Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_79 Karena Cinta


__ADS_3

Sesaat kemudian, Pria itu menindih tubuh Hana dan tersenyum puas.


"Sayang, aku punya pertanyaan untukmu? kau harus jawab jujur jika kau ingin terlepas dari diriku," kata Pria itu sembari mengelus-elus pipi Hana yang masih enggan membuka mata.


"Apa itu, katakanlah? Aku pasti jawab, Tuan," kata Hana secepatnya.


Pria itu berpikir sejenak.


"Em.. begini. Kau itu sangat cantik pasti kau pernah jatuh cinta kan? Siapa nama pemuda yang kau cintai itu?" tanya pria itu ingin tahu. Di kecup nya lagi bibir Hana membuat Hana mengerutkan dahi.


"Apa pentingnya kau tau, kau mau menyakiti dia kan?" Ucap Hana terdengar sewot.


Pria itu mengulum jari telunjuk Hana dan memainkannya.


"Hahaha.. kau terlalu negatif, Sayang. Katakan saja maka kamu akan aku lepaskan. Jika kamu tidak mengatakannya itu artinya kamu menerima pernikahan kita ini dengan ikhlaskan?" ujar pria itu lagi.


Hana menggigit bibir bawahnya, Ia masih ragu mengatakan kebenaran pada pria aneh itu.


"Saya telah jatuh hati pada mantan suami saya, Tuan. Dia berjanji akan datang menyelamatkan saya dari pernikahan saya dan Rangga tapi nyatanya dia tidak datang. kemungkinan karena dia tidak mengetahui hal itu."


Tak terasa air mata Hana membasahi sprei putih itu. Harapannya ingin bersama Melvin telah pupus entah apa reaksi Melvin jika nanti Melvin mengetahui semuanya.


"Oke, apa kau yakin dengan perasaan mu itu atau karena kau hanya iba saja padanya kudengar dia melarat sekarang?" tanya pria itu lagi.


Hana menggeleng pelan.


"Perasaan itu ada sejak dia merawat ku ketika aku sedang sakit. Aku yakin Ia menceraikan ku karena dia terpaksa, Tuan. Soalnya dia orangnya labil. Dia sangat mudah terpengaruh pada perkataan orang lain," Jujur Hana. Ia mengatakan itu tanpa kepalsuan sedikit pun.


"Aku tidak memandang statusnya sekali pun Ia tak punya apa-apa. Tapi apalah dayaku, aku terlilit hutang yang tak sanggup ku tebus selain menjadi istri orang yang membantuku," lanjut Hana kelu.


Pria itu meneguk salivanya lalu turun dari tubuh Hana dan menyelimutinya sampai ke dada.


"Terima kasih atau kejujuran mu, Sayang," desis Pria itu agak samar.


Hana mengernyit bingung, Ia mencoba memahami suara pria itu mendadak berubah tak seperti tadi.


"Apa ada orang lain disana?" tanya Hana pada pria itu.


Pria itu mengembangkan senyum lalu mencubit gemas hidung Hana.


"Aku sudah membunuh pria itu dengan tanganku tadi," kata Pria itu.


Hana menganga heran, Ia tidak yakin semudah itu.


"Sejak kapan? mengapa aku tidak mendengar apa keributan apapun. Bahkan dirimu masih disini?" ucap Hana sangat yakin.


Lelaki itu merengkuh erat tubuh Hana, Ia menciumi dada mulus milik Hana dengan lembut.

__ADS_1


Hana menggelinjang merasai hidung dan bibir pria itu menempel dikulit nya.


"Si.. siapa kamu? me.. mengapa suaranya terdengar tidak asing?" tanya Hana gagap.


Pria itu tertawa lepas.


"Bagaimana kau mengetahui ada ular di sampingmu jika kau terus memejamkan mata," kata Pria itu menggoda.


"H.. ha? ular? mana ular?" Hana takut dan berbalik memeluk erat Pria itu.


Hana terkejut ketika bola matanya menyaksikan sendiri wajah pria yang di cintai nya lah yang tengah ada di sampingnya.


Wajah yang semula mendung itu perlahan memudar berubah menjadi secerah sinar mentari pagi.


"Melvin, kau? Kenapa kau ada disini? lalu dimana pria aneh itu?" Hana memukul kecil dada Melvin. Ia tetap tidak percaya akan hal itu.


Hana mencubit lengannya untuk memastikan lagi kalau Ia sedang tidak bermimpi ada bersama Melvin.


"Aw, sakit.." pekiknya meringis. "Aku pasti sedang berhalusinasi, aku pasti sudah gila? Bagaimana mungkin wajah pria itu terlihat seperti Melvin."


