Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_76 Hari Itu Tiba


__ADS_3

Ssstttt...


Rindy meminta Hana tidak menyebut sesuatu disana dan memberi tahu Hana tentang Arloji yang melingkar di tanganya melalui isyarat.


Hana mengerti dan mengangguk.


"Ayo, Mbak. Makan, saya tidak mau di pecat nanti," tukas Rindy meraih piring di meja.


Hana menerima suapan dari tangan Rindy. Kemudian Rindy mengambil sesuatu dari dalam tasnya sebuah kertas yang terlipat begitu kecil dan menyerahkannya pada Hana.


Hana ingin bertanya tapi mulutnya tertahan.


"Makan lagi ya, Mbak. Biar besok Mbak kuat. Di bawah sangat ramai. Bahkan ruangan bawah di dekorasi begitu indah," ucap Rindy jujur.


Hana melahap lagi makanan itu.


"Terima kasih, Rin. Aku jadi merasa tenang sekarang." cekat Hana pada Rindy meski bola matanya berkaca-kaca.


Rindy mengangguk. Ia paham akan perasaan Hana. Hana sangat tertekan dengan keadaan itu.


Usai menghabiskan makanan. Rindy meminta Hana segera mandi. Ia akan berpamitan setelahnya.


Rangga tersenyum senang melihat perubahan Hana.


Malam kian meremang. Hana tidak bisa memejamkan mata sejenak saja. Ia tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Dua hari hampir berlalu membuatnya bosan berada di ruangan tertutup itu.


Hana mengamati kertas kecil dalam genggamannya. Penasaran akan isi kertas itu membuatnya ingin segera membaca.


Hana mendudukkan diri dan memulai membuka setiap lipatan kertas itu.


...Untukmu Yang Ku Cinta...


...Hana, tersenyumlah......


...Jangan khawatirkan hari esok ya......


...Aku akan selalu ada untukmu......


...Percayalah kau tidak sendiri......


...Aku selalu ada untukmu......


Hana membolak-balikkan kertas itu, Ia tidak melihat nama yang tertera di sana.


"Siapa penulisnya? apa Rindy sedang membodohi aku?" ucap Hana gamang.


Hana menenangkan diri dan merebahkan lagi tubuhnya ke ranjang.

__ADS_1


Melvin, kamu dimana sekarang? Apa kamu benar-benar sedang berjuang untukku di luaran sana? apa kamu akan datang, besok?...


Jam di dinding terus berputar membuat Hana terlelap juga. Baru beberapa saat kemudian seseorang terdengar mengetuk pintu.


Dengan langkah berat, Hana akhirnya bangun dan membukakan pintu. Dilihatnya dua orang perempuan membawa paper bag cukup besar.


"Ada apa, Mbak?" tanya Hana heran.


"Maaf, Non. Kami di suruh Pak Rangga untuk memulai merias, Nona Hana," jawab salah seorang diantaranya.


"Oh, baiklah. Tapi aku mandi sebentar ya!" izin Hana.


"Baik, Non."


Hari itu menjadi hari paling menegangkan bagi Hana. Ia harus bersiap diri menerima kenyataan kalau Ia akan menjadi istri dari seorang Rangga.


Lelaki yang dulu di kenalnya sangat lah baik tapi sekarang buas bagaikan landak berduri.


Penataan rumah megah itu sangat indah semua tamu mulai berdatangan. Mereka akan menghadiri pesta yang di gelar oleh keluarga Rangga.


Paman Roy yang mulai membaik datang bersama Bibi Yuna dan Naina. Mengingat Paman Roy habis menjalani operasi Paman Roy harus tetap duduk di atas kursi roda.


Hati Paman Roy sebenarnya berkabut, Ia sudah tahu kalau Hana mau menikahi Rangga demi mendapatkan uang untuk biaya dirinya selama dirumah sakit.


Berbeda dengan wajah Bibi Yuna dan Naina yang sejak dulu mendukung niat Rangga.


Mobil Mama Sandra juga sudah menepi, Ia tidak membawa serta Prabu bersamanya. Menurutnya Prabu hanya akan menyulitkan langkahnya saja.


Rangga mematut wajah nya di cermin dengan senyum yang mengembang.


"Hari ini seluruh dunia akan menyaksikan pernikahan yang sudah ku damba sejak beberapa tahun yang lalu."


