Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_49 Surat Cerai


__ADS_3

Hana terus melanjutkan langkahnya, bahkan kaki yang sakit tidak terasa lagi meski matahari semakin terik, Hana tidak menyerah Ia yakin akan menemukan pekerjaan yang layak hari itu juga.


Sudah beberapa Kafe, rumah makan dan toko Ia sambangi namun tak ada satu pun yang bisa mempekerjakan dirinya.


Hana menghentikan langkah kakinya sejenak saat Ia melihat penjual es kelapa muda. Dahaga seketika menyerang keongkongannya yang terasa kering.


Tapi Ia kembali teringat, kalau Ia tak lagi punya uang sama sekali bahkan tak terpikirkan olehnya bagaimana nanti cara Ia pulang kerumah Prabu Wijaya.


Hana berjalan lagi dan lagi hingga sore hari tanpa makan dan minum dan saking capeknya Ia memutuskan beristirahat di bawah sebuah pohon besar untuk melepas penat. Sesekali diusapnya peluh keringat yang turun dari keningnya. Hana meraih ponsel di tas nya ingin menelpon Melvin tapi ragu. Entah apa yang harus Ia lakukan sekarang, Ia sama sekali tidak berani menelpon pria itu untuk meminta jemputan darinya. Takut jika nanti Melvin mengabaikan dirinya.


"Bagaimana cara aku pulang sekarang, mungkin kah Melvin bersedia menjemput ku? kurasa tidak, dia pasti sedang menghabiskan waktu dengan Clara seharian ini?"


Wajahnya mendung lagi dan hampir menangis kala memorinya mengingatkan lagi tentang ucapan Melvin pagi tadi. Artinya Melvin hanya menganggap dirinya sampah yang harus dibuang selama ini.


"Apa aku benar-benar sampah, mengapa Melvin menganggap ku seperti itu? Vin, aku juga terpaksa mau menikah dengan mu demi cintaku sama Mas Arya. Tapi kenapa aku yang tersakiti? ada apa dengan perasaanku?" Hiks...."


Hana tak kuasa menahan gejolak hatinya dan menyembunyikan wajahnya diatas kakinya.


"Mungkin kau mulai mencintainya, Hana?" ucap seseorang tiba-tiba membuat Hana langsung mendongak.


"Rangga.., kok kamu ada disini?"


Rangga mendudukkan diri di samping Hana sembari tersenyum. "Kebesaran cintaku yang membawanya?" jawab Rangga.


Hana menyatukan kedua alisnya tak mengerti.


"Kau tahu, Hana. Seberapa besar aku mencintaimu dari dulu hingga sampai saat ini. Ya, walaupun hanya bertepuk sebelah tangan dan sangat sakit hanya di anggap sebagai sahabat oleh mu aku terima. Meski tetap saja itu terasa sesak disini." Rangga menunjukkan dadanya dalam kegetiran.


Hana terpaku, Ia jadi bersalah pada Rangga yang selalu berbuat baik pada ya..


"Han...!"


"Maaf, aku tidak bisa menghapus perasaanku kepada mu?" tutur Rangga lagi.


"Aku yang minta maaf, Rangga. Tidak bisa membalasnya."

__ADS_1


"Tidak masalah, Aku mengerti kondisi mu. Tapi jika kau ingin berbagi aku siap memasang pundak ku untukmu," ucap Rangga sedikit guyon agar Hana tak lagi bersedih. Padahal Ia menyembunyikan kekecewaan atas penuturan Hana.


Hana tersenyum juga.


"Kau memang selalu konyol, Rangga. Itu sebabnya aku takut kehilanganmu seperti saat kamu mengutarakan cintamu. Sahabat itu abadi tapi tidak dengan hubungan."


"Jangan berkecil hati, Cinta itu juga abadi apa perlu aku mengatakannya kalau aku adalah contohnya," goda Rangga lagi.


"Ahk, Rangga. Jangan membuatku semakin bersalah. Kau sengaja ya melakukannya?"


Rangga terkekeh. Ia sangat senang melihat Hana tertawa padanya.


"Oke, ayo aku antar." Rangga bangkit lebih dulu sambil mengulurkan tangan pada Hana.


"Apa kau akan menolak tangan sahabatmu?"


