
Keduanya melangkah cepat menghampiri Dokter.
"Ba.. bagaimana kondisi istri saya, Dok?" Melvin agak gugup. Ia senewen jika nanti Dafa bisa membaca kekhawatiran hatinya. Sudah di pastikan Dafa tidak akan berhenti menggoda dirinya.
"Yeah, Si Bos. Gak usah di tutupin ma apapun juga terlihat kalik, Bos," batin Dafa cekikikan dalam hati.
Sang Dokter pria tersenyum.
"Tidak masalah, Pak. Istri Bapak baik-baik saja, dia sudah sadar. Tapi untuk menghindari cidera yang bisa saja terjadi, beberapa hari ini Ia harus menggunakan penyanggah leher," tutur sang Dokter.
"Boleh kami lihat?" Tanya Melvin sambil melirik Dafa yang masih tertawa tidak jelas.
"Tentu, silakan Pak Melvin, tampaknya Nona Hana juga kurang fit. Biarkan dia beristirahat dulu disini hingga esok hari. Kalau begitu kami permisi," Izin Sang Dokter.
Melvin mengangguk dan meninggalkan Dafa menemui Hana setelah sang Dokter Pergi.
"Ya elah Bos. Mentang-mentang gak sabar nemuin bini, aku nya ditinggalin," teriak Dafa. Hatinya girang melihat perhatian Si Bos songong itu pada istrinya mulai terlihat.
Jarang-jarang Melvin bersikap demikian saking cuek dan dinginnya jadi lelaki.
"Hai, Ha.. Hana a.. apa kau su... sudah membaik?" Melvin terbata-bata menanyai Hana yang tengah duduk menyandar dengan selang infus di tangan kanannya.
"Ciye.. Si Bos sudah mulai perhatian ni," sahut Dafa.
Bug!
Melvin menendang kaki Dafa yang ada di sampingnya.
Dafa mengatupkan bibirnya sambil meringis menahan sakit, tidak mau juga dia protes kalau si Bos mulai marah.
"Maaf, Hana. Aku cuma tidak ingin berhutang budi pada mu karena kau sudah berkorban tadi," elak Melvin kemudian, tidak ingin Hana menganggap Ia mulai memiliki perhatian yang lebih pada si Hana.
Hana mengangguk mengerti.
"Makasih, Vin. Kamu sudah menyelamatkan harga diriku sebagai perempuan," ucap Hana dengan suara lemah dan lelah.
Melvin mengulum bibir.
"Apa, disini mu masih sakit?" Melvin menunjuk tengkuknya.
Hana menggeleng kecil.
"Hanya sedikit kebas."
Melvin ganti mengangguk.
"Bagaimana bisa kamu sampai di culik mereka tadi?" Melvin menyelidik. Menurutnya kejadian itu sangatlah singkat. Mungkin hanya sekitar dua puluh menit Ia meninggalkan Hana yang tengah mandi pagi tadi.
"Usai mandi aku ingin menyusul kamu keluar, aku bosan. Tapi saat aku mencari mu mereka membekap mulutku ketika memasuki taman yang sepi itu," jawab Haha menjelaskan.
Melvin jadi merasa bersalah, wajar Hana bosan dan merasa sendiri karena Ia tidak terlalu mengenal orang-orangnya disana.
__ADS_1
"Jangan lakukan lagi, aku tidak ingin arwah Arya mendatangiku karena aku lalai," dingin Melvin jika di resapi seperti sedang bercanda walaupun mimik wajahnya kaku.
Hana hanya mengangguk lagi.
Dafa terpingkal-pingkal sendiri mendengar ucapan Si Bosnya itu. Menjadi obat nyamuk di antara mereka. Menatap keduanya silih berganti untuk menyimak dialog apa yang sedang mereka bahas, sambil menopang dagu setengah melamun.
"Dafa!" teriak Melvin yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Eh, iya Bos. Saya gak budeg," sahut Dafa agak kaget. Serta merta bangkit dari duduknya sambil cengengesan.
Melvin merogoh dompetnya.
"Cari makan diluar dan bawa kemari!" perintahnya dengan tatapan tajam.
"Siap laksanakan, Bos." Dafa bergaya hormat mengikuti perintah tuannya.
Hana jadi terkekeh dibuat si Dafa.
"Akhirnya, nona ketawa juga," tukas Dafa melirik.
Melvin menyeringai kesal, asisten itu selalu lebih menggunakan akal gil*nya dari pada ketegasan seorang pesuruh yang sedang diperintah.
