
Sekali lagi,Melvin tidak mengijinkan Arya menyentuh Hana langsung mendorong Arya.
"Kamu tidak berhak apa pun lagi atas dia!" sentak Melvin kian marah.
Arya menundukkan kepala, sakit hatinya menerima kenyataan itu. Kini Hana telah menjadi milik adiknya sendiri.
Ia hanya pasrah melihat Melvin menggendong Hana menuju lantai atas.
Kenapa ini terjadi, pasti ada orang lain yang sengaja membuat aku seperti mati sungguhan...
Mama Maya tidak bisa membuka suara, mulut itu seolah berat untuk terbuka.
"Jika memang aku tidak diinginkan lagi aku akan pergi, Ma," ucap Arya dengan suara parau akibat menangis.
Arya melangkah dengan kaki tertahan, Maya memegangi kakinya meminta untuk tetap tinggal.
"Jangan, Nak. Aku tidak mau kehilangan diri mu lagi. Ini suatu keajaiban bagi seorang Ibu yang terluka akibat anaknya meningal ternyata masih hidup," ucap Maya memohon.
Arya duduk dan memeluk Mama Maya dengan perasaan teriris. Hancur sudah semua pengorbanan dan cintanya selama ini.
"Arya tidak menyangka semua telah merubah kehidupan Arya yang setiap siang dan malam Arya impikan, Ma."
"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak tahu harus mengatakan apa. Jujur saja Mama melihat sendiri kau sudah tidak bernyawa dan sebelum meninggal kau menyerahkan Hana untuk di nikahi oleh adikmu karena kau tidak ingin Rangga yang menikahinya," ujar Mama Maya berterus terang.
"Aku belum mati, Ma. Sungguh ini membebani perasaan ku. Waktu aku sedang berganti pakaian pengantin di kamar ku seseorang membekap mulutku," jawab Arya.
"A_ apa? kenapa bisa begitu?" tanya Mama Maya kaget.
Arya menceritakan apa yang sebenarnya Ia alami. Sungguh itu sangat na'as baginya.
"Setelah itu aku tidak tahu apa pun, Ma. Saat aku terbangun, aku sudah berada di hamparan ilalang yang aku sendiri tidak tahu dimana aku berada."
"Lalu bagaimana cara kau bertahan hidup, Nak?"
"Mengharap belas kasihan orang lain, Ma," jawab Arya kelu.
Mama Maya membingkai putra kesayangan itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat situasi rumit itu membuat kacau pikirannya.
Keduanya adalah putranya dan keduanya adalah permata hatinya. Maya tidak mungkin memihak salah satunya.
Melvin baru saja bahagia bersama Hana setelah mengalami kesulitan panjang. Begitu juga Arya yang dikira meninggal ternyata masih hidup dan sangat menderita.
"Maaf kan Mama, Nak. Mama tidak bisa melakukan apa pun kini Melvin dan Hana sudah bahagia setelah melewati masa sulit," ujar Mama Maya bersedih.
Arya mengangguk.
"Mungkin Hana memang bukan jodoh Arya, Ma. Arya bisa apa sekarang kecuali menerima ini."
__ADS_1
Melvin yang sedari tadi mendengarkan mereka diam-diam ikut menitikan air mata.
Kembalinya seorang Kakak terhebat adalah suatu anugerah namun Ia tidak mungkin menyerahkan Hana pada pemilik pertamanya karena ia juga sangat mencintai Hana.
"Kak Arya boleh tinggal disini, tapi Kak Arya harus tahu batasannya," ucap Melvin singkat, tegas dan padat tanpa menatap kearah Arya dan Maya yang menoleh kearahnya.
Arya menyunggingkan senyum.
"Iya,Vin. Aku tahu bagaimana aku harus bersikap sebagai tamu di rumah mu. Terima kasih telah mengijinkan aku tinggal," jawab Arya. Ada rasa tersinggung tapi Ia tepis jauh-jauh.
"Terima kasih Kak Arya," ucap Melvin sekali lagi lalu memutar tubuhnya kembali kekamar.
"Sabar Kan hatimu, Nak. Mama yakin semua akan baik-baik saja jika kau mau mengalah," ucap Maya menasehati.
"Iya, Ma. Bukankah dari dulu Mama tahu, kalau Arya selalu memikirkan Melvin. Tapi Ma, kenapa aku tidak melihat, Papa?" tanya Arya memutar bola matanya ke sebagian penjuru ruangan itu.