Hana menggeleng. Ia menyambut tangan itu dengan suka rela. Rangga merasa mendapat angin segar mendapati hubungannya dengan Hana semakin membaik. Tak mungkinkan Ia tidak ada celah mendapatkan hati dari Hana suatu saat nanti.


Melvin kembali kerumah Prabu, Ia bermaksud menyerahkan surat cerai yang sudah ada dalam genggamannya pada Hana secara langsung dan keputusan itu Ia ambil atas dasar saran Clara. Clara tidak akan tenang Melvin melepaskan Hana tanpa menyakiti Hana terlebih dahulu. Namun sayangnya Ia tidak melihat keberadaan Hana di dalam kamar itu.


"Hana..!" teriak Melvin. Tidak ada sahutan. Melvin juga tidak melihat kedua orang tuanya dirumah itu. Mereka pergi tampa Ia ketahui. Ia bahkan masuk dengan kunci serep yang ada di dompetnya.


Sesaat kemudian, Melvin mendengar ada deru mobil berhenti di depan rumah. Gegas Ia keluar untuk melihat siapa yang datang agar urusan mereka secepatnya selesai.


Melvin melotot tajam kearah Hana saat Ia melihat Hana datang bersama Rangga.


"Oh, jadi ini pekerjaan perempuan seperti kamu ya. Belum juga resmi ku cerai kau sudah jalan ma lelaki lain," sindir Melvin.


"Tidak, Vin Kau salah paham."


"Baguslah, aku jadi punya alasan untuk secepatnya melakukan ini." Melvin menyodorkan map itu secara kasar di tangan Hana.


Mata Hana mulai berkaca-kaca lagi.


"Ini apa, Vin?" tanya Hana. Hana berharap itu bukan sesuatu yang akan menyakitinya.

__ADS_1


"Cepat tanda tangani, maka kita tidak akan terikat lagi," jawab Melvin tanpa menoleh sedikit pun.


Rangga mengulum senyum, tak disangkanya kejadian itu akhirny tiba juga. Dengan begitu, Hana akan menjadi miliknya.


"Ta.. tapi, Vin. To.. tolong pikirkan baik-baik, Vin. Aku yakin kau tidak sepenuhnya berniat melakukan ini, kan?" ucap Hana sembari mengelap air matanya.


"Tidak Hana, aku serius. Aku akan menikahi Clara secepatnya dan aku tidak ingin mengekang hidupmu jika kau masih berniat mempertahankan hubungan kita," tandas Melvin dengan tegas.


Melvin akan pergi lagi.


"Kau mau kemana?" tanya Hana. memejamkan matanya sesaat untuk memeras air matanya yang sudah tak tertahan.


Melvin hanya menatap nyalang tampa memberikan jawaban sambil melirik Rangga dengan wajah puas dan meninggalkan mereka yang mengamatinya.


Hana luruh kelantai dengan tubuh lemas, Ia tidak mengira pernikahan yang baru berjalan tiga bulan itu telah berakhir secepatnya.


Rangga merengkuh tubuh Hana, Ia ingin menjadi pahlawan dalam duka Hana.


"Berhenti menangis, Hana. Belajarlah untuk menjadi perempuan kuat."


"Tapi kenapa sakit, Rang? Aku tidak ingin semua ini terjadi. Aku mau kita sama-sama menerima kekurangan."


"Sayangnya, Melvin tidak sependapat denganmu, Hana. Cintanya pada Clara sangat besar hingga membuatnya buta."


Hana menguatkan diri, Cepat-cepat melepaskan diri dari dekapannya Rangga.


"Kamu pulang saja, Rangga. Aku masih ingin sendiri."


"Baiklah, Berjanjilah jangan lakukan hal konyol ya. Itu akan membuatmu semakin terpuruk."


"Iya, kamu tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri."


Hana melangkah masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Di sandarkan punggungnya dengan perasaan hampa membuat air matanya semakin pecah.


Rangga jadi iba mendengar tangisan Hana masih mendayu jelas di telinganya. "Hana, bersabarlah. Akan ku obati luka hatimu setelah ini. Aku berjanji, tidak akan pernah membiarkan dirimu menangis setelah ini," ucap Rangga seorang diri.

__ADS_1


Hana membuka isi Map itu tentang keterangan gugatan cerai Melvin atas dirinya. Bahkan Melvin sudah menanda tangani persetujuan atas nama dirinya sebagai penggugat.


"Mas, Arya. Bantu Hana, Mas...."


__ADS_2