
Di kantor milik keluarga Rangga yang bergerak di bidang pemasaran makanan dan property. Hana tampak sibuk mengerjakan sesuatu dengan Rangga di dalam ruangan pribadi Rangga. Mereka membahas tentang makanan khas Jepang yang akan dijadikan menu utama dalam sebuah restaurant baru yang sebentar lagi akan diresmikan.
"Hana..."
"Iya, Rang."
"Coba lihat daftar menu ini, ini semua adalah makanan dari negara jepang. Aku mau kau pilih beberapa menu yang akan kita jadikan Raja makanan di restaurant kita."
Hana menautkan kedua alisnya.
"Aku..? Kenapa harus aku? aku tidak tahu bahasa jepang, Rangga."
Rangga terkekeh kecil sambil menggeser buku daftar yang dimaksud.
"Kau bisa memilih beberapa menu yang menurut mu enak dengan cara kau lihat gambarnya satu persatu sebanyak delapan macam, itu mudah kan?" ujar Rangga menunjuk gambar di sebelah nama makanan itu.
Hana nyengir, Ia tetap ragu dengan pilihannya. Ia takut mengecewakan Rangga karena hasilnya tidak sesuai.
"Ya ampun ayolah, Han. Ini bukan kriminal hingga kau berpikir selama itu, cepat pilih mana pun yang kamu suka dan akan aku ambil!" pinta Rangga pada Hana.
Hana melepaskan tas mini di pundaknya keatas meja. Lalu mengambil bolpoin dan buku daftar menu itu dari meja lalu duduk berhadapan dengan Rangga.
"Jangan komen ya, ini adalah kesalahan mu jika kau tidak menyukainya," sungut Hana disertai manyun.
"Ia, tenang saja," sahut Rangga. Rangga juga sibuk menanda tangani beberapa proposal penting.
Hana mengeja beberapa makanan itu dengan sangat lucu. Cukup lirih tapi terdengar jelas di telinga Rangga.
"Tempura, Onigiri, Sashimi, Ramen, sukiyaki. Wah, wah..., ini kok kayaknya enak semua sih, Rang?" Hana bahkan meneguk liurnya mengamati gambar tampilan disana membuat Rangga akhirnya terpancing memandangi ulah konyolnya.
"udah dapat berapa ya tadi?" tanya Hana pada dirinya. Di lihatnya lagi Daftar makanan itu dari atas dan dihitungnya.
"Satu, dua, tiga, empat, lima. Oh iya baru lima berarti tiga lagi dong. Aduh pilih yang mana lagi ni kok semuanya menggugah selera sih?" oceh nya lagi seorang diri sambil menggaruk rambutnya yang terikat keatas.
Rangga tak lagi melanjutkan pekerjaannya, Ia terus saja memandangi Hana penuh kekaguman.
"Kau akan jadi milikku, Sayang. Semua penantian panjang ku tidak akan pernah sia-sia lagi."
Hana melanjutkan beberapa pilihan lainnya lalu hendak memberikan buku itu pada Rangga untuk diperiksa namun urung. Ia jadi salah tingkah akan tatapan dalam dari Rangga pada dirinya.
"Rangga, i.. ini bukunya," ucap Hana terbata.
"Oh iya, Maaf." Rangga mengambil alih buku itu dan membaca beberapa pilihan Hana.
__ADS_1
"Waw, kau pandai memilih rupanya. Tidak sia-sia aku meminta mu," puji Rangga. Tentu saja itu Ia lakukan untuk mendapat perhatian Hana.
"Itu karena gambarnya menarik," tukas Hana tersenyum sendu.
Menjelang sore hari penolakan demi penolakan dari setiap kantor yang di datangi Melvin terus terjadi. Ia tidak tahu apa sebabnya mereka menolak tanpa menghargai dirinya.
Bahkan tak jarang surat lamaran kerja yang Ia ajukan kemeja dilempar ke lantai oleh seorang kepala HRD dengan kasar. Alasannya kesal dengan permohonannya yang terkesan memaksa.
Melvin baru sadar, hidup susah rupanya hanya akan di injak-injak oleh orang lain.
Melvin memutuskan mendatangi kantor Bahardhika. Ia ingin memohon bantuan Pak Dikha agar mau menerimanya bekerja di tempat itu. Kantor Bahardikha berjalan sejajar dengan kantor Wijaya Cooperation. Tak mudah juga Ia mendapat jalan untuk menemui Pak Dikha. Sekretarisnya itu kekeh melarang Ia menjumpai Bosnya.
"Maaf, Pak. Pak Dikha sangat sibuk dan tidak bisa ditemui. Silakan, Bapak Pergi. Kantor ini tidak menerima calon pekerja baru!" usir sang sekretaris.
"Tapi, Mbak. Mbak telpon saja dia. Kasih tau dia kalau Melvin ingin bertemu dengannya," melas Melvin memohon.
"Maaf, Pak. Silakan keluar. Anda jangan memaksa. Pak Dikha sudah bilang kalau dia tidak mau menerima tamu hari ini," tukas Sekretaris itu.
"Astaga, Mbak. Saya ini orang penting. Saya harus bertemu beliau." Melvin nekat menerobos masuk.
