
Melvin sudah keluar rumah baru saja hendak membuka pintu mobil, Clara menarik lengannya.
"Melvin, tunggu!" cegah Clara.
"Clara, ada apa kesini?"
Clara mendengkus marah.
"Kamu bohong, Vin. Mana janji mu mau nyeraiin Hana. Malah kamu udah bikin dia hamil."
Melvin menganga.
"A.. apa? apa maksudmu Clara?"
"Iya, ada yang bilang sama aku katanya Hana hamil. Kamu sudah menipu aku, Vin?" amuk Clara.
"Enggak, Sayang. Itu gak bener. Aku aja enggak tau apapun soal itu," tukas Melvin mengelak.
"Bohong?"
"Bener, Sayang."
"Oke, kalau kamu jujur sama aku maka kamu harus ceraiin Hana hari ini juga," paksa Clara tak ingin memberi waktu lagi.
"Apa?" Prabu yang datang bersama Mama Maya terkejut mendengarnya.
"Apa maksud Clara, Vin. Kau mau menceraikan Hana?"
Melvin mengacak-acak rambutnya, Ia tidak suka kalau Prabu mulai ikut campur.
"Iya Pa."
Bug!
Prabu tak segan-segan meninju Wajah Melvin tampa pernah puas.
"Dasar, toloool. Anak tidak berguna. Enyahlah dari rumah ini. Saya tidak sudi punya anak bodoh seperti kamu!"
Maya tersengat mendengar ucapan Prabu pada putranya.
"Papa, tarik ucapan mu, Pa. Kau sudah kelewatan!"
"Berhenti membela dia Maya. Dia itu lahir dari bekas kotoran jadi otaknya sudah tumpul," umpat Prabu saking emosinya.
Melvin tidak terima menyamakan dirinya dengan sampah seolah-olah lahir dari kehinaan.
"Cukup, Pa. Kenapa Papa melarang aku melakukannya jika Papa sendiri punya simpanan? aku bukan boneka yang bisa Papa atur. Aku juga berhak membuang sesuatu yang tidak penting didalam hidupku kan?" balas Melvin balik menyerang ucapan Prabu.
Hana ternyata turut mendengarkan mereka, sesak dadanya mendengar ucapan Melvin. Harapannya yang baru tercipta tadi pagi pupus secepat itu.
"Pa, aku tidak mencintai Hana. Jadi untuk apa mempertahankan sebuah ikatan yang tidak membuatku bahagia," imbuh Melvin lagi.
Bug!
Prabu masih belum puas melayangkan tinjuan nya.
"Dasar anak sial, aku sudah lelah memberi pengertian padamu, Melvin. Aku tidak akan menjadikan kamu ahli waris Wijaya Cooperation."
__ADS_1
"Apa, Pa? Mengapa begitu?" Tanya Maya protes.
"Dari pada kuberikan padanya lebih baik ku berikan pada anak tiri ku yang cerdas itu," jawab Prabu.
"A.. apa? Itu tidak mungkin, Pa. Itu hak Melvin, Pa? Kenapa Papa jadi egois begini, Pa?" Maya benar-benar jadi kian berani menentang Prabu.
"Aku tidak akan rela Melvin menikmatinya bersama perempuan itu, Ma," ungkap Prabu akhirnya.
"Terserah, Pa. Aku juga tidak akan sudi menerima kekayaan Papa. Aku sudah muak dengan semua ini. Katakan pada Hana kalau aku akan mengirim surat cerai itu secepatnya dan satu lagi. Aku tidak akan pulang setelah ini," ucap Melvin dengan yakin.
Maya kaget dan kurang setuju lalu berusaha membujuk Melvin.
"Tidak, Nak. Jangan lakukan itu kau akan menyesal, Nak."
Melvin tidak menghiraukan Maya dan membawa Clara pergi kearah jalan karena memilih menaiki taksi tampa mau lagi menggunakan pasilitas dari Prabu.
Maya dan Prabu saling pandang dalam kekesalan masing-masing. Maya memutuskan mengalah ikut meninggalkan Prabu namun Maya sangat kaget bukan main kala berbalik dan mengetahui Hana berdiri dibelakang mereka.
"Ha.. Hana, sayang." Maya langsung menghampiri Hana dan memeluknya Hana yang menumpahkan air matanya.
"Mama..."
"Tidak, Sayang. Tenangkan lah diri mu. Melvin hanya terpengaruh sama Clara, Nak.
Prabu membuang nafas kasar.
"May, kau yang harus bertanggung jawab atas ini," ucap Prabu menuntut Maya sambil berlalu.
Maya tak bisa berkata-kata lagi hancur sudah semua dalam sekejap.
"Mama, apa Melvin benar-benar akan melakukan itu."
Clara yang duduk bersebelahan dengan Melvin tersenyum menang, kali ini Ia pasti akan mendapatkan Melvin seutuhnya.
Sedangkan Melvin di dera resah, Ia tidak kuasa menutupi masalah yang dihadapinya.
Clara menyandarkan kepalanya di pundak Melvin. Ia akan merayu Melvin melakukan hal itu dengan cepat.
"Vin, kau sudah melakukan hal yang benar. Kita akan menikah secepatnya, Sayang."
Melvin mengangguk, Ia juga sudah yakin pilihannya sudah tepat.
