvin terpatut pada sosok Hana masih berada di dalam air. Hana sangat lihai, Ia sedang menirukan gaya lumba-lumba berenang. Tangannya menyapu dedaunan hampir usai.
Melvin menaikan sebelah alisnya, Ia semakin kagum melihat Hana sangat se*si. Kecantikan Hana tidak kalah lagi dengan kecantikan para artis-artis pemeran utama dalam sinetron ikan terbang.
Hana mengulas senyum di bibir tipis merah merona miliknya. Seperti biasa, lesung pipinya tenggelam sangat sempurna.
Melvin memaku dan sesekali meneguk air Rahmat dalam genggamannya. Suasana itu membuatnya merasa mendapatkan kedamaian.
"Heh, Sungguh cerita yang aneh. Adakah perempuan lain seperti dia di dunia ini?" Melvin memekik seorang diri.
__ADS_1