
Beberapa detik kemudian Hana mengigau.
"Mas Arya, kenapa Mas Arya bilang begitu? Melvin sangat baik, Mas," ucapnya lembut.
Melvin tertegun, Wanita itu masih saja membelanya walaupun di alam bawah sadarnya sekali pun.
Hana masih memejamkan mata, Ia merasa gelisah. Pasti Hana tengah bermimpi buruk di sana.
"Mas Arya!" teriaknya hingga terbangun. Ia tak peduli Melvin di dekatnya. Hana menarik tubuh Melvin dan memeluknya.
"Aku takut." Hana terisak-isak.
Melvin cukup kaget, tubuhnya membentur dua gundukan kenyal milik Hana. Melvin melirik ke bawah dan melihat dua mahkota itu tertekan.
Melvin memalingkan wajahnya, Ia merasa tegangannya berdiri.
"Han, kau baik-baik saja?" hanya pertanyaan itu yang ada di benak Melvin.
Hana mengangguk.
"Jangan tinggalin aku sendiri, aku takut," rengek Hana pada Melvin.
Melvin memandangi wajah Hana, Wajah teduh yang menyejukkan. Keduanya saling bertukar tatapan.
Melvin terpantik pada bibir pucat Hana. Ia mengusap bibir itu perlahan supaya menimbulkan kehangatan.
"Kamu tenang saja, aku menunggumu di sini," jawab Melvin.
Melvin masuk kedalam kardus itu dan melepaskan baju basah miliknya agar tidak membuat Hana kian kedinginan.
Melvin kemudian memeluk Hana yang menyelinap masuk ke bagian lehernya.
Hana dan Melvin membisu, ada sesuatu yang mereka sembunyikan tapi mereka tidak berani mengatakannya.
"Tidurlah, Han. Aku hanya ingin membuatmu merasa hangat," desis Melvin mengusap-usap rambut Hana.
Hana berusaha memejamkan mata tapi Ia tidak bisa bahkan Melvin sudah terlelap lebih dulu.
Hana tersenyum bisa menikmati wajah Melvin leluasa saat Melvin tengah tertidur. Melvin telah memiliki hatinya tapi Ia tidak bisa lagi bersama dengan pemuda itu. Pastinya karena Rangga juga sudah mengikatnya dengan surat perjanjian. Dari sisi lainnya, Hana juga tentu mengira kalau Melvin tidak mungkin punya perasan pada dirinya.
"Melvin, ku rasa aku mulai mencintai mu. Seharusnya kau tidak gegabah mengakhiri pernikahan kita demi Clara. Dengan begitu kita masih bisa bersama, kan?"
Hana memainkan jari telunjuknya di dada Melvin. Ia memasang wajah manyun, jantungnya seakan berdebaran ingin dimengerti. Apalah daya, itu juga bukan keinginan nya.
"Cinta memang gila,Vin. Aku benar-benar sudah gila," gumam Hana lirih.
Melvin membuka mata, Ia sebenarnya tidak sepenuhnya tidur. Melvin melirik Hana masih memainkan telunjuknya di tempat yang sama. Di tekan-tekannya bintik hitam milik Melvin dengan gemas.
Melvin menyekal lengan Hana hingga mengejutkan Hana.
"Kau sedang apa, ha? cepatlah tidur jika tidak ingin sial." Melvin sedikit mengancam menatap Hana.
"Dasar mesum, kau pikir begini saja tidak dosa," balas Hana kesal.
"Kau beneran pengen aku khilaf ya sekarang?" Melvin menggoda.
"Ha? apa maksud mu? jangan macam-macam ya. Kita bukan mukhrim sekarang," tampik Hana.
__ADS_1
"Oke, bagaimana kalau kita kembali," sahut Melvin sungguhan.
Hana menatap lekat bola mata Melvin.
"Terlambat," ucapnya lemas.
Melvin semula bersemangat jadi terdiam.
"Kau sudah punya kekasih ya?"
"Tidak," jawab Hana sedih.
"Lalu apa?"
"A.. aku, ha.. rus_." Gelagapan membuat Hana kaku.
"Harus apa, Han? katakan padaku. Jika ada sesuatu yang menyulitkan mu," desak Melvin agar Hana mengakui kerisauan hatinya.
"Percuma, Vin. Bukankah kau tidak punya uang sekarang? bagaimana kau mau membantuku," ketus Hana berbalik dan menangis.
Melvin memeluk Hana dari belakang.
"Tapi aku perlu tahu masalah mu, Hana. Aku mencintainya," ucap Melvin jujur.
Hana makin terisak mendengar pernyataan Melvin.
