Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_43 Kembali


__ADS_3

Hana menoleh sedikit kearah pintu, Senyumnya langsung mengembang melihat Melvin balik lagi. Hana tidak mengerti akan perasaannya tapi hari ini Ia sangat ingin Melvin terus mendampinginya.


"Vin, kamu balik lagi?" Hana tidak bisa menggambarkan wajah bahagianya.


Rangga mengangkat alisnya dan ikut memandang kearah Melvin. Melvin berdiri menyandar di daun pintu sambil melipat tangan. Sok cuek tapi sesungguhnya Ia peduli itulah Melvin yang mulai Hana kenali kepribadiannya.


"Apa kau sudah selesai menjenguk?" ucapnya dingin. Pertanyaan itu Ia tujukan pada Rangga.


Rangga terkekeh, Menarik nafasnya dalam-dalam. Rangga mulai mendekat kearah Melvin. "Heh, apa kau cemburu sobat?" Rangga menyembunyikan kedua tanganya kedalam saku. Seolah menantang keangkuhan Melvin.


Melvin balas memandang kecut, Mudah baginya melawan Seorang Rangga. "Apa dirimu tidak punya pekerjaan, Rang? bukanya kau orang sibuk. Setahuku orang sibuk tidak punya waktu menjenguk orang sakit dirumah sakit apa lagi istri orang?" Melvin sengaja menyindir Rangga.


Rangga menertawakan Melvin, Ia sebenarnya tertusuk tapi Ia menyembunyikan nya. "Hem? oke, Aku tidak akan berlama-lama kawan. Kau benar, pekerjaan ku sangat banyak menanti." Rangga menepuk pundak Melvin sembari berbisik.


"Jaga istri mu baik-baik jangan sampai lengah. Kau tahu, sedikit saja kau melepaskannya kau tidak akan lagi mendapatkannya."


Melvin tersenyum sinis.


"Selama dia berstatus istriku kau juga tidak akan bisa mendekatinya," jengah Melvin sambil menengadahkan tangan keluar agar Rangga secepatnya enyah.


Rangga memandang penuh amarah mendapat perlakuan memalukan dari Seorang Melvin. Rupanya Melvin lebih garang dalam berbahasa di banding Arya.


"Kau boleh melakukan ini, Vin. Tapi aku tidak akan membiarkan hidup mu bahagia," desis Rangga seperti bisa ular ditelinga Melvin.


Melvin mengangkat bahu di depan Rangga artinya Ia tidak takut akan ancaman Rangga.


Rangga berbalik dan berpamitan pada Mama Maya dan Hana. Barulah ia keluar bersama dendamnya pada Melvin.


Hana mengamati Melvin namun Melvin memalingkan wajah.


Situasi mendadak hening mencekam tak ada diantara mereka untuk memulai pembicaraan.


Mama Maya bingung sendiri memperhatikan wajah anak dan mantunya bergantian. Mumet akan hal itu Mama Maya pun memutuskan pergi.


"Urus istri mu, Mama pergi!" pamit Maya. Ia bahkan sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari keduanya.


Mama Maya memicingkan mata kekesalan akibat di abaikan seorang diri. "Dasar anak muda, Otak dan hati tak sinkron," gerutu Mama Maya seorang diri.


Keduanya bertukar pandangan, Kondisi kian gugup. Mendekat saja Melvin tak kuasa mengangkat kaki.


"Apa kau lebih baik?" Melvin mainkan dagunya dengan tatapan tertuju pada Hana.

__ADS_1


Hana tersenyum tipis, dimana senyum itu terlihat sangat menawan. Banyak pertanyaan di dalam otak kecil Melvin. "Apa sih nilai plus wanita itu selain cantik? mengapa aku harus terikat denganya?"


"Vin..." Hana memanggil Melvin guna menyadarkan lamunannya.


Melvin mengusap wajahnya. Mengurus Hana dan lelahnya perjalanan membuat tubuhnya serasa sakit semua.


Melvin lagi-lagi mengabaikan Hana dan merogoh ponsel disakunya. Kemungkinan ponselnya bergetar sebab tidak terdengar sedikit pun nada dering menggema.


"Halo, Pak Dikha."


"Vin, ku dengar kalian mengalami masalah berkali-kali?" tanya Pak Dikha spontan.


"Iya, Pak."


"Istri mu sangat cantik, Vin. Makannya mereka mengincar istrimu. Jagalah dia baik-baik!"


"Entahlah, Pak. Aku juga kurang tahu. Mungkin mereka sudah gila."


"Ya untuk urusan pembangunan itu kau bisa kirim saja orang kepercayaan mu. Aku khawatir mereka dendam pada kalian." Pak Dikha malah menyarankan.


Melvin merasa tidak enak hati tidak mampu menepati janji Pada pengusaha hebat seperti Pak Dikha.