"Berhenti, Pak. Berhenti.... Pak satpam! Pak satpam! Tolong usir penyusup itu!" teriak Sekretaris perempuan itu pada kedua satpam yang bertugas menunjuk kearah Melvin.
Kedua satpam langsung mengejar Melvin dan menariknya keluar. "Ayo keluar, Pak. Jangan membantah, anda bisa di penjara karena telah membuat kerusuhan," tegas salah seorang satpam. Mereka mencekal tangannya dengan kuat dan mendorong Ia ke loby hingga jatuh di lantai.
"Hus.. hus.. sana, Pergi. Mau kerja kok maksa sih? kalau gak ada lowongan ya udah. Repot bener hidup lo!" gerutu Salah satu satpam itu.
Melvin terbakar, ingin sekali Ia membogem wajah mereka yang mungkin tidak ada apa-apanya itu dengan dia. Ia pun memilih ikhlas dan pergi dari tempat itu.
Melvin mulai bingung, Ia tidak lagi punya tujuan. Ia bahkan kehabisan uang yang hanya sisa dua puluh ribu untuk naik angkutan umum. Melvin mengikuti kemana langkah kaki membawanya berharap ada keajaiban yang bisa membuat nya menemukan sesuatu.
Melvin berhenti duduk di bawah pohon sambil mengamati beberapa kendaraan hilir mudik. Peluh keringat yang keluar dari keningnya diusapnya dengan lengan bajunya.
Tragis, satu kata itu yang terbersit di benaknya sekarang. Ini lebih menyakitkan dari kebencian Prabu sendiri.
Melvin harus belajar berdamai dengan kondisi, keadaanya tidak lagi seperti dulu. Ketika Ia melanjutkan perjalanan lagi seseorang memencet klakson dari belakang punggungnya.
Tin! Tin!
Orang itu berhenti dan turun menemui Melvin.
"Halo, kawan kau ingat aku?" sapanya. Usianya setara dengan Melvin tapi wajahnya agak kebulean.
"Riman, apa kabar kamu?" keduanya saling berpelukkan. Riman Syahdan adalah teman SMP nya. Riman dulunya anak seorang petani dia adalah sahabat baik Melvin selama sekolah. Tapi Melanjutkan sekolah ke beda tempat membuat mereka terpisah.
__ADS_1
"Kau sukses ya sekarang?" tutur Melvin mendapati Riman mengendarai mobil mewah.
"Ahk, kau ini. Lumayanlah, aku tidak menyangka juga bisa berhasil. O ya, bagaimana sekolah mu di Eropa?"
"Cukup menyenangkan, tapi ya begitulah," jawab Melvin agak malu.
Riman memperhatikan penampilan Melvin dari atas hingga bawah seperti bukan orang kaya, Penampilan nya sedikit berantakan dan ada map di tangannya semacam surat lamaran pekerjaan. Tapi Riman tahu kemeja dan celana dasar yang di gunakan Melvin adalah bahan berkualitas tinggi.
"O ya, kenapa kau berjalan kaki. Kemana mobilmu?" tanya Riman agak penasaran.
Melvin menghela nafas panjang.
"Hidupku tidak seberuntung itu, Rim. Aku sudah melarat sekarang. Aku baru saja mengirim beberapa lamaran pekerjaan tapi ditolak," ucapnya jujur.
"Wah, sayang sekali. Kau sudah menikah sekarang?"
Melvin mengangguk.
"Rim, apa kau bisa membantuku? Aku harap kau punya lowongan pekerjaan untukku?"
Sejenak Riman berpikir antara ragu atau tidak enak hati.
"Aku tidak yakin kau mau, Vin?"
"Maksud mu?"
"Aku tidak punya lowongan bagus untukmu di kafe ku, tapi jika mau, kau bisa ikut menjadi pelayan dadakan di kafe ku karena malam ini akan ada pesta besar-besaran. Tapi masalahnya uang nya juga tidak seberapa tapi cukuplah untuk makan kamu dua hari," ulas Riman.
"Aku kurang paham, Rim?" tanya Melvin belum puas atas penjelasan Riman.
Riman terlihat agak enggan menyampaikan ini, tapi Ia tidak bisa membantu banyak.
"Setahun sekali kafe ku di booking Seorang pembisnis untuk mengadakan pesta. Nah, otomatis kami akan kewalahan melayani mereka. Maka dari itu kami merekrut pelayan yang mau bekerja malam itu di kafe kami secara dadakan," ucap Riman mengulangi maksudnya.
"Maaf, Vin. Hanya ada itu nyatanya jika kau minat aku akan tunggu kau datang kesana malam ini," imbuh Riman lagi.
Riman mengeluarkannya kartu yang terdapat alamat kafenya kepada Melvin dan Melvin pun menerimanya.
"Kau pikirkan saja dulu, jika kau keberatan tidak masalah, kawan. Tapi aku akan tetap berharap kau mau membantuku."
Riman menepuk pundak Melvin lalu berpamitan.
Melvin mengamati setiap inci kartu itu dan melihat alamat kafe Riman. Kafe itu cukup terkenal di kalangan para pejabat tinggi.
__ADS_1