"Kau tidak serius kan?" tanyanya.
"Aku sangat serius, Han. Aku kehilangan kamu setelah kamu pergi dari hidupku," ucap Melvin pelan di telinga Hana dan menciumi rambut Hana.
"Ini terlalu sulit, Vin. Tapi kurasa kau tidak akan mampu melakukannya," ucap Hana sedih. Bagaimana tidak, sekarang Hana tau bahkan untuk makan saja Melvin pasti kesulitan.
Di belainya wajah Hana dengan tulus.
"Kasih aku kesempatan, Han. Aku mohon..."
Hana meneguk liurnya. Ia bisa menangkap jelas ketulusan di mata Melvin.
"Aku tidak memaksa, Han. Bolehkah aku tahu, bagaimana perasan mu pada ku?" tanya Melvin ingin jawaban.
"Apa cinta itu penting?" seloroh Hana.
Melvin mengangguk.
"Kau sendiri kan yang bilang. Cinta itu datang dari sini," tunjuk Melvin di dada Hana.
Hana tersenyum miring.
"Kau benar, aku juga mencintai mu, Vin. Maaf, tapi aku tidak bisa bersama dengan mu lagi." Buliran air mata Hana mengalir jatuh. Ia sudah kehilangan semuanya. Cinta itu nyatanya bukan segalanya jika demi uang.
Melvin mengusap wajahnya.
"Katakan apa sebabnya, Han!"
"Paman Roy sakit keras, Ia kejang dan koma lalu kemudian dia kejang lagi mengakibatkan Paman Roy harus di operasi. Jantung Paman Roy bermasalah di sebabkan paru-paru Paman Roy rusak," cerita Hana.
"Kenapa kau tidak bilang?"
__ADS_1
"Untuk apa? bukankah kita bukan siapa-siapa?"
"Lalu, dari mana biaya pengobatan Paman Roy?"
"Aku meminjam pada seseorang dan aku harus membayarnya dengan cara mau menikah dengannya," ungkap Hana.
"Apa? Apa dia Rangga?" tebak Melvin asal.
Hana tersenyum kecut.
"Dia tidak mau melepaskan aku, entah mengapa dia masih sama seperti dulu."
"Berapa banyak uang itu?" tanya Melvin ingin tahu.
"Dua ratus lima puluh juta," jawab Hana singkat.
Melvin mencium bibir Hana.
"Jika aku mendapatkan uang itu, apa kamu mau menikah lagi dengan ku?"
"Mustahil, kau mau mendapatkannya dengan cara apa? kau juga sedang sengsara, bukan?"
"Katakan jawaban nya, Han. Maka aku akan mendapatkannya?"
"Aku tidak yakin," tukas Hana menatap dalam bola mata Melvin.
Melvin kembali merengkuh tubuh Hana.
"Kapan pernikahan itu terjadi?" tanya Melvin lagi.
Hana menghembuskan nafas kasar dan mengedarkan pandanganya di setiap sudut wajah Melvin.
"Minggu depan," jawabnya malas.
Melvin mengangguk.
"Tunggu aku, aku berjanji akan menemui diri mu di hari itu," ucap Melvin.
Hana menggeleng.
"Kau serius, aku berharap kau tidak berbohong, Vin."
"Aku janji, jika aku tidak datang. Kau boleh mengutukku sesuka hati mu," ucap Melvin. Ucapan nya menggetarkan hati Hana Agista.
Hana tetap kurang yakin, mungkin Melvin ingin melakukan sesuatu yang ekstrim bila benar adanya.
"Vin, jika kau benar-benar datang. Aku tidak mau polisi ikut datang dan merusak kebahagian ku," ucap Hana lagi.
Melvin mengangguk lalu menindih tubuh Hana.
"Aku mencintai mu, aku tidak ingin orang lain memiliki mu."
Melvin menyematkan kedua tangannya ke dalam dua jari jemari Hana dan menguulum bibir Hana.
Hana tak mampu menolak, Ia juga menikmati peranan itu.
Hana merasakan cinta itu benar-benar di hadirkan dari tubuh yang menyemayangi dirinya saat ini. Tidak sama seperti malam-malam itu dimana Melvin melakukanya saat Ia tengah mabuk atau pun pengaruh obat terlarang.
__ADS_1
Melvin menciumi telinga Hana. Ia hanyut dalam asmara yang membabi buta. Ya, dia sangat mencintai Hana dan ingin memiliki tubuh itu seutuhnya.
Melvin sudah berjanji dalam hati kalau dia akan menjaga dan melindungi Hana hingga akhir nafasnya mulai saat itu.