Hana duduk ditepi ranjang untuk mengendalikan dirinya. Air mata yang hampir tidak lagi terlihat kembali membanjiri pipinya.
"Kenapa Melvin cepat sekali berubah, padahal baru tadi pagi aku merasa senang dengan perlakuannya."
Hana teringat lagi foto Arya, laki-laki yang tidak pernah menyakitinya sedikit pun. Bahkan Arya selalu membuat hatinya terus berbunga-bunga setiap saat. Sekarang semua sirna tidak ada lagi tempatnya berkeluh kesah. Bahkan Melvin sendiri hanya memberi harapan palsu padanya.
Padahal Hana berharap kalau perhatian Melvin tadi benar-benar suatu keajaiban , nyatanya dirinya hanya kepedean saja. Hana akan kehilangan semuanya sebentar lagi.
"Mas Arya, aku ingin bertahan, Mas. Tapi semua gak akan ada gunanya, Mas. Kalau Melvin tetap kekeh pada keinginannya. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, Mas. Dengan cara melakukan kewajiban ku padanya. Tapi ini tidak mudah. Cinta Melvin pada Clara amatlah besar."
Hana memeluk foto Arya sejenak lalu beranjak untuk memilih mencari pekerjaan. Ia tidak akan mungkin berdiam diri dalam kebingungan setelah Melvin resmi menceraikan dirinya.
Hana berpamitan pada Mama Maya untuk pulang kerumah Om Roy. Sesampainya disana Ia hanya bertemu dengan Bibinya Yuna dan sepupunya Naina. Om Roy bekerja kuli ketika disiang hari dan itu terjadi sejak Ia masih kecil.
"Assalamualaikum!" sapa Hana.
__ADS_1
"Wa'allaikumsalam!" jawab Bibi dengan suara khas kasarnya.
"Eeeh.. ponakan datang. Kok gak bawa oleh-oleh ya?" Bibi menatap culas mengamati tangan Hana kosong tampa barang bawaan.
"Maaf, Bi. Hana tidak sempat beli, Hana ingin mengambil ijazah SMA Hana."
"Loh, untuk apa?" Tanya Bibi Yuna mengintimidasi.
"Saya mau mencari pekerjaannya, Bi." Hana melewati Bibi dan masuk kekamar dimana Ia pernah tidur.
"Ehk, tunggu dulu. Jelasin dulu apa masalahnya?" paksa Bibi Yuna sembari mengamati Hana membongkar lemari hingga menemukan barang yang dicarinya.
"Bi, aku tidak bisa mengandalkan suamiku. Jadi aku memutuskan untuk mencari kerja sambilan," jawab Hana yang kembali keluar di ikuti Bibi.
"Mbak, bagi duit dong!" rupanya sepupunya Naina sudah menunggu diambang pintu sambil menengadahkan tangan.
Hana kelu, Ia tidak punya banyak uang untuk memberi sang adik. Di keluarkan nya isi dompetnya dari tas mini yang hanya ada lima lembar merah. Hana memberikan dua lembar lainnya pada Naina.
"La, Mbak. Kok cuma segini sih, Mbak kan istri orang kaya?" protes Naina.
"Iya nih pelit amat lo, Han. Sini sisanya!" Bibi merampas tiga lembar yang tersisa ditangan Hana menyisakan dompet kosong.
"Bi...." Hana ingin balas protes tapi tak mampu mengutarakannya.
"Apa?" bentak sang Bibi.
"Bolehkan aku minta satu saja untuk uang jalanku?"
"Ye.. enak aja lo. Gak bisa ini jatah Bibi buat nukar beli buah kemaren ya walaupun Rangga yang beliin. Makanya nikah aja sama si Rangga sana. Dia gak kalah cakep. Tajir pulak dan yang pasti dia gak pelit kayak si Melvin."
"Bi, Mungkin Rangga bukan jodoh Hana, Bi."
"Bodo' amat. Hari gini mikirin jodoh. Udah pergi sana lo, empet gue liat muka lo. Pelit banget jadi orang!" Usir Bibi mendorong tubuh Hana keluar.
"Rasain lo, Mbak. Mentang-mentang punya suami kaya lupa ma sepupu sendiri," sungut Naina memicingkan mata.
Hana memilih diam dan meninggalkan rumah Om Roy dengan langkah kaki berat. Ia menyelesuri trotoar hanya dengan berjalan kaki karena tidak punya lagi uang sama sekali untuk menyetop taksi atau sekedar naik ojek.
Sekitar dua kilo berjalan, Hana melihat plat di depan Kafe orang China. Kafe itu sedang mencari tenaga sebagai pelayan kafe.
"Maaf, Bu. Apa benar kafe ini butuh pekerja?" tanya Hana.
"Oh iya, Bener Mbak. Coba lihat ijazah nya." Hana menyerahkan map ditangannya.
Si Mbak tempat mendaftar mengecek isi ijazah Hana.
"Wah.. Sayang sekali ya, Mbak. Kafe ini tidak mempekerjakan tamatan SMA tapi tamatan S 1."
"Kenapa begitu, Mbak?"
"Ini kafe internasional, Mbak. Pelanggannya banyak orang luar. Emang Mbak bisa bahasa Inggris?" tanya perempuan itu.
Hana menggeleng.
"Sayang sekali, mungkin Mbak bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain."
"Oh, terima kasih, Mbak."
__ADS_1
"Sama-sama."