Hana memukul-mukul keningnya dan berbalik lagi tidak mau melihat wajah Melvin.


" I Love You," kicau Melvin dengan merdu di telinga Hana membuat bulu kuduk Hana serasa berdiri.


"Ahk, pergi jangan ganggu aku. Otakku pasti tidak waras.


Hana melirik tubuhnya bermaksud mengatakan kalau pria itu telah menelanjanginya. Secepatnya Hana mendudukian diri dan melingkarkan kain tebal itu ketubuh nya karena malu.


Melvin ikut duduk dan memeluk Hana dari belakang. Ia memainkan ujung rambut Hana dengan jari telunjuknya.


"Kau masih malu denganku?" Melvin mulai nakal menyelusup kan kepalanya di leher Hana.


Tidak mendapatkan jawaban, Melvin menunjukkan topeng kulit yang Ia pakai tadi.


"Lihat ini, wajah pria aneh itu mengelupas dan hanya tersisa ini setelah ku semprot dengan cairan semarmesem," kata Melvin merayu Hana agar benar-benar sadar dari kepanikan.


Hana akhirnya tertawa akan kata-kata Melvin.


"Jangan-jangan kau sedang menggunakan sihir mak lampir untuk berubah wujud," balas Hana mulai berdamai dengan keadaan.


"Oh iya kamu benar bahkan selama dua hari dua malam aku tidak tidur demi membuatmu bisa terkena Ilmu Nyi pelet yang ku pinjam," balas Melvin lagi.


Hana menoleh kearah Melvin hingga pipi itu menabrak hidung yang sudah menengadah di atas pundaknya.


Hana tersipu, Hatinya di penuhi bunga-bunga bermekaran. Ia masih belum mempercayai kejadian hari ini. Semua sudah seperti drama di dalam sinetron televisi, mustahil dalam angan namun nyata adanya.


Hana ingin bertanya lagi tapi tiba-tiba perutnya terasa mual.

__ADS_1


Hoek.. Hoek..


Melvin langsung panik melihatnya.


"Ada apa, Sayang?"


"Aduh perutku sakit dimana kamar mandi nya?"


Melvin menunjuk ke arah pintu tapi tak membiarkan Hana pergi sendiri karena selimut itu membuatnya kesulitan berjalan.


Hana memuntahkan semua isi perutnya tanpa sisa di wastafel.


"Kamu sakit ya, apa kamu belum sarapan tadi?" tanya Melvin menyentuh kening Hana. Tapi tidak panas yang ada hanyalah keringat dingin yang keluar.


"Aku sarapan kok, mungkin karena aku stress hari ini," jawab Hana menatap penuh makna Wajah Melvin.


"Iya, maaf. Hari ini pasti terasa berat untukmu." Melvin memutuskan menggendong tubuh Hana dan merebahkan nya di kasur.


"Vin, aku_."


"Simpan pertanyaan mu nanti setelah kau membaik," kata Melvin. Melvin buru-buru keluar dari kamar itu. Hana tidak tahu apa yang dilakukan Melvin karena bertanya saja Melvin melarangnya.


Beberapa menit kemudian Melvin kembali. Rupanya Hana tengah tertidur pulas.


Melvin duduk di tepi ranjang dan memandangi wajah istri yang kini menjadi pemandangan berharga di dalam mata elangnya.


Melvin tahu pasti Hana kurang tidur beberapa hari terakhir ini gara-gara terkekang hingga membuat kesehatan tubuhnya menurun.


Tak lama, Melvin mendengar notif masuk dari Dafa yang mengabarkan kalau Rangga telah masuk ke gudang dimana wanita yang dikira Maya itu sedang di sekap.


Gegas Melvin membalas pesan Dafa dan secepatnya memeriksa barang-barang yang di pakai Hana tadi.


Melvin melihat ada yang ber kelip merah tak kasat mata ada di bagian hiasan kembang di depan gaun itu.


Setelah mengamati benda itu Melvin tahu kegunaan benda itu. "Sial, jadi Ia sudah menyiapkan semua ini. Berarti dia mendengar semua obrolan ku dengan Hana barusan," gumam, Melvin kecolongan.


Melvin mendapat notif lagi kali ini dari Rangga.


(Kau akan melihat Ibu mu mati, Melvin)


klunting!


Rangga mengirim vidio. Vidio itu menceritakan kalau Rangga tengah memasukkan obat kedalam gelas yang akan Ia berikan pada wanita yang wajahnya masih terbungkus kain hitam dan diyakini adalah Mama Maya.


Melvin mendapat notif lagi.


(Kembalikan Hana, atau Ibu mu akan mati)

__ADS_1


__ADS_2