Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_84 Memanjakan Istri


__ADS_3

Assalamualaikum wr. wb.


Pertama-tama saya mau mengucapkan Maaf ya. Karena membiarkan reader kesayangan menanti kelanjutan Melvin dan Hana. Mohon ke makluman nya karena beberapa hari ini kondisi saya kurang sehat.


Saya juga memohon pada reader tercinta untuk tetap setia mendukung cerita saya. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote and rate bintang limanya. Syukur gift nya juga banyakin ya. Hehehe 😊😊😊


Wasalam....


...🍀🍀🍀🍀...


Cukup lama dalam kesibukan di dapur, Melvin membuat Mama Maya terkagum-kagum. Sungguh itu di luar pengetahuan dirinya sebagai orang tua dari Melvin yang cenderung sangat pendiam, keras kepala dan juga memiliki perangai labil.


"Waw, kau bisa masak makanan Indonesia juga, nak?" tanya Mama Maya penuh takjub.


"Iya dong, Ma. Walaupun lama di Eropa. Melvin mencintai makanan negara sendiri," jawab Melvin menyunggingkan senyum sembari memindahkan hasil masakannya kedalam mangkok.


Melvin memasak pindang ikan nila yang terlihat sangat enak. Juga beberapa menu lainnya seperti sayur lodeh dan tumis kangkung kesukaannya.


"Wah, nampaknya kita tida perlu lagi ni cari ART. Kau saja yang masak di rumah ini. Ada koki andalan Mama rupanya," canda Mama Maya.


"Mama bisa saja, aku hanya ingin memanjakan Mama dan istri ku," jawab Melvin yang tengah memblender cabe, tomat dan beberapa rempah-rempah sebagai bumbu daging Ayam.


Mama Mata senyum-senyum mengamati wajah ceria putranya dan itu kali pertama di lihatnya. Sebagai seorang Ibu tentu Ia ikut bangga pada putranya.


"Semoga kau bahagia ya, Nak. Mama harap kau tidak mengulangi kesalahan lagi pada istri mu," ucap Mama Maya terharu.


Melvin mengangguk.


"Tentu, Ma. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Makasih ya Ma sudah mendukung Melvin selalu."


"Itu sudah kewajiban Mama, Sayang. Ya sudah Mama pergi dulu ya. Mama mau cari sesuatu."


"Oke, Ma."


Mama Maya mengakhiri obrolan bersama Melvin dengan mengecup pipi Melvin.


Usai menyelesaikan aktivitasnya. Melvin menyiapkan hasilnya ke dalam sebuah nampan untuk Hana. Di bawanya dua porsi makanan itu menuju kamar.


Melvin tidak lagi menemui Hana di atas ranjang. Kemungkinan Hana tengah melalukan ritual mencuci tubuh.


Melvin meletakan makanan di atas meja dan memilih duduk.


Tapi tidak, ia mendengar sesuatu dan salah menduga. Ia mempertajam pendengarnya. ya, dia mendengar Hana muntah-muntah di kamar mandi.


"Astaga, Sayang." Melvin berlari dan melihat Hana begitu lemas.


"Kamu kenapa, Sayang? kamu sakit?" tanya Melvin yang melihat Hana masih terbungkus selimut.


"Maaf kepala mu pusing dan perut ku mual, Vin," jawab Hana dengan wajah pucat.

__ADS_1


Melvin menyentuh kening Hana melalui punggung tangannya. Benar saja suhunya terasa panas.


"Ya sudah, kamu mandi air hangat saja ya. Setelah itu kita periksa," ucap Melvin menyarankan. Melvin menyelup kan tangannya ke bak penampung air dan air itu terasa dingin.


Melvin menghidupkan shower air panas agar Hana bisa mandi air hangat.


Yakin sudah hangat Melvin berbalik menatap Hana dan mengulas senyum.


Kemudian Ia hendak membuka selimut yang membungkus tubuh Hana tapi Hana menahannya.


"Mau apa?" ucap Hana tersipu setengah menunduk malu.


Melvin mengusap pipi Hana dan tersenyum. Istri nya begitu pemalu padanya. Di sana lah Cinta di hati Melvin semakin subur.


"Aku mau membantu kamu, Sayang. Emang gak boleh ya?" tanya Melvin di balut senyum tipis memperlihatkan ketampanannya.


"Biar aku sendiri," tolak Hana. Di dorongnya tubuh Melvin agar mau keluar.


"Sayang, kamu kan lagi sakit. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana?" Melvin menahan tubuhnya di ambang pintu agar Hana tidak memaksanya.


"Melvin, aku ini sudah dewasa. Aku bisa mandi sendir kok," ucap Hana yakin dan kesal.


Melvin mengangkat alisnya menatap lekat wajah Hana.


