Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
104 Kelahiran Yang Dinanti


__ADS_3

"Ampun, Vin. Tolong lepaskan saya!" Wajah yang dipenuhi lebam membiru dan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya memohon belas kasihan.


"Aku akan melepaskan mu jika kau mengaku apa tujuan mu melakukan ini?" Melvin menekan kedua sisi bibir Arya.


"A_ aku bukan Arya tapi a_ aku adalah Leo suami Clara." Pria itu mengungkap kebenaran.


"Apa? keterlaluan, lalu kenapa wajahmu bisa begini, ha? terus yang katamu Leo sahabat Arya maksudnya apa?" Melvin tetap pada posisinya menindih tubuh pria yang mengaku Leo itu.


"Du_ dulu aku memang sahabat Arya dan juga Rangga, Vin. Tapi karena Rangga selalu curhat padaku cintanya direbut oleh kakak mu, Arya. Aku pun ikut membenci Arya. Aku baru tahu, kau ternyata adalah pria yang menikahi Hana juga adalah Kekasih Clara."


Leo terengah-engah menjelaskan semuanya. Tubuh Nya terasa ngilu.


"A_ aku melakukan ini karena dendam padamu. Aku rela dioperasi wajah untuk membalas rasa benciku dan sekaligus membantu Rangga," ujarnya melanjutkan.


"Sialan! kau pikir kau sudah hebat, Ha?" Kemarahan Melvin malah bertambah membumbung mengetahui kenyataan itu.


Bug!


Pukulan terakhir singgah lagi di pipi Leo barulah Melvin melepaskannya.


Dafa dan asisten Melvin serta beberapa polisi tiba, Mereka langsung menyergap Leo dan memborgol tangannya.


"Bos, Maaf kami datang terlambat." Dafa menarik Arya bangkit.


"Tolong penjarakan dia sampai batas waktu yang lama, Pak. Saya punya semua bukti untuk menjerat Ia seumur hidupnya!" tukas Melvin tegas pada para polisi itu.


"Siap, Pak."


"O ya ada satu lagi dalangnya orang itu tak boleh selamat," tukas Melvin lagi, tak ada ampunan untuk biadab seperti mereka.


"Iya, Pak. Rangga juga sudah merencanakan pembunuhan berencana pada Mas Arya lima belas bulan yang lalu," imbuh Hana. Ia yakin itu adalah waktu yang pas untuk membeberkan kebenarannya.


Melvin mengernyit kan dahi, atas ungkapan sang Istri.


"Dari mana kamu tahu, Sayang?" Melvin memegang kedua sisi pundak Hana dengan tatapan penuh arti.


"Iya, aku melihatnya sendiri dia menyuruh orang yang membekap Mama waktu itu saat aku mau dinikahinya untuk membunuhmu. Orang itu terang-terangan bilang kalau Ia akan melakukan hal yang sama seperti yang Ia lakukan pada saat Mas Arya mengalami kecelakaan pada dirimu," jawab Hana sepenuhnya.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang, Sayang?" Melvin tak mengerti maksud Hana baru memberitahunya sekarang.


"Maaf, Vin. Aku tak sempat mengatakan nya karena orang ini keburu muncul." tunjuk Hana pada wajah Leo.


"Baiklah, kalian tenang saja. Kami akan melakukan penangkapan untuk Pak Rangga," kata polisi itu.


Setelah urusan selesai para polisi itu membawa Leo untuk di adili. Ada rasa puas di wajah Melvin dan keluarga sudah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


"Maaf, Ma. Ternyata Kak Arya memang sudah pergi. Aku rasa kita memang harus mengikhlaskannya." Melvin memeluk Mama tercintanya.

__ADS_1


"Gak papa, Vin. Mungkin ini memang sudah jalannya. Arya kakak mu sudah benar mengamanahkan Hana kepadamu." Mama Maya mengusap pipi menantu kesayanganya itu.


Melvin terkejut, Hana tiba-tiba mengeerang sakit.


"Aduh, perut ku sakit, Melvin ku. Aduh, sakit!" Hana terus berteriak histeris sesuatu keluar dari bagian intinya pecah sampai membasahi lantai.


"Vin, istri mu mau melahirkan. Ayo kita kerumah sakit!" Mama Maya segera mempersiapkan segala sesuatunya.


Tak lupa Melvin berpesan pada Dafa.


"Daf, bawa surat yang ku kirim semalam jika nanti ada kabar baik dari kepolisian!"