"Berhenti tertawa, apa kau tidak lelah, Ha? kau membuat hatiku dongkol dan ingin membejek-bejek wajah jelek mu itu," ketus Melvin tak tahan.
"Yeah, si Bos. Dari pada Bos muka nya kecut melulu pasti Nona Hana gemes sama Bos tu," balas Dafa bergegas berlari meninggalkan Melvin yang bisa saja ******* habis dirinya.
Melvin menyeret kursi lalu duduk mengutak-atik ponsel miliknya. Maklum saja Ia pasti sangat sibuk dengan pesan-pesan yang bisa saja datang dari rekan bisnis dan orang-orang penting di kantornya.
Blug!
Hana terjatuh hingga selang infus itu mengeluarkan darah.
Melvin kaget dan langsung meletakan ponselnya guna membantu Hana. "Kamu mau kemana sih?" rutuk Melvin.
"Aku mau buang air kecil, Vin. Aku sudah tidak tahan," jawab Hana.
"Kenapa tidak bilang, apa gunanya aku menunggu mu disini jika tidak ada artinya," marah Melvin.
"Maaf, aku tidak ingin merepotkan dirimu," lirih Hana.
Melvin memapah Hana, Hana mendongak menatap Melvin hingga pandangan mereka bertemu.
Dag! Dug! Dag! Dug!
Ada jantung dari salah satu dari mereka yang berpacu.
Hana hendak melangkah tapi Melvin menahannya.
"Tunggu, aku lihat dulu selang infus ditangan mu. Lihat, darahnya naik. Jangan membuat aku menjadi bersalah jika kamu kenapa-napa nanti," tutur Melvin setelah memeriksa. Meski tetap dengan wajah cueknya.
"Iya, maaf. Aku gak papa kok. Aku juga gak tahan jika menunggu kamu berlama-lama mengoceh terus," dengus Hana ikut kesal.
__ADS_1
Melvin akhirnya menuntun Hana kekamar mandi.
Sampai di pintu, Melvin yang ingin ikut masuk langsung dicegah Hana.
"Eits, mau ngapain?" sungut Hana membulatkan mata.
"Mau masuklah, emang mau ngapain?" tanya Melvin kurang peka.
"Tunggu diluar, enak saja ikut masuk."
Melvin membulatkan mata tak percaya.
"Bukankah tadi mau buang air kecil?"
"Iya, tapi tunggu diluar," ketus Hana. Entah sejak kapan Ia mulai berani membantah Melvin padahal awalnya Ia sangatlah cengeng didepan Melvin.
Melvin menurut dan memegangi selang infus dari luar dengan pintu yang terbuka sedikit.
"Dasar, cewek aneh. Emangnya kenapa kalau aku lihat," gumam Melvin bergerutu.
"Jangan ngintip!" teriak Hana.
"Iya, iya. Siapa juga yang mau ngintip," sahut Melvin balas mendengkus.
"Sok suci, bukanya aku sudah pernah lihat. Tapi gimana bentukannya, lupa?" Melvin bergumam sambil berpikir konyol sendiri mengingat tapi tak mengingat apa pun.
Prusss!
Sesuatu yang bauk menyengat keluar. Melvin mengerutkan hidung dan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Astaga, kau makan apa sih? ternyata orang cantik gas yang dikeluarin lebih bauk dari air got rupanya?" gerutu Melvin membesarkan volume suaranya menyindir Hana.
"Alah, tutup mulutmu. Kau pikir wajah ganteng bisa menjamin bauk nya nikmat kayak kembang melati," sahut Hana.
Melvin mengangga.
"Emang kuburan, pakek kembang melati. Ada-ada aja ni orang, dasarnya orang melarat ya begitu diomongin ngeyel," Oceh Melvin tak jelas.
Hana telah selesai dan keluar. "Katanya buang kecil kenapa jadi buang air besar?" tanya Melvin lagi. Hilang sudah wibawanya gara-gara kelakuan Hana hari itu.
"Emang kenapa sih? gak boleh? siapa suruh ngikutin?"
"Apa katamu? Apa dirimu selalu begitu?"
...πΎπΎπΎπΎ...
Halo reader jangan pelit-pelit dong komentarnya untuk arakter dalam cerita, like, vote and rate bintang lima nya juga ya. Hari ini aku persembahkan tiga bab untuk kalian semoga terhibur.
Jangan lupa mampir juga di novel ku yang satunya nya dan berikan dukungan mu. Terima kasih hanya itu yang bisa saya haturkan atas keridhoan nya menyukai novel antariksa iniπππ
__ADS_1