"Oke, baiklah. Tapi ingat ya, panggil aku kalau ada apa-apa." Tentu saja Melvin harus berpesan karena Ia mengkhawatirkan kondisi Hana.


Hana terkekeh dan mengangguk.


Melvin menghembuskan nafas kasar di tolak mentah-mentah oleh sang Istri membuatnya tersenyum aneh.


"Dasar, istriku. Kapan dia akan berubah?" rutuk Melvin seorang diri.


Baru mendaratkan lagi bokongnya di sofa, belum juga tenang Melvin di kejutkan oleh dering nyaring suara ponselnya.


Melvin bangkit dan memeriksa. Panggilan itu datangnya dari musuh bebuyutannya Rangga.


"Ngapain lagi dia? belum cukupkah membuat kekacauan?" tanya Melvin seorang diri.


Melvin menolak panggilan itu.


Namun tak lama ada notifikasi masuk. Rangga mengirim gambar tentang kondisi Prabu.


Melvin Kaget saat melihat beberapa foto mengenaskan kondisi Prabu yang tak berdaya di atas ranjang.


Di geser-gesernya layar itu untuk di lihatnya berulang-ulang. Hatinya memanas dengan pesan bergambar itu.


"Keterlaluan, Rangga. Apa yang dia lakukan pada Papa sampai Papa sakit parah begini?" gumam Melvin setengah bingung.


Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu hal yang membuatnya enggan adalah karena Sang Papa tidak pernah peduli akan Ia dan Mamanya. Tapi di sisi lain hatinya tidak tega. Haruskan dia menolong Prabu saat Prabu tidak berdaya seperti saat ini.

__ADS_1


Melvin mengacak-acak rambutnya. Rasa kesal pada Rangga menyeruak di dadanya.


Hana heran melihat Melvin bersikap tidak sewajarnya.


"Kenapa, Vin? ada masalah?" Hana mendekat dan ingin melihat ponsel di tangan Melvin tapi Melvin secepatnya mematikan ponselnya.


"Su.. sudah selesai, Sayang?" tanya Melvin liar memandangi Hana yang hanya mengenakan handuk.


Melvin tidak ingin Hana tahu apa pun. Sudah cukup Hana terjerembak ke dalam arus derita di dalam hidup sepanjang mengenal keluarganya sejak bersama Arya dulu.


Gejolak badai juga selalu menerpa hubungan keduanya pastinya, karena Melvin pernah mendengar sendiri kalau Arya pernah akan di jodohkan dengan putri Pak Dikha.


Prabu dan Maya juga sempat menentang hubungan itu. Maka dari itu Melvin menegaskan diri kalau mulai saat ini Ia ingin Hana bahagia di sampingnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Cuma ada pesan dari orang penting rekan kerjaku," jawab Melvin disertai kejahilannya mengacak-acak rambut wanitanya yang masih basah.


Hana mengembungkan pipi menerima perlakuan suaminya itu. Hatinya terasa bahagia kala Ia tahu Melvin memiliki perasaan serupa denganya yaitu mencintai dirinya seperti sekarang ini.


"Maaf, aku bangun kesiangan," ucapnya nyengir.


Melvin menarik kepala Hana dan mendaratkan di dadanya.


"Tidak apa, Sayang. Melihatnmu bisa tersenyum saja aku sangat bahagia. O ya.. apa perutmu masih mual?" Melvin mengusap perut Hana di balik balutan handuknya.


Hana menggeleng kecil mendongak kearah wajah Melvin.


"Tidak apa, kurasa aku sudah membaik."


Hana tidak ingin menyulitkan Melvin, Ia ingin semua masa kelam itu tidak terulang lagi. Setidaknya dengan bilang Ia baik-baik saja itu akan membuat Melvin menjadi tenang.


Melvin mengamati Hana dan masih tertegun.


"Kenapa?" Hana menaikan handuknya takut turun kebawah.


Melvin mengulum tawa. Ia tidak tahu mengapa Ia ingin terus melihat Hana yang begitu menggemaskan bola matanya.


"Kenapa belum pakai baju?" tanya Melvin mengerutkan dahi.


"Aku belum punya baju kan?" tanyanya terlihat sedih. "Bajuku tertinggal semua," lanjutnya manyun.


Melvin terkekeh lepas dan mencubit kedua pipi Hana.


"Astaga, kau benar. Ya sudah kau begini saja di dalam kamar. Biar cukup aku yang lihat," ucap Melvin menggoda.


Hana menganga kesal.


"Is, tega sekali diri mu. Emang aku kambing apa di kurung terus menerus sekalian aja di rantai," jawab Hana sewot. Kedua bola matanya membulat sempurna.


Melvin mendekatkan kepalanya ke wajah Hana membuat Hana menarik tubuhnya kebelakang.

__ADS_1


"Ma.. mau apa?" ucapnya gagap.


__ADS_2