Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_22 Hadiah Dan Acara Manggang


__ADS_3

Kamar itu sangat indah, bertabur bunga di atas sprei berwarna Putih diatas ranjang. Semerbak harum aromatherapy ruangan menghinggapi hidung keduanya.


Melvin dan Hana saling berpandangan, mereka tidak tahu maksud dari yang mereka lihat tersebut.


Plok!


Seseorang menepuk pundaknya membuat mereka berdua berbalik


"Tara..." Mereka cukup ramai Rupanya.


"Selamat siang Pak Melvin, Nona. Kalian pasti terkejut ya?" ujar Pak Dikha.


"Wah, Istri mu cantik sekali Pak Melvin. Pasti kamu betah ya dikamar ditemenin bidadari lo," goda Bu Niken.


Melvin dan Hana tersipu


"Bapak sama Ibu bisa saja. Terima kasih ya ini diluar pemikiran saya." Melvin berupaya memperlihatjan kebahagiaan.


"Ini adalah hadiah kejutan untuk kalian, Pak." Pak Dikha tersenyum sembari merangkul wanita di sampingnya dan sudah dipastikan wanita itu adalah istrinya.


Melvin mengernyitkan dahi, Ia menjadi tidak enak hati akan kebaikan rekan-rekannya.


"Tapi dalam rangka apa ya, Pak? Bukan kah ini bukan hari ulang tahun ku atau pun karena peresmian proyek yang belum saja kita mulai?" Melvin mengusap keningnya sedikit malu.


"Kalian kan pengantin baru, Pak. Jadi ini adalah hadiah pernikahan dari kami semua untuk anda," sahut rekan bisnis lainnya.


"Iya Pak Melvin, kami sangat menyayangkan tidak bisa menghadiri pernikahan kalian karena sangat dadakan. Jadi saat Pak Dikha dan Bu Niken mengusulkan kejutan ini kami menjadi antusias menyediakan nya," sahut sekertaris Melvin yang juga ada disana.


Melvin mengatupkan tangan.


"Terimakasih banyak Pak Dikha, Bu Niken dan semuanya. Karena sudah repot-repot menyediakan hadiah istimewa ini."


Pak Dikha dan yang lainnya tertawa bahagia.


"Nanti malam kita party di pantai, kita bikin acara manggang-manggang ya!" pesan Pak Dikha.


"Oke, Pak. Beres," jawab mereka serempak.


"Ingat ya Pak Melvin jam tujuh malam, jangan lupa bawa istrimu. Nanti dicuri orang kan bahaya," canda Pak Dikha.


"Hehehe.. iya Pak." Melvin sok romantis merangkul Hana.


"Ahk, Pi. Kok mereka sweet banget Mama mau lah kayak mereka," rengek Bu Niken.


"Iya, iya, gak malu ama umur apa, Ma? Ayo kekamar nanti yang jomblo ngiler lo!" Pak Dikha sangat romantis dan banyak kelakar rupanya. Ia juga merangkul istrinya masuk ke dalam kamar.


"wah, aku yang jomblo ngenes ni," sahut Dafa.


"Sama aku aja Mas Dafa," sambung sekertaris Melvin.


Mereka semua pun kembali tertawa.


Beberapa saat berlalu Mereka semua berpamitan. menyisakan Melvin dan Hana yang saling berpandangan. Melvin kemudian mengambil koper yang mereka bawa untuk secepatnya masuk kedalam diikuti oleh Hana.

__ADS_1


Melvin merebahkan tubuh di sofa. Lelah dalam perjalanan membuat tubuhnya terasa sakit semua.


Hana sangat pengertian, Ia bergegas melepas sepatu yang masih melekat di kaki Melvin hingga Melvin berulang kali dibuat tercekat.


"Maaf, biar kamu bisa istirahat dengan nyaman," tukas Hana karena Melvin memperhatikan dirinya terus menerus.


Melvin tak menjawab dan hanya melihat Hana masuk kekamar mandi.


Sekitar dua puluh menit lamanya, Hana selesai dengan aktifitasnya. Ia keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Mungkin Melvin telah terlelap karena Ia menutup wajahnya dengan koran.


Hana membuka koper dan memilih dress mini yang nyaman.


Ia memakai nya didepan pantulan cermin. Hana kesulitan menaikan ress sleting dress dibelakang punggungnya. Ia menggerakkan-gerak kan kedua tanganya mencari keberadaan dari sleting itu.


Melvin sebenarnya tidak tidur dan memperhatikan kegiatan Hana. Ia menjadi gemas melihat tingkah Hana yang sangat menyebalkan sekali baginya.


Melvin memutuskan bangkit dari sofa dan membantu Hana.


Hana sedikit terkejut Melihat Melvin sudah ada dibelakangnya dari dalam pantulan cermin.


