
Maya sangat menyayangkan kejadian di masa lalu begitu mudah nya hancur tanpa sisa hanya karena keegoisan yang tak berujung. Sesuatu yang sudah menjadi bubur tak bisa kembali utuh lagi.
Malam itu Maya tetap setia menjaga Prabu sepanjang Malam tanpa memejamkan mata sedikit pun. Sedang Melvin dan Hana berpamitan pulang karena kondisi rumah sakit tidak memungkinkan Hana untuk ikut menginap.
Pagi-pagi sekali, Maya yang merasakan perutnya keroncongan pergi membeli makanan dan hanya menitipkan Prabu pada seorang suster.
Sibuknya suster itu tak serta merta membuat nya terus memeriksa Prabu yang belum juga sadarkan diri.
Dari arah lainnya, Arya masuk secara perlahan. Ia tidak mau keteledorannya bisa menariknya kedalam jeruji besi.
Di yakin aman, Arya bergegas masuk dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tubuh tak berdaya itu telah terbuka.
"Ka_ Kau?" Prabu hanya melotot marah dan tak mampu mencaci kebiadaban Arya.
"Ka_ Kau bu_ akan Anakku," kata Prabu lagi.
Arya cengengesan dan meludah kelantai.
"Cih, dasar tikus sampah, aku tidak akan membiarkan kesadaran mu pulih, Prabu." Arya menatap sinis dan buas. Tatapan nya sangat mengerikan di susul senyuman mematikan.
Arya mengambil bantal dari kursi dan membekap wajah Prabu. Tubuh Prabu mengejang, Ia kesulitan bernafas karena selang pernafasannya terlepas.
uemmmm...
"Enyah lah, kau. Kehadiran mu akan merusak rencana Tuanku."
Arya semakin menekan keras bantal itu namun Ia menghentikan aksinya saat mendengar kenop pintu berbunyi.
Arya melempar bantal itu ketempatnya dan membenahi selang bantu pernafasan itu ke hidung Prabu tapi tubuh Prabu tetap terlihat kaku.
"Mama, Mama tolong! Papa kejang!" Teriak Arya pura-pura panik.
Ternyata yang masuk adalah Melvin dan Hana.
"Ada apa, Kak?" tanya Melvin. Ia beralih menatap Prabu.
"Papa, Papa kenapa, Kak? Han, kamu panggil Dokter ya, tapi jalanya pelan-pelan saja!"
"Iya, Vin."
Melvin mendekati Prabu dan memeriksa selang pernafasan yang masih belum benar itu, Ia merasa curiga kemudian melirik Arya yang masih diam di tempatnya.
__ADS_1
Sesaat kejang itu berhenti, Prabu menutup bola matanya dan lemas jatuh ke kanan.
"Papa, Bangun Pa. Papa, jangan pergi, Pa!" Melvin menggoyang-goyang tubuh Prabu dan terus memanggil namanya untuk memberikan sugesti melalui suara tapi tubuh itu sudah tak bergerak.
Tidak berapa lama Hana dan Dokter Lelaki diikuti dua orang perawat masuk. Mereka melakukan pengecekkan keberbagai alat yang ada.
Tidak ada kerusakan, tapi jantung di sebuah alat bergambar semakin bergerak lurus. Detak jantung Prabu melemah. Sang Dokter memacu jantung dengan benda yang mirip strika an dengan cepat dan berulang-ulang namun tidak ada perubahan sama sekali.
Maya yang baru masuk, tersentak. Bungkus nasi dalam genggamannya jatuh kelantai.
"Maaf, Tuan. Pak Prabu sudah tidak ada," kata Dokter itu menyayangkan. "Padahal semalam kondisi nya sangat bagus tapi mungkin Tuhan berkehendak lain," imbuh Dokter itu.
Seketika ruangan itu banjir air mata, Melvin merengkuh tubuh Sang Papa. Ia sudah durhaka pada Prabu karena sampai saat ini Melvin tidak pernah bicara padanya.
"Papa, maafkan Melvin, Pa. Melvin sudah mengabaikan Papa. Apa pun yang kau katakan padaku selama ini. Aku tetap anak mu, Pa. Aku tidak pernah membenci mu." Melvin kembali menggoyang kan tubuh yang sudah terbujur kaku.
"Ini semua pasti salah aku, aku yang tak melakukan apa pun saat Papa tenggelam. Maaf, Vin. Maafkan aku..." Hana terisak-isak. Ia merasa bersalah karena kejadian itu tepat di depan matanya.