"Santai saja Pak Melvin. Aku tidak merasa dirugikan. Toh proyek akan tetap berjalan. Buka kah proyek itu sudah atas Izin pemerintah setempat."


Pak Dikha memang sangat bijaksana, Ia selalu bisa menyikapi sesuatu dengan damai. Melvin sendiri tidak yakin bisa mendapat kepercayaan sebesar itu dari Pak Dikha.


"Terimakasih atas amanahnya, Pak."


"It's oke, urus saja dulu istrimu itu. Aku juga banyak pekerjaan."


"Oke, Pak. Terimakasih."


"Sama-sama."


Pak Dikha mengakhiri telpon.


Hana akhirnya membisu Melvin selalu saja menekuk wajahnya ketika mereka sedang bersama.


"Ehem..." Melvin berdehem berulang-ulang menempelkan kepalan tanganya didepan mulut. Mungkin saja tenggerokkan nya bermasalah atau malah ingin mencairkan suasana.


Setiap hari, Melvin menjaga Hana siang dan malam. Walah sangat dingin dan kaku Melvin mengurusnya dengan baik dan itu terjadi selama tiga hari lamanya. Diserahkannya semua kendali kantor pada asisten konyolnya Dafa. Dafa memang selengekan tapi bisa di andalkan untuk urusan pekerjaan.

__ADS_1


Hana dan Melvin kembali kerumah. Hana sudah diperbolehkan berjalan oleh sang Dokter walaupun tidak soal pekerjaan berat.


Melvin memapah Hana agar Hana berbaring lagi di atas ranjang. Baru saja duduk Hana memegang lengan Melvin.


"Vin..."


"Kenapa?"


"Apa kau tidak berencana menemui Clara?" Hana memilih menanyakan itu sebab Ia tidak melihat Melvin menghubungi Clara saat dirumah sakit begitu juga sebaliknya.


"Apa urusan mu? kau ingin segera lepas dariku?"


"Oh, bu.. bukan begitu, Vin." Hana jadi salah tingkah, sebenarnya alasannya satu Hana berharap Melvin tidak ada hubungan lagi dengan perempuan itu. Hana sendiri tidak tahu akan hal itu, tapi mungkin Ia mulai menaruh rasa Suka nya pada Melvin.


Bagaimana tidak Melvin sangat tampan, cuek adalah ciri Khas yang membuatnya kian terlihat tegas dan mempesona.


Melvin memicingkan mata mendapati rona pias pada wajah Hana. Bahkan Melvin sendiri sadar akan hal itu.


"Kenapa kau memandangku begitu? jangan sampai kau punya perasaan padaku kalau kau tidak ingin menangis nantinya?"


Melvin mengambil ponselnya di atas nakas ada pesan masuk dari Clara.


(Vin, jemput aku di bandara, nanti aku jelaskan padamu)


Hana menundukkan kepala harapannya tidak sesuai ekspetasinya.


Melvin kembali memandang Hana. Sangat nampak sekali guratan kesedihan di wajah Hana.


"Maaf, aku harus pergi!" ucapnya datar. Sesungguhnya mendapatkan izin atau tidaknya Ia sama sekali tidak memperdulikan itu.


Hana tidak menjawab dan melihat punggung Melvin menjauh. Hatinya terasa sakit melihat Melvin meninggalkannya. Sudah dipastikan pesan itu datangnya dari kekasih nya Clara. "Ada apa dengan ku? Mengapa rasanya sangat sakit?" Hana mengusap dadanya. Hana mencoba ikhlas statusnya dengan Melvin hanya diatas kertas buku nikah bukan di dalam lubuk hati.


Hana akhirnya mengembangkan senyum picik nya. Ia harus membuang perasaan itu jauh-jauh dan siap dengan segala bahtera yang sudah pasti akan datang lagi merusak bendungan hati yang mulai tertata dari puing-puing kehancuran.


Hana menarik laci dan mengambil bingkai foto Arya yang lama disimpannya. Foto itu selalu jadi penenang saat hatinya merasa gelisah.


"Mas Arya, Hana akan mempertahankan keluarga Hana dengan Melvin, Mas. Hana janji. Tapi jika nanti Hana tidak mampu Mas jangan marah ya, mungkin Hana bukan orang yang pantas untuk adik Mas Arya." Buliran bening lepas dari ujung bola mata indah Hana tepat di bibir Arya yang tengah tersenyum bahagia.


Arya memang seorang pria periang, Ia tidak pernah sekali pun bersedih di depan Hana meski Mengalami masalah pelik sekali pun. Baginya bahagia di depan wanita tercintanya adalah sesuatu yang sangat penting. Arya tak pernah menginginkan air mata gadis cantiknya menangis sedikit pun.


Hana mendekap erat foto itu dalam pelukannya. Semoga Ia bisa lebih kuat lagi setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2