Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_37 Di cegat


__ADS_3

Kalau bukan karena Dafa adalah orang andalan dirinya, Ingin sekali rasanya Melvin menghancurkan wajah ala kadarnya Dafa hingga ke dasar-dasarnya. Tapi Urung, Melvin tidak tega jika Dafa semakin tidak laku nantinya.


"Cepat bawa koper itu kemobil, jangan membuat aku mual berlama-lama melihat wajah yang sudah seperti pantat panci milik mu itu!" sentak Melvin. Hatinya memanas mengingat kelakuan Dafa. Oh ya, Ia melupakan Rindy yang bersama Dafa semalam.


"Rindy dimana?" tanya Melvin lagi sebelum Dafa masuk mengambil barang-barang mereka.


"Ada, Bos. Masih bersiap." Dafa bersungut-sungut masuk mengerjakan tugas dari si Bos dari pada di maki habis-habisan kelamaan ditempat itu. Hilang sudah mute nya di kasih sarapan Omelan di pagi buta.


"Ish.. Dasar asisten sialan. Untung cerdas meski wajahnya blo'ons kalau tidak sudah ku depak kau dari sini," gerutu Melvin seorang diri.


Melvin memutuskan masuk lagi untuk mengemas laptop dan ponsel miliknya. Tak sengaja Ia melihat ponsel Hana terselip di ujung Sofa sedang bergetar riang.


Rasa penasaran membuat Melvin memutuskan melihat siapa yang menelpon atau pun mengirim pesan.


Melvin mengernyit dengan wajah masam setelah tahu nama Rangga yang tercetak disana.


"Mau apa dia menelpon?" Melvin mengangkat bahu dan melemparkan lagi benda itu ke sofa. Ia tidak ada sedikit pun berniat mengangkat panggilan dari Rangga untuk sekedar tahu maksud pria itu. Apa lagi mencari tahu sejauh apa hubungan Hana dengan pria yang dulu di takuti Arya mendekati wanita yang kini berstatuskan istri nya.


Hana keluar kamar mandi. Ia sudah dibalut dress dari salah satu pemberian Melvin. Hanya baju model seperti itu adanya yang setiap hari Ia pakai untuk menghormati Melvin. Justru kebanyakan yang lainya malah gaun-gaun cantik untuk pergi ke pesta. Mana mungkin disiang bolong panasnya terik matahari Hana memakai baju seperti itu.


Hana meraih tas mini di gantungan paku dan bergegas memoles sedikit wajahnya agar terlihat lebih press. Melvin hanya terpaku mematung mengamati setiap gerakan Hana.


Semakin lekat ditatapnya, Hana semakin terlihat memikat.


"Ahk, apa-apaan ini? aku pasti sudah gila?" gumam Melvin.


Hana terlihat melangkah kearah dirinya di sofa dan mengambil ponsel disamping Melvin.


Rupanya ponsel itu masih saja bergetar sedari tadi.


Melihat panggilan masuk, Hana menoleh kearah Melvin. Awalnya Hana ingin mengangkat tapi akhirnya Hana memutuskan menonaktifkan ponselnya.


"Ayo, Vin!" Ajaknya meninggalkan Melvin lebih dulu.


Melvin bernafas lega, Hana telah melakukan hal yang tepat menolak panggilan Rangga. Melvin secepatnya menyusul Hana.


Tiba di depan resepsionis, Melvin menyerahkan kunci kamar mereka. Rindy muncul dengan buru-buru menemui mereka akibat ketinggalan.


"Aduh maaf, Nona. Saya kesiangan tidurnya kebo," tukas Rindy cengengesan lalu menoleh kearah Dafa. Dafa menekuk wajah manyun. Belum kelar selera nya hilang tak juga kunjung kembali.


"Gak papa, Rin." jawab Hana. Hana pokus menanti Melvin itu menjadi kesempatan Rindy bertanya pada Dafa.

__ADS_1


"Kenapa lo, Pak?" bisik Rindy.


"Habislah kita, Rin," jawab Dafa pelan.


"Maksud Bapak?"


"Bos tadi marah, alamat potong gajih lagi ini."


Rindy jadi ikut manyun juga akhirnya. Menyesal Ia rasakan, gagal sudah niatnya menaikan haji mak nya dikampung akibat potong gajih melulu.


"Bapak harus tanggung jawab," ancam Rindy.


"Lah, kok aku. Sama-samalah," elak Dafa.


"Abis itukan ide Bapak, kalau gajih ku di potong kapan mamak ku naik hajinya coba," ketus Rindy.


Rindy Paramita adalah anak dari keluarga kurang mampu. Kedua orang tuanya hanya petani biasa. Kehidupan sulit membuatnya ber tekat mengejar cita-cita bekerja di kantoran.