"Melvin, tamatlah riwayatmu, hahaha...." Hati Rangga merasa puas.


Rangga mendengar ponselnya berdering, itu telpon dari pesuruhnya.


"Halo, apa ada kabar terbaru?" tanya Rangga langsung setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Tidak ada yang tahu keberadaan pemuda itu, Bos. Tapi Bos tenang saja Ibunya Melvin ada bersama ku," tukas orang itu.


Dia ada di sebuah gudang sedang mengikat wanita yang Ia kira adalah Ibu dari Melvin.


Dafa rupanya mengikuti kegiatan lelaki itu. Dia sudah mengira ini akan terjadi untuk menekan Melvin dari sisi lainnya.


"Pasti orang itu pesuruh, Rangga. Dasar otak gila," gumam Dafa seorang diri.


Dafa menguping lagi obrolan orang itu dengan seseorang yang di yakini Dafa adalah Rangga.

__ADS_1


"Ingat ya, hari ini pernikahan ku akan di gelar. Aku tidak ingin kecolongan nantinya," tegas Rangga.


"Bos, tenang saja. Lakukan saja pestanya sesuai kemauan, Bos Rangga," jawab Orang itu.


"Pesta?" Dafa bingung sendiri mendengar itu. "Jangan-jangan pestanya di gelar hari ini?" tebaknya seorang diri.


Gegas Dafa mengiring chat W A pada seseorang yang langsung berubah centang berwarna biru secepat kilat artinya kemungkinan Orang yang menerimanya sudah membacanya.


Dafa fokus lagi pada Maya yang kepalanya dibungkus kain hitam oleh orang itu.


"Aku tidak boleh gegabah, orang itu pasti sangat berbahaya."


Dafa mendapat balasan dari orang tadi.


Dafa kembali mengirim pesan.


Jawaban orang itu terakhir adalah oke.


Kediaman Rangga sudah dipenuhi para tamu yang hadir. Mereka semua ingin ikut menjadi saksi pernikahan sakral itu.


Sedangkan Hana tak juga bisa menahan lelehan air mata yang meluncur bebas di kedua sisi batang hidungnya membuat kedua perias itu kebingungan.


"Tolong jangan menangis, Mbak. Bedak nya akan luntur nanti," ucap seorang perias itu. Di elap nya wajah Hana yang sudah sempurna dengan tisu.


Perias memoles lagi wajah Hana, entah berapa kali itu mereka lakukan agar Hana tidak mengulangi lagi tangisnya.


Bagaimana bisa, dadanya terasa sesak. Ia sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Dia tidak pernah mencintai Rangga bahkan Ia sangat ketakutan.


Pernikahan berduri itu harus terulang lagi di dalam hidupnya dalam waktu singkat. Merampas semua hak nya untuk bebas memilih dan menikah dengan pria yang di kehendaki nya.


Meskipun demikian pernikahannya dengan Melvin dulu tak membuatnya setegang ini. Setidaknya Melvin bukanlah seorang pembunuh seperti Rangga. Rangga terlalu kejam untuk ukuran manusia.


Hana tak mampu bersuara, hanya ada luka dan duka di hatinya. Seharusnya pesta itu menjadi pesta kebahagiaan tapi tidak dengan dirinya.


"Mbak, cepetan. Tamu sudah menunggu di bawah!" teriak seseorang dari luar pasti itu pesuruh Rangga.


"Iya, sebentar," jawab perias itu nyaring di telinga Hana.


Ia buru-buru mengelap pipi Hana dan memolesnya lagi.


"Kami mohon, Mbak. Jangan menangis lagi. Kami bisa kena marah nanti," ucap perias yang satunya.


Peduli apa, Hana tidak menghiraukan ocehan mereka yang seperti angin lalu baginya.


Tepat pukul sembilan pagi semua yang menjadi saksi sudah duduk bersila di atas gelaran karpet berwarna merah. Rangga juga telah ada di depan penghulu dengan wajah penuh senyum.


Pesta itu akan mengubah seluruh hidupnya. Ia lah pemenang di akhir kisah nya mendapatkan wanita pujaannya.

__ADS_1


"I love you, Hana. Kau benar-benar telah menjadi milikku sekarang."


Dari atas tangga terdengar derap langkah kaki. Semua mendongak menatap Hana yang sudah turun dari persembunyiannya di dampingi Rindy yang baru saja menjemputnya.


__ADS_2