"Mungkin ini sudah jalan nya, Nak. Papa tidak ingin lebih lama bersama kita," sahut Mama Maya. Air matanya juga berderai berjatuhan.
Sebentar saja Ia merawat Prabu tidak membuatnya merasa puas.
Arya mengulum senyum akhirnya tidak ada lagi orang yang menghalangi jalannya.
Lama dalam ketegangan pikiran, sekitar jam sebelas Prabu di kebumikan. Yang membantu mereka sudah pulang lebih dulu menyisakan keempat keluarga itu.
Melvin mengusap dadanya, sesak rasanya melihat Prabu pergi untuk selamanya terkubur dalam timbunan tanah.
"Papa, aku sudah memaafkan semua kesalahan mu dan Maafkan lah aku jika aku sudah menjadi anak yang gagal. Jauh di lubuk hatiku aku sangat mencintai mu, Pa."
Melvin mengusap-usap papan nisan itu dan memberikan kecupan terakhirnya.
"Kuatkan hatimu, Nak. Papa sudah bahagia," ujar Mama Maya menepuk-nepuk pundak Melvin.
"Iya, Melvin ku. Setidaknya kau sudah melakukan yang terbaik di hari terakhir Papa. Membawanya kerumah dan sempat berkumpul bersama kita adalah sesuatu yang luar biasa." Hana menyandarkan kepalanya di pundak Melvin.
Melvin mengembangkan senyum, Ia sangat beruntung memiliki Hana dan Mama Maya.
...🥀🥀🥀EMPAT BULAN KEMUDIAN🥀🥀🥀🥀...
Sejak saat itu kehidupan kembali normal. Om Gany yang belum mendapat jawaban dari Maya sudah kembali ketanah air.
__ADS_1
Ia pergi menjalan kan pekerjaan nya di luar negeri dan berharap sekembalinya nanti Maya mau membuka mata hatinya untuk menerima dia.
"May, apa kabar?" keduanya bertemu di sebuah taman.
"Baik, Mas."
"Aku sudah dengar soal Prabu, aku turut berduka ya. Maaf aku tak datang hari itu." Gany sedih tidak dapat hadir keacara pemakaman Prabu.
"Tidak apa, Mas. Aku tahu kau sangat sibuk dengan pekerjaan mu." Maya tak mempermasalahkan itu.
"Aku mengajak mu bertemu bukan untuk menagih jawaban, May. Aku akan siap mendengarkan kapan pun kau akan memberi tahu kan saya. Tapi yang pasti cinta saya sama kamu itu tulus, May."
Gany menggenggam tanganya sendiri. Tangan nya berkeringat dingin. Ia sama seperti dulu deg-degan jika bertemu Maya.
"Makasih ya, Mas. Atas pengertian mu."
"Sama-sama."
Kelahiran Hana tinggal menghitung hari, Ia semakin kesusahan berjalan. Melvin dan Hana tidak lagi tidur di lantai atas mereka sudah pindah kekamar tamu.
Bolak-balik naik tangga tentu akan beresiko untuk seorang Ibu hamil.
Seperti biasa, pagi hari Melvin di sibukkan dengan laptopnya. Ia harus terus memantau perkembangan deler mobilnya di Eropa.
"Melvin ku, aku bosan." Hana manyun dan memeluk bantal mengamati kesibukan sang suami.
"Sabar ya, Sayang. Ini sangat penting untuk perkembangan bisnis kita, palingan dua jam lagi," jawab Melvin tanpa menoleh dan terus mengetik-ngetik laptop itu.
"Ya sudah deh, aku mau kedepan." Hana meletakkan bantalnya dan berjalan keluar. Ia kesal jika Melvin sudah memegang benda itu. Ia sudah pasti akan di abaikan.
Hana mendudukkan diri di sofa dan ganti memeluk bantal mini lalu menghidupkan televisi. Rasa bosan itu kian membuncah.
Mbak ART lewat, Hana segera memanggilnya karena kesempatan minta di buatkan sesuatu.
"Bi..!" Hana melambaikan tangan.
"Iya, Non." Art itu mendekat.
"Buatin aku susu ya, Bi. Aku capek mau buat sendiri." Hana mengedip-ngedipkan mata nya sembari nyengir.
"Oh, siap Nona. Bibi paham. Tunggu dulu ya."
__ADS_1
...🥀🥀🥀🥀...
Ramaikan dong like ma komennya.. jangan sampai gak ikutin ya episode akhirnya..