"Baik, Bos. fokus saja sama Nona," jawab Dafa dari kejauhan.


"Aduh, Melvin ku. Sakit..." Hana mencengkram tangan Melvin yang menuntunnya masuk kemobil.


"Sabar, Sayang. Kamu yang tenang ya..." Melvin ikut menggigit bibir melihat Hana di penuhi keringat.


"Nak, tarik nafas panjang dan keluarkan. Kita akan segera sampai dirumah sakit," Kata Mama Maya. Beliau baru menyusul setelah membawa persiapan.


Hufffh!


Hana melakukan apa yang Mama Maya katakan.


"Bagus itu akan membantu mu."


Perut itu seolah di tusuk-tusuk ada yang berlomba hendak keluar di bagian bawah sana.


"Melvin, sakit!" Hana terus berteriak tanpa henti. Sesekali Ia menggigit lengan Melvin.


"Aduh, Sayang. Lakukan saja jika itu mengurangi sakit mu!" Melvin sudah tidak memikirkan lagi bekas luka goresan ditangan dan kakinya walaupun darahnya masih mengalir meninggalkan bekas di lantai di kalahkan oleh kepanikan mendengar tangisan sang Istri.


pasti sakitnya amatlah hebat, hingga Hana tak lagi bisa diam.


Sesampainya di rumah sakit. Hana langsung mendapat penanganan di ruang persalinan.


"Kalian boleh keluar, biar kami yang tangani!" itu adalah perintah Dokter Litha salah satu yang membantu Dokter kandungan.


"Tapi, Dok. Aku mau sama suami aku, Dok." Hana menimpali.


"Suaminya biarkan disini, Dok. Dia bisa jadi sumber kekuatan sang istri," jawab Dokter kandungan itu.


"Oh Iya, Dok." Dokter Litha kalah suara dengan Dokter Leni.


Euh...


Hana terus mengejan tanpa henti. Tak sanggup rasanya Ia menahan diri.

__ADS_1


"Bagus, Bu. Sedikit lagi. Hitungan ketiga ya!" Dokter itu memberi aba-aba.


Eeeuh!


Ejangan panjang tersalur, lagi-lagi Hana menarik rambut Melvin dalam kungkungan tangannya.


"Sekali lagi, Bu. Satu, dua, tiga...."


AAA...! Bersamaan dengan tarikan nafas suara tangis bayi memecah ruangan itu.


Oe... Oe...


"Alhamdulilah..." Meski kepalanya sakit di tekan dan di Jambak oleh Hana seolah hilang melihat Sang Bayi sudah di depan mata.


"Tolong, urus bayi ini. Masih ada satu yang harus di urus!" Dokter Leni menyerahkan bayi itu pada seorang perawat.


"Aduh.. perutku sakit lagi." Hanya itu yang terus Hana ucapkan karena kekuatan saat Melahirkan sakitnya setara dengan dua puluh tulang yang di patahkan secara bersamaan.


"Dokter Litha, tolong berikan sensasi pijatan di atas perutnya!" titah Dokter Leni.


Rasa enggan ada, Membantu Hana sama dengan mengikhlaskan Melvin untuk nya. Tapi Dokter Litha tidak punya pilihan lain selain menurut Dokter berpangkat lebih tinggi darinya.


"Baik, Dok." Dokter Litha melakukanya dengan perlahan.


"AAA.. sakit!"


Hana mengejan lagi.


"Terus, Nona. Sebentar lagi, kepalanya sudah kelihatan." Dokter Leni memberi semangat.


AAA...


"Terus, Nona. Satu kali lagi!"


AAA...


Hana menjewer telinga Melvin sampai berubah merah.


Ingin rasanya Melvin ikut menjerit namun Ia tahan, Ia katup kan kedua giginya kuat-kuat.


Oe.. Oe...


Keajaiban keduanya terlahir normal. Dokter Leni ganti meminta Dokter Litha mengurus satunya.


Ada kebahagian tersendiri bagi sang Dokter mampu menolong Ibu-ibu hebat melahirkan seperti yang Ia lakukan pada Hana.


"Alhamdulilah, Sayang. Anak kita sudah lahir." Melvin tak dapat berkata-kata. Ia mengecup kening Hana cukup lama sebagai bentuk terima kasihnya memberikan dua orang anak sekaligus.

__ADS_1


"Alhamdulilah, Tuan. Nona Hana melahirkan dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan sehat." Berita itu menyempurnakan harapan Melvin, memang itu yang Ia mau adalah mendapatkan dua orang jagoan.


__ADS_2