Setiap hari Ia sekolah dan belajar tampa henti hingga akhirnya Ia mendapat posisi sepuluh besar di kampus tempatnya mengenyam pendidikan.


Pada saat itu juga perwakilan dari Kantor keluarga Prabu Wijaya menyambangi kampung itu untuk membeli hasil panen dari penduduk disana.


Sekian banyak para karyawan yang mendaftar hanya Rindy dan kedua teman lelakinya yang lolos. Nasib baik, Rindy diangkat jadi sekretaris Melvin karena tertarik akan visi dan misi yang dibuatnya sedang kedua teman lelakinya di pekerjakan di bagian pengantar barang.


Melvin telah selesai mereka memutuskan berangkat secepatnya mengingat hari semakin siang.


"Daf, ini akan menjadi pekerjaan kita setiap seminggu sekali kesana, dan kamu adalah orang pertama yang akan sering melakukan itu," ucap Melvin memulai pembicaraan.


"Siap, Pak." Jawaban Dafa lemas.


"Kenapa begitu?" Melvin tidak suka melihat tampang Dafa sudah seperti kue lapis ditumpuk.


"Ya ampun bawel banget sih jadi orang. Untung Bos."


Melihat reaksi menjengkelkan, Melvin makin tersulut.


"Dafa, apa yang kamu fikirkan?" tebaknya.


"Ha? enggak mikirin apa-apa, Bos. Saya cuma mikirin masa depan saya kok, Bos," jawab Dafa.


"Kalau kamu masih memikirkan masa depan maka berhenti membuat kesalahan dan buat kinerja berfaedah agar bisa di banggakan," tegas Melvin. Dafa adalah orang yang paling berani membantah perintah Melvin. Baik dalam pekerjaan maupun dalam percintaanya.

__ADS_1


"I.. iya, Bos." Ulah usilnya hilang sudah hari itu. Ia takut kalau si Bos sudah mulai marah dan melotot padanya. Memang Malam itu Ia telah melakukan kesalahan besar. Memaksa orang yang tidak saling mencintai untuk bergumul. Bukan karena Dafa benci pada si Bos. Ia hanya ingin si Bos lebih baik memberikan tubuhnya pada wanita yang jelas-jelas lebih tepat menjadi istrinya. Dafa yakin kalau Hana jauh lebih pantas untuk Melvin dari pada Clara.


Mobil Melvin yang dikendarai Dafa mulai keluar dari kawasan daerah itu. Mereka memilih sibuk saling mengunci rapat mulut mereka. Sesaat kemudian mereka dikagetkan oleh segerombolan orang bersepeda motor menyerang.


"Woy, berhenti woy!" teriak salah seorang. Mereka mensenjatai tubuh mereka kayu bulat cukup panjang.


"Aduh, mereka mau ngapain, Bos?" Dafa mulai panik dan tidak fokus.


"Cari cara agar mobil kita menjauh, Daf," tukas Melvin.


"Oke, Bos."


Belum juga dapat celah mereka menghadang mobil Mereka dengan cara menghentikan motor yang mereka palang kan didepan. Tak ada pilihan lain selain Dafa menghentikan mobilnya.


"Nona, mereka mau ngapain?" Rindy memeluk Hana menyembunyikan wajahnya.


"Tenang, Rin. Mungkin mereka kelompok preman mau cari gara-gara," ucap Hana setenang mungkin.


"Ayo keluar kalian, kalau gak ku pecahin kaca ini." orang itu memukulkan kayu nya pelan kearah mobil Melvin. Tentunya orang itu menggertak agar mereka segera keluar.


Melvin melepaskan tali pengaman nya di ikuti Dafa.


"Kalian diam disini!" pesan Melvin pada Hana dan Rindy tampa menoleh diangguki Hana.


Melvin keluar dan menatap tajam pada mereka menutup pintu mobil dengan kasar sembari menggulung lengan kemeja hijau laut ditubuhnya.


Dafa berdiri disamping Melvin mulai siap siaga melakukan tinjuan mengepal kedepan pada musuhnya.


Melvin mengamati satu persatu mereka berjumlah delapan orang dihadapannya. Mengangkat dahi menyipitkan mata seperti harimau hendak menerkam dalam tenang namun santai.


"Serahkan wanita itu!" seloroh Mereka.


Melvin tercekat.


"Apa maksudmu? wanita mana yang kalian cari?"


Mereka tertawa mengejek.


"Wanita bernama Hana," jawab Salah seorang pimpinan mereka.


"Apa?" Melvin kaget bukan main.

__ADS_1


__ADS_2