
Sssiiiittttt!
Mobil itu berhenti tepat di samping Hana, sedikit saja lebih maju tidak ada yang tau nasib Hana.
"Astaga, Hana!" Rangga kaget tak karuan kalau Hana yang hampir Ia tabrak ketika Hana menoleh.
Rangga keluar dan langsung memeluk Hana akibat diserang panik mendadak.
"Maaf, kamu hampir celaka karena aku."
"Rangga..." Hana mendorong tubuh Rangga dari tubuhnya dengan lembut. Ia tidak ingin Rangga bersikap berlebihan.
"I.. iya, maaf Hana. Aku replek tadi." Rangga menggaruk lehernya karena salah tingkah.
Hana tersenyum tipis tak seperti biasanya membuat Rangga menjadi curiga dan memantik pada map didalam tangannya.
"Itu apa?" tunjuk Rangga.
"Hem?" Sepertinya Hana tidak paham maksud Rangga.
Rangga mengambil alih map dan memeriksanya, kemudian menoleh kearah Hana dengan tatapan iba.
"Apa kau sedang mencari pekerjaan?"
Hana mengangguk berat. Putus asa dan sedih terbersit di raut wajahnya.
Rangga tersenyum, jalannya makin terbuka lebar. Tentu ini menjadi salah satu jalan untuknya mendapatkan perhatian Hana.
"Bagaimana kalau kau bekerja di kantorku?" ucapnya memberi penawaran.
Hana terkekeh miring.
"Jangan becanda, Rangga. Ijazah SMA mana mungkin bekerja di kantor. Ehk.. iya mungkin kamu punya lowongan sebagai OG?" Hana menggigit bibir mengatakan itu. Seumur-umur Ia tidak pernah mengharapkan bantuan Rangga meski Rangga sudah lama menjadi sahabatnya.
Rangga tertawa, Hana selalu membuatnya terpikat. "Jangan khawatir, kau akan sangat bermanfaat di kantorku. O iya, ayo ikut masuk ke mobil. Kita bisa saja ditilang oleh Pak polisi lewat nantinya," ucapnya guyon.
"Oh.. iya, kau benar."
Hana mengikuti Rangga. Secepatnya Rangga membawa Hana ke kantor miliknya.
Kantor Bintang Buana memang tak sebesar Wijaya Cooperation tapi Kantor itu juga adalah saingan terbesar milik Prabu Wijaya.
"Bagaimana, apa kau tertarik berlabuh disini?" Rangga mengajak Hana mengelilingi setiap sudut ruangan yang tertata sangat rapi dan minimalis.
"Em.. kantormu besar Rangga. Tapi maaf, kurasa aku tidak pantas bekerja disini."
Rangga menyatukan alisnya lagi-lagi kurang paham maksud Hana. Hana jadi tak enak hati. Ia masih membayangkan pesan Almarhum Arya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu merasa takut, Han? Kau takut aku berbuat jahat lagi?" tanya Rangga. Penjelasan Hana menurutnya sangatlah penting.
"Kasih aku waktu untuk mengambil keputusan ini. Aku berjanji jika tiga hari kedepan aku tidak menemukan pekerjaan aku akan datang lagi pada mu."
Senyum Rangga seketika mengembang dengan sempurna.
"Oke.., aku harap kau tidak pernah mendapatkannya," canda Rangga.
"Dasar kau, tega sekali begitu."
"Biar saja, aku kesal kebaikan ku selalu kau tolak."
Melvin dan Clara akhirnya resmi menikah di kantor KUA. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh empat orang satu penghulu, satu wali hakim dan dua orang saksi.
Clara sangat bahagia Ia telah berhasil mengendalikan Melvin. Sebab Clara yakin Prabu tidak mungkin menyerahkan ahli waris pada seorang anak tiri selain Melvin.
Kehidupan itu akan semakin menjadikan Ia bergelimpangan harta. Tentu butuh waktu sedikit lagi sampai ketitik dimana itu akan terjadi.
Setelah semua usai Clara dan Melvin memasuki sebuah Kafe mereka akan makan siang di sana. Melvin lupa kalau kafe itu sangat berdekatan dengan kantor milik Rangga. Mungkin hanya sepuluh menit perjalanan.
Seperti biasa, Clara pandai mengambil hati Melvin. Ia tak lelah bermanja-manja sambil menggerayangi tubuh Melvin. Melvin masih biasa, Ia hanya tersenyum kearah Clara yang selalu menempel dipundaknya. Sesekali Clara minta di suapi oleh Melvin.
Mereka tidak menyadari Hana dan Rangga yang baru masuk memperhatikan kelakuan mereka. Rangga tersenyum puas, penantian panjang untuk memiliki Hana selangkah lagi terkabul dan tentu misinya adalah untuk membuat Melvin terpuruk.