Melvin meneguk salivanya, punggung mulus Hana terbuka lebar di depan matanya hingga ke pinggang.


Melvin membuang perasaan liar itu dan segera menaikkan sleting dress tersebut perlahan-lahan.


"Terima kasih," lirih Hana. Setelah Melvin menyelesaikan bantuannya.


Melvin tak menjawab dan ganti masuk kekamar mandi.


Tepat pukul tujuh malam, mereka sudah berkumpul di pantai ditemani lampu warna warni yang berkedip.


Cahaya bulan juga ikut bercahaya remang menyinari seonggok hati yang penuh kabut. Musik syahdu juga mengiringi aktivitas mereka yang tengah memanggang Ayam dan membakar sate daging kambing.


Salah satu nya adalah Hana dan Melvin yang ikut sibuk. Hana dan Bu Niken membuat bumbu untuk menu makanan mereka sedangkan Melvin dan Pak Dikha ikut nimbrung mengipas sate yang berjajar diatas bara api.


"Aduh, ingat masa sekolah dulu ya, Pak," tukas Pak Dikha pada Melvin.


"Iya Pak Dikha, malah aku yang ngabisin semuanya," jawab Melvin.


"Wuiiih, Pak Melvin rakus juga ya," sela Dafa.


"Hahaha... jiwa pemuda nya tinggi tu," guyon Pak Dikha


Melvin nyengir.


"Hehehe... iya Pak. Maklum anak badung."


Pak Dikha manggut-manggut.


"Kau hebat Pak Melvin, diusia mu yang masih muda kau sudah mendapat gelar pengusaha sukses," puji Pak Dikha.


"Bapak bisa saja, aku jatuh bangun karena nya." Melvin merendah.


Pak Dikha kemudian mengangkat alisnya berulang-ulang guna meminta Melvin melihat kearah Hana.

__ADS_1


"Nemu dimana?" tanya Pak Dikha lirih.


Melvin menatap tajam kearah Hana yang tak kalah seru ngobrol dengan Bu Niken dan kaum cewek.


Selalu daja ada desiran aneh yang Ia rasakan saat melihat perempuan itu tapi Ia tidak paham.


"Aku bahkan tidak merencanakan pernikahan itu, Pak," jawab Melvin dingin.


Pak Dikha tercengang.


"Loh, kok bisa. Tapi kenapa bisa nikah sama dia kalau Bapak tidak merencanakan nya?"


Melvin menggaruk pelipisnya dan berganti nyengir.


"Mungkin sudah jodoh, Pak," jawab Melvin lagi.


"Oh begitu, jodoh memang datang tak disangka bahkan yang kita kejar belum tentu jadi jodoh kita." Pak Dikha meniup api pemanggangan agar tetap normal.


"Kamu kapan, Dafa?" Pak Dikha beralih kepada Dafa.


"Ha?" saya Pak?" Dafa menunjuk dirinya.


Pak Dikha melirik Dafa.


"Iya to, siapa lagi? emang ada berapa yang namanya Dafa disini?"


"Hehehe.. saya sendiri, Pak."


"Ehk, itu sekertaris Pak Melvin cantik no. Gak tertarik kamu?"


Pak Dikha mendekatkan kan kepalanya pada Dafa yang berada disampingnya.


Dafa nyengir lagi menunjukkan jejeran giginya yang gingsul.


"Masih perkenalan karakter, Pak," elaknya. Dafa sebenarnya tidak terlaku suka cewek yang berdandan menor. Apa lagi sekertaris Melvin make-up nya mungkin tingginya dua cm dari dasarnya.


"Dia itu pemilih, Pak," sindir Melvin.


"Ya, jangan keseringan milih lah. Kamu malah bingung sendiri, nanti," tukas Pak Dikha.


"Iya Pak. Enggak kok," jawab Dekha.


Hana melangkah mendekat dan mulai mengoleskan bumbu keatas sate yang terpanggang di depan Melvin dan yang lainnya. Aroma sedap mulai memasuki Indra penciuman mereka.


Melvin tak henti-hentinya memperhatikan aktivitas Hana. Ada kekaguman tersendiri di dalam lubuk hatinya.


Melvin baru sadar kalau cuaca sangat dingin, tapi Hana hanya memakai dress tampa lengan.


Hana hendak meletakkan bumbunya kembali keatas tikar tapi Melvin dengan cekatan menahan tangannya.


Hana berbalik dan melihat Melvin melepaskan jaket yang berlapis kaos oblong hijau tua yang dipakainya.


"Pakai Ini." Melvin menyampaikan jaket itu ke pundak Hana. Entahlah apa itu pemikiran Hana sendiri, Hana selalu bingung dengan sikap Melvin yang berubah-ubah seperti kepompong. Kadang Baik, kadang juga kasar tampa sebab pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2