"Sama seperti kamu, Nak. Melvin menghadapi banyak masalah karena Papa. Sekarang Papa dan Mama mu sudah bercerai," jawab Mama Maya.
"Begitu kah? tapi Mama kuatkan?"
Maya mengangguk dan mencium kening Arya.
"Ayo bersihkan tubuhmu dan pergi mandi!" titah Mama Maya.
Maya menelpon seseorang untuk datang memotong rambut Arya. Barulah Arya membersihkan diri di dalam kamar yang di sediakan untuknya.
Maya memeriksa kondisi Hana, Hana sudah sadar setelah Melvin membaluri tubuhnya dengan aromatherapy.
"Ma, aku punya kabar gembira," tukas Melvin.
"Apa itu, Nak?" tanya Mama Maya berbinar.
"Hana hamil, Ma," jawab Melvin di sertai senyuman bahagia untuk menutupi kegamangan hatinya.
"Benarkah? berarti waktu pernikahan pertama ka_ kalian..?"
"Iya, Ma," jawab Melvin yang mengerti maksud sang Mama.
"Alhamdulilah, ini keajaiban, Nak."
"Ada lagi, Ma," kata Melvin menambahi.
"Apa itu?"
"Calon bayi kami kembar," jawabnya.
"Ha? iyakah? berarti Mama akan dapat dua cucu sekaligus?"
__ADS_1
Hana dan Melvin kembali tersenyum.
"Jaga baik-baik ya, Nak!"
"Tentu, Ma."
Mama Maya keluar dan membiarkan dua insan itu bersama tanpanya.
"Sayang..." Ucap Melvin mengusap-usap tangan Hana. £Ada guratan ketakutan dimatanya.
"Hm?"
"Apa kau masih mencintai Kak Arya setelah kau tahu dia masih hidup?" Melvin butuh jawaban dengan banyaknya beban yang bersemayam di otaknya.
Hana tersenyum.
"Aku memang syok,Vin. Karena bagaimana pun dia pernah menjadi orang nomor satu di hatiku. Tapi, kau sudah menggeser kedudukannya, bukan?"
"Aku hanya takut, jika nanti cintamu kembali tumbuh untuknya," ujar Melvin lagi-lagi meneteskan air mata.
"Hey, Vin. Apa aku segila itu, bahkan sudah hadir ikatan cinta kita di dalam rahimku?"
Melvin mengelus-elus perut Hana yang masih datar dengan perasaan gundah.
"Aku harap, Kak Arya tidak menjadi pengganggu hubungan kita." Melvin mencium perut Hana sambil memejamkan mata menguatkan sesuatu yang sesak di dalam sana.
"Aku mencintai mu, Hana. Aku tidak sanggup jika aku kehilangan kamu lagi. Cukup sekali aku melakukan kebodohan yang tidak ingin aku ulangi lagi."
Hana mendudukkan diri dan memeluk lengan Melvin.
"Jangan ragukan cintaku, Vin. Lebih baik kita pokus pada masa depan calon anak kita."
Hana yakin kini cinta nya untuk Arya sudah tak bersisa dia hanya ingin menjadi Ibu dan istri yang baik untuk Melvin dan anak-anaknya.
Perasaan tidak nyaman sudah pasti ada tapi takdir mengajarkan Ia untuk berdamai dengan keadaan.
Ia juga yakin Arya bukan lagi yang terpenting saat ini, meski hidupnya Arya membuat Ia ikut bahagia.
Maafkan Hana, Mas. Ini Hidup Hana sekarang. Hana tidak bisa lagi menempatkan Mas Arya di hati Hana karena cinta Hana sudah Hana berikan seluruhnya pada adikmu Melvin. Pria hebat yang berhasil membuat aku merasa aman dan nyaman...
"Terima kasih, Sayang. Karena Dafa kau jadi mengandung anakku," ucap Melvin mendesis indah di telinga Hana.
"Berarti kau harus memberi hadiah untuknya," Saran Hana.
"Hadiah? haruskah aku memberinya hadiah?" tanya Melvin mengerutkan dahi.
"Tentu saja dia memberikan sesuatu yang lebih besar 'kan untuk kita."
__ADS_1
"Oke, tapi apa ya yang cocok tidak mungkin boneka 'kan?"
"Ihk, Melvin. Emang dia perempuan apa?" sungut Hana menepuk pundak Melvin.