Cukup sudah hambatan dari hambatan dihadirkan oleh Arya melalu Melvin yang di jadikan sandungan untuk memiliki Hana. Hana terluka, bola matanya kembali berkaca. Ia tidak mengerti hal itu, tapi melihat itu rasanya lebih sakit dari sayatan sembilu.
Pemikiran Rangga berbeda dengan pemikiran Hana.
"Kehancuranmu akan dimulai Melvin, kau telah melakukan kesalahah besar yang akan kau sesali seumur hidupmu." Rangga diatas angin halangan malah menyingkir dengan mudahnya tanpa harus mengotori tangannya.
Tak sanggup dengan yang dilihatnya, Hana berbalik.
Bruk!
Hana menabrak seorang pelayan yang tengah lewat dibelakangnya dan menyebabkan jus menumpahi baju Hana. Kejadian itu membuat Clara menghentikan aktivitasnya menggoda Melvin.
"Aduh, maaf Mbak saya tidak sengaja. Mbak membuat saya jadi kaget," ucap si pelayan muda itu.
"Oh, Iya gak papa Mbak. Saya yang salah." Hana mengakui itu karena itu keteledorannya.
"Maaf ya Mbak, saya permisi."
"Iya silakan."
Tentu saja Melvin juga tercekat melihat keadaan itu. Ia tertaut pada Hana sibuk memeras baju kaos berlengan panjang yang menempel ditubuhnya.
Melvin meleguk salivanya, Ia berusaha mengendalikan diri untuk tidak terpancing mendekati Hana. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya tapi Ia mengabaikannya.
__ADS_1
Bukan Rangga jika Ia tidak memanfaatkan keadaan itu. Rangga melirik Melvin yang masih memperhatikan Hana hingga mengeluarkan senyum piciknya.
Diusapnya baju Hana dengan sapu tangan yang selalu Ia bawa saat Ia bepergian.
"Hana, kau baik-baik saja?" tanya Rangga.
"Iya, Rangga gak perlu repot."
Clara berdiri dan mendekati Hana. Ia ingin mengejek Hana dan membuat Hana malu di depan orang banyak.
"Kau lihat wanita perebut, seorang wanita j*lang sepertimu tidak akan lama memiliki Lelaki milik orang lain."
Tatapan penuh kebencian Clara tunjukan sambil mengamati penampilan Hana. "Lihat!" kata Clara menarik kaos baju Hana. "Kau tak lebih dari orang miskin yang berharap menjadi istri orang kaya. Coba berkaca kau memang pantas di buang sejauh-jauhnya."
Hana menunduk bukan tak berani tapi Ia tidak ingin keributan semakin panjang.
Bahkan seluruh pengunjung jadi memandang hina dirinya.
"Rasain tu, pelakor ma pantas di gituin!" Seru seorang perempuan.
"Hajar aja Mbak, sok kecakepan banget sih!" Imbuh yang lainnya.
Clara tersenyum miring mendapat dukungan dari kelompok para wanita.
"Han, sekarang kau sadarkan? Melvin itu milikku kau lihat ini?" Clara menunjukkan cincin nikah di jari manisnya. "Kami sudah menikah tadi, itu artinya kau harus menyingkir jauh-jauhnya."
Hana mengangguk kecil dan tetap tak bersuara tapi itu bahkan membuat Clara masih belum berakhir menyakitinya.
Bruk!
Di dorongnya tubuh Hana hingga jatuh kelantai, Rangga segera membantu Hana. Sedangkan Melvin menahan kaki Hana yang sudah terangkat ingin menginjak kaki Hana.
Rangga menanti reaksi Melvin, Ia ingin tahu apa yang akan Melvin perbuat. "Ayo, Vin. Apa kau yakin kau tak punya perasaan apapun pada Hana."
Rangga makin puas, sepuas-puasnya melihat Melvin datang menghentikan Clara.
"Jangan, Cla. Kau tak pantas melakukan ini!" Melvin melihat Hana sejenak kemudian menarik Clara keluar.
Satu hal yang sengaja tidak Rangga lakukan untuk membela Hana adalah Ia ingin melihat bagaimana reaksi Melvin saat Hana di aniaya. Dengan begitu Rangga akan tahu kalau Melvin ada perasaan atau pun tidak
terhadap Hana. Itu perlu Ia lakukan karena bagaimana pun Melvin pernah hidup satu atap dengan Hana cukup lama. Pastinya hal itu akan di jadikan alat untuk menghancurkan Melvin akibat sakit hatinya.
...💐💐💐💐💐...
Mohon bantuan dan dukunganya ya reader...
Untuk keikhlasan nya memberikan Vote, like, komen And bintang lima.
__ADS_1