Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_54 Labil


__ADS_3

Hana telah memeriksa dengan seksama syarat-sysrat yang diberikan Rangga. Memang syarat seperti itu sudah ada di setiap kantor yang akan memperkerjakan karyawannya. Hanya satu yang membuat Hana merasa aneh pada nomor tujuh yang di bacanya.


...Setelah kamu menanda tangani ini kamu tidak boleh Risign selama tiga bulan baik betah tidaknya dalam alasan apa pun , jika tidak kamu akan terkena denda sebanyak sepuluh juta salah satu juga adalah kamu harus mematuhi aturan yang Bos kamu perintahkan...


"Kenapa aku dilarang risign jika belum gelap tiga bulan, Rang?" tanya Hana yang mendongak kearah Rangga.


Rangga terkekeh gemas sembari memijit batang hidungnya.


"Apa itu membuatmu keberatan?"


"Tidak, tapi kurasa ada makna di balik kalimat ini," tukas Hana.


"Santai saja, aku hanya ingin kau betah disini," jelas Rangga di barengan suara ketukan suara bolpoin di atas meja yang ditimbulkan oleh tangannya.


Wajah Hana berubah sayu, Ia belum paham sepenuhnya maksud dari Rangga.


"Rangga...."


"Kenapa?" tanya Rangga lembut.


Hana mengatakannya dengan lirih.


"Kau ingin aku bekerja sebagai apa disini?"


Rangga menggeleng-geleng kan kepalanya tak mengerti mengapa ada wanita seunik Hana di dunia ini. Rangga kemudian menarik telunjuk Hana pada sebuah tulisan yang Ia maksud tadi.


Hana menatap lekat wajah Rangga, belum juga paham penjelasan itu.


"Kau akan menjadi asisten pribadiku."


Hana memajukan kepalanya di barengi wajah melongo. Mana mungkin Ia bisa mendapat jabatan sebagus itu tanpa kecerdasan sedikit pun. Selain handphone Ia tidak bisa menggunakan teknologi lainnya apalagi semacam laptop.


"Kau pasti lupa ingatan ya, Rang?" tanya Hana menunjukkan keningnya sendiri.


"Kenapa emang?"


"Aku kan gak pinter, cocoknya jadi pembuat kopi kamu ajalah itu udah cukup kok," kata Hana merendah sambil menyungut bingung.


Rangga mengulas senyum, cerminan di dalam diri Hana itulah yang membuatnya semakin tertarik.


"Kamu tenang saja, Han. Tugas kamu kurang lebih juga seperti itu kamu harus menyiapkan kopi pagi, siang dan sore untukku. Selain itu kamu ikut kemana pun aku pergi, gampang kan?"


"Kau yakin segampang itu?"


"Iya," jawab Rangga singkat.


Rangga menggigit jari manisnya sambil berpikir.


"Aku lakukan ini untuk cintaku, Han. Kau akan ku ikat secara perlahan-lahan. Dengan cara itu Melvin tidak akan ada kesempatan lagi."

__ADS_1


Hari ini Hana mulai melaksanakan tugasnya, segala perintah Rangga Ia laksanakan secara pribadi.


Malam harinya cuaca agak mendung, sering di tinggal Clara membuat Melvin mendatangi Hana dirumah Paman Roy. Ada keinginan untuk memeriksa kondisi Hana. Bagaimanapun juga, Ia masih merasa ada kewajiban melindungi Hana demi kakaknya Arya.


Melvin baru saja hendak menepikan mobilnya Ia malah melihat mobil Rangga memasuki halaman rumah Paman Roy. Hatinya berdegup cepat, pemandangan itu membuat hatinya memanas.


Melvin melihat lagi, Rangga membuka kan pintu mobil untuk Hana.Terpampang jelas kalau wajah Hana sangat bahagia.


"Sial, mengapa secepat itu mereka berdekatan. Apa Hana adalah perempuan li*r?" gerutu Melvin seorang diri.


"Terima kasih, Rang!" teriak Hana melambaikan tangan. Jelas sekali Melvin mendengarnya.


"Oke, jangan datang Kesiangan ya besok, kalau tidak kau akan ku hukum," balas Rangga.


Hana mengacungkan jempol tanda mengerti.


Melvin memperhatikan mobil Rangga mundur dan tak lama berbalik arah melintas di depannya.


Melvin turun dan mengejar Hana.


"Tunggu!" cegah Melvin.


Hana menoleh, Hana ingin masuk saja dan mengabaikan Melvin tapi Melvin menahan tangannya.


"Tak kusangka kau cepat berpaling rupanya," sindir Melvin melipat tangan di dalam dadanya.


Mereka saling balas pandang cukup lama dalam pikiran berkabut dan bimbang di tengah perpisahan mereka.


"Lepas, Vin!" pinta Hana.


"Tidak," tolak Melvin.


"Kenapa?"


"Aku belum sepenuhnya ridho kau dekat dengan Rangga sebelum masa Iddah mu habis."


Hana tersenyum miring.


"Heh, masa Iddah. Apa pentingnya untukmu. Toh aku bukan istri mu lagi kan?" tukas Hana sedikit mencibir.


Melvin membisu dan tak berani bersuara.


"Vin, aku sangat menyesal pernah mengenalmu. Sekalipun Aku tidak berpikir pernikahan ku hanya seperti sebuah permainan bagi mu. Tapi apa.., begitu mudahnya kau memberikan surat cerai itu padaku."


"Han..."


"Sudahlah, Vin. Tanggung jawabmu atas diriku sudah usai. Kau tidak usah terbebani oleh permintaan Mas Arya yang aneh itu. Karena itu sangat menyakitkan."


Melvin menyelipkan rambut Hana.

__ADS_1


Hana menampik tangan Melvin dan melepaskan tangan Melvin yang masih melingkar di pinggangnya.


"Tunggu, aku belum melakukannya!" Hana berlari masuk beberapa menit lalu keluar lagi membawa map dan bolpoin.


"Kau lihat ini, ini surat itu. Aku lupa untuk menanda tanganinya." Hana membuka map itu lalu membubuhkan coretan di atas namanya setelah itu Ia tempelkan maff itu dengan kasar di dada Melvin.


"Bawa ini pergi aku bukan istri mu lagi dan soal amanah Mas Arya. Lupakan.. lupakan, Vin." Hana tak bisa menahan lagi air mata yang tetap saja ingin tercurah dari dua bola matanya.


"Han...." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Melvin. Ia sebenarnya tak menginginkannya tapi Ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


"Pergi! Pergilah sekarang!" Hana menengadahkan tanganya ke jalan.


"Maaf, Han." Kalimat itu seperti goretan baru di hati Hana. Hana membiarkan Melvin pergi dengan langkah ragu-ragu sesekali Melvin masih menoleh. Ia merasa tak kuasa memperhatikan Hana sibuk mengusap air matanya.


Melvin masuk kemobil dan menghentakkan daun pintu dengan kasar. Ia sendiri di dera kebingungan tak sengaja air matanya meleleh jatuh.


"Ada apa dengan ku? Mengapa aku sakit melihat Hana menanda tangani surat ini di depanku? Apa dia sengaja ingin menunjukkan kepuasannya terlepas dari aku?"


Melvin kalut, emosinya )naik turun jika sudah menghadapi Hana Agista. Ia menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Paman Roy.


Sesampainya di rumah Ia lagi-lagi tak bertemu dengan Clara.


"Clara, kamu dimana?" teriak Melvin kesal.


"Ada apa den?" tanya Bi Rahma. Ia muncul dari luar sehabis menjemur pakaian.


"Clara dimana, Bi? apa dia selalu pergi begini, Bi?" tanya Melvin setengah membentak.


"I.. iya, Den. Nona gak pernah betah di rumah," jawab Bibi gugup.


Melvin membanting map di tangannya kelantai.


"Dia itu sudah bersuami sekarang, Bi. Tidak sepantasnya dia pergi meninggalkan aku setiap hari," oceh Melvin naik pitam.


"Ma.. maaf Den. Saya juga tidak mengerti," tutur Sang Bibi sembari menunduk.


"Clara tidak menghormati aku, Bi. Dulu dia selalu mencari ku tapi ini apa, baru beberapa hari kami menikah dia selalu pergi dan tidak mengingat aku."


Bi Rahma celingukan dalam diam. Ia juga sebenarnya tak habis pikir kalau Clara tidak bisa merubah sikap hura-hura yang selalu Ia kerjakan.


Melvin pergi kekamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang, di putarnya lagi memori saat Hana menanda tangani surat resmi cerai mereka.


"Aaaa....! ada apa denganku? kenapa rasanya sesak?"


...🌿🌿🌿🌿...


Jangan lupa vote nya...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š


.

__ADS